Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Ku Bukan Boneka


__ADS_3

Tubuh Viona sedikit terhuyung ke belakang, saat tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seseorang. Sampai-sampai membuat semua belanjaannya jatuh berserakan di tanah. Orang itu pun segera membungkuk dan membantu Viona untuk mengambil semua barang belanjaannya yang berserakan dan mengembalikannya padanya.


"Nyonya, Anda tidak apa-apa? Maaf, saya tidak sengaja." Ucap orang itu penuh sesal.


Viona menggeleng. "Aku tidak apa-apa, lain kali lebih berhati-hati lagi." ucapnya sambil mengangkat kepala, dan membuat dua pasang mata berbeda warna itu saling menatap dan bersirobok.


Wanita Itu mengangkat tangan kanannya dan mengarahkannya pada dada kirinya , jantungnya tiba-tiba berdetak cepat saat menatap mata itu, dia merasakan sebuah lebaran hebat kepada dadanya ketika menatap mata orang itu. Sorot matanya yang dingin serasa tidak asing bagi Viona. Tatapan tajam dan dingin itu persis seperti mata Kevin.


"Nyonya, apakah Anda baik-baik saja?" sekali lagi dia bertanya dan memastikan keadaan Viona.


Viona mengangguk. "Ya, aku baik-baik saja," jawabnya sambil tersenyum. "Lalu bagaimana dengan kau sendiri, apa dirimu baik-baik saja?" dia balik bertanya, pria muda itu mengangguk, meyakinkan pada Viona Jika dia baik-baik saja.


"Syukurlah. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap pria itu dan pergi begitu saja.


Viona mengangguk. Kemudian Viona berbalik badan dan menatap kepergian pria muda itu dengan tatapan tak ter-artikan. Dia menatap kepergiannya dengan Sendu.


"Andaikan saja Aiden masih ada, pasti putraku sekarang sebesar dia." Dia bergumam lirih.


Viona menyeka air matanya dan melanjutkan langkahnya. Dia tidak ingin membuat Ailee kesal karena menunggunya terlalu lama.


xxx


Para wanita yang bekerja di Williams Corp begitu histeris ketika tiga Tuan Muda William's Family datang ke perusahaan tempat mereka bekerja. Ketampanan mereka bertiga memang tidak bisa di ragukan lagi. Dan siapa lagi ketiga Tuan Muda itu jika bukan Alex Williams, Eric Williams dan Sean Williams.

__ADS_1


Jika selama ini mereka hanya tahu ketiga Tuan Muda itu dari layar televisi. Akhirnya hari ini mereka melihat langsung ketiganya, dan ternyata mereka jauh lebih tampan di bandingkan yang ada di televisi dan majalah.


"Astaga, ternyata mereka lebih tampan dari yang biasa kita lihat di media."


"Demi Tuan Muda pertama, aku rela menjual giinjalku untuk operasi plastik supaya aku bisa lebih cantik dan serasi untuk bersanding dengannya."


"Tuan Muda,ketiga jauh lebih menggoda. Lihat saja sorot matanya yang tajam dan tatapannya yang sedingin kutub Utara. Ahhh, hatiku terpanah."


"Jelas-jelas Tuan Muda kedua yang menjadi juaranya. Lihat saja wajah imutnya dan tatapannya yang sehangat mentari itu. Aku lebih memilihnya."


Luna hanya bisa mendengus dan mendecih sebal. "Kenapa mereka kampungan sekali, seperti tidak pernah melihat orang tampan saja." dia menggerutu tidak jelas. Luna paling tidak suka ketika mendengar mereka yang sedang membicarakan Sean.


Eric merangkul bahu adiknya. "Tidak perlu kesal dan marah, seharusnya kok itu merasa bangga karena memiliki kakak-kakak yang sangat populer di tengah kalangan wanita-wanita cantik," ujarnya.


Luna menoleh dan menatapnya dengan sebal."Ck, bagaimana aku harus bangga, telingaku saja sampai sakit mendengarnya." Jawab Luna.


.


.


"Mama, sedang apa kau di sini?!"


Setibanya di ruangan sang ayah. Mereka di kejutkan dengan keberadaan seorang wanita cantik berusia akhir empat puluh tahunan. Dan dia adalah ibu mereka berempat. Wanita itu tidak hanya sendirian, tetapi dia datang bersama seorang pria yang wajahnya bahkan sangat asing bagi mereka berempat.

__ADS_1


"Sayang," wanita itu bangkit dari duduknya lalu menghampiri Luna dan berniat untuk memeluknya. Namun pelukan itu justru di tolak Oleh Luna. "Luna, kenapa kau menghindar padahal mama hanya ingin memelukmu. Sayang, Mama sangat merindukanmu." Ucapnya sambil menatap Luna dengan mata berkaca-kaca.


"Kau sudah melihatnya sendiri bukan, Luna saja menolak pelukanmu jadi bagaimana mungkin dia sudi.umtuk tinggal bersamamu. Apa kau lupa bagaimana dulu kau mencampakkannya, dan meninggalkannya yang menangis hanya demi laki-laki ini. Sekarang setelah dia dewasa kau tiba-tiba datang dan ingin mengambilnya dariku, tidak semudah itu Victoria, tidak akan semudah itu kau bisa mengambilnya dariku." Ujar Tuan Williams.


Kedatangan Mantan istrinya bukanlah untuk silaturahmi, melainkan untuk mengambil Luna dari Tuan Williams, dan tentu saja dia tidak mengijinkannya. Meskipun dia bukan ayah yang baik, dan Tuan Williams mengakui itu, tetapi dia tidak akan melepaskan putrinya hanya untuk bersama dengan mantan istrinya. Apalagi mantan istrinya itu memiliki suami yang brengsek dan suka menggoda wanita cantik.


"Jangan keterlaluan kau, Deen Williams. Victoria, adalah ibu kandungnya, apa kau berniat untuk memisahkan dia dari putrinya?!" ucap suami baru Victoria.


"Diam kau, Jhon Dante!! Memangnya siapa yang memintamu untuk bicara, kau tidak memiliki hak untuk bersuara di sini!!" sahut Deen Williams. Dia menatap pria itu dengan tajam.


"Kau yang diam!!" Victoria menyela ucapan mantan suaminya, dan berbalik menatapnya dengan tatapan mematikan. "Dia memiliki hak untuk bicara. Dante, suamiku sekarang adalah suamiku, dan tentu saja Dia memiliki hak untuk berbicara." ujarnya menegaskan.


Lalu pandangannya bergulir pada Luna. "Luna, Sayang. Pasti kau lebih memilih untuk ikut bersama Mama, iya kan?" dia menatap putrinya penuh harap. Victoria sangat berharap Luna memilih untuk ikut bersamanya dibandingkan harus ikut dengan mantan suaminya.


Luna menggeleng. "Aku tidak akan ikut dengan siapapun di antara kalian berdua. Aku lebih memilih untuk hidup sendiri, daripada harus kalian perebutkan seperti ini. Asal kalian berdua tahu saja, aku bukan boneka bisa kalian perebutkan seenaknya. Setidaknya pikirkan bagaimana perasaanku!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Sean menatap ibu dan ayahnya dengan tajam."Apa ini yang kalian inginkan? Apa sekarang Kalian berdua sudah puas setelah membuatnya terkena tekanan batin atas tindakan kalian ini? Kalian benar-benar keterlaluan, seharusnya pikirkan bagaimana perasaannya, jangan hanya memikirkan ego kalian sendiri!!" Sean meninggalkan ruangan ayahnya dan pergi begitu saja.


Dia bergegas mengejar Luna yang sudah meninggalkan ruangan ayahnya. Eric dan Alex pun tidak tinggal diam, dia juga segera mengikuti jejak Sean. Mereka berdua sama-sama peduli pada gadis itu.


"Apa kau sudah puas sekarang?! Apa ini yang kau inginkan? Victoria, kau benar-benar ibu yang sangat buruk. Selama ini dia baik-baik saja tinggal bersamaku, kenapa kau malah harus mengusik hidupnya dan membuatnya tidak nyaman?! Keluar kalian dari ruanganku sekarang juga dan jangan pernah menampakan batang hidung kalian lagi di sini!!" Pinta Deen Williams sambil menunjuk kearah pintu. Dia mengusir pasangan tersebut keluar dari kantornya.


Victoria menatap tajam mantan suaminya itu."Ini masih belum berakhir. Aku pasti akan memperjuangkan hakku untuk memilikinya. Aku adalah ibunya, orang yang telah melahirkannya, jadi diriku lebih berhak atas dia dibandingkan dirimu. Kau boleh mengambil semua putramu, tapi bukan putriku!! Dante, ayo pergi dari sini!!"

__ADS_1


Deen Williams mengepalkan tangannya. Dia tidak akan membiarkan putrinya jatuh ke tangan mereka. Karena Deen William tahu, hidup Luna akan berada dalam bahaya bila bersama mereka berdua.


xxx


__ADS_2