Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Doori Kabur


__ADS_3

Viona membiarkan ponselnya terus berdering tanpa berniat untuk mengangkatnya. Dan hal itu sedikit mengusik ketenangan Kevin yang sedang beristirahat.


"Ck, sampai kapan kau akan membiarkan ponselmu terus berdering, Viona?!" Kevin membuka matanya dan menatap Viona dengan tajam. Dia kesal karena Viona membiarkan ponselnya terus berdering dan itu sangat mengganggunya.


"Biarkan saja Paman, Aku malas mengangkatnya." Jawab Viona.


"Setidaknya matikan jika kau memang tidak mau mengangkatnya, bukannya malah membiarkan terus berdering dan mengganggu orang lain!!" ucap Kevin menimpali.


Viona menoleh dan menatap Kevin. "Jadi Paman terganggu?" tanya Viona tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Menurutmu?" Kevin menjawab dengan sinis. Taringnya langsung keluar karena terlalu kesal. Untung saja yang membuatnya kesal adalah Viona, karena jika orang lain mungkin nasibnya akan jauh berbeda.


"Ya, maaf. Kalau begitu jangan didengarkan, anggap saja Paman tidak mendengar apapun, bereskan," ucap Viona menimpali.


Kevin menghela napas, berbicara dengan Viona terkadang memang membutuhkan kesabaran super ekstra. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menghadapinya, karena tidak menutup kemungkinan orang itu akan terkena mental.


Ponsel itu kembali berdering, dan ini sudah kesekian kalinya. Karena Viona tetap tidak mau mengangkatnya, maka Kevin-lah yang berinisiatif untuk menerima panggilan telepon tersebut. Dan sekarang dia tau alasannya kenapa Viona tidak mau menerimanya, karena menghubunginya adalah mantan suaminya.


"Kenapa tidak langsung kau blokir saja nomor ponselnya? Atau sebaiknya kau ganti nomor saja, supaya bajiingan itu tidak bisa menghubungimu lagi!!" ucap Kevin memberi saran.


"Ya, memang itu yang aku pikirkan. Aku berniat mengganti nomor ponselku tapi malas untuk membelinya sendiri, jadi nanti Paman temani aku membeli nomor baru," tutur Viona.


"Hn, baiklah." balas Kevin sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


Sebenarnya sudah lama Viona berencana untuk mengganti nomor ponselnya, tapi dia belum sempat melakukannya dan hendak menggantinya nanti setelah kembali dari Pulau Jeju. Tentu saja dia tidak mau melakukannya sendiri. Viona pasti akan meminta supaya Kevin pergi menemaninya.


.


.


"Kakak, bagaimana apa dia mengangkatnya?" tanya Amelia memastikan.


Aldo menggeleng. "Semua panggilanku tidak ada yang diangkat olehnya, tidak satupun pesan yang aku kirim dibaca olehnya dan sekarang nomor ponselnya malah tidak aktif,"


"Apa kau bilang? Dia tidak mau menerima panggilan darimu dan sekarang malah mematikan ponselnya? Benar-benar wanita yang tidak memiliki sopan santun!! Aldo, hubungi terus sampai dia mau mengangkat telfonnya, kalau perlu teror sekalian biar dia tahu rasa!! Enak saja setelah menghancurkan rumah kita dia malah enak-enakan makan dan tidur di rumah mewah," ujar Rossa panjang lebar.


Rossa masih tidak bisa menerimanya karena Viona telah menghancurkan rumah yang mereka tempati selama ini. Meskipun rumah itu Viona yang membelinya, tetapi Aldo juga memiliki hak atas rumah itu.


"Mama benar, Kak. Kau harus menuntut hakmu pada wanita itu, enak saja dia menghancurkan rumah kita lalu membiarkan kita bertiga tidur di tempat seperti ini sementara dia hidup bergelimangan harta. Pokoknya kita harus mencari keadilan pada wanita itu!!" sahut Amelia menimpali.


"Aku sudah memikirkannya, jadi kalian berdua tidak perlu mencemaskan apapun. Besok aku akan pergi menemui wanita itu, dan meminta uang ganti rugi padanya." ujar Aldo.


"Kalau dia tetap tidak mau memberikan uang ganti rugi padamu, langsung saja gunakan kekerasan untuk mengancamnya, karena orang seperti dia sekali-kali perlu diberi pelajaran." ujar Rossa menambahkan.


"Aku mengerti," Aldo menganggukan kepala.


Aldo pernah menjadi kepala rumah tangga dan bekerja keras mencari nafkah untuk memenuhi hidup dan kebutuhan Viona, jadi sudah saatnya wanita itu membalas Budi padanya. Dan jika Viona berani menolaknya, maka Aldo akan menggunakan kekerasan untuk memaksanya. Viona harus memberikan sebagian uang miliknya padanya dan juga keluarganya.

__ADS_1


.


.


Beberapa polisi tergeletak di lantai dalam keadaan tak sadarkan diri, setelah mereka menerima dan memakan makanan yang dibawakan oleh teman-teman Doori yang sudah dicampur dengan obat tidur.


Lebih dari sepuluh polisi menjadi korban. Awalnya mereka sangat bergembira saat menerima makanan-makanan tersebut, namun siapa yang menduga jika di dalam makanan-makanan itu terdapat obat tidur berdosis tinggi.


"Cepat keluar, kita sudah mengatasi para polisi bodoh itu," ucap salah seorang teman Doori setelah berhasil membuka pintu sel.


"Lalu bagaimana dengan Papa? Dia berada di sel yang lain," Doori menghentikan langkahnya dan menoleh kearah sel ayahnya.


"Waktu kita tidak banyak, kita tidak bisa membebaskannya. Ayo pergi sekarang, kita tidak bisa menunda waktu lagi," jawab teman Doori menimpali.


Doori menoleh kebelakang dan melihat sang ayah yang terus melambaikan tangan padanya sambil berteriak meminta supaya dia dilepaskan juga, meskipun sebenarnya tidak tega tapi Doori harus tetap meninggalkannya. Doori mengambil resiko karena tidak menutup kemungkinan dia akan tertangkap lagi.


Dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya, Doori akan kembali membuat perhitungan dengan Kevin, dan kali ini dia akan menghabisinya. Doori mendapatkan dukungan dari geng mafia kelas kakap.


"Kevin Zhang, kali ini tidak akan aku biarkan kau tetap hidup. Kau akan mati di tanganku!!"


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2