
Hari telah berganti, siang yang terik telah berlalu dan malam datang menjelang. Di sebuah trotoar yang padat dengan pejalan kaki, terlihat sepasang pria dan wanita berjalan membaur dengan pejalan kaki lainnya sambil bergandengan tangan.
Sesekali si pria menatap wanita yang berjalan di sebelahnya, dia begitu asik menikmati es creamnya. "Paman, kau kau mencobanya?" tanya wanita itu sambil menyerahkan ice cream yang dia makan pada pria disampingnya.
Pria itu 'Kevin' menggelengkan kepala. "Kau saja yang makan. Setelah ini kau ingin pergi kemana lagi?" tanya Kevin.
"Jeju Island, bagaimana jika kita pergi ke sana?" Viona menghentikan langkahnya dan menatap Kevin dengan tatapan penuh harap. "Paman, kau masih memiliki hutang padaku untuk membawaku ke sana suatu hari nanti, dan sekarang aku menagih janji itu,"
"Tapi ini sudah malam, Vio. Bagaimana kalau besok saja kita berangkatnya? Sebaiknya sekarang kita pulang dulu sekaligus berkemas," ucap Kevin sambil menepuk kepala Viona.
Perempuan itu tampak berpikir, kemudian dia menganggukkan kepala. "Baiklah, besok saja kita berangkat kesana. Lagipula bagaimana bisa kita pergi ke sana tanpa ada persiapan sama sekali. Sebaiknya sekarang kita pulang saja, jalan-jalan seharian membuatku sangat lelah," ujar Viona.
Kevin mengangguk. "Kau tunggulah disini sebentar, Paman ambil mobil dulu," ucap Kevin dan pergi begitu saja.
Denting suara pesan masuk sedikit mengejutkan Viona. Wanita itu mengangkat ponsel dalam genggamannya untuk melihat pesan singkat tersebut. Viona mengerutkan dahinya melihat nomor asing tertera pada layar ponselnya yang menyala terang.
"Viona, aku akan bunuh diri jika kau tidak mau rujuk Kembali denganku. Aku akan melompat dari jembatan Banpo saat ini juga," begitulah isi pesan singkat tersebut.
Ada beberapa foto yang menunjukkan Aldo sedang berada di jembatan Banpo, bukannya panik Viona tertawa sinis. Apa Aldo pikir ancaman itu momen untuknya? Jika dia berpikir demikian, maka itu salah besar.
"Paman, antarkan aku ke Sungai Han. Ada pertunjukan menyenangkan di sana," ucap Viona setibanyak Kevin di depannya.
Pria itu memicingkan matanya dan menatap Viona penuh tanya. "Pertunjukan apa?" dia bertanya dengan penasaran.
"Paman, akan tahu sendiri setelah tiba di sana. Jadi jangan buang-buang waktu lagi, takutnya pertunjukan itu berakhir sebelum kita tiba di sana," ucap Viona sambil masuk ke mobil Kevin.
__ADS_1
Kevin pun menjadi penasaran, memangnya pertunjukan apa yang dimaksud oleh Viona. Kedengarannya sangat menarik, buktinya Viona begitu bersemangat untuk segera pergi ke sana.
Sepuluh menit berkendara, mereka tiba di Sungai Han. Viona buru-buru turun dari mobil Kevin dan berlari ke arah sungai Banpo, di sana dia melihat seseorang berdiri di pagar jembatan yang gelap dan sepi. Hanya dengan melihat postur tubuhnya saja, tentu Viona sudah tahu siapa orang itu.
"Viona, tunggu!!" seru Kevin dan mempercepat langkahnya menyusul Viona yang sudah lebih dulu meninggalkannya. Namun teriakan Kevin tidak dihiraukan olehnya.
"ALDO!!" teriakan nyaring itu mengejutkan Aldo.
Sontak ia menoleh ke arah sumber suara itu berasal dan mendapati seorang perempuan berlari ke arahnya. Sudut bibir Aldo tertarik ke atas melihat kedatangan Viona, dia sudah menduganya jika wanita itu pasti akan datang. Lagipula mana mungkin Viona membiarkannya mati sia-sia apalagi dengan cara bunuh diri.
"Viona, aku tahu kau pasti datang. Jika kau memohon dengan sungguh-sungguh supaya aku tidak melompat turun, maka aku akan mengurungkan niatku untuk bunuh diri. Jadi cepat memohon padaku supaya aku tidak jadi melompat ke bawah." Pintanya.
Viona tertawa mendengar ucapan Aldo. Sepertinya dia sudah salah besar dengan maksud kedatangannya, Aldo berpikir jika ia datang untuk mencegahnya bunuh diri, padahal Viona datang untuk melihatnya melompat turun ke sungai.
Aldo menggelengkan kepala dan menatap Viona tidak percaya. "Viona, omong kosong apa yang kau katakan? Jelas-jelas kau sangat peduli padaku, dirimu juga masih mencintaiku tapi kenapa kau bersikap seperti ini? Baiklah jika kau memang ingin aku melompat, maka aku akan melompat sekarang juga!!" ancam Aldo bersungguh-sungguh.
"Kalau begitu cepat lakukan, kebetulan kamera ponselku juga sudah ready dari tadi. Siap untuk merekam aksimu, dan aku jamin kau pasti langsung viral setelah ini!!" ujar Viona dengan santainya.
"Viona, kau~"
Sementara itu, meskipun melihat dan mendengar apa yang Viona katakan, tetapi Kevin tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya diam menikmati pertunjukan drama menyenangkan di depan matanya. Jarang-jarang ia melihat drama secara live seperti ini, Kevin menyulut rokoknya dan tubuhnya bersandar pada pagar jembatan. Sudut bibirnya tertarik keatas, Kevin menyeringai.
Viona memang paling jago membuat mental orang lain down, dan dia yakin jika pria itu mentalnya sedang tidak baik-baik saja. Kevin menggelengkan kepala. Sekali lagi dia menghisap rokoknya dan lalu menghembuskan asap putih dari sela-sela bibirnya yang kemudian membumbung baik keatas dan hilang tersapu angin malam.
"Aldo, aku akan sedikit memberitahumu. Mati itu sama sekali tidak enak, loh. Ketika kau tiba di alam lain, dirimu akan disiksa habis-habisan. Tubuhmu akan direbbus dan digiliing hingga hancur, kemudian tubuhmu akan utuh kembali."
__ADS_1
"Viona cukup!!" seru Aldo yang mulai merinding.
"Dan setelah itu kembali, kau akan kembali disiksa habis-habisan tubuhmu akan dirajam dan dipukuli hingga tidak berbentuk lagi. Apalagi orang yang mati dengan cara bunuh diri, hukumannya akan lebih berat lagi dan sakitnya bisa berpuluh-puluh kali lipat!!" ujar Viona panjang lebar.
Bukannya berhenti seperti permintaan Aldo. Viona malah lanjut bercerita, tapi tentu saja ceritanya itu hanya karangan saja karena dia sendiri tidak tau bagaimana rasanya menghadapi kematian.
Dan hampir saja Kevin tersedak asap rokoknya setelah mendengar apa yang Viona katakan. Bahkan dia saja belum pernah menghadapi kematian, tapi malah mengatakan omong kosong semacam itu.
"Viona, kau jangan menakut-nakutiku!! Aku benar-benar akan melompat sekarang juga di hadapanmu!!" teriak Aldo memberikan ancaman.
"Kau terlalu berisik, Aldo. Jika kau melompat, ya sudah lompat saja tidak usah banyak drama. Aku akan melihatnya dari sini saat kau terbit bebas ke bawah," ujar Viona.
Melihat air dibawah sana membuat Aldo gemetar sendiri. Dia membayangkan jika tubuhnya sampai jatuh kebawah pasti akan langsung tenggelam apalagi dia tidak bisa berenang, belum lagi suhu udara yang begitu dingin, bisa-bisa dirinya benar-benar mati dibawah sana.
"Kenapa kau ragu, Aldo? Bukannya kau ingin melompat ke bawah, ya? Ya sudah melompat saja, tidak ada yang melarangmu kok," ucap Viona.
"Aku tidak mau mati, Viona kau benar-benar kejam dan keterlaluan!!" teriak Aldo. Dia melemparkan tatapan tajam pada Kevin yang mendekati Viona dan pergi begitu saja.
Viona sedikit terkejut ketika merasakan pelukan pada pinggangnya. Wanita itu menoleh dan tersenyum lebar kearah Kevin. "Ayo pulang," ucap pria itu dan dibalas anggukan oleh Viona.
.
.
Bersambung.
__ADS_1