
Aiden menghentikan mobil mewahnya di sebuah Mansion mewah yang memiliki tiga lantai. Lalu Pandangan Aiden bergulir pada Luna yang tampak kebingungan. "Ayo turun," ajak Aiden pada Luna.
"Ge, memangnya ini rumah siapa?" tanya Luna penasaran.
"Orang tua kandungku. Ayo, masuk. Aku akan memperkenalkan mu dengan mereka. Mama, bertemu denganmu. Dia sangat penasaran dengan adik manja yang selalu ingin nempel pada, Kakaknya." Ujar Aiden sambil menarik pelan ujung hidung mancung Luna.
Wajah Luna bersemu merah ketika Aiden menarik ujung hidungnya. Dengan malu-malu dia memeluk lengan Aiden yang tertutup kemeja hitamnya.
"Ge, jangan bilang begitu. Memangnya siapa yang manja dan ingin terus nempel padamu?" ucap Luna menimpali.
Aiden terkekeh pelan. Diusapnya kepala Luna dengan lembut. "Sudah jangan bicara lagi ayo kita masuk, semua orang sudah menunggumu di dalam." Tukas Aiden dan dibalas anggukan oleh Luna.
Tiba-tiba jantung Luna berdegup kencang. Dia tidak pernah merasa segugup ini sebelumnya, mungkin karena hendak bertemu dengan orang tua kandung Kakaknya, makanya dia menjadi sangat gugup.
Aiden menoleh dan menatap Luna. "Kau gugup? Tenang saja, mereka baik dan tidak menggigit kok." Canda Aiden mencoba menghilangkan kegugupan Luna.
"Bercanda mu tidak lucu, Ge. Kau benar-benar tidak pandai bercanda," timpal Luna sambil menyipitkan matanya. "Ge, aku benar-benar sangat gugup. Bagaimana jika keluargamu tidak menyukaiku?" ucap Luna
Tiba-tiba Luna menghentikan langkahnya dan menatap Aiden dengan tatapan yang sulit diartikan. Aiden menggelengkan kepala.
"Itu tidak mungkin, karena Mama diri yang memintaku untuk Membawamu ke rumah ini. Jika mereka berani membuatmu tidak nyaman aku akan langsung membawamu pergi dari sana, karena bagiku kenyamanan mu adalah yang utama." tukas Aiden.
Luna semakin tersipu setelah mendengar apa yang Aiden katakan. Membuat Luna semakin, bisa-bisanya dia mengatakan kalimat semanis itu.
"Ge, jangan membuatku semakin malu." Gerutu Luna sambil menyembunyikan wajahnya di lengan Aiden.
__ADS_1
Aiden hanya tersenyum tipis. Diusapnya kepala Luna dengan gerakan naik turun. Kemudian mereka melanjutkan langkahnya dan memasuki kediaman Zhang.
"Kalian sudah datang," Viona menyambut mereka di depan pintu. Kemudian dia mendekati Luna. "Kau pasti, Luna. Sangat cantik, pantas saja Aiden tidak henti-hentinya membicarakan mu." Ucap Viona sambil tersenyum lembut .
"Jangan mengada-ada, memangnya kapan aku mengatakannya? Jangan di dengar, Luna. Mama, hanya mengatakan omong kosong." Sahut Aiden menimpali.
Viona menatap putranya itu sambil berdecak sebal. "Bagaimana bisa semua sifat Papamu menurun padamu? Astaga, bahkan sifat Mama tidak sedikitpun yang kau warisi. Aku yang mengandung dirimu selama 9 bulan, benar-benar tidak adil!!" ujar Viona setengah menggerutu.
Mengabaikan Aiden. Pandangan Viona bergulir pada Luna. Senyum kembali tercetak dibibir ranumnya. "Jangan hiraukan dia. Ayo, masuk. Semua orang sudah menunggu kedatangan kalian." Viona membawa Luna masuk ke rumahnya, mengabaikan Aiden yang berjalan mengekor di belakang mereka.
Aiden menatap kepergian mereka berdua dan mendengus. Kenapa malah dia diabaikan oleh Ibunya sendiri, melangkahkan kakinya dan menyusul mereka berdua.
Kedatangan Luna di kediaman Zhang di sambut dengan hangat oleh orang-orang di kediaman Zhang, bahkan kedatangannya sudah ditunggu-tunggu sedari tadi. Ailee pun langsung nemplok pada gadis cantik itu.
"Kau benar-benar Mama versi muda. Bagaimana bisa kau sangat mirip dengan Mama ketika masih seusiamu dulu, sedangkan Aiden mirip Papa. Omo, jangan-jangan ini adalah pertanda jika kalian berdua memang ditakdirkan untuk berjodoh." Ujar Ailee.
Ailee sangat berharap mereka berdua berjodoh, lagipula Aiden dan Luna bukanlah saudara kandung. Jadi sah-sah saja jika mereka berdua menikah.
"Ma, di mana Papa? Kenapa aku tidak melihat batang hidungnya?" tanya Aiden saat tidak melihat batang hidung ayahnya.
"Papamu sedang pergi ke luar negeri. Mungkin besok siang baru kembali. Oya, Papa kirim salam pada Luna. Kata Paman Kevin dia minta maaf karena tidak bisa ikut menyambut mu datang," dari Aiden pandangan Viona bergulir pada Luna.
Gadis itu menggeleng. "Tidak apa-apa, Bibi." Ucapnya.
"Kalian pasti sudah lapar. Ayo, kita langsung ke meja makan saja. Mama, sudah memasak banyak makanan enak untuk kalian berdua."
__ADS_1
"Masa cuma untuk mereka berdua, lalu untukku tidak ada?!" Ailee melayangkan protesnya. Bisa-bisanya Sanga ibu mengatakan hanya menyiapkan makan-makanan lezat itu untuk Aiden dan Luna.
Alhasil sebuah jitakan mendarat mulus di kepala Ailee. "Jangan banyak bicara lagi. Kau ini Tuan Rumah, bisa-bisanya malah iri pada mereka berdua. Jangan Membuat Luna menjadi tidak nyaman!!" tidak hanya dihadiahi sebuah jitakan, tapi Omelan juga.
Ailee menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana bisa dia tidak terpikir sampai sana. Kemudian dia memeluk lengan Luna dan bawahnya kemeja makan.
Melihat sambutan baik keluarganya pada Luna membuat Aiden merasa lega. Apalagi Ailee langsung akrab dan dekat dengannya, bahkan ibunya juga memperlakukannya dengan istimewa. Pria itu kemudian mengayunkan kedua kakinya secara bergantian dan pergi ke meja makan untuk kemudian bergabung dengan Luna, Ibu serta kakaknya.
xxx
"Tuan Zhang, kami dengar kau baru saja menemukan putramu yang sudah lama hilang. Kami ucapkan selamat pada anda karena akhirnya berkumpul kembali dengannya," ucap seorang pria dalam balutan jas hitam yang sedang menyantap makan malamnya bersama Kevin di sebuah hotel bintang Lima.
"Selamat, Tuan Zhang." Sahut yang lainnya.
"Saya memiliki seorang putri, dan Anda memiliki seorang putra. Bagaimana jika kita jodohkan mereka berdua supaya hubungan di antara kita semakin erat dan perusahaan kita semakin bersinar," ucap pria dalam balutan jas hitam tersebut.
Kevin menggeleng. "Maaf, Tuan Himura. Tapi masalah jodoh saya tidak berani ikut campur karena dia yang menjalaninya bukan aku," ucap Kevin.
Pria bermarga Himura itu tertawa mendengar apa yang Kevin katakan. "Benar sekali apa yang Anda katakan, Tuan Zhang. Sebagai orang tua, memang seharusnya kita tidak ikut campur urusan anak-anak. Tapi alangkah baiknya jika kita menjodohkan anak-anak demi hubungan yang semakin baik." Ucapnya bersikeras.
Tentu ada keuntungan besar yang bisa dia dapatkan jika Kevin setuju untuk menjodohkan putranya dengan putrinya. Bukan hanya mendapatkan besan dari keluarga terpandang yang namanya sudah terkenal dikalangan semua pebisnis di seluruh penjuru dunia.
"Saya tidak berani mengiyakannya. Kita serahkan saja pada yang menjalaninya. Aku tidak berani ikut campur dan merusak hubungan baik diantara kami. Kalau begitu aku undur diri dulu." Kevin bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.
Dia mulai tidak nyaman dengan obrolan Tuan Himura. Lagipula bukan Kevin namanya jika tidak mengetahui apa tujuan dia yang sebenarnya ingin menjodohkan putrinya dengan Aiden. Yakni karena dia ingin memperoleh keuntungan besar dari perjodohan tersebut.
__ADS_1
xxx
Bersambung