
"Kevin, Kakek harus kembali ke China sekarang. Cepat atau lambat, Kakek pasti akan datang kembali untuk menjemputmu. Jadi persiapkan dirimu, Nak. Karena bagaimana pun juga kau adalah pewaris yang sah dari Qin Corp."
"Kenapa harus terburu-buru? Apa Kakek tidak ingin bertemu dengan cucu bungsumu? Frans, sedang dalam perjalanan kemari." Sahut Viona menimpali. Wanita itu muncul dari dapur sambil membawa nampan berisi buah-buahan segar. Membuat perhatian kedua pria itu teralihkan padanya.
Kevin mengulurkan tangannya pada Viona lalu menempatkan wanita itu di sampingnya. "Itu benar, aku sudah menghubunginya dan dia akan segara tiba." Sahut Kevin menambahkan.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Kevin dan Viona membuat Tuan Lu mengurungkan niatnya untuk kembali ke China. Dia masih ingin bertemu dengan Frans, cucu bungsunya.
"Baiklah kalau begitu, Kakek akan menunggu sampai dia datang. Kakek, juga ingin bertemu dengannya." Ujar Tuan Lu sambil tersenyum lebar.
Lelaki tua itu jadi tidak sabar untuk segera bertemu dengan cucu bungsunya yakni Frans. Tuan Lu penasaran Frans lebih mirip siapa, ibunya atau ayahnya. Karena Kevin sudah pasti mirip ayahnya yang dingin dan tidak banyak bicara.
"Nah begitu dong, Kek. Setelah Kakek bertemu dengannya, aku jamin Kakek jadi tidak mau cepat-cepat pulang ke China." Sahut Viona.
Tuan Lu menatap Viona dengan bingung."Memangnya kenapa?" dan bertanya dengan penasaran.
"Kakek, akan mengetahuinya setelah dia tiba di sini. Yang jelas dia tidak seperti Paman Kevin, dingin." Jawab Viona.
Mendengar clue yang diberikan oleh Viona, membuat Tuan Lu yakin jika Frans menurun sifat ibunya. Tetapi dia tidak yakin juga sebelum bertemu dengannya. Dan yang bisa Tuan Lu lakukan sekarang hanyalah menunggu, karena dia sendiri tidak tahu kapan Frans akan datang. Kevin hanya mengatakan jika dia akan datang sebentar lagi. Dan semoga saja itu benar dan tidak lama.
"Kalau begitu Kakek ke kamar dulu. Punggung Kakek terasa kurang nyaman, mungkin karena faktor Usia juga yang sudah semakin tua." Ucap Tuan Lu lalu dibalas anggukan oleh Kevin dan Viona.
Selepas kepergian Tuan Lu. Kevin dan Viona meninggalkan Villa. Wanita itu merengek ingin jalan-jalan dan Kevin tidak bisa untuk tidak menurutinya. Dia akan pergi menemani Viona jalan-jalan. Apapun asalkan itu membuatnya senang.
.
.
Kevin tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari Viona yang sedang memandang pada langit senja yang temaram. Kulihat putihnya yang bak porselen terpapar cahaya jingga mentari. Kevin tidak bisa melihat mata indahnya, karena dia memejamkan matanya sembari menikmati angin musim gugur yang sejuk. Musim gugur adalah salah satu musim sangat disukai oleh Viona selain musim semi.
Daun-daun maple berguguran dari tangkainya. Membentuk hamparan cantik berwarna kuning merah bak sebuah permadani yang terbentang luas dari ujung barat sampai timur. Benar-benar pemandangan yang tidak bisa di temukan di musim apapun termasuk musim semi.
__ADS_1
"Ahhh," kelopak mata itu terbuka begitu saja ketika Viona merasakan sepasang tangan kekar memeluknya dari belakang. Tanpa melihatnya sekalipun tentu saja Viona tahu siapa yang sudah memeluknya ini. Wanita itu memejamkan matanya sambil menyadarkan punggungnya pada dada bidang yang tersembunyi dibalik kemeja hitam itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
"Apa kau tidak bosan terus-terusan mengabaikanku, hm?" gumam Kevin di pertopangan leher Viona.
Wanita itu menoleh kebelakang membuat mutiara berbeda warna milik mereka saling bertemu pandang. "Memangnya siapa yang mengabaikan, Paman? Aku hanya ingin menikmati sejuknya angin senja di musim gugur ini." Jawab Viona tidak mau di persilahkan.
Setelah perbincangan singkat itu. Tidak ada lagi obrolan di antara mereka berdua. Mereka berdua sama-sama diam dalam keheningan, terdengar hanyalah suara bising kendaraan yang berlalu lalang. Meskipun ini adalah tempat umum, tapi mereka berdua tidak merasa sungkan untuk bermesraan karena banyak pasangan muda-mudi yang juga melakukannya.
Viona mengangkat kepalanya dan melonggarkan pelukan Kevin pada tubuhnya. "Paman, ini adalah momen langka bagaimana jika kita mengabadikannya? Aku ingin mengambil foto, kau setuju kan? Tidak tidak tidak tidak, tapi kau harus setuju dan aku memaksamu!!" tukas Viona menegaskan.
Meskipun tidak ingin, akhirnya Kevin setuju untuk mengambil foto. Bisa dibilang jika Kevin adalah manusia anti kamera karena dia jarang sekali berfoto. Tapi demi Viona, meskipun tidak ingin melakukan tetapi Kevin tetap melakukannya. Yang terpenting adalah Viona senang dan bahagia.
"Tapi jangan lebih dari dua kali." Ucap Kevin dengan tegas.
Viona berdecak sebal. Kemudian dia mengangguk mengiyakan. Lebih baik menuruti keinginan Kevin dari pada tidak sama sekali. Toh dua foto juga tidak buruk. Pikir Viona. Karena ingin mendapatkan hasil yang memuaskan, Viona menghampiri salah satu pengunjung dan meminta bantuannya untuk memotretnya bersama Kevin.
Wanita itu berpose mesra dengan memeluk lengan Kevin. Wajah cantiknya lihat ceria berbeda dengan Kevin yang hanya memasang muka datar. Dua foto sudah diambil, dan orang itu mengembalikan ponsel Viona. Bukannya gembira, Viona malah lesu melihat hasilnya. Bukan karena hasil fotonya jelek , tapi karena Kevin yang hanya memasang muka datar. Hal itu merusak keindahan foto tersebut.
"Yakk!! Kenapa Paman malah berekspresi menyebalkan seperti ini?! Harusnya Paman tersenyum ke arah kamera sambil melakukan chis, bukannya memasak muka datar seperti ini!!" ujar Viona. .
Tapi mau bagaimana lagi, semua sudah terlanjur dan disesali pun tidak ada gunanya. Dan beginilah resiko memiliki suami yang dingin , kaku dan minim ekspresi seperti Kevin. Tapi bagaimanapun juga Viona tetap menerimanya, karena dia sangat-sangat mencintai Kevin. Bukankah cinta harus menerima apa adanya, bukan apa adanya seperti kebanyakan wanita di luaran sana yang cinta karena materi.
"Paman, aku lapar. Ayo kita pergi cari makan dan kali ini biar aku yang menentukan kuta akan makan di mana." Ujar Viona.
"Bukankah ini masih siang dan belum masuk waktunya untuk makan malam?" ucap Kevin sambil menatap wanita itu.
Viona menggeleng tidak peduli. "Masa bodoh dengan hal itu. Karena aku laparnya sekarang bukan nanti. Lagipula kita makan makanan bukan makan waktu!!" jawab Viona sambil mengangkat bahunya dengan acuh.
Kevin mendengus dan menatap Viona dengan geli. Melihat tingkahnya membuat Kevin gemas sendiri. Akhirnya dia pun setuju untuk pergi makan dengan wanita itu. Karena jika tidak dituruti pasti Viona akan merengek.
xxx
__ADS_1
"Ge, Nunna, AKU DATANG!!"
Suara nyaring itu mengejutkan Tuan Lu yang sedang berbaring di kamarnya. Dia pikir ada gempa sampai-sampai membuatnya melompat turun dari ranjangnya. Setelah memakai kembali sendalnya, Tuan Lu bergegas turun untuk melihat siapa yang datang dan membuat keributan.
Dan Setibanya dia di luar kamar, Tuan Lu melihat kedatangan seorang pemuda dengan postur tinggi dan kulit seputih susu. Melihat kemiripan pemuda itu dengan Alexa, membuat Tuan Lu sangat yakin jika dia adalah Frans yang merupakan cucu bontotnya.
"Eo, Kakek ini siapa dan apa yang kau lakukan di sini?" tanya Frans sambil menatap Tuan Lu penasaran.
"Pasti kau adalah, Frans?" tebak Tuan Lu 100% benar. Dan Frans menganggukkan kepala membenarkan ucapan Tuan Lu.
"Ya, aku Frans. Bagaimana Kakek bisa tahu namaku? Apakah aku seterkenal itu sampai-sampai orang lain mengenaliku padahal belum pernah bertemu. Apa Kakek adalah salah satu fans beratku? Begini-begini aku adalah seleb sosmed," ujar Frans. Dia terus saja mengoceh tidak jelas di depan Tuan Lu.
Alhasil sebuah jitakkan mendarat mulus di kepala berlayar hitam miliknya. "Sakit!! Kenapa kakek malah pencinta kepalaku? Memangnya apa yang salah dengan ucapanku?" tanya Frans sambil mengusap kepalanya yang baru saja dicetak oleh Tuan Lu.
"Dasar bocah ini. Ternyata kau benar-benar mirip dengan ibumu. Kau adalah Alexa versi wanita. Semua yang ada padanya melekat pada dirimu termasuk sikap tengilmu itu!!" ujar Tuan Lu panjang lebar.
Seketika pupil mata Frans membulat sempurna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh pria tua itu. "Tunggu dulu, bagaimana Kakek bisa mengetahui nama ibuku? Apa kau adalah fansnya juga, atau mungkin kau adalah~"
"...Jangan bicara sembarangan!!" Tuan Lu menyela cepat sambil memukul kepala Frans. "Aku bukan fans ibumu tetapi ayahnya, dan Kakek ini adalah Kakekmu!!"
"Oh, Kakekku." Frans manggut-manggut. Sepertinya dia tidak sadar dengan apa yang baru saja di dengar dan di katakan. Tiba-tiba kedua matanya membelalak sempurna saat menyadari sesuatu."Tunggu dulu, apa Kakek bilang? Kakek ini adalah Kakekku dan aku cucumu?" tanya Frans memastikan.
Tuan Lu menghela napas. Ternyata Frans lebih parah dari Kevin, yang satu mirip kutub Utara dan satu lagi sangat aneh bin ajaib. Dan Frans tidak bisa di bilang mirip dengan Alexa saja, karena dia sudah terlewat overdosis.
"Kakek, tunggu dulu sebentar. Aku membutuhkan penjelasan sekarang, kau adalah Kakekku dan aku cucumu? Bagaimana bisa?" Frans menatap Tuan Lu dengan bingung.
"Panjang ceritanya, jika diceritakan tidak akan selesai dalam satu malam. Intinya kau adalah cucuku dan ibumu adalah putriku. Kau dan Kevin bukan anak haram karena kalian berdua memiliki ayah. Sayangnya ayah kalian sudah lama tidak, bahkan jauh sebelum dirimu di lahiran. Hanya itu yang bisa kakek sampaikan." Tutur Tuan Lu panjang lebar.
Tiba-tiba Frans menyeka air matanya dan menangis histeris sambil berhambur ke dalam pelukan Tuan Lu. Dia menangis sambil mengoceh dengan bahasa yang tidak Tuan Lu pahami sama sekali.
Tetapi itu tidaklah penting, yang terpenting adalah dia sudah menemukan kedua cucunya yang selama ini hilang. Dan sekarang mereka telah kembali ke pelukannya. Kini dia bisa menjalani masa tuanya dengan tenang setelah menemukan mereka berdua.
__ADS_1
xxx
Bersambung