
Duka dan kehilangan masih menyelimuti Kevin, Frans, Hwan dan Viona. Mereka berempat masih belum percaya jika Tuhan Lu telah pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya. Semua terjadi begitu cepat, bahkan sebelumnya tidak ada tanda-tanda jika lelaki tua itu sedang sakit. Namun pada kenyataannya tidak demikian.
Sebenarnya kesehatan Tuan Lu selalu menurun akhir-akhir ini. Namun dia tidak pernah menunjukkan di depan cucu-cucunya jika tubuhnya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Alasannya adalah tidak ingin membuat mereka berempat sampai khawatir dan mencemaskan kondisinya, itulah kenapa Tuan Lu untuk menyembunyikan tentang penyakitnya dari mereka berempat.
"Kakek, kenapa kau cepat sekali meninggalkanku? Padahal kita baru saja bertemu, belum banyak kenangan yang kita bagi bersama. Kakek, aku rindu..." selama beberapa hari ini Frans terus saja menangisi kepergian Tuan Lu. Dia benar-benar tidak percaya jika kakeknya sudah tiada.
Hwan mendekati Frans dan berusaha untuk menenangkannya. "Jangan menangis lagi. Kakek , sudah tenang di sana dan dia sedang melihat kita. Pasti kakek akan sangat sedih saat melihat kita selalu menangis dan meratapi kepergiannya, bukan tangisan yang dia inginkan melainkan senyuman." Ujar Hwan sambil mengusap punggung Frans dengan gerakan naik-turun.
Frans mengangkat wajahnya yang berurai air mata dan menatap Hwan dengan tatapan penuh kesedihan. "Tapi kenapa kakek harus pergi secepat ini, Ge? Kenapa dia tega sekali meninggalkan kita? Padahal kita baru saja bertemu dan berkumpul kembali. Kakek, aku rindu Kakek..." tangis Frans kembali pecah. Dia menangis seperti tadi, kali ini lebih kencang dari sebelumnya.
Kevin menutup matanya dan menghela napas. Dia benar-benar terganggu dengan tangisan Frans yang tidak berhenti-henti. "Berhenti menangis, Frans!!" pinta Kevin dengan nada rendah namun penuh penekanan.
Frans bukan anak kecil lagi. tidak seharusnya dia menangis seperti itu. Lagipula kasian Kakek mereka jika terus ditangisi, dia tidak bisa tenang di sana. Itulah kenapa Ken sampai memintanya untuk berhenti menangis.
"Ge, kenapa kau malah memarahiku? Aku sedang bersedih dan berduka, bukankah kau juga merasakan hal yang sama?" ucap Frans sambil menatap Kevin dengan takut.
"Kau pikir Kakek senang kau tangisi seperti ini? Untuk apa kau menangisi orang yang sudah tiada? Itu tidak ada gunanya sama sekali karena sebanyak apapun air mata yang kau keluarkan, hal itu tidak mungkin membawanya kembali. Jadi berhenti menangis, tahu aku akan menghajar mu!!"
Kevin terpaksa memberikan ancamannya Pada Fans supaya dia berhenti menangis. Kevin benar-benar tidak suka jika kepergian kakeknya diiringi dengan air mata, karena bukan hanya Frans sendiri yang kehilangan dia.
Sebenarnya Kevin juga sama seperti Frans, hanya saja dia tidak mau terlalu menunjukkannya. Dia memendam kesedihannya di dalam hati. Karena Kevin tidak ingin membuat yang lain semakin bersedih.
"Ge, sebaiknya kau bawa Frans ke kamarnya." pinta Viona dibalas anggukan oleh Hwan.
__ADS_1
Memang sudah seharusnya Frans di jauhkan dari padangan mata Kevin untuk sementara waktu. Biarkan dia menangis untuk meluapkan semua perasaan yang di rasakan ya saat ini. Tapi setidaknya jangan di hadapan Kevin dan membuatnya semakin berduka.
Viona menggenggam tangan Kevin. Senyum lembut terpatri di sudut bibirnya ketika mata berbeda warna mereka saling bertemu selama beberapa detik. "Aku baik-baik saja, kau tidak perlu Terlalu mencemaskan ku." Ucap Kevin sambil membalas genggaman tangan Viona.
"Ya, aku tahu jika suamiku adalah lelaki yang kuat dan tegar. Kita sama-sama relakan Dia pergi. Sekarang Kakek sudah tenang di sana dan dia tidak sakit lagi," ucap Viona dan di balas anggukan oleh Kevin.
"Aku mau keluar sebentar untuk menenangkan diri. Sebaiknya kau tetap di rumah, aku ingin sendirian dulu." Ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.
Jika biasanya dia selalu ingin ikut kemanapun Kevin pergi, namun tidak untuk kali ini. Kali ini Viona membiarkannya pergi sendirian, karena dia tahu jika Kevin membutuhkan waktu untuk sendiri dan menenangkan diri.
Tidak lama lepas kepergian Kevin, wanita datang ke kediaman Lu. Dia mengatakan pada Viona dan Hwan jika dia datang berkerja untuk menggantikan saudaranya yang hendak melahirkan. Dan demi meyakinkan mereka berdua, yang tak lain dan tak bukan adalah Denada menunjukkan bukti yang Hwan minta.
"Bagaimana, Ge? Apa wanita ini benar-benar bekerja di sini?" tanya Viona sambil menunjuk orang yang ada di foto yang ditunjukkan oleh Denada, wanita itu sedang hamil besar dan hampir melahirkan. Viona bertanya pada Hwan karena bagaimanapun juga dia lebih tahu siapa saja yang tinggal dan bekerja di kediaman Lu.
Akhirnya Denada pun diijinkan untuk masuk ke dalam. Mereka berdua tidak curiga sedikitpun padanya, karena keduanya sama-sama berpikir bila Denada benar-benar orang yang akan menggantikan kita bernama Lin Fan tersebut.
Dan mulai hari ini sebagai pelayan di kediaman Lu, dan Tujuannya adalah untuk mencari pria bernama Kevin Zhang. Dia ingin membalaskan dendam kakaknya . Karena pria itu, kini hidup Agnes menderita. Dan sebagai seorang adik, tentu saja dan ada tidak bisa diam begitu saja.
"Bagus sekali, ternyata tidak sulit membohongi kedua orang bodoh ini. Dan selanjutnya hanya mencari yang mana orang bernama Kevin itu lalu menghancurkannya, dan tugasku selesai. Denada, kau benar-benar jenius." ucapnya membatin.
Denada sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. Karena lebih cepat di selesaikan maka itu lebih baik. Dengan begitu dia tidak perlu repot-repot membuang terlalu banyak waktu di tempat ini.
xxx
__ADS_1
Sepasang mutiara sewarna langit malam menatap langit yang gelap dengan beberapa kerlip lemah gemintang yang masih setia menemani rembulan. Angin berhembus perlahan, membelai kulitnya, mengacak surai blonde miliknya yang tertata rapi. Tatapannya hanya terfokus pada satu bintang yang tampak berkilauan di atas sana.
"Hei, Pak Tua, bagaimana kabarmu di sana?" suaranya tercekat saat membisikkan pertanyaan tersebut.
Pandangannya masih lekat pada langit, diiringi sinar temaram bintang-bintang. Rautnya kian muram mendapati sang ratu malam merayap kian tinggi di langit, menandakan tengah malam akan segera tiba. Tidak terasa sudah lebih dari lima jam dia pergi meninggalkan rumah. Karena di rasa sudah terlalu lama, pria itu pun memutuskan untuk segara pulang.
Hampir tiga puluh menit berkendara. Pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Kevin tiba di kediaman Lu. Dan kedatangannya disambut oleh seorang wanita yang wajahnya tidak asing baginya. Wanita itu tampak terkejut melihat kedatangan Kevin di kediaman Lu.
"Kau... Bukannya kau adalah orang yang bertabrakan denganku beberapa hari yang lalu? Kau masih mengingatku kan? Aku adalah orang yang tidak sengaja bertabrakan denganmu ketika berada di wahana bermain malam itu. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini? Atau jangan-jangan kau juga bekerja di rumah ini?" beberapa pertanyaan Denada layangkan pada Kevin.
Denada tampak begitu gembira saat bertemu kembali dengannya, sedangkan Kevin menunjukkan sikap dingin dan tidak bersahabat.
"Apa yang sedang kau lakukan di rumah ini?" bukannya sebuah jawaban, kevin malah melayangkan pertanyaan pada wanita itu. Entah kenapa dia merasakan ada yang tidak beres dengan wanita di hadapannya ini.
"Aku di sini untuk bekerja. Saudaraku hendak melahirkan, dan aku menggantikannya bekerja di rumah ini. Kau masih belum menjawab pertanyaanku, apa yang kau lakukan di rumah ini? Apa kau bekerja juga di sini?" sekali lagi Denada bertanya. Dia masih penasaran sebelum Kevin memberikan jawabannya.
"Bukan, tapi aku Tuan Muda di rumah ini!!" jawab Kevin dan pergi begitu saja.
Denada menoleh dan menatap kepergian Kevin dengan Tatapan yang sulit diartikan. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar dan dia merasakan gejolak aneh. Akhirnya dewi Fortuna berpihak padanya, karena dia dipertemukan kembali dengan laki-laki yang berhasil membuatnya jatuh cinta sejak pandangan pertama.
"Kalau jodoh memang tidak kemana. Hei, tampan... Jangan mencari jauh-jauh karena jodohmu sudah ada di depan matamu..."
xxx
__ADS_1
Bersambung