Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Nasib Buruk Doory


__ADS_3

Kabar tentang Doori yang kabur dari penjara telah sampai ke telinga Kevin. Satu-satunya polisi yang berhasil lolos dari makanan bercampur obat tidur menghubunginya dan memberitahunya jika Doori melarikan diri dengan bantuan teman-temannya.


"Baiklah, terimakasih atas informasinya."


Kevin memutuskan sambungan telepon itu begitu saja. Kemudian dia berbalik dan menghampiri Viona yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Memangnya siapa yang menghubungi, Paman?" tanya Viona penasaran.


"Kepolisian, mereka memberitahuku jika Doori melarikan diri dan kemungkinan besar dia dan gengnya akan menyerang kemari. Kali ini aku tidak akan membiarkan dia tetap hidup, dan kedatangannya akan aku sambut dengan meriah." Ujar Kevin, kali ini dia tidak akan bersikap lembut lagi apalagi menggunakan hati. Hukuman penjara saja tidak akan membuatnya jerah.


"Kalau begitu kita beri tahu Bibi Sabrina, dia bisa dalam bahaya jika kita tidak memberitahunya." ujar Viona.


Kevin menggeleng. "Itu tidak perlu, karena aku tidak akan membiarkan mereka menginjakkan kakinya di dalam Villa ini. Frans dan anak buahnya sedang menunggu mereka dengan tenang di ujung jalan, mereka tidak akan sampai kesini." Tutur Kevin.


"Jadi maksud, Paman. Paman, tidak perlu melibatkan diri untuk menghabisi Doori dan anak buahnya?" ucap Viona memastikan, Kevin menganggukkan kepala. Untuk apa dia harus melibatkan diri, jika sudah ada orang-orang yang bisa ia andalkan.


"Kalau begitu temani aku makan malam, aku sangat lapar," rengek Viona sambil memegangi perutnya yang mulai keroncongan.


Kevin mendengus. "Makanmu sangat banyak, tapi kenapa badanmu tetap kecil?" cibir Kevin seraya menjitak kepala berhelaian coklat milik Viona. Bukannya merasa tersinggung, Viona malah tertawa mendengar jawaban Pamannya, karena yang Kevin katakan memang benar adanya.


"Bukankah itu bagus, dengan begini bodyku tetap bagus. Ayo, Paman. Jangan buang-buang waktu lagi, apalagi membuat perutku semakin keroncongan." Ucap Viona sambil memeluk lengan Kevin dan membawa pria itu menuju meja makan.


Lagi-lagi Kevin hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Viona, detik berikutnya sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.


Untung saja tidak ada yang melihat senyum itu, karena akan berbeda ceritanya jika para pengagum rahasia Kevin sampai melihatnya. Bisa-bisa mereka akan berteriak histeris seperti orang gila.


.


.


Motor-motor besar itu terpaksa berhenti karena hadangan puluhan orang bersenjata dan berpakaian rapi. Doori selaku pimpinan dari geng tersebut turun dan menghampiri pria-pria tersebut.


"Siapa kalian dan kenapa menghalangi jalan? Minggir, biarkan kami lewat!!" pinta Doori menuntut.


"Banyak bacot, cepat ringkus dan habisi mereka semua!!" perintah Frans pada anak buahnya. Dia tidak membuang-buang waktu dan segara mengerahkan semua anak buahnya untuk menghajar dan menghabisi mereka.


Perkelahian pun tak bisa terhindarkan, Doori mengalami kekalahan telak karena kelompok mafia yang membantunya teryata memilih melarikan diri sebelum perkelahian itu dimulai.


Rupanya Mereka takut pada Frans dan semua anak buahnya. Bagi mereka yang sudah lama berkecimpung di dunia bawah pasti tidak asing lagi dengan kelompok Mafia Black Devils, sebuah organisasi besar yang didirikan oleh seorang pria berdarah China bernama Kevin Zhang.


Ya, Kevin merupakan seorang Bos Mafia yang memimpin di tiga Benua. Dibalik wajahnya yang tampan dan terkesan cantik, siapa yang menduga jika Kevin adalah bos mafia yang paling ditakutin dan disegani.


Satu persatu teman-teman Doori mulai berjatuhan setelah terkena tebasan senjata tajam pihak lawan ataupun tertembus peluru yang mereka lepaskan. Tidak ada satupun dari anak buah Frans yang terluka, mereka tak tersentuh lawan sama sekali.

__ADS_1


"Sial!! Berani-beraninya kalian menghabisi teman-temanku?!" teriak Doori dengan emosi. Hanya tersisa tiga saja teman Doori yang masih hidup, dan dia tidak ingin jika ketiganya sampai mati juga. "HENTIKAN!!" teriak Doori dengan suara gemetar.


"Apa itu artinya kau menyerah?" Frans menyeringai dan menatap Doori dengan seringai meremehkan. "Aku akan memberimu dua pilihan, menyerah atau membiarkan teman-temanmu mati?" Doori menodongkan senjata ditangannya pada Doori.


Pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Pandangannya bergulir pada tiga temannya , wajah mereka babak belur dan benar-benar tidak berdaya. Doori menutup matanya dan menghela napas.


"Lepaskan mereka dan kalian bisa menangkapku," Doori mengambil keputusan, dia lebih memilih ketiga temannya tetap hidup dari pada harus kehilangan mereka.


"Benar-benar setia kawan, aku salut padamu. Lepaskan mereka," Frans memberi kode pada anak buahnya supaya melepaskan ketiga teman Doori. Sebagai gantinya, Doori harus ikut dengan Frans dan anak buahnya.


Doori berhutang nyawa pada mereka. Dan sebagai balas Budi, Doori memilih membiarkan mereka tetap hidup dengan dia ikut bersama Frans.


.


.


"Baiklah, aku akan segara ke sana."


Kevin mengakhiri panggilan telfonnya begitu saja , Frans baru saja menghubunginya dan memberitahu Kevin jika Doori telah ditangkap dan saat ini berada di ruang bawah tanah.


Pandangan Kevin bergulir pada Viona yang sedang tertidur pulas, tanpa berniat membangunkan perempuan itu terlebih dahulu, kevin melanggar keluar meninggalkan kamarnya.


"Tuan Muda, malam-malam begini Anda mau pergi ke mana?" dan langkah Kevin dihentikan oleh Sabrina yang hendak pergi untuk istirahat.


Kevin tidak mungkin memberitahu Sabrina ke mana sebenarnya ia akan pergi, karena bagaimanapun juga wanita itu adalah ibu kandung Doori. Sejahat apapun Doori padanya, pasti dia masih memiliki hati untuk menyayanginya.


Dua puluh menit berkendara, Kevin tiba di lokasi. Doori disekap di Markas miliknya yang terletak di pulau Jeju, dan kedatangannya disambut oleh frans yang memang sudah menunggu kedatangannya.


"Dimana kau menyekap bajiingan itu?" tanya Kevin tanpa basa-basi.


"Ruang bawah tanah, kami terpaksa mematahkan kakinya karena berkali-kali untuk melarikan diri." Ujar Frans


"Tidak masalah, karena dengan begitu dia tidak akan terlalu merepotkan kita lagi." Jawab Kevin menimpali.


Frans mengantarkan Kevin menuju ruang bawah tanah tempat Doori disekap. Tak hanya Doori saja yang ada di ruangan gelap dan pengap tersebut, bahkan ada beberapa yang telah menjadi tulang belulang akibat terlalu lama Kevin menyekapnya.


Doori tergeletak dalam keadaan tak sadarkan diri, sekujur tubuhnya dipenuhi luka dan darah segar tampak di pelipis dan perut sisi kirinya. Perutnya terluka namun tidak terlalu parah, keadaan Doori benar-benar mengenaskan.


"Bangunkan dia," pinta Kevin. Frans pun segara memberi kode pada anak buahnya agar membangunkan Doori, pria itu mengguyur tubuhnya dengan air, dan seketika itu pula mata Doori terbuka.


Doori mengusap wajahnya yang basah kuyup, lalu pandangannya bergulir pada Kevin dan menatap pria itu dengan tajam. "Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja?" tanya Doori, raut mukanya menunjukkan jika dia sedang kesakitan.


"Jika menyiksamu lebih menyenangkan, jadi untuk apa langsung menghabisimu?" Kevin menyeringai.

__ADS_1


Ya, benar sekali yang Kevin katakan. Dia akan menjadikan Doori sebagai boneka mainannya, yang bisa dia mainkan dengan sesuka hatinya. Bukan salah Kevin, tapi salah Doori sendiri karena berani mencari masalah dengannya. Dan harga mahal yang harus Doori dapatkan dari perbuatannya adalah kematian.


"Kau benar-benar iblis!!"


"Jika kau sudah tahu jika aku ini iblis, lalu kenapa masih berani mencari masalah denganku?!" Kevin menatapnya dengan tajam.


"Kenapa kau tidak mati saja? Karena iblis sepertimu harusnya tidak perlu ada di dunia ini!!"


"Itu karena Tuhan lebih menyayangiku, makanya dia membiarkan iblis sepertiku hidup lebih lama dibandingkan kalian para manusia yang bermuka dua," ucap Kevin dengan santainya.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku?! Sejak awal kita tidak memiliki masalah, tapi kenapa kau memperlakukanku seperti ini?! lepaskan aku!!" pinta Doori menuntut.


"Awalnya kita memang tidak memiliki masalah, tapi kau sendiri yang mencipta masalah denganku. Kau yang memancingku terlebih dulu untuk melakukan sesuatu padamu, dan apa yang kau dapatkan saat ini adalah buah dari perbuatanmu. Karena apa yang kau tanam, maka itulah yang kau petik, jadi nikmati saja hasilnya." ujar Kevin panjang lebar.


Doori menyesali semuanya sudah terlambat karena tidak ada kata maaf lagi untuk orang sepertinya, satu kali diberi kesempatan maka itu hanya akan membuat Doori melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.


"Hukumanmu akan dimulai besok pagi. Jadi untuk malam ini kau bisa beristirahat dengan tenang. Setelah itu terimalah hari-harimu seperti di Neraka!!" ujar Kevin lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan gelap tersebut.


Kesalahan terbesar Doori melarikan diri dari balik jeruji besi hanya untuk mencari masalah dengan Kevin sekali lagi. Karena bukan kebebasan yang dia dapatkan melainkan kesengsaraan yang tidak berujung.


.


.


Kevin memicingkan matanya melihat keadaan Villa yang sangat gelap. Tak ada satu lampu pun yang menyala di setiap sudut ruangan di bangunan bertingkat tersebut, termasuk kamar yang dia tempati bersama Viona.


Perasaan Kevin mulai tidak enak. Dia sangat yakin jika sesuatu sedang terjadi di dalam sana dan Kevin harus segera mencari tahunya, jangan sampai hal buruk menimpa Viona atau orang itu tidak akan selamat.


"Tuan, apakah itu Anda?"


Dan kedatangannya disambut oleh Bibi Sabrina, dia menghampiri Kevin sambil membawa lilin. "Apa yang terjadi? Kenapa listrik tiba-tiba padam? Lalu dimana Viona?" tanya Kevin pada wanita itu.


"Terjadi korsleting, Nona tidur pulas di kamar. Tadi Nona sempat bangun dan mencari Anda, tapi setelah itu dia tidur lagi." Ujar Bibi Sabrina. Kevin mengangguk paham, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Sabrina.


Kevin ingin melihat Viona, mungkin saja saat ini dia sedang ketakutan karena Kevin tau betul jika Viona paling takut pada gelap.


Tapi dugaannya salah, karena Viona sedang tertidur pulas sambil memeluk guling dengan erat. Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Kemudian dia ikut berbaring disamping Viona dan segera menyusulnya ke alam mimpi. Matanya sudah tidak bisa lagi untuk diajak kompromi, Kevin benar-benar lelah, dan sekujur tubuhnya terasa sakit semua.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2