Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Aku Mengerti


__ADS_3

Denada menggigit ujung kukunya sambil mondar-mandir tidak jelas. Berkali-kali dia melihat keluar rumah, seperti menunggu kedatangan seseorang, namun sayangnya yang di tunggu tidak kunjung datang. Beberapa pelayan senior menegurnya, dan meminta Denada untuk serius bekerja, wanita itu tidak menggubris mereka dan mengabaikannya.


Seorang pria setengah baya menghampiri Denada, dia benar-benar geram melihat kelakuan dan tingkah wanita itu. "Denada, sampai kapan kau akan bermalas-malasan seperti ini? Kau di sini digaji untuk bekerja bukan untuk memakan gaji buta. Jadi tolong serius sedikit dalam menyelesaikan pekerjaanmu." Ucap pria itu menasehati.


Sontak Denda menoleh dan menatapnya dengan pandangan dingin dan tajam. "Memangnya kau siapa sampai-sampai berani mengaturku? Apa kau sudah merasa hebat sampai-sampai tidak melihat siapa orang yang sedang kau hadapi ini, sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak mengatur ku jika tidak ingin berkahir dengan celaka!!" bukannya mendengarkan , Denada malah memberikan ancaman.


"Kau benar-benar tidak tahu diri, ya. Baiklah terserah apa maumu, yang penting aku sudah menasehati mu!!" kemudian pria itu pergi begitu saja dari hadapan Denada. Memang tidak ada gunanya berbicara dengan orang seperti dia.


Denada mengeram pelan. "Sial!! Sebenarnya pergi kemana mereka berdua, kenapa sampai sekarang belum juga pulang?!" Denada tampak kesal dan marah. Dia benar-benar tidak suka melihat kebersamaan Kevin dan Viona.


Daripada diam di rumah dan menunggunya dengan tidak pasti, Denada memutuskan untuk menyusun mereka keluar. Dia yakin pasti bisa menemukan mereka berdua. Setelah mengganti pakaian maid yang melekat di tubuhnya, Denada pun bergegas pergi meninggalkan kediaman Lu.


xxx


"Ge, menurutmu lebih bagus yang mana? Yang di tangan kiri, atau di tangan kanan?" tanya Viona memastikan. Dia menunjukkan dua gaun pada Kevin, dan meminta pria itu untuk membantunya memilih salah satu diantara kedua gaun tersebut.


Kevin menggeleng. "Tidak keduanya, kenapa pilihanmu Sangat payah?! Aku rasa yang ini jauh lebih bagus dari kedua gaun itu, cobalah." Kevin mengambil sebuah gaun cantik berwarna peach lalu memberikannya pada Viona dan memintanya untuk mencobanya.


Viona mengangguk tanpa perlawanan. Gaun pilihan Kevin sangat cantik, jadi dia tidak memiliki alasan untuk berdebat apalagi menolak pilihannya. "Tunggu sebentar," Viona Membawa gaun itu ke ruang pas untuk dicoba. Sedangkan Kevin menunggu di luar.


Tidak sampai lima menit, Viona kembali dengan memakai gaun tersebut. Dia tampak sangat cantik dan anggun, dan Viona sangat menyukai gaun pilihan Kevin. "Ge, bagaimana menurutmu? Bagus tidak?" tanya Viona memastikan.

__ADS_1


"Perfek," satu kata namun mewakili semuanya. Viona tersenyum lebar setelah mendengar jawaban Kevin.


"Baiklah, kalau begitu aku ambil yang ini saja. Ge, pilihanmu benar-benar tidak buruk." Ucap Viona dengan senyum yang sama.


Setelah menggantinya dengan pakaian yang dia pakai sebelumnya. Viona menyerahkan gaun tersebut pada pelayan yang membantunya. Gaun itu baru awal dan masih belum selesai, Viona masih ingin berkeliling lagi, siapa tahu ada gaun ataupun dress lain yang menarik perhatiannya juga?


Kali ini Viona tidak akan menyiksa Kevin dengan meminta dia membawakan semua barang belanjaannya. Viona menggunakan jasa dan Kevin cukup menemaninya.


Mereka berjalan dengan begitu mesra, Viona memeluk lengan Kevin sambil memperhatikan sekelilingnya. Sedikitnya sudah tujuh boutique yang dia datangi, namun hanya ada dua yang sesuai dengan selera fashionnya.


"Ge, apa kau tidak ingin membeli sesuatu? Bagaimana jika Sekarang kita cari sesuatu untukmu? Kemeja atau jas misalnya?" usul Viona.


Viona mengangguk mengerti. Kemudian dia membawa Kevin masuk ke toko parfum. Dan dia berencana untuk membelikan parfum untuknya. Jika Parfum Kevin tidak mungkin merawatnya. "Ge, bagaimana kalau kita membeli parfum saja?" usul Viona dan di balas anggukan oleh Kevin.


Tidak perlu memakan banyak waktu untuk mengelilingi toko Parfum tersebut. Karena Viona sudah mendapatkannya, dia sudah merencanakan parfum apa yang akan ia beli sebelum memasuki toko. Dan Kevin menurut pada pilihan Viona.


Lelah berkeliling. Mereka berdua memutuskan untuk singgah sejenak di cafe. Viona mengeluhkan capek dan ingin istirahat sebentar, dia juga bilang haus dan lapar. Kebetulan sudah hampir memasuki jam makan siang. Seorang pelayan menghampiri mereka berdua dan mencatat pesanan mereka.


"Ge,kau ingin pesan apa?" tanya Viona sambil membolak-balik buku menu di tangannya.


"Samakan saja denganmu," jawab Kevin yang sedang sibuk dengan ponselnya. Ada beberapa email yang masuk ke ponselnya , yang dikirim langsung dari Korea. "Akhir pekan ini kita kembali ke Seoul." Ucap Kevin sambil mengangkat kepalanya dan menatap Viona.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk dengan antusias. Bahkan dia sudah tidak sabar cepat-cepat kembali ke Seoul. Dengan begitu dia lagi melihat muka menyebalkan Denada setiap harinya ketika berusaha untuk menggoda dan menarik perhatian Kevin.


"Ge, kenapa harus menunggu Akhir pekan. Kenapa tidak sekarang saja kita kembali ke sananya? Supaya kita semua bisa terbebas dari wanita menyebalkan itu, aku benar-benar sudah tidak tahan dan muak melihat muka menyebalkannya!!" ujar Viona.


Kevin menggeleng. "Tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan mereka berdua begitu saja. Apalagi Frans dan Hwan masih dalam suasana hati berduka, meskipun terlihat baik-baik saja tapi pada kenyataannya mereka masih sangat bersedih dengan kepergian, Kakek." Ujar Kevin. Viona mengangguk mengerti, dia memahami betul posisi Kevin saat ini. Pasti tidak mudah berada di posisinya.


"Aku mengerti,"


Obrolan mereka berdua di interupsi oleh pelayan yang datang menghantarkan makanan dan minuman pesanan mereka berdua. Sesekali pelayan itu mencuri-curi pandang ke arah Kevin, rona merah tampak di kedua pipinya. Terlihat jelas jika dia terpesona dengan ketampanan laki-laki tersebut.


Viona pun segera menyadarinya dia mengangkat kepalanya dan menatap layanan itu dengan tajam. Pandangan Viona tak lepas sedikitpun darinya, hal itu membuatnya gugup sekaligus takut.


"Sudah lama aku tidak membutakan mata seseorang, dan sepertinya garpu ini cukup tajam untuk membuat dua mata menjadi buta di waktu yang bersamaan." Ucap Viona sambil memainkan garpu di tangannya, pelayan itu sedikit terkesiap saat Viona ucapkan garpu tersebut di atas steak pesanannya.


Pelayan itu buru-buru meminta maaf pada Viona dan pergi begitu saja. Sedangkan Kevin hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah wanitanya. Tapi bagus juga yang Viona lakukan, diam-diam Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Wanitanya benar-benar hebat dan luar biasa, tidak salah dia memilih Viona sebagai istrinya.


Selanjutnya mereka berdua menyantap makan siangnya dengan tenang, ada lagi obrolan di antara Kevin dan Viona, keduanya sama-sama diam dalam keheningan.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2