
Musim semi memang identik dengan warna pink pastel dari mekarnya cherry blossom di Korea Selatan. Bukan hanya cherry blossom yang menjadi pertanda jika musim semi telah tiba, ada bunga lain yang tak kalah cantik dan dinantikan kemunculannya ketika musim semi oleh warga Korea.
Dan bunga itu adalah bunga Canola, atau dalam bahasa Korea lebih sering disebut yuchae.
Bunga Canola akan mekar berlimpah membentuk hamparan karpet alam berwana kuning. Tidak hanya menampilkan keindahannya, bunga ini juga menyebarkan wewangian khas yang bisa dirasakan siapa pun hanya dengan berjalan di dekatnya.
Pemandangan menakjubkan bunga Canola berpadu sempurna dengan birunya langit dan warna turqoise dari laut. Membuat seorang wanita begitu bersemangat berlari menaiki bukit, hingga terdengar teriakan seorang pria yang berjalan jauh dibelakangnya.
"Viona, tunggu!! Tidak perlu berlari, nanti kau bisa kelelahan," seru pria itu yang pastinya adalah Kevin.
"Paman, cepat sedikit. Aku tidak sabar ingin segera melihat bunga Canola." seru Viona sambil melambaikan tangannya pada Kevin.
Viona terus berlari, bahkan dia tidak peduli dengan napasnya yang mulai tak beraturan. Viona begitu bersemangat karena tak lama lagi dirinya bisa melihat hamparan Canola yang sejak lama menjadi keinginannya.
__ADS_1
Mata Viona tak berkedip sedikit pun melihat lautan kuning yang membentang luas bak permadani. Canola bermekaran dengan indah, menghias bukit hijau dari ujung barat sampai ujung tidur, ujung selatan sampai utara. Lebah-lebah terbang dan hinggap di mahkota bunga, lalu kembali terbang entah kemana, mungkin saja kembali ke koloni mereka.
Viona terpaku.... Matanya tak lepas sedikit pun dari hamparan kuning indah itu.
"Apa pendapatmu, indah bukan?" tanya Kevin yang entah sejak sudah berdiri di samping Viona, dia memetik sekuntum bunga kuning itu lalu memperhatikannya.
"Indah," tanggap Viona dengan mata berbinar indah. Kemudian dia menoleh membuat mata berbeda warna itu saling bertemu pandang. "Terlihat seperti ladang gandum dari jauh. Benar-benar keindahan yang memanjakan mata." Ujarnya.
"Bunga Canola ditanam untuk diambil minyaknya ketika mereka layu. Juga untuk memberi makan lebah-lebah," tangannya bergerak mengusir satu lebah yang hendak mendekat. "Namun itu berlaku bagi Canola yang dibudidayakan, bukan yang tumbuh secara liar," ujar Kevin tanpa melepaskan pandangannya dari Viona.
Viona menutup matanya dan menghirup dalam-dalam aroma bunga di genggamannya. Termangu ketika Kevin tiba-tiba menyelipkan satu batang kecil canola ke telinganya. Tidak cocok, mengingat jika Canola tak hanya memiliki satu kuncup saja. Tapi Viona tak peduli.
"Paman, apa kau bahagia saat bersamaku?" Viona meletakkan kepalanya di atas bahu Kevin , jari-jarinya sibuk memainkan Canola yang baru ia petik.
__ADS_1
"Tentu saja," Kevin menjawab singkat.
"Sama, aku juga sangat bahagia saat bersamamu. Untuk itu Aku tidak ingin berpisah lagi denganmu, aku ingin kita selalu bersama-sama seperti ini. Jika Paman telah menemukan orang yang tepat sebagai pasangan hidupmu, Paman juga tidak boleh mengabaikanku, karena hanya Paman satu-satunya keluarga yang aku miliki." Ujar Viona sambil memejamkan matanya.
Kevin mengusap kepala wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Bagaimana mungkin aku tega meninggalkanmu, sementara kau adalah orang yang paling aku lindungi. Dan aku tidak berniat untuk menikah karena aku ingin selalu menjagamu," bisiknya lirih.
Viona merubah posisinya, dia duduk berhadapan dengan Kevin. Kedua tangannya menangkup wajah Kevin sambil mengunci mata kanannya yang menatapnya dingin.
"Paman," napas Viona yang hangat menerpa wajah Kevin dengan lembut.
Viona memejamkan matanya, mengarahkan bibirnya pada bibir Kevin lalu memagutnya dengan lembut. Viona tidak peduli bagaimana dunia akan mengutuknya atas apa yang dia lakukan pada Kevin. Tapi Viona tidak bisa menahan dirinya, dan apa yang dia lakukan adalah sebuah naluri yang bersikap manusiawi. Meskipun dia sadar yang ia lakukan ini tidak benar.
.
__ADS_1
.
Bersambung.