Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Menikahlah Denganku


__ADS_3

"Frans, kenapa kau malah menyendiri di sana? Cepat kemari."


Viona melambaikan tangannya pada Frans yang duduk sendirian meja paling pojok. Dia tidak tahu kenapa Frans tidak ikut gabung dengannya dan Kevin, jelas-jelas masih ada kursi yang kosong.


Frans pun bangkit dari kursinya sambil membawa makanan serta minuman pesanannya menuju meja Viona dan bergabung bersama wanita itu serta Kevin. "Nunna, aku datang..." serunya seraya mendaratkan pantatnya di kursi kosong di sebelah kanan Kevin dan sebelah kiri Viona.


"Anak ayam, sebenarnya makanan apa yang kau pesan ini? Kau itu masih dalam masa pertumbuhan, jadi sebaiknya makan makanan yang sehat dan bergizi seperti sayuran bukan daging semua!!" ujar Viona. Dia mengomentari semua makanan yang dipesan oleh Frans. Menurut Viona makanan-makanan yang dipesan oleh Frans tidak sehat sama sekali.


"Aisshh.. Jangan salah menilai, Nona. Justru ini adalah makanan yang paling sehat dan bagus untuk masa pertumbuhan. Daging dan lemak itu yang paling dibutuhkan oleh tubuh, bukan sayur-sayuran seperti itu." Ujar Frans menuturkan.


Viona hanya memutar mata jengah mendengar penjelasan Frans. Sedangkan Kevin hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua. Kevin sudah seperti ayah yang menjaga anak-anaknya.


"Sudah hentikan. Makanannya sudah semakin dingin, sebaiknya kita makan sekarang." Ucap Kevin menengahi perdebatan mereka berdua, Viona dan Frans mengangguk dengan kompak. Dan selanjutnya makan malam itu mereka jalani dengan tenang.


xxx


Seorang wanita berpenampilan seksi meliukkan tubuhnya memasuki kediaman Zhang. Bagi yang sudah bekerja lama di sana, tentu saja tidak asing dengan wanita itu karena dia memiliki hubungan erat dengan Tuan Mudanya dimasa lalu.


"Nona Cintia," kaget seorang pelayan saat tanpa sengaja melihat kedatangan wanita itu yang ternyata bersama Cintia.


Sontak wanita itu menoleh. "Oh, kau. Aku datang untuk bertemu dengan Kevin, apakah dia ada di rumah?" tanya Cintia tanpa basa-basi.


"Tuan Muda, sedang tidak ada di rumah. Beliau pergi keluar negeri dengan Nona Viona dan Tuan Muda Frans," jawab pelayan tersebut.


Cintia memicingkan matanya. "Kau bilang apa? Pergi berlibur?" pelayan itu mengangguk. "Oke, Frans aku mengenalnya tapi siapa Viona dan apa hubungan wanita itu dengan Kevin?" tanya Cintia penasaran. Dia membutuhkan penjelasan.

__ADS_1


"Nona Viona, dia adalah Nona Muda di rumah ini. Dia adalah putri dari kakak angkat Tuan Muda. Ketika Nona dan Tuan Muda berpacaran, pada saat itu beliau sedang kuliah di luar negeri jadi Anda tidak sempat berkenalan dengannya." Jelas Pelayan itu menuturkan.


"Oh. Terus kapan mereka akan kembali?" tanya Cintia lagi.


Pelayan itu menggeleng. "Saya sendiri kurang tau, Nona. Karena Tuan Muda tidak mengatakan apapun , apalagi memberitahu kapan mereka akan kembali." Ujar pelayan tersebut.


Cintia menghela napas. "Baiklah kalau begitu. Segera siapkan kamar untukku. Karena mulai hari ini dan seterusnya aku akan tinggal di rumah ini!!" ucapnya dan berlalu begitu saja.


Pelayan itu pun tidak berani membiarkannya untuk tinggal tanpa ijin dari Kevin maupun Viona. "Nona, sebaiknya Anda pulang dulu saja. Saya tidak berani sebelum mendapatkan ijin dari Tuan dan Nona, silahkan Anda kembali setelah mereka pulang dari berlibur." Ucap pelayan itu dan menghentikan langkah Cintia.


Cintia sontak menoleh dan menatap wanita itu dengan tajam. "Berani sekali kau melarangku disini dan malah mengusirku pergi. Aku adalah calon Nyonya di rumah ini jadi jangan macam-macam!!" ucapnya dan pergi begitu saja.


Cintia berjalan menuju lantai dua, dia adalah calon Nyonya maka kamarnya adalah kamar utama, yakni kamar Viona.


xxx


"Paman," bisik Viona sambil menoleh kebelakang, dan detik itu juga bibirnya langsung disambut oleh bibir Kevin yang memagutnya dengan lembut.


Kevin terus memagut dan melumatt bibir Viona. Mereka sama-sama menutup matanya, menghayati ciuman yang sedang berlangsung. Jari-jari lentik Viona menggenggam jari-jari besar Kevin yang memeluk perutnya. Punggungnya menempel sempurna pada dada bidang pria itu.


Ciuman mereka masih berlanjut. Bibir mereka saling memagut, lidah mereka saling membelit dan tak jarang mereka saling bertukar saliva. Setelah puas dengan bibir Viona, kemudian ciuman Kevin turun menuju leher jenjangnya, mengecupnya dengan begitu bergaiirah dan meninggalkan jejak kepemilikan di sana.


Ciuman itu kemudian turun dan turun lagi hingga bahu Viona yang putih mulus tanpa noda. Dessahan berkali-kali keluar dari bibir Viona ketika ciuman Kevin menyentuh titik sensitifnya, dan dessahan Viona membuat Kevin semakin gencar melakukannya.


"Pa..Paman, hentikan." Rancau Viona memohon.

__ADS_1


Kevin menarik dirinya sesat dan menatap sisi wajah Viona dengan penuh kebingungan. "Kenapa, Sayang? Bukankah kau menikmatinya, aku akan memanjakanmu jadi relakskan dirimu." Ucap Kevin dan kembali memagut bibir Viona, melumattnya seperti tadi. Namun kali ini ciuman itu lebih singkat daripada ciuman mereka yang sebelumnya.


Kevin akhiri ciumannya dan menatap Viona dengan serius. Membuat Viona merasa gugup karena di tatap seperti itu oleh Kevin. "Paman, kenapa kau menatapku seperti itu? Kau membuatku gugup saja," ucap Viona sambil menundukkan kepala.


"Viona , ayo kita menikah." Ucap Kevin tiba-tiba dan membuat Viona terkejut mendengarnya.


Wanita itu mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk dan menatap Kevin yang juga menatap padanya. "Apa Paman bilang?" tanya dia berpura-pura tidak mendengar ucapan Kevin. Viona ingin memastikan apakah dia salah dengar atau tidak.


"Menikahlah denganku." Pinta Kevin sekali lagi.


"Menikah?" Viona mengulangi ucapan Kevin.


Kevin mengangguk. "Ya, menikah. Viona, Kita tidak mungkin hidup seperti ini terus kan, bukankah lebih baik jika kita menikah? Dan aku tidak menerima penolakan, aku hanya ingin mendengar kata 'Baiklah, kita menikah' hanya itu yang ingin aku dengar darimu." Tukas Kevin menegaskan, dia memaksa supaya Viona menerima pinangannya. Dan itu bukan ajakan tetapi paksaan.


"Apa Paman serius ingin menikahi aku?" tanya Viona memastikan.


"Bukan hanya serius, tapi ribuan rius. Katakan Ita dan kita menikah." Pinta Kevin sekali lagi. Dia tidak ingin mendengar penolakan dari wanita itu.


Viona sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Kedua matanya berkaca-kaca mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Kevin. Sungguh Viona tidak pernah menduga jika Kevin akan mengajaknya untuk menikah.


"Aku memintamu untuk menjawab iya, bukannya malah menangis." ucap Kevin melihat cairan-cairan bening mengalir dari kelopak matanya.


Viona menyeka air mata yang membasahi pipinya lalu berhambur ke dalam pelukan Kevin dan memeluknya dengan erat. "Aku mau Paman, aku mau menikah denganmu."


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2