Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Aku Tidak Suka


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah. Seorang gadis berdiri di balkon kamarnya menikmati suasana pagi yang masih sangat alami. Udaranya begitu sejuk dan terasa menyegarkan.


Bunga-bunga mawar yang tumbuh di taman miliknya mulai bermekaran, aromanya yang semerbak menarik para kumbang untuk segera mendekat. Menghisap sarinya kemudian pergi entah kemana.


Kedua mata gadis itu perlahan tertutup, kedua tangannya Ia rentangkan. Membiarkan semilir angin pagi membelai lembut kulit wajahnya yang terpahat sempurna. Angin juga menerbangkan helaian rambut panjangnya yang berwarna coklat terang, perlahan mata itu terbuka.


Sontak Ia menolehkan kepalanya saat mendengar decitan pintu kamarnya terbuka. Terlihat seorang wanita dengan balutan kemeja putih dan rok selutut berwarna hitam, rambutnya di sanggul rapi memasuki kamarnya dan berjalan menghampiri gadis itu yang masih tetap bergeming dari tempatnya.


"Nona, Tuan besar sudah menunggu anda untuk sarapan." Wanita itu berbicara begitu sopan pada gadis itu yang notabenenya adalah Nona-nya, putri dari majikannya.


Sudut bibir gadis itu tertarik keatas menciptakan lengkungan indah terlukis di wajah cantiknya yang sempurna.


"Katakan pada Papa, 10 menit lagi aku akan turun." Ucapnya.


Wanita itu mengangguk. "Baiklah Nona Luna, kalau begitu saya permisi dulu." Pelayan itu mundur tiga langkah kebelakang kemudian berbalik badan dan melenggang meninggalkan kamar Luna. Tidak ingin membuat ayahnya menunggu terlalu lama, Luna segera melesat pergi ke kamar mandi.


.


.


"Pagi Pa." sapa Luna sambil menarik kursi di samping kanan Ayahnya kemudian menempatkan dirinya dengan nyaman di sana.


Luna duduk bersama sang ayah tercinta untuk menikmati sarapan pagi, pagi ini terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Karena hanya ada Luna dan Tuan Williams


Eric dan Alex sedang pergi ke luar negeri untuk perjalanan bisnis. Harusnya Deen Williams lah yang pergi, namun karena masalah kesehatan, akhirnya mereka berdua yang pergi untuk bertemu dengan beberapa koleganya di Eropa.


Sedangkan Aiden berada di rumah pribadinya. Semalam dia memang pulang dan itu hanya sebentar, dia pulang cuma untuk mengantarkan Luna lalu pergi lagi.


"Sudah rapi, apa kau akan pergi?" Tuan Williams memandang Luna yang telah rapi dengan penuh tanda tanya, karena tidak biasanya gadis itu masih pagi sudah rapi seperti ini.


Luna mengangguk. "Temanku ada yang ulang tahun hari ini, dan aku berencana untuk membelikan kado untuknya. Selain itu, Aku berjanji untuk bertemu dengan seseorang." Ujar Luna


"Apa itu calon menantu, Papa?" Tuan Williams menyela ucapan Luna.


Dia sangat berharap Luna segar memperkenalkan seorang calon menantu padanya. Deen Williams ingin segera menimang cucu, karena ketiga putranya pasti menolak jadi satu-satunya harapannya adalah Luna.


"Calon menantu? Tentu saja bukan, dia bukan pria, tapi seorang wanita. Lagipula kenapa Papa ngebet banget ingin memiliki menantu. Jika Papa ingin segara menimang cucu, minta anak laki-lakimu untuk segara menikah." tukas Luna.


Tidak kakak-kakaknya, tidak ayahnya, mereka sama-sama membuatnya frustasi. Selalu saja mengungkit tentang jodoh dan kapan nikah? Luna sampai bosan mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Lagipula dia masih ingin menikmati masa mudanya tanpa memikirkan tentang jodoh dan pasangan hidup.


Dan tidak bisa Luna pungkiri. Jika hanya Aiden lah satu-satunya orang yang paling mengerti dirinya, dia tidak pernah memaksanya apalagi berniat mencarikan jodoh untuknya.


"Tapi Luna, apa temanmu itu memiliki saudara laki-laki yang masih lajang dan mapan? Terus dia berapa bersaudara dan sejak kapan kau berteman dengannya?"


Layaknya seorang detektif yang mengintrogasi seorang penjahat, beberapa pertanyaan Tuan Williams layangkan pada Luna. Dan pertanyaan-pertanyaan itu membuat Luna kesal sendiri, dia benar-benar frustasi.


"Sudahlah Pa, kau tidak pantas memasang wajah serius seperti itu. Jika saatnya tiba , Tuhan pasti mengirimkan jodoh untukku. Tidak perlu di cari, nanti pasti datang sendiri. Jadi Papa tenang saja, putrimu ini tidak mungkin menjadi perawan tua." Ujar Luna.


Lun menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. Tuan Williams menghempaskan nafas kasar "Baiklah, soal jodoh memang sebuah misteri. Papa, tidak akan menekan mu lagi." Ucapnya pasrah.


Luna kembali menarik sudut bibirnya dan mengangguk. "Pa, bagaimana dengan mobil baruku? Papa, tetap ingin membelikannya bukan?" Tanya Luna yang tiba-tiba mengungkit tentang mobil barunya, dia memasang ekspresi memohon.


Bukannya gemas melihat ekspresi wajah putrinya. Tuan Williams malah merasa aneh "Why? Kenapa Papa menatapku seperti itu?" Sambung Luna bertanya.


"Kau terlihat aneh, ingat umur Luna, kau sudah tidak pantas melakukan itu."


"Papa," Pekik Luna tertahan.

__ADS_1


"Hahaha, Papa hanya bercanda. Dimata Papa kau tetap yang paling imut, dan menggemaskan," ujar Tuan Williams sambil mencubit pipi Luna.


"Papa, kenapa kau sangat menyebalkan!!" keluh Luna sambil mempoutkan bibirnya.


Bukannya meminta maaf setelah membuat putrinya kesal setengah mati. Tuan Williams malah tertawa lepas melihat wajah kesal putrinya, paruh baya itu bangkit dari duduknya tanpa menghabiskan sarapan paginya.


"Papa, mau kemana? Ini kenapa sarapannya tidak dihabiskan?" seru Luna dan menatap Tuan Williams penuh keheranan.


"Pagi ini Papa ada janji dengan seseorang, dia rekan bisnis kita. Kalau begitulah Papa pergi dulu." Tuan Williams menarik sudut bibirnya dan mulai melenggang pergi.


"Pa, jangan lupa belikan mobil baru untukku." Seru Luna dengan suara sedikit meninggi.


"Akan Papa pikirkan." Sahut Tuan Williams seraya melambaikan tangannya.


"PAPA, KAU JANGAN MENYEBALKAN!!" Teriak Luna, gadis itu menarik napasnya dalam-dalam dan menghempaskan kasar. "Dasar Papa menyebalkan. Tunggu, dimana ponselku?" Gadis itu tampak kebingungan mencari ponselnya yang lupa Ia letakkan di mana.


Kemudian gadis bermarga Williams itu bangkit dari duduknya dan ternyata ponsel itu tidak sengaja Ia duduki. Senyumnya melebar. Luna mengambil ponsel itu lalu mengirim pesan singkat pada kakaknya.


"Ge, ayo kita bertemu."


Setelah mengirim pesan singkat itu. Luna memasukkan benda tipis tersebut ke dalam tasnya. Gadis cantik itu kemudian melenggang pergi meninggalkan kediaman Williams.


xxx


Suasana hening menyelimuti di kediaman Aiden, meskipun banyak orang di dalam maupun luar bangunan berlantai tiga tersebut. Namun terasa sepi karena semua penghuninya sibuk dengan kegiatan masing-masing,


Logan contohnya. Pemuda berkulit seputih susu itu terlihat sibuk memainkan rubik milik Aiden namun selalu gagal, Kai yang sibuk dengan laptopnya. Henry pada koran paginya serta Tao sibuk memainkan ponselnya.


Sementara itu, sang pemilik rumah masih ada di kamarnya. Pria itu berdiri di depan jendela kamarnya yang mengarah langsung pada taman belakang rumahnya, menikmati udara pagi yang begitu menyejukkan dan terasa sangat alami. Hal semacam ini seperti sebuah rutinitas yang wajib Aiden lakukan ketika pagi tiba.


Drettt ..Drett .. Drettt ..


Tanpa membuang waktu. Aiden segera mengirim pesan balasan untuknya, dia mengajak Luna bertemu di cafe favorit mereka. Bahkan Aiden tidak mengganti pakaiannya, dan penampilannya agak sedikit serampangan. Jeans belel hitam, singlet putih yang dipadukan dengan Leather Vest yang senada dengan warna celananya.


xxx


Brakkk .. !! ...


Semua barang-barang yang ada di genggaman Luna berserakan di aspal saat tanpa sengaja Ia bertabrakan dengan seseorang. Luna segera berlutut untuk mengambil semua barang-barangnya dan memasukkan kembali kedalam wadahnya.


"Bisa tidak kalau jalan menggunakan mata jangan menggunakan mata kaki." Luna terus mengomel di tengah kesibukannya. Sementara itu, seorang pria tampan segera berlutut dan membantu gadis itu.


"Maaf Nona, aku benar-benar tidak sengaja." ucapnya penuh sesal. Dia segera membantu Luna menunggu semua barang-barangnya yang berserakan di aspal.


Sontak gadis bermarga Williams itu mendongak setelah mendengar suara yang sedikit familiar, dan alangkah terkejutnya Luna setelah melihat siapa orang yang menabraknya. Tak jauh berbeda dari Luna, orang itu pun menunjukkan ekspresi yang sama.


"Luna//Jonas!!" Ucap keduanya hampir bersamaan. Keduanya tersenyum lebar kemudian dan berdiri.


"Maaf, jika ucapanku sangat kasar. Aku tidak tau jika itu kamu." Ucap Luna penuh penyesalan,


Jonas menggeleng cepat. "Tidak apa-apa, kau tidak sepenuhnya bersalah. Memang aku yang kurang berhati-hati." Jonas mengambil jeda dalam kalimatnya. "Bagaimana kalau kita cari tempat yang enak untuk mengobrol?" usul Jonas.


Baru juga hendak menjawab. Ponsel Luna tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. "Aku akan pergi kalau kau tidak datang sekarang juga," Aiden memberikan ancamannya pada Luna.


Saat ini dia sudah ada di cafe tempat mereka janjian untuk bertemu, dan kebetulan cafe itu dekat dengan lokasi Luna saat ini, sehingga Aiden tahu jika Luna sedang berbincang dengan seorang pria.


"Iya iya, aku akan ke sana sekarang juga." Tanpa menghiraukan Jonas, Luna segera melesat pergi ke cafe tempat ia dan Aiden akan bertemu. Luna tidak ingin membuat kakaknya itu sampai pundung dan pergi.

__ADS_1


Lima menit kemudian Luna tiba di cafe tersebut dan mendapati Aiden yang sedang termenung dan menatap keluar jendela. Gadis itu memicingkan matanya melihat penampilan Aiden yang tidak seperti biasanya. Sepanjang dia mengenal sang kakak, ini pertama kalinya Luna melihat Aiden yang begitu serampangan.


Luna mengangkat bahunya dengan acuh. Dia tidak peduli dan tak mau ambil pusing dengan penampilan Aiden yang jika dilihat justru membuatnya semakin tampan. Pantas saja pengunjung wanita di cafe ini banyak yang curi-curi pandang pada Aiden.


"Ge, apa yang sedang kau lamun kan?" tegur Luna sambil mengibaskan jari-jarinya di depan wajah Aiden.


Lantas pria itu mengangkat kepalanya dan menatap gadis cantik yang berdiri di depannya. "Kenapa lama sekali? Duduklah, aku sudah memesan makanan dan minuman kesukaanmu." Pinta Aiden.


"Maaf Ge. Tapi terjadi sedikit masalah di jalan. Ada orang menyebalkan yang tidak sengaja menabrak ku sampai barang-barang ku berhamburan ke mana-mana, dan apa kau tahu Ge? Ternyata dia adalah teman lamaku yang sudah lama tidak bertemu. Dan aku... Omo!! Aku tadi pergi begitulah saja tanpa mengatakan apapun padanya. Pasti dia mengira aku masih kesal atas insiden yang terjadi tadi. Gawat...!! Bagaimana ini?" ujar Luna dengan panik.


"Apa begitu penting perasaannya? Luna, bisakah kau tidak membahas pria lain disaat bersamaku? Aku benar-benar tidak suka!!" Tukas Aiden dengan tatapan kurang bersahabat.


Luna tidak memberikan respon apapun. Dia memiringkan kepalanya dan menatap sang kakak dengan bingung, tidak biasanya Aiden bersikap demikian apalagi melarangnya membahas pria lain ketika bersamanya. Entah benar atau mungkin hanya perasaannya saja, Aiden agak aneh akhir-akhir ini.


"Ge, aku lapar. Bisakah kau ijinkan aku makan sekarang?" rengek Luna memohon.


Aiden mendengus berat. "Makanlah." Pinta Aiden dingin.


Luna tersenyum lebar. Dia benar-benar sudah lapar dan perutnya tidak bisa lagi diajak kompromi. Dengan lahap, Luna menyantap makanannya yang di pesan oleh Aiden. Dan saking menikmati makanan itu, sampai-sampai Luna tersedak makanannya sendiri.


"Uhuk... Uhuk... Uhuk..." Gadis itu terbatuk-batuk sambil memukul dadanya dengan kepalan tangannya. Aiden menyodorkan air putih padanya.


"Minum dulu. Kau ini kenapa tidak hati-hati dan pelan-pelan, Luna?! Kau itu bukan anak kecil lagi!!" alhasil Luna pun mendapatkan Omelan dari Aiden.


Selanjutnya keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada lagi obrolan antara Aiden dan Luna, keduanya sama-sama diam dan menyantap makanannya dengan tenang. Sesekali Aiden menatap Luna yang sedang menyantap makanannya.


Aiden meletakkan sendok dan garpunya , padahal dia masih belum selesai dengan makannya. Membuat Luna terpaksa menghentikan kegiatannya dan menatap sang kakak penuh tanya.


"Ada apa, Ge? Kenapa tidak kau habiskan? Apa makanannya kurang enak?" tanya Luna memastikan. Aiden menggeleng. "Lantas?'


"Luna, apa kau benar-benar ingin tahu anak laki-laki yang menolong mu saat itu aku atau bukan? Dan bekas luka ini apa kau benar-benar penasaran dari mana aku mendapatkannya?" Aiden menatap Luna dengan serius. Dan tentu saja Luna langsung tertarik dengan pertanyaan-pertanyaan itu.


"Ya, aku benar-benar ingin tahu anak laki-laki itu kau atau bukan." Jawab Luna.


Aiden mengangguk. "Ya, anak laki-laki yang saat itu dihajar habis-habisan dan dilukai dengan brutal memang aku." Akhirnya Aiden mengakui pada Luna jika anak laki-laki yang saat itu menolongnya memang dirinya.


Kedua mata Luna langsung berkaca-kaca mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh kakaknya.


"Lalu kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kau harus merahasiakan semua ini dariku? Aku mencarimu selama bertahun-tahun, dan siapa yang menduga jika orang yang aku cari adalah kakakku sendiri. Kenapa, Ge?"


Aiden menghela napas. "Karena aku malu, Luna. Saat itu aku begitu lemah. Aku yang berusaha untuk melindungimu, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Bukan aku yang melindungimu, tapi justru kaulah yang melindungi ku. Hal itu membuatku malu, sampai-sampai aku tidak berani untuk memberitahumu jika anak itu adalah aku." Tutur Aiden.


"Lalu kau yang sekarang yang mengerikan ini apa ada hubungannya dengan kejadian hari itu?" tanya Luna lagi.


Aiden mengangguk. "Ya, jika aku tetap lemah dan tidak berguna, lalu bagaimana aku bisa memenuhi janjiku pada Kakek untuk selalu melindungimu? Luna, kaulah alasan kenapa aku ingin menjadi kuat dan berguna, karena dengan begitu aku bisa selalu melindungimu." Tutur Aiden panjang lebar.


Bulir-bulir air mata berjatuhan dari pelupuk mata Luna yang semakin lama semakin tidak terhitung jumlahnya. Aiden mengulurkan tangannya dan menghampiri air mata Luna.


"Apa yang kau tangisi?" tanya Aiden.


Luna menggeleng. "Ge, terimakasih sudah menjadikan aku sebagai prioritas utamamu. Aku benar-benar bahagia memilikimu di sisiku, kau benar-benar kakak yang hebat dan terbaik di dunia ini." Ujar Luna.


"Sudah jangan bicara lagi. Sebaiknya segera habiskan makananmu setelah ini aku ingin membawamu ke suatu tempat." Ucap Aiden dan membuat Luna penasaran.


"Kemana?" gadis itu bertanya dengan antusias.


"Kau akan mengetahuinya nanti."

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2