
Di luar sana, matahari bersinar cerah. Menandakan jika cuaca hari ini bersahabat. Namun sayangnya cuaca hari ini berbanding balik dengan hati Viona yang di selimuti mendung petang.
Ternyata begini rasanya bertengkar dengan pasangan, Viona benar-benar baru merasakannya. Karena saat masih bersama dengan Aldo, mereka tidak pernah bertengkar. Rumah tangga mereka selalu harmonis meskipun di tengah gempuran ibu mertua dan adik iparnya yang selalu ikut campur dalam rumah tangga mereka.
Dan sekalinya bertengkar, mereka malah berakhir di pengadilan. Pertahanan Aldo runtuh, dia tidak lagi mempercayai Viona dan malah terhasut oleh adik dan ibunya. Akhirnya rumah tangga mereka hancur, Viona meminta cerai dari Aldo dan mereka benar-benar berpisah.
Namun yang dia rasakan saat itu dan sekarang sangat berbeda. Dulu Viona merasa biasa saja ketika bercerai dari Aldo, namun dia merasa kehilangan saat perang dingin dengan Kevin.
Viona menoleh saat mendengar suara pintu di buka dari luar. Kevin memasuki kamar sambil memasang wajah dingin dan masam. Tidak ada senyum apalagi pelukan cinta meskipun hampir seharian mereka tidak bertemu. Kevin hanya melihat sekilas kearahnya, itupun tidak lebih dari tiga detik.
"Ge," seru Viona dengan suara pelan. Hampir seperti orang berbisik. Namun masih bisa di dengar jelas oleh Kevin. Dia hanya menoleh sekilas padanya. Kevin berbaring dan mengabaikan Viona.
Wanita itu mengepalkan tangannya dan menggelengkan kepala. "Tidak bisa, aku tidak bisa begini terus. Aku harus membuat hubungan kami harmonis lagi!!" inner Viona berkata dengan lantang. Dia benar-benar tidak tahan jika harus perang dingin dengan Kevin dalam waktu yang panjang. Viona harus melakukan sesuatu.
Viona menghampiri Kevin dan langsung naik keatas tubuhnya. Wanita itu duduk diatas perut Kevin, membuat mata kanannya yang sebelumnya tertutup rapat kembali terbuka. "Viona, apa-apaan kau ini? Cepat turun!!" minta Kevin menuntut.
Wanita itu menggeleng. "Tidak mau sebelum kita berdamai dan tidak perang dingin lagi seperti ini. Ge, ayolah jangan seperti bocah. Iya iya aku salah , aku minta maaf. Tapi jangan seperti ini lagi. Ge, hidupku hampa tanpa dirimu," rengek Viona. Dia mencoba membujuk Kevin supaya tidak ngambek lagi.
"Viona, menyingkir lah!!" pinta Kevin menuntut.
__ADS_1
Viona menggeleng. "Tidak akan!!" jawabnya menegaskan. "Aku tidak akan turun, pokoknya aku tidak akan turun!!" sekali lagi Viona menegaskan.
"Lalu kau ingin bagaimana?" Kevin menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan kepalanya. Mata kanannya menatap Viona dengan intens, sebenarnya Kevin tidak benar-benar mendiaminya apalagi mengajaknya untuk perang dingin. Dia hanya kesal saja karena Viona lebih membela Aldo yang notabenenya adalah mantan suaminya. "Memangnya kau mau apa?"
"Menghukum Mu!!" jawab Viona.
"Menghukum bagaimana, eh?" goda Kevin sambil mengukir seringai tipis di sudut bibirnya. "Dasar bodoh, Apa kau benar-benar berpikir Aku marah padamu?! Tentu saja aku tidak sungguh-sungguh, Sayang. Kau terlalu serius menanggapinya, jadi aku lanjutkan saja."
Pupil mata Viona membulat sempurna setelah mendengar apa yang Kevin katakan. "Omo!! Jadi kau hanya mengerjai aku saja?!" Viona menatap Kevin tidak percaya. Kevin mengangkat bahunya dengan acuh. "GE!!" teriak Viona dengan kesal.
Ternyata Kevin hanya mengerjainya saja. Lagipula mana mungkin Kevin benar-benar mendiaminya, itu tidak mungkin. "Kau benar-benar menyebalkan!! Aku membencimu," ucap Viona lalu beranjak dari atas tubuh Kevin.
Dengan cepat Kevin menarik lengan Viona hingga wanita itu jatuh di atas tubuhnya. Badan Viona bertubrukan dengan dada bidang milik Kevin. Kedua tangan Kevin melingkari punggung Viona.
Tangan kanan Kevin yang semula berada di punggung Viona berpindah untuk menekan kepala belakangnya. Membuat ciuman itu semakin dalam , bibir Kevin terus ******* bibir Viona tanpa ampun. Atas-bawah bergantian. Lidahnya pun tidak mau kalah, lidah Kevin mengobrak-abrik isi mulut Viona dan mengabsen satu persatu gigi putihnya yang rapi.
Viona tampak sedikit kewalahan saat berusaha ini ciuman Kevin. Kevin terus menciumi bibir Viona dengan brutal, hingga dessahan muncul di sela-sela ciuman panas mereka.
Sekujur tubuh Viona memberikan respon yang luar biasa terhadap segala macam sentuhan-sentuhan bibir Kevin yang sedari tadi bermain disekitar wajah dan daun telinganya. Reaksi dari tubuhnya mengirimkan getaran menuju pita suara sehingga beberapa kali Viona meloloskan erangan yang semakin membangkitkan gaiirah Kevin untuk menginginkan lebih.
__ADS_1
"Ya Tuhan, dia mulai gila!!" jerit Viona membatin.
Viona kembali mengerang ketika lidah Kevin mengajak lidahnya menari bersama, seperti tarian sensuall nan panas yang di iringi oleh alunan musik erottis yang memikat. Sebelah tangan Kevin yang berada di pinggang Viona berpindah ke tengkuknya, menarik Viona untuk menempel di dada bidangnya yang masih tersembunyi apik dibalik kemeja gelap yang membungkus tubuhnya.
Kevin menarik diri sesaat untuk menatap wanitanya, mata hitamnya memancarkan gaiirah seperti api yang berkobar di tengah kegelapan malam. Dan api itu pun menyambar dengan cepat sehingga kupu-kupu dalam perut Viona semakin lincah menari-nari mengirimkan gelenyar panas ke seluruh sel-sel dalam tubuhnya ketika sekali lagi Kevin menciumnya dengan lebih bergairah.
Saat Viona menghisap lidahnya di dalam mulutnya, tangan Kevin dengan refleks meremas pinggul wanita itu kuat-kuat beriringan dengan lolosnya erangan liar dari dalam tenggorokannya.
Viona kian menguatkan kaitan tangannya di leher kekar Kevin. Kurang nyaman dengan posisi mereka sekarang. Kevin merubah posisi mereka dengan tubuhnya yang menindih tubuh Viona.
Tangan Kevin yang semula nganggur mulai sibuk membuka resleting pada dress yang dia pakai dan berusaha menanggalkannya dari tubuh Viona dengan bibirnya yang masih sibuk mengecupi bibir hingga tulang selangka wanita itu.
"Apa kita akan melakukannya?" tanya Viona di tengah gempuran badai kenikmatan yang menghajar sekujur tubuhnya.
"Menurutmu? Jangan berharap aku akan berhenti kali ini. Kau yang memulainya terlebih dulu, jadi bukan salahku jika aku menginginkan lebih dari ini." Jawab Kevin menimpali.
Viona membantu semampunya ketika Kevin kesulitan untuk melepaskan kain yang masih membungkus tubuhnya, dengan mengangkat tubuhnya sendiri dari tempat tidur untuk membantunya melepas dress yang membalut tubuh rampingnya. Dan yang terjadi selanjutnya pasti sudah terprediksi tanpa harus menjelaskan secara terperinci.
Mereka akan melewati malam yang dingin ini untuk saling menghangatkan dengan bercinta sampai pagi. Dan Viona harus mempersiapkan dirinya dengan baik untuk tidak bisa berjalan lagi esok pagi. Inilah konsekuensi yang harus Viona terima karena berani membangunkan seekor singa jantan yang sedang kelaparan. Malam yang terasa dingin bagi orang lain, justru terasa hangat untuk mereka berdua.
__ADS_1
xxx
Bersambung