
"Presdir, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."
Aldo mengangkat kepalanya dan menatap lelaki yang berdiri di depannya dengan penasaran. "Siapa?"
Lelaki itu menggeleng. "Saya juga tidak tahu. Tapi dari tatapan dan sorot matanya, dia terlihat sangat berbahaya. Saya saja sampai merinding," ujar lelaki itu menunjukkan bulu-bulu halus lengannya yang berdiri.
Aldo terdiam selama beberapa detik. Dalam hatinya bertanya-tanya siapa kira-kira yang datang mencarinya. Kemudian dia bangkit dari kursinya. Dan baru saja Aldo hendak melenggang pergi, tiba-tiba pintu ruangannya di dobrak dari luar. Seseorang memasuki ruangannya dengan tatapan super dingin dan tajam. Aldo mengenali siapa orang itu.
"Kau~" ucap Aldo tertahan.
"Aku tidak akan banyak basa-basi. Berhenti dan jangan mengganggu Viona, hidupnya sudah tegang jadi jangan pernah kau usik lagi!!" orang itu yang pastinya adalah Kevin datang memberi peringatan pada Aldo. Kevin benar-benar tidak suka Aldo masih terus saja mengganggu hidup Viona.
"Jika aku tidak mau bagaimana?" tanya Aldo dan menatap Kevin dengan tatapan menantang.
"Maka aku tidak akan segan-segan untuk memenggal kepalamu!!" jawab Kevin bersungguh-sungguh.
Jika urusan Viona. Kevin tidak mungkin bersikap lembut. Viona adalah miliknya sekarang, dan dia tidak akan membiarkan siapapun mendekatinya apalagi berusaha untuk menggodanya. Jika ada yang berani melakukannya, maka orang itu harus siap-siap untuk berhadapan dengannya.
Tiba-tiba tubuh Aldo gemetar ketakutan melihat sorot tajam Kevin yang dingin. Bulu kuduknya berdiri, dia serasa uji nyali. "Jangan pernah menguji kesabaranku, karena aku bukanlah orang yang sabar. Maka dari itu, jangan antarkan dirimu sendiri dalam bahaya!! Ingat itu," Kevin menarik kembali pistol yang mengacung pada Aldo dan melenggang pergi.
Sesaat seketika Aldo jatuh lemas. Dia yang sering mengancam orang lain dan membuat mereka ketakutan, hari ini justru mendapatkan ancaman. Dan ancaman yang dia dapatkan jauh lebih mengerikan dari ancamannya pada mereka. Mungkinkah ini yang dinamakan dengan karma? Aldo tidak tahu.
"Sial, kenapa sekujur tubuhku bisa merinding semua?! Sebenarnya dia itu iblis atau manusia?!" ujar Aldo bergumam.
xxx
Hari ini perdana Frans menginjakkan kakinya di perusahaan milik Kakeknya. Namun kedatangan Frans di sana bukan untuk bekerja apalagi mengambil alih posisi CEO ataupun Manager, tetapi dia datang hanya untuk melihat-lihat saja.
__ADS_1
Sambil menyelam minum air. Itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kedatangan Frans saat ini.
"Ge, di mana ruangan mu? Memangnya apa jabatanmu di sini?" tanya Frans memecah keheningan.
"Ruanganku ada di lantai 30, dan posisiku sebagai Manager utama," jawab Hwan.
Frans mengangguk mengerti. Ternyata posisi Hwan di perusahaan milik Kakeknya tinggi juga.Tetapi dia memang layak mendapatkan posisi itu , apalagi Tuan Lu pernah bercerita pada Frans jika Hwan adalah orang yang cerdas dan berbakat. Dan posisi itu memang paling tepat untuknya.
"Ge, apa ada yang menindas mu di sini? Mereka yang selalu membully dirimu karena tidak menyukai kau menempati posisi sebagai Manager utama?" Frans sedang mencari mangsa untuk bahan percobaannya.
Hwan mengangguk. "Tentu saja ada. Dan dia masih berkerabat dengan, Kakek,"
"Benarkah? Lalu di mana dia sekarang?"
"Mungkin saja belum datang. Dia selalu datang terlambat dan suka bersikap seenaknya saja. Saat ada Kakek, dia selalu mencari muka serta pujian darinya. Dan hampir semua karyawan yang bekerja di sini tahu betul sifat aslinya." Ujar Hwan panjang lebar.
Seperti pada Hwan contohnya. Sifat Hwan berbanding balik dengan Kevin, jadi Frans berani menjadi dirinya sendiri di hadapannya. Bahkan dia tidak malu untuk membuka aibnya.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang? Apa tidak bahaya jika kau meninggalkannya begitu saja?"
Frans menggeleng. "Sama sekali tidak. Lagipula bosku adalah kakakku sendiri. Dan kebetulan kami sudah memutuskan untuk berjalan di jalan yang benar, kami sudah tidak tersesat lagi." Jelas Frans.
"Maksudnya bagaimana?" Hwan menatap Frans dengan bingung.
"Aku jelaskan juga kau tidak akan mengerti. Intinya dulu aku bekerja sebagai tangan kanan Mafia yang paling di takuti dan di segani. Tapi karena musuh kami sudah lenyap semuanya, jadi tidak ada alasan untuk tetap menjadi mafia. Makanya aku mau jadi asisten pribadimu, Ge." tutur Frans panjang lebar.
Karena terlalu asik mengobrol. Mereka tidak sadar jika telah sampai di lantai 30. Frans berjalan di belakang Hwan masuk ke dalam ruangan. Dan dia akan belajar dengan sungguh-sungguh supaya bisa menjadi asisten pribadi yang bisa selalu Hwan butuhkan.
__ADS_1
Frans telah membulatkan tekatnya untuk bergabung di perusahaan kakeknya. Lagipula sudah ada Rico yang bisa membantu Kevin, Kevin juga tidak akan keberatan jika dirinya bergabung dengan perusahaan milik Kakek mereka.
"Ge, jadi ini ruangan mu? Besar juga ya, nyaman pula. Aku pasti betah jika berlama-lama di sini. Aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh dan melindungi dirimu dari marabahaya." Ucap Frans dengan mantap.
Hwan tersenyum. "Terimakasih , Frans." Dia benar-benar terharu, sepanjang hidup ini pertama kalinya Hwan di perlakukan dengan begitu istimewa. Dan dia sangat berterimakasih pada Tuan Lu, berkat dia hidupnya berubah 180°. Hwan benar-benar sangat terharu.
xxx
Kedatangan Kevin sedikit mengalihkan perhatian Viona dari novel yang sedang dia baca. Wanita itu menatap sekilas pada sang suami dan kembali fokus pada novelnya. Bahkan dia bertanya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Ge, kau dari mana?" tanya Viona, namun matanya tetap fokus pada novel di tangannya.
"Menemui mantan suamimu," jawab Kevin.
Sontak Viona menoleh setelah mendengar jawaban dingin suaminya. "Menemui, Aldo? Untuk apa?" tanya Viona penasaran. Perasaannya mulai tidak enak. Semoga saja Kevin tidak melakukan kegilaan karena rasa cemburu..
"Bukan apa-apa, hanya memberinya peringatan. Kenapa, apa kau takut aku akan menghabisi mantan suamimu itu? Reaksimu terlalu berlebihan, Nona." Tukas Kevin sinis.
Viona menghela napas. "Ge, apa kau meragukan perasaanku padamu? Bukan aku yang berlebihan tapi kau. Sikapmu terlalu kekanakan ,Ge. Kalau kau benar-benar mencintaiku, seharusnya kau tidak ragu dengan perasaanku. Dan cemburu mu agak keterlaluan, kau benar-benar kekanakan!!" ujar Viona panjang lebar. Wanita itu beranjak dari hadapan Kevin dan pergi begitu saja.
"Arrkkhhh ... Sial!!" Kevin mengeram.
Kevin mengepalkan tangannya kemudian memukul tembok yang ada di belakangnya. Sejak berkencan dan menikah ,ini pertama kalinya mereka berdua bertengkar. Dan penyebabnya adalah Kevin yang cemburu pada Viona.
xxx
Bersambung.
__ADS_1