
Dua Minggu telah berlalu. Sejak dia meninggalkan kediaman Li. Hari ini Agnes berencana untuk kembali ke rumah itu , karena dia yakin pasti keadaan sudah mulai normal kembali dan pria yang mengusirnya hari itu sudah tidak ada lagi di sana.
Namun sungguh mengejutkan yang terjadi. karena kediaman Li sudah rata menjadi tanah, bangunan megah bertingkat tiga yang awalnya berdiri kokoh sudah tidak ada lagi. Semua benar-benar rata dengan tanah, dan hal itu membuat Agnes terkejut bukan main.
"A...Apa yang terjadi dengan kediaman Li? Ke...kenapa semua bisa rata menjadi tanah?!" ucapnya terbata-bata.
Dengan kaki gemetar. Agnes memasuki gerbang yang masih berdiri kokoh tersebut. Hanya tinggal gerbangnya saja yang masih kokoh, sementara bangunannya sudah rata dengan tanah. Untuk mengetahui apa yang terjadi , Agnes menghampiri dua laki-laki yang sedang bermain catur.
"Apa yang terjadi di sini? Kenapa rumah ini bisa rata dengan tanah? Lalu kalian siapa, dan apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Agnes pada kedua pria itu.
"Seharusnya kami yang bertanya, memangnya kau siapa dan apa yang sedang kau lakukan di sini?!" bukannya menjawab salah satu dari kedua pria itu malah balik bertanya.
"Kau bertanya siapa aku? Aku adalah Nyonya di rumah ini. Aku baru saja pergi selama beberapa hari, dan rumah ini sudah hancur serta rata dengan tanah? Apa ada penjelasan dengan ini semua?" Agnes menatap mereka berdua satu persatu-satu.
"Hm, benarkah? Jika kau butuh penjelasan, sebaiknya temui Tuan kami dan minta penjelasan padanya. Karena hanya dia yang bisa memberikan penjelasan padamu," jawab laki-laki itu.
"Memangnya siapa tuan kalian? kekuasaan apa yang dia miliki sampai-sampai berani menghancurkan serta meratakan rumah ini dengan tanah?!" tanya Agnes. Dia mencoba untuk menahan emosinya yang sudah hampir meledak.
Agnes benar-benar ingin tahu siapa yang sudah lancang menghancurkan serta meratakan kediaman Li dengan tanah. Apa dia sudah bosan hidup sampai-sampai berani membuat masalah sebesar ini?!
"Kevin Zhao, dialah Tuan kali. Kau pergi pergi ke kediaman Lu jika ingin membuat perhitungan dengannya." Jawab laki-laki itu.
Pupil mata Agnes membulat seketika. Kevin Zhang? Itu artinya yang meratakan rumah ini hingga menjadi tanah adalah putra dari mendiang Steven Li, pewaris yang sebenarnya.
__ADS_1
Jika dengannya, Agnes tidak berani berurusan lagi. Dia tidak ingin mencari masalah apalagi perkara. Lebih baik cari aman dari pada berakhir mengenaskan. Agnes sudah pernah bertemu langsung dengannya, dan dia tidak ingin cari mati untuk kedua kalinya. Agnes tidak ingin bernasib sama seperti Sonny Li.
xxx
Akhir pekan. Adalah waktu yang paling tepat untuk berkumpul dengan keluarga. Dan akhir pekan pula banyak orang menghabiskan waktunya untuk bersantai di rumah dan bermalas-malasan tanpa harus memikirkan pekerjaan. Begitupun dengan Hwan.
Setelah satu Minggu penuh berkutat dengan berkas-berkas dan laptop. Akhirnya hari ini dia bisa bersantai di rumah tanpa perlu memusingkan apapun. Dia hanya perlu duduk santai sambil menikmati secangkir kopi sambil membaca koran untuk melihat indeks saham.
"Ge," buru-buru Hwan berdiri saat melihat kedatangan Kevin. Dia begitu segan padanya meskipun dia lebih tua beberapa tahun darinya.
"Kevin, duduklah." Pinta Hwan mempersilahkan.
Kevin menghela napas. "Santai saja, Ge. Tidak perlu setegang itu, lagipula aku juga tidak akan menggigit mu." Ucap Kevin. Dia melemparkan candaan pada Hwan agar dia tidak terlalu tegang. Padahal Kevin tidak melakukan apapun padanya, tapi Hwan malah takut padanya.
Hwan menyikapi ucapan Kevin dengan senyum tipis. Padahal dia sendiri yang ingin bisa dekat dan akrab dengan Kevin, tapi malah dirinya pula yang menciptakan jarak diantara mereka. Terkadang Hwan memang konyol dan menggelikan.
"Dia sudah bangun tapi masih di kamar. Mungkin sebentar lagi juga turun, di mana Frans Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya sama sekali?" tanya Kevin.
"Dia masih belum bangun, mungkin dia kelelahan karena semalam pulang sampai larut malam. Aku tidak tega untuk membangunkannya, jadi aku Biarkan saja dia tetap tidur." Jawab Hwan. Kevin mengangguk paham.
Seorang pelayan terlihat menghampiri mereka berdua, pelayan itu terus menundukkan kepalanya bahkan sampai di depan Kevin dan Hwan. "Maaf, Tuan Muda. Apa Anda berdua melihat, Dion? Beberapa hari ini saya tidak melihatnya sama sekali, apa mungkin dia berhenti atau sedang cuti?" tanya pelayan itu. Dia adalah teman dekat Dion. Dia sempat mengambil cuti selama beberapa hari jadi tidak tau apa yang terjadi di kediaman Lu selama dia tidak ada.
"Dia tidak sedang cuti ataupun berhenti dari pekerjaannya. Tetapi Dion sedang menjalani hukuman dariku karena berani ingin mencelakai ku. Aku sendiri tidak bisa memastikan saat ini masih hidup atau sudah mati" Jawab Kevin. Dia mengatakan yang sebenarnya tanpa menutup-nutupinya.
__ADS_1
Keterkejutan terlihat jelas di kedua mata pria itu setelah mendengar jawaban Kevin. "Me.. Memangnya apa yang telah dia perbuat pada Anda, Tuan Muda? Jika boleh tau hukuman seperti apa yang Anda berikan padanya?" tanya laki-laki itu memastikan.
"Kenapa kau sangat penasaran sekali Memangnya apa hubunganmu dengannya. Atau mungkin kalian berdua bersekongkol?" Kevin menatap laki-laki itu dengan penuh selidik.
laki-laki itu menggeleng. "Saya tidak bersekongkol dengan siapa pun termasuk dia. Saya hanya sekedar dekat dengannya karena kami sama-sama bekerja sebagai pelayan di sini. Sungguh, Tuan Muda. Saya mengatakan yang sebenarnya." Ucapnya meyakinkan. Dia mengatakan yang sebenarnya, karena dia dan Dion memang tidak terlibat persekongkolan apapun.
Kevin menghela nafas. "Kau pergilah dan lanjutkan saja pekerjaanmu." Pintanya. Laki-laki itu kemudian membungkuk dan melenggang pergi dari hadapan Kevin dan Hwan.
Sontak Hwan menoleh. "Memangnya apa yang terjadi? Dan hukuman Apa yang kau berikan padanya?" tanya Hwan penasaran.
Hwan memang tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini karena dia terlalu sibuk dengan pekerjaan di kantor. "Dia masuk ke kamar Kakek dan aku memergokinya. Bukannya mengakui kesalahannya dan meminta maaf, dia malah berusaha untuk menjelajahi ku. Jadi aku menembaknya dan mengirimnya ke hutan sebagai makanan binatang buas." Jawab Kevin menuturkan.
Susah payah Hwan menelan saliva nya setelah mendengar apa yang Kevin katakan. Dia benar-benar mengerikan. Dan sepertinya hanya orang-orang bodoh yang berani mencari masalah dan gara-gara dengannya, karena mencari masalah dengan Kevin sama saja dengan mengantarkan nyawanya secara cuma-cuma.
"Kau benar-benar melakukannya? Lalu Bagaimana jika dia sampai mati? Apa itu tidak malah menjadi masalah?" tanya Hwan.
Kevin mengangkat bahunya. "Memangnya siapa yang peduli. Lagi pula siapa yang berani menghukum diriku? Polisi? Apa mereka ingin semua Rahasianya terbongkar jika berani menangkap ku?" ujar Kevin. Bibirnya menyunggingkan seringai tipis.
Dia memegang semua rahasia busuk para petinggi kepolisian yang ada di negeri ini. Jadi Mana mungkin mereka berani macam-macam apalagi mencari masalah dengan Kevin , apa mereka sudah bosan hidup sampai-sampai berani menghantarkan nyawanya pada iblis sepertinya.
"Kau mengerikan, Key." Ucap Hwan dengan suara gemetar. Kevin menyikapinya dengan senyum tipis tanpa dosa.
"Siapa yang peduli." Dia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.
__ADS_1
xxx
Bersambung