Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kesal


__ADS_3

Berlin, Jerman merupakan salah satu kota sibuk yang biasa menjumpai orang yang tengah berlalu lalang. Entah itu pergi bekerja, belanja, bahkan mengemis dan mengamen pun bisa kalian temukan.


Seorang wanita dengan balutan dress berwarna merah muda selutut itu menyusuri jalanan kota Berlin. Jemari lentik berhiaskan nail art dengan lincah mengetik pesan di ponsel touchscreen-nya. Mata Hazel-nya mengamati daerah sekitar. Hampir semua orang yang dia lihat berpasangan, dan hanya dirinya yang sendirian.


Wanita itu menghembuskan nafas berat, kesel terlihat jelas dari raut wajah cantiknya. Sudah berkali-kali dia mengirim pesan singkat pada Kevin, tetapi tak satupun pesan itu yang dibalas olehnya. Viona tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Kevin sampai-sampai dia tidak sempat membalas pesannya.


Wanita itu menghentikan langkahnya saat melihat sebuah cafe yang terlihat ramai diantara cafe-cafe yang ada. Akhirnya dia pun memutuskan untuk.pergi ke cafe tersebut.


Ting...


Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Viona membaca pesan singkat itu dan menghembuskan napas kasar. Ternyata bukan dari Kevin melainkan operator. Viona tidak tau dimana keberadaan pria itu saat ini, bahkan Viona juga tidak tahu kemana dia pergi, Kevin dan Frans pergi pagi-pagi sekali dan belum kembali sampai saat ini.


Ponsel Viona tiba-tiba berdering, panjang umur... Kevin menghubunginya. Bukannya menerima panggilan tersebut, Viona malah mengabaikannya. Dia tidak berniat untuk menerima panggilan itu sama sekali. Viona ingin balas dendam pada Kevin karena sudah mengabaikannya.


Viona melirik ponselnya yang terus berdering tanpa henti. Agar tidak mengganggu pengunjung lain dengan suara dering pada ponselnya, dia mematikan deringnya dan hanya getaran kecil ketika ada panggilan masuk. Viona benar-benar kesal pada Kevin, meskipun tidak memberitahukan keberadaanya saat ini, setidaknya dia membalas pesannya bukannya malah mengabaikannya.


Ponsel itu kembali berdering untuk kesekian kalinya. Kali ini Viona tidak hanya mengabaikannya tetapi justru mematikan ponselnya. Viona ingin supaya Kevin tahu jika sekarang dirinya sedang kesal padanya.


xxx


"Bagaimana Ge? Apa tetap tidak diangkat?" tanya Frans memastikan.

__ADS_1


Kevin menggeleng. "Ponselnya malah tidak aktif. Sepertinya Viona sedang kesal padaku. Frans, coba lacak keberadaanya dan cari tahu dimana dia sekarang." Pinta Kevin dan dibalas anggukan oleh Frans.


"Baik, Ge." jawab Frans.


Kevin mencemaskan Viona karena sedari tadi dia tidak mau mengangkat telfonnya. Sudah berkali-kali tapi tidak satupun telfon Kevin ada yang diangkat olehnya. Kevin dan Frans memutuskan untuk pergi lagi setelah tiba di Villa dah mendapati Viona tidak ada di sana.


Kevin sungguh sangat menyesal karena sudah membuat Viona kesal dan marah. Bukan niat Kevin sengaja untuk tidak mengangkat telfon ataupun membalas pesan Viona, ponselnya ketinggalan di mobil dan Kevin baru mengetahuinya. Sedikitnya ada sepulu panggilan tidak terjawab dan puluhan pesan singkat yang semua dari Viona.


"Ge, Viona Nunna ada di cafe yang letaknya tidak terlalu jauh dari sini. Sebaiknya kita menyusulnya ke sana sebelum dia semakin kesal dan marah padamu." ucap Frans dan dibalas anggukan oleh Kevin.


Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju cafe yang dimaksud oleh Frans. Kevin harus segera meminta maaf pada Viona sebelum dia semakin marah padanya. Karena jika sudah marah, ngambeknya bisa sampai berhari-hari, dan Kevin masih trauma.


xxx


Ting...


Jantung Kevin sudah tidak aman. Dia berdebar-debar menunggu amukan dari Viona perihal telfon dan pesan singkat yang tidak dia angkat serta balas.


"Viona," wanita itu menoleh setelah mendengar suara familiar yang masuk dan berkaur di telinganya.


Bukannya menyambut kedatangan Kevin dengan baik, Viona malah bersikap dingin dan acuh padanya. "Kau marah pada, Paman?" tanya Kevin nmun tidak ada jawaban dari Viona. Dia bersikap acuh dan tidak peduli dengan keberadaan Kevin.

__ADS_1


"Ge, kalian selesaikan saja ya. Aku tunggu kalian di mobil." Ucap Frans dan pergi begitu saja.


Selepas kepergian Frans. Hanya menyusahkan Kevin dan Viona. Wanita itu terus memalingkan mukanya dari Kevin dan enggan untuk menatapnya. Kesal terlihat jelas dari sepasang mata Hazel-nya.


"Vi, maafkan Paman. Paman, benar-benar minta maaf padamu. Paman, tau jika Paman salah. Kau boleh kesal dan marah tapi jangan mendiami Paman seperti ini." Pinta Kevin memohon.


"Sebenarnya Paman tadi kemana saja? Kenapa telfonku tidak Paman angkat dan pesanku tidak dibalas? Apa Paman sesibuk itu sampai-sampai tidak ada waktu untuk mengangkat telfon?!" ujar Viona dengan kesal.


Kevin menghela napas berat. "Sekali lagi maafkan Paman, Vio. Paman tadi ada urusan mendadak, dan karena kau masih tidur jadi Paman tidak tega untuk membangunkanmu. Ponsel Paman tertinggal di mobil jadi tidak tau jika kau menelfon." ujar Kevin memberi penjelasan.


"Baiklah sekarang Paman aku maafkan, tapi awal saja jika hal seperti ini sampai terulang lagi. Aku tidak akan memaafkan Paman!!" ucap Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin. Kemudian wanita itu berhambur ke dalam pelukan Kevin. "Apa Paman tahu kalau aku sangat mencemaskanmu." ucap Viona berbisik.


Kevin menghela napas. Dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Viona seraya meminta maaf padanya. Kevin akui jika memang dia yang bersalah, dan dia berhaji pada dirinya sendiri jika hal semacam ini tidak akan terulang kembali.


"Terimakasih, Sayang. Paman janji gak semacam ini tidak akan terulang lagi." Ucap Kevin berbisik. Viona hanya menganggukkan kepala mengiyakan apa yang Kevin katakan.


xxx


Bersambung.


Author Note:

__ADS_1


Halo para pembaca setia Author. Maaf ya dua hari kemarin tidak ada bab baru sama sekali. Author sedang kurang enak badan , agak pusing makanya libur dua hari. Semoga cerita ini masih ditunggu ya. Insyaallah mulai hari ini rutin lagi seperti biasa , nanti akan ada cerita baru juga yang siap launching. Jangan lupa buat selalu tinggalkan like komen ya setelah baca.


__ADS_2