Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Tidak Baik-Baik Saja


__ADS_3

Viona membuka matanya yang sebelumnya tertutup rapat dan mendapati Kevin sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Wanita itu buru-buru menjauh dari Kevin sambil menundukkan kepala.


"Ma.. Maaf, Paman." Viona berkata penuh sesal. Jangan sampai Kevin berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya setelah apa yang dia lakukan barusan.


Kevin hanya mampu terdiam, entah kenapa dia tidak bisa menolak ciuman Viona. Entah percaya atau tidak, itu adalah ciuman pertama Kevin. Dia tidak pernah berciuman sebelumnya, bahkan dengan matan kekasihnya sekalipun.


"Matahari sudah semakin tinggi, sebaiknya kita turun sekarang. Bukankah kau ingin jalan-jalan mengelilingi Pulau ini? Ayo, kubawa kau ke suatu tempat," ucap Kevin lalu beranjak dari duduknya.


Kevin mengulurkan tangannya pada Viona yang kemudian disambut olehnya. "Kemana?" viona menatap Kevin penasaran.


Pria itu tersenyum misterius. "Kau akan mengetahuinya setibanya kita di sana," jawabnya menimpali. Dan jawaban Kevin membuat Viona semakin penasaran.


"Ayolah Paman, jangan membuatku penasaran, cepat kasih tahu aku kita akan pergi kemana?" Viona terus merengek sambil menggoyangkan lengan kanan Kevin, memaksa pria itu supaya memberitahunya kemana mereka akan pergi. "Paman, jangan membuatku penasaran,"


Kevin menghela napas. Dia tetap tidak mau memberitahu Viona ke mana mereka akan pergi, Kevin masih merahasiakan tempat itu darinya. "Ayo, berangkat sekarang atau tidak sama sekali?" ucap Kevin memberikan pilihan.


Viona mempoutkan bibirnya. "Dasar Kevin menyebalkan, suka sekali membuat orang penasaran!! Yakk!! Paman, tunggu aku!" seru Viona dan buru-buru mengejar Kevin yang pergi meninggalkannya. Viona terus saja menggerutu tidak jelas, Kevin benar-benar sangat menyebalkan dan dia tidak suka itu.


"Aahhh," langkah kaki Viona terhenti dan tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang saat kepalanya berbenturan dengan punggung tetap Kevin yang berhenti tertawa tiba-tiba. "Paman, kau sengaja ya?!" omel Viona.


Kemudian Viona berpindah tempat dan berdiri berhadapan dengan Kevin. Pupil katanya sedikit membelalak melihat Kevin yang terus memegangi mata kirinya yang tertutup benda hitam bertali.


"Pa..Paman, kau kenapa?" tanya Viona dan menatap Kevin dengan panik. "A..Apa kau kesakitan?" keringat yang keluar dari kening Kevin seolah menjadi isyarat jika dia sangat kesakitan.


Kevin menggeleng. "Aku tidak apa-apa, hanya saja mataku sedikit ngilu."


"Sebaiknya kita ke rumah sakit, aku tidak tega melihat Paman kesakitan seperti ini," ucap Viona dengan suara parau seperti menahan tangis.

__ADS_1


"Tidak perlu," Kevin menggeleng. "Paman, baik-baik saja," ucapnya meyakinkan. Meski sebenarnya Kevin tidak baik-baik saja, namun dia tidak ingin membuat Viona sampai mencemaskannya. "Ayo, kau bilang ingin jalan-jalan, Paman akan menunjukkan beberapa tempat yang menarik dan recommended untuk dikunjungi,"


Viona menggeleng. "Tidak usah, kita kembali saja ke Villa. Paman, tidak baik-baik saja, sebaiknya kita tidak usah pergi kemana-mana." Ucap Viona.


Dia tidak ingin Kevin sampai memaksakan diri untuk pergi hanya karena dirinya, saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Karena bagi Viona, tidak ada yang lebih penting dari kesehatan Kevin.


Sepuluh menit kemudian, mereka tiba di Villa. Dan disini mereka sekarang, Kevin dan Viona berada di kamar mereka dilantai dua. "Paman, sebaiknya kau istirahat saja. Apa kau membawa obat pereda sakitmu?" tanya Viona memastikan. Kevin menggeleng, karena dia tidak memperkirakan jika matanya tiba-tiba akan sesakit ini.


"Kalau begitu aku akan meminta Frans supaya mengantar obatmu kemari, aku tidak ingin terus-terusan melihatmu tersiksa seperti ini. Sebaiknya sekarang Paman istirahat saja, aku keluar dulu." Ucap Viona dan melenggang pergi.


.


.


Viona menuruni tangga dengan tenang. Dia menghampiri Sabrina yang sedang menyiapkan makan siang di dapur. "Bibi, ada yang bisa aku bantu?" tanya Viona dan mengalihkan perhatian Sabrina.


"Nona, tidak perlu membantu apa-apa, biar Bibi selesaikan sendiri saja," Jawab Bibi Sabrina. "Oya Nona, apa yang terjadi pada Tuan Muda? Beliau terlihat seperti sedang kesakitan? Apa beliau baik-baik saja?"


"Nona, sebenarnya apa yang terjadi pada mata kiri Tuan Muda?" tanya Sabrina penasaran.


Viona menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, beberapa tahun aku terpisah jauh dari Paman. Kami hilang kontak selama beberapa tahun, namun dua tahun yang lalu aku dan dia kembali berkomunikasi tapi Paman selalu menolak untuk bertemu denganku. Dan kami baru bertemu kembali beberapa bulan lalu, mata kiri Paman sudah seperti itu." Ujar Viona panjang lebar.


Setiap kali memikirkan keadaan mata kiri Kevin sekarang membuat Viona merasa tidak nyaman, entah kenapa dia selalu dihantui rasa bersalah tanpa tahu sebab dan alasannya. Viona merasa jika ada sebagian kecil ingatannya yang dia lupakan, memori tentang penculikan yang pernah dia alami beberapa tahun lalu hilang begitu saja.


Sekitar lima atau enam tahun yang lalu, Viona pernah diculik oleh musuh bebuyutan Kevin yang bernama Jimmy, dia disekap di sebuah ruangan gelap selama dua hari dua malam.


Tapi anehnya, Jimmy tidak memperlakukannya dengan buruk sama sekali, bahkan Jimmy selalu menghidangkan makanan-makanan mewah untuknya selama dirinya menjadi tawanan pria itu.

__ADS_1


Viona tidak mengingat apapun lagi selain Kevin yang datang bersama anak buahnya untuk menyelamatkan dirinya. Yang terakhir Viona ingat dia terbangun disebuah rumah sakit yang berada di luar negeri. Selebihnya ingatan Viona tentang kejadian malam itu menjadi abu-abu.


"Nona, apa yang sedang Anda pikirkan?" tanya Bibi sabrina melihat kediaman Viona.


Wanita itu menoleh lalu menggelengkan kepala. "Tidak ada. Oya, karena Bibi melarangku untuk membantu menyiapkan makan siang, kalau begitu buahnya biar aku saja yang mencucinya." Ucap Viona, seharian hanya diam tanpa melakukan apa-apa membuatnya merasa agak bosan. Dan Bibi Sabrina tidak bisa melarangnya mengingat seberapa keras kepalanya Viona.


.


.


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian pria itu dari hamparan bunga di halaman belakang kediamannya. Dia hanya menatap datar pada seseorang yang menghampirinya.


"Tuan, saya membawa seorang ahli terapis kemarin. Dia akan sangat membantu Anda untuk bisa berdiri dan berjalan kembali seperti sedia kala,"


"Itu Percuma saja dan tidak ada gunanya, karena aku sudah cacatt!!" ucap pria itu menimpali, dia melirik tajam pada seseorang yang berdiri dibelakang anak buahnya tersebut.


"Tapi beliau adalah ahli terapis dari luar negeri, yang sudah banyak orang lumpuh yang sembuh berkat pengobatannya. Jadi Tuan bisa mencobanya terlebih dulu,"


"Suruh dia pergi dari sini, aku tidak membutuhkannya. Panggilkan saja Rico supaya kemari menemuiku," pinta pria itu dengan dingin.


"Tapi, Tuan. Tuan Rico, dia..."


"Tidak perlu dilanjutkan, aku sudah tahu. Sebaiknya kau keluar dan bawa orang itu juga," pinta pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Jimmy.


Jimmy menutup matanya dan menghela nafas, dia masih belum terbiasa dengan ketiadaan Rico. Dan sampai sekarang, belum ada seorangpun yang mampu menggantikan posisi Rico sebagai anak buah terbaik yang dia miliki.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2