Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Bukan Salahmu


__ADS_3

Kevin keluar dari toilet dan mendapati Viona duduk termenung di atas ranjang inapnya sambil memeluk kedua lututnya. Dia hanya terus menatap kearah jendela yang bahkan Kevin sendiri tidak tahu apa yang menarik di matanya.


Dengan pasti. Kevin mengayunkan kedua kakinya dan menghampiri Viona yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" dan pertanyaan itu seketika mengalihkan perhatian Viona. Wanita itu menoleh dan menatap Kevin dengan datar.


Tatapan Kevin berubah sendu ketika melihat wajah putus asa Viona. Sepanjang dia mengenalnya, ini kedua kalinya dia melihat Viona sehancur itu. Pertama ketika ibunya meninggal, dan sekarang setelah dia kehilangan janinnya.


Tiba-tiba Viona menundukkan kepalanya. "Maaf," bisik Viona dengan lirih.


Dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang terjadi pada calon anak mereka. Viona berpikir jika dia tidak bisa menjaganya dengan baik, dia adalah calon ibu yang buruk. Begitulah penilaian Viona atas dirinya sendiri b


Kevin memicingkan mata kanannya. "Untuk apa?"


Air mata Viona semakin deras membasahi wajah cantiknya. Wanita itu menangkupkan kedua tangan di wajahnya. Ujung tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis dan kehancuran yang ia rasakan saat ini. Sakit dan sesak, keduanya terasa sulit sekali untuk dilepaskan. Seolah-olah menekan dadanya hingga membuatnya kesulitan bernapas.


Namun saat Viona merasa seseorang mendekap tubuhnya, tangisnya pecah seketika. "Berhenti, Viona. Jangan seperti ini lagi, aku mohon." Kevin menutup mata kanannya dan membenamkan kepalanya di pundak Viona. Aroma wanitanya yang sama sekali tak berubah membuat Kevin lebih mengeratkan pelukannya. "Jangan menangis lagi, aku mohon."


Namun Viona tidak menggubris perkataan suaminya. Seluruh tubuhnya bergetar, dan tangisnya semakin kuat seiring rasa bersalah yang ia rasakan kian besar. "Maaf, Paman... Maafkan aku, aku sungguh-sungguh minta maaf. Ini semua salahku, maafkan aku," ucapnya lirih.


Kevin menggeleng. "Tak ada yang perlu disalahkan. Karena semua terjadi atas kehendak Tuhan."


"Dia tak pantas menerima ini, harusnya aku bisa lebih menjaganya. Aku salah, Paman. Aku yang bersalah," ujar Viona dengan tangis yang semakin pecah. Dia benar-benar hancur.


Kevin menjauhkan tubuhnya. Mata hitamnya menatap Viona dengan sorot mata yang keras. "Tak ada yang perlu disalahkan," ulangnya dengan nada tajam. "Dan tak ada yang perlu dipantaskan. Cukup, berhenti menyalahkan dirimu sendiri!! Aku tidak suka mendengarnya,"


Tangis Viona sedikit mereda setelah mendengar ucapan Kevin. Wanita itu menahan mati-matian tangisnya setelah menyadari nada bicara Kevin yang tegas dan sedikit kurang bersahabat. Kepalanya sedari tadi masih tertunduk, tak berani memandang suaminya walau hanya sekilas.

__ADS_1


Kevin menghela napas panjang. Sebelah tangan Kevin terulur untuk mengusap jejak air mata yang membasahi wajah cantiknya, lalu bergerak dan berhenti di sisi wajah wanita itu. "Aku tidak ingin melihatmu seperti ini," bisiknya lirih.


Tatapannya kembali melunak. Sebagian perasaannya terasa seperti tercubit melihat keadaan istrinya. Wanita itu kini terlihat begitu hancur oleh perasaan bersalah. Tak ada lagi aura kehangatan yang Kevin rasakan darinya. Mata Hazel-nya yang biasanya memancarkan kehangatan, kini seolah meredup dan hampa.


Sehancur inikah Viona saat kehilangan seorang calon anak yang Kevin inginkan kehadirannya?


"Jangan menyalahkan diri seperti itu, aku benar-benar tidak suka mendengarnya," ucap Kevin seraya mengusap pipi Viona dengan lembut. "Tak ada satupun dari kita yang menginginkan hal ini terjadi. Tapi Tuhan lebih menyayanginya makanya dia mengambilnya kembali."


Viona kembali menangis. Kali ini tangisnya tak sekeras sebelumnya, namun terasa lebih menyayat hati. Kevin menghela nafas pelan. Tak mudah memang untuk membujuknya, apalagi dengan keadaan Viona saat ini yang begitu kehilangan janinnya.


Berbicara banyak pun juga akan sama saja. Di dalam hati Viona, perasaan bersalah itu pasti sudah melekat paten di sana. Mendekatkan tubuhnya lagi, Kevin kembali mencoba untuk menenangkan istrinya lewat pelukan.


Tak ada kata-kata lagi, hanya pelukan. Dan Kevin berharap pelukan itu bisa lebih menenangkannya. Yang Viona butuhkan sekarang hanya dukungan dari orang-orang terdekatnya. Dan menyakinkan padanya jika itu bukan kesalahannya.


xxx


Badan itu mulai gemetar menahan lelah dan dingin yang menggerogoti fisiknya yang tidak muda lagi. Dia sudah berlutut selama lebih dari empat jam hanya untuk mendapatkan maaf dari Kevin. Namun selama empat jam itu, usahanya tidak kunjung membuahkan hasil.


"Frans, dia bisa dehidrasi jika terus berlutut tanpa makan dan minum." Ucap Rico sedikit cemas.


"Aku tidak peduli!!" jawab Frans menimpali.


"Aku mengerti. Tapi setidaknya suruh dia pergi dan katakan saja jika Boss tidak mau memaafkannya, beres kan." Ujar Rico.


Frans menghela napas. "Baiklah, akan aku coba."


Dengan enggan. Frans bangkit dari duduknya dan menghampiri paruh baya itu yang merupakan ayah kandungnya, Tuan Roy. "Sampai kapan kau akan berlutut di sini? Dia tidak mungkin memaafkan dirimu, karena ulahmu dia harus kehilangan calon anaknya." Frans mendekati Tuan Roy dan menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"Papa, tidak akan pergi dan akan terus berlutut seperti ini sampai dia mau memaafkan diriku." Jawab Tuan Roy. Dia tetap pada pendiriannya untuk terus berlutut sampai Kevin mau memaafkan dirinya.


"Percuma saja, sampai kambing beranjak gorila dia juga tidak akan pernah memaafkanmu!!" ucap Frans menegaskan.


"Aku tahu dan aku tidak peduli. Aku hanya ingin dia memaafkanmu." Ujarnya.


Frans menghela napas. Bicara dengan orang yang keras kepala memang tidak ada gunanya. Tanpa mengatakan apapun, Frans beranjak dari hadapan Tuan Roy dan melenggang pergi. Dia membiarkan pria itu terus berlutut seperti itu.


Terlalu fatal kesalahan yang telah dia lakukan, sehingga tidak mudah bagi Frans untuk memaafkannya. Dan dia hanya akan memaafkan ayahnya bila Tuan Roy mendapatkan maaf dari Kevin. Jika Kevin memaafkannya, maka Frans juga akan memaafkannya.


.


.


Cklekk...


Decitan suara pintu di buka mengalihkan perhatian Tuan Roy. Paruh baya itu mengangkat kepalanya dan mendapati Kevin keluar dari sebuah ruangan yang di dominasi warna putih. Tanpa menghiraukan pria itu, Kevin melewatinya begitu saja.


"Luis, tunggu!!" seru Tuan Roy sambil menahan gelangan tangan Kevin.


Kevin menatap dingin tangan Tuan Roy. "Lepaskan!!" pintanya dingin.


"Kita perlu bicara." Ucap Tuan Roy memohon.


Kevin menyentak tangan ayahnya dengan kasar dan kembali menatapnya dengan tajam. "Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sebaiknya segara angkat kakimu dari sini, aku tidak ingin melihat mukamu lagi!!" ucap Kevin dan pergi begitu saja.


Bagus Kevin tidak langsung menembak mati dirinya. Amarah Kevin sempat meluap ketika dia tahu Viona mengalami keguguran. Dan dia melimpahkan semua kesalahan itu pada Tuan Roy, karena Viona tidak mungkin kehilangan janinnya jika bukan karena dia.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2