Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Baju Dinas


__ADS_3

"Ge,"


Panggilan itu mengalihkan perhatian Kevin dari laptopnya. Lelaki itu lantas menoleh dan mendapati Viona berdiri di ambang pintu kamar mandi dalam balutan baju dinas berwarna merah terang. Kevin memperhatikan wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Viona sedang mencoba baju dinas barunya yang dia beli siang tadi.


"Ge, bagaimana menurutmu? baju dinasku bagus tidak?" tanya Viona memastikan.


"Kau baru membelinya?" Alih-alih memberi jawaban, Kevin malah balik bertanya.


Viona menganggukkan kepalanya. "Ya, bagaimana menurutmu? Bagus tidak? Baju dinas ini limited edition dan hanya ada 10 di dunia. Ge, menurutmu cantik tidak?" tanya Viona memastikan.


Kevin bangkit dari kursinya lalu menghampiri Viona dan mengangkat tubuhnya bridal style lalu membaringkannya di atas tempat tidur. Kevin mengurung Viona dengan kedua tangannya sambil menatapnya dengan seringai mematikan, Kevin sedang dalam mode bahaya.


"Ge, apa kita akan melakukannya?" Viona memeluk leher Kevin sambil mengunci manik kanannya yang juga sedang menatapnya.


"Kau yang memancingku terlebih dulu, jadi jangan salahkan aku jika harus menghukum mu." Jawab Kevin kemudian mengecup bibir Viona.


Bukannya merasa terancam, Viona justru menikmati apa yang di lakukan oleh Kevin. Memangnya siapa yang bisa menolaknya? Bahkan tidak sedikit orang yang rela mengeluarkan uang dalam jumlah besar hanya untuk merasakan kenikmatan seperti yang mereka berdua lakukan.


Awalnya Viona tidak berniat untuk mengajak Kevin bertempur. Dia hanya sekedar mencoba baju dinas barunya dan meminta pendapat Kevin tentang baju itu dan sungguh di luar dugaan, karena Kevin malah terpancing birahii.


Endingnya, mereka berdua pun melakukannya dengan penuh kesadaran dan kewarasan. Ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka berdua untuk saling menghangatkan dan berbagi cinta.


Viona terus mendessah di sepanjang mereka melakukannya. Kecupan demi kecupan menjajagi sekujur tubuhnya dengan penuh kelembutan dan hasrat. Dessahan demi dessahan yang keluar dari sela-sela bibir Viona menjadi melody indah di telinga Kevin.


Udara malam ini begitu dingin hingga minus 50 derajat Celcius. Namun rasa dingin itu tentu tidak di rasakan oleh Kevin dan Viona Yangs sedang bergulat dengan panasnya. Melalui skin to skin, mereka saling membagi kehangatan yang tersalurkan secara langsung.


xxx


"Kakek, kau kalah lagi, hahaha..."


Masih di tempat yang sama namun di lokasi berbeda. Sepasang cucu dan kakek sedang bermain kartu di depan perapian. Tubuh mereka berdua dalam balutan tebal. Tidak ketinggalan dua cangkir coklat panas yang turut menemani mereka berdua.

__ADS_1


"Pasti kau bermain dengan curang. Makanya Kakek bisa kalah terus darimu!!" tuding lelaki tua itu pada lelaki muda di depannya yang pastinya adalah Frans.


"Enak saja, aku bermain dengan adil dan jujur. Bisa-bisanya kakek menudingku bermain curang, kalau kalah ya Kalah saja tidak perlu memfitnahku juga." ujar Frans melayangkan protesnya. Frans tidak terima di tuding curang oleh Tuan Lu.


Sebenarnya tudingan Tuan Lu tepat sasaran. Tetapi tidak mungkin juga Frans mengakui jika dia bermain curang. Karena jika dia sampai mengakuinya, bisa-bisa Tuan Lu malah menggantungnya hidup-hidup.


"Kalau tidak curang lalu ini apa?" Tuan Lu mengambil kartu-kartu yang Frans sembunyikan di bawah kakinya. Rupanya kecurangan Frans sudah di ketahui oleh Tuan Lu.


Dia tertangkap basah sehingga tidak ada alasan lagi bagi Frans untuk mengelak apalagi membela diri. Tuan Lu sudah mengetahui tentang kecurangannya.


"Bagaimana Kakek bisa tahu?" tanya Frans sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Rupanya kecurangannya sudah diketahui oleh Tuan Lu. Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tentu saja Kakek tahu, karena Kakek rajanya bermain curang, hahaha..." jawab Tuan Lu sambil menunjukkan kartu yang dia sembunyikan di ketiaknya.


Frans merengut dan menatap Kakeknya dengan kesal. "Dasar menyebalkan, tadi memarahiku tahunya Kakek sendiri lebih parah dariku. Kalau begini aku tidak mau main lagi dengan Kakek, mending aku tidur saja." Ucap Frans. Dia bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja.


"Yakk!! Bocah, jangan kabur kau. Kita belum selesai bermainnya." Seru Tuan Lu.


"Kau juga curang," teriak Tuan Lu tak mau kalah.


"Kekek, lebih parah!!"


Hwan hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. Hwan yang tidak hobi bermain kartu memilih untuk melihat saja daripada harus melibatkan diri dan ikut bermain bersama mereka berdua.


"Hwan, bagaimana kalau kau saja yang menemani kakek bermain kartu?" pandangan Tuan Lu bergulir pada Hwan dan dia meminta cucu angkatnya tersebut untuk menemaninya bermain kartu.


Hwan menggeleng. "Maafkan aku , Kek. Aku lelah dan mengantuk. Aku tidur dulu," ucap Hwan sambil beranjak dari duduknya dan meninggalkan Tuan Lu sendirian di depan perapian.


"Yakk!! Kenapa semua malah pergi dan Kakek di tinggal sendirian? Kalian berdua benar-benar menyebalkan!!" seru Tuan Lu.


Lelaki tua itu menghela napas. Sepertinya dirinya juga harus beristirahat. Tuan Lu bangkit dari duduknya lalu melenggang pergi menuju kamarnya. Matanya berat dan tidak bisa untuk diajak kompromi lagi.

__ADS_1


xxx


Tubuh Kevin ambruk diatas Viona. Peluh membanjiri di sekujur tubuh keduanya. Kevin mengangkat wajahnya lalu mengecup singkat bibir Viona dan berbisik pelan di depan wajahnya.


"Kau begitu luar biasa, Sayang." Kembali ciuman singkat Kevin hadiahkan. Kali ini di bibir tipisnya.


"Kau juga luar biasa, Ge. Malam ini aku benar-benar puas," ucap Viona sambil menangkup wajah Kevin lalu mengecup singkat bibir Kiss Able-nya.


Kevin bangkit dari atas tubuh Viona lalu mengambil semua pakaiannya yang berserakan di lantai. "Kalau lelah tidur saja," pinta Kevin dan melenggang pergi.


Viona terlalu malas untuk memunguti semua pakaiannya yang berserakan di lantai. Sekujur tubuhnya terasa lelah dan lemas semua. Percintaannya dengan Kevin benar-benar menguras tenaganya.


Baru saja Viona memejamkan mata. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Terlihat Kevin keluar dari dalam sana dalam balutan celana hitam panjang dan singlet putih yang membingkai tubuhnya. Tangan kanannya sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk tipis, lalu pandangannya bergulir pada Viona.


Kevin mendekati wanitanya kemudian mendaratkan satu kecupan pada keningnya. Menyambar kemejanya yang ada di atas nakas samping tempat tidur, Kevin melenggang keluar. Sementara Viona sudah tertidur pulas.


"Tuan Muda, kenapa Anda belum tidur?" tegur seorang pelayan saat tanpa sengaja melihat Kevin yang sedang menuruni tangga. Keterkejutan terlihat di wajahnya.


"Aku belum mengantuk. Apa yang kau lakukan di ruang kerja , Kakek?" tanya Kevin dan menatap pelayan itu penuh selidik. Hanya dengan melihat mimik mukanya saja Kevin sudah tahu jika ada yang tidak beres, pasti pelayan itu baru saja melakukan sesuatu di ruangan itu.


Pelayan tersebut menggeleng. "Saya tidak melakukan apa-apa, hanya mencari barang saya yang tidak sengaja terjatuh sore tadi. Kalau begitu saya permisi dulu." Dia membungkuk pada Kevin dan pergi begitu saja.


Apakah Kevin menaruh curiga padanya? Tentu saja, dan Kevin akan mengawasi pelayan itu secara langsung. Dia tidak akan melaporkan peristiwa ini pada Tuan Lu sebelum dia memiliki bukti yang kuat, apalagi pelayan itu adalah orang kepercayaan kakeknya.


Pasti Tuan Lu tidak akan percaya begitu saja, jika laporannya tidak disertai dengan bukti yang nyata. Untuk sementara harus bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apapun.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2