
"Bagaimana Ge, bukankah aku sangat hebat dan ideku brilian?" ucap Frans dengan bangga.
Karena ide konyolnya itu. Mereka berdua tidak dibuntuti lagi. Ketiga Van hitam itu menghilang entah kemana. Kevin mendengus, sungguh dia tidak terpikirkan jika Frans memiliki rencana konyol seperti itu.
"Ge, kau harus memberiku penghargaan karena memiliki ide yang sangat brilian." Ucap Frans tetap fokus pada jalanan.
"Besok malam aku akan membawamu makan malam di restoran bintang lima, dan kau bebas untuk makan apapun yang kau mau." Jawab Kevin.
Mata Frans berbinar-binar mendengar apa yang Kevin katakan. "Benarkah?" tanya Frans memastikan. Kevin menganggukkan kepala. "Bagus sekali. Ge, kau memang yang terbaik." Ucapnya sambil tersenyum lebar. Kevin mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Frans yang sedikit kenakan.
Suasana di dalam mobil seketika menjadi hening. Frans fokus pada jalanan di depannya sedangkan Kevin terlihat menutup mata, sepertinya dia benar-benar lelah.
"Hoam," berkali-kali Frans menguap dan matanya mulai sulit untuk diajak kompromi. Dan hal itu memaksa Kevin membuka kembali matanya.
"Kau terlihat lelah, sebaiknya kita tukar posisi saja." Ucap Kevin namun di tolak oleh Frans.
"Tidak perlu, Ge. Aku masih kuat kok." Jawab Frans meyakinkan.
"Kau yakin?" tanya Kevin memastikan.
Frans mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat. Kevin menutup kembali matanya, tapi dia tiba benar-benar tidur.
Tiba-tiba Frans tertidur sesaat dan hal itu membuat dia hilang kendali. Hingga mobil yang dia kemudikan melaju dengan tak terarah. Frans pun segara tersadar dan mencoba untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
"FRANS AWAS!!!"
BRAKKKK...
Tapi terlambat. Mobil yang dia kemudikan terbalik setelah menghantam pembatas jalan. Yang selanjutnya terlihat oleh Frans dan Kevin hanya gelap. Setelah tubuh mereka sama-sama terpental keluar dari mobil.
Orang-orang berdatangan dan mengerumuni mereka berdua. Tanpa menunggu ambulans datang. Beberapa orang memutuskan untuk membawa Kevin dan Frans ke rumah sakit sebelum nyawa mereka tidak tertolong karena kehabisan darah.
__ADS_1
xxx
Viona tidak henti-hentinya menangis. Sampai sekarang Kevin belum juga sadarkan diri. Dia mengalami cidera yang cukup serius. Perban tampak membebat di sana sini, menandakan jika luka yang dia alami cukup parah.
"Paman, sampai kapan kau akan tidur terus seperti ini? Bangun dan buka matamu, apa kau tidak lelah terus-terusan tidur seperti ini?" lirih Viona bergumam. Jari-jarinya menggenggam tangan kiri Kevin yang terasa dingin. Sudah semalaman dia belum sadarkan diri.
Viona benar-benar takut hal buruk terjadi pada Kevin. Dia terluka parah dan belum sadarkan diri sampai sekarang, memangnya siapa yang tidak panik?! Viona hanya bisa berdoa dan memohon pada Tuhan supaya Kevin lekas siuman.
"Viona," panggilan dengan suara lirih itu seolah-olah memberikan oasis di tengah pandang pasir yang tandus.
Viona membuka kembali matanya yang semula tertutup. Pupil matanya membulat sempurna melihat Kevin akhirnya membuka mata. "Paman!!" seru Viona dan langsung berhambur ke pelukan Kevin. "Akhirnya kau bangun juga, Paman aku sangat mencemaskanmu." Lirih Viona dengan parau.
Kevin mengusap punggung Viona dengan sebelah tangannya sambil sesekali mencium kepalanya. "Maaf, Sayang. Karena sudah membuatmu cemas," ucap Kevin setengah berbisik.
Kemudian Viona menarik dirinya dari pelukan Kevin. Dia menatap sang suami dengan sendu. "Jangan menangis lagi." Pinta Kevin sambil menyeka air mata di pipi Viona.
"Siapa yang menangis? Aku tidak menangis." Ucapnya sesenggukan.
"Dia mengalami patah leher dan juga cidera ringan di kepalanya. Frans, dia sudah sadar dari semalam." Jelas Viona.
Kevin pun bisa menghela napas lega. "Syukurlah kalau begitu. Aku lega mendengarnya."
"Paman, memangnya Apa yang terjadi? Kenapa kau dan Frans bisa mengalami kecelakaan sampai sefatal ini?" tanya Viona penasaran.
Kevin pun menceritakan kronologinya pada Viona perihal kecelakaan yang ia dan Frans alami. "Itu benar-benar murni kecelakaan. Frans, hilang kendali karena mengantuk. Aku sudah meminta untuk tukar posisi tapi dia menolak, dan yang terjadi berikutnya mobil terbalik setelah menabrak pembatas jalan." Terang Kevin panjang lebar.
Viona menghela napas. "Yang terpenting kalian berdua tidak apa-apa." Ucapnya sambil mengunci mata kanan milik Kevin. Jari-jari lentiknya mengusap perban yang menutup mata kiri Kevin yang mengalami pendarahan akibat benturan keras ketika mobil terbalik dan terguling.
"Aku lapar, bisakah kau mengambilkan makananku?" ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
"Tentu, aku akan menyuapimu." Ucap Viona. Kevin mengangguk. Mana mungkin dia menolaknya dan berlagak sok kuat, karena pada kenyataannya dia tidak baik-baik saja. Bahu kirinya mengalami cidera yang mengharuskan Kevin tidak melakukan berbagai aktivitas untuk sementara waktu.
__ADS_1
"Kau sudah makan?" tanya Kevin.
Viona menggeleng. "Belum, sebentar lagi aku akan keluar untuk makan." Jawab Viona.
Bagaimana dia bisa makan dengan kenyang, sementara keadaan Kevin masih belum bisa dipastikan. Dia masih belum sadarkan diri dan Viona tidak tahu kapan dia akan bangun. Untungnya sekarang Kevin sudah baik-baik saja.
"Baiklah, kau jangan sampai telat makan. Aku tidak ingin kau sampai jatuh sakit," ucap Kevin.
Viona mengangguk. "Tentu, Paman."
Tuhan masih menyayangi Kevin dan Frans. Mereka berdua berhasil selamat dari kecelakaan maut yang nyaris merenggut nyawa adalah sesuatu yang luar biasa. Dan Viona tidak henti-hentinya berterima kasih pada Tuhan karena telah membawa Kevin kembali dalam keadaan hidup.
xxx
Kabar tentang Kevin yang mengalami kecelakaan telah sampai ke telinga Glenn. Dia sedang menyusun rencana untuk mencelakai Kevin di rumah sakit, dia terluka dan hal itu mudahkan dia untuk menyusun semua rencana-rencananya.
Derit suara pintu di buka dari luar sedikit menyita perhatiannya. Glenn menoleh dan mendapati sang asisten pribadi menghampirinya.
"Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan semua yang aku minta?" tanya Glenn pada orang itu.
Dia mengangguk. "Sudah, Tuan. Dan saya sudah mengirim Isabelle pergi ke rumah sakit untuk melakukan tugasnya." Jelasnya.
"Bagus sekali. Pastikan wanita itu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan aku tidak ingin ada kegagalan." Ucap Glenn mm menegaskan.
"Anda tenang saja, Tuan. Saya sudah mengarahkan wanita itu dengan baik, lagi pula dia tidak akan berani macam-macam karena orang tuanya ada di tangan kita." Ujar pria itu.
Glenn tersenyum culas. "Bagus sekali. Memang itu yang aku inginkan, selama mereka ada di tangan kita. Wanita itu tidak akan berani macam-macam. Kau benar-benar cerdik, Ben" ucap Glenn dengan senyum yang sama.
Kali ini dia tidak akan membagikan rencananya gagal lagi. Dan dalam keadaannya yang sekarang pasti akan lebih muda menyingkirkan Kevin, begitulah kira-kira yang Glenn pikirkan.
xxx
__ADS_1
Bersambung