Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Dinner


__ADS_3

Ting...


Sebuah pesan singkat yang masuk ke ponselnya membuat Viona sedikit terkejut. Wanita itu bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang mengiriminya pesan. Pupil matanya membulat sempurna, berkali-kali Viona mencoba memastikan jika tidak ada yang salah pada matanya.


"Hari ini aku pulang, maaf sudah membuatmu cemas selama satu Minggu ini." kurang lebih itulah isi pesan singkat tersebut. Kevin akhirnya memberinya kabar.


Dengan tangan gemetar, Viona mengetik pesan balasan untuk Kevin. "Berani sekali kau menghubungiku setelah menghilang dan membuatku hampir gila!!" dengan kesal Viona menelan tombol send. Air mata tiba-tiba memenuhi pelupuknya yang kemudian tumpah membasahi wajah cantiknya.


Kecemasan, kekhawatiran, kegundahan dan kegelisahan yang selalu menghimpit hatinya belakangan ini hilang sudah. Sekarang Viona bisa bernafas lega setelah mengetahui Kevin baik-baik saja. Dengan kasar Viona menyikapi air matanya yang terus bercucuran dari pelupuknya.


"Kau boleh menghukum ku, memakiku, menghajar ku setelah kita bertemu nanti. Kau boleh melampiaskan semua kekesalan dan kemarahan mu padaku. Dandan lah secantik mungkin , sebentar lagi ada supir yang menjemputmu. Aku ingin mengajakmu Dinner,"


Viona tersenyum di tengah tangisnya saat membaca pesan balasan dari Kevin. Pria gila itu, apa dia sedang membujuknya supaya dirinya tidak marah dan kesal lagi padanya?! Viona meletakkan ponselnya. Dia harus segera bersiap-siap sebelum sopir itu datang. Sekarang dia akan menahan kekesalan dan emosinya. Viona akan menyimpan tenaganya untuk menghajar Kevin setelah mereka bertemu nanti.


.


.


"Vio, kau mau pergi ke mana dengan gaun secantik itu?" Tuan Lu menghentikan langkah Viona ketika melihat kedatangannya. Wanita itu tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan gaun panjang yang super cantik dan elegan.


Hanya dengan melihat sekilas, siapa pun pasti tahu jika Viona hendak pergi Dinner. Tapi yang menjadi pertanyaannya, dengan siapa dia akan pergi. Sedangkan Kevin belum diketahui keberadaannya sampai sekarang, apa mungkin dia berselingkuh dengan laki-laki lain karena kesal dan marah padanya? Tuan Lu membulatkan matanya.


"Omo!! Viona, jangan bilang jika kau~"


"... Aku apa, Kakek? Jangan berpikir yang tidak-tidak apalagi mengira jika aku berbuat macam-macam. Ya, sudah. Aku pergi dulu, jemputan ku sudah datang," ucap Viona dan pergi begitu saja.

__ADS_1


Tuan Lu yang merasa curiga memutuskan untuk mengikuti Viona. Dia penasaran ke mana wanita itu akan pergi, dan dengan siapa. Dia hanya ingin memastikan jika Viona tidak berbuat macam-macam apalagi sampai mengkhianati Kevin.


"Tuan Besar, sebenarnya untuk apa kita mengikuti, Nona Viona?" tanya sopir yang mengantar Tuan Lu.


"Aku cuma ingin tahu kemana dia pergi dan dengan siapa bertemu , sampai-sampai dia harus berdandan secantik itu." Jawab Tuan Lu.


Sopir itu mengangguk paham. Dia memperlambat laju mobilnya supaya tidak ketahuan oleh Viona. Karena bisa bahaya jika Viona sampai mengetahui jika dia sedang diikuti. bisa-bisa Tuan Lu sendiri yang mendapatkan masalah darinya, mengingat jika kesabaran Viona sama seperti Kevin, hanya setebal tisu.


"Tuan Besar, untuk apa mobil yang menjemput Nona Viona berhenti di sebuah hotel. Jangan-jangan dia~"


"Jangan ngaco!!" Tuan Lu menyela cepat. "Tidak mungkin Viona berbuat seperti itu, mungkin saja dia ingin makan malam di sana dengan temannya. Tapi tidak tahu juga, aku akan memastikannya."


Semoga saja prasangka buruk Tuan Lu akan Viona tidak benar. Dia hanya berharap Viona tidak macam-macam apalagi mengkhianati Kevin. Dan sebagai seorang Kakek, tentu saja Tuan Lu tidak rela jika cucunya sampai di khianati pasangannya. Karena dia tidak ingin Kevin sampai merana, kecewa dan sengsara hanya karena cinta.


xxx


Seorang pelayan hotel menyambut kedatangannya, dan Viona diantarkan menuju sebuah ruangan yang berada di lantai dua.


"Silahkan, Nyonya. Tuan Zhao, sudah menunggu Anda di dalam." Ucap pelayan itu yang hanya di balas anggukan tipis oleh Viona.


Viona mengambil napas panjang dan menghelanya. Saat pintu di buka, terlihat sosok pria dalam balutan jas hitam sedang berdiri memunggunginya. Pria itu berdiri menghadap dinding kaca. Hanya dengan melihatnya saja, tentu Viona sudah tahu jika yang berdiri itu adalah prianya. Kedua mata Viona tampak berkaca-kaca. Dia menghampiri Kevin dan langsung memeluknya dari belakang.


"Ge," seru Viona sambil menutup rapat-rapat kedua matanya..


"Kau sudah datang," Kevin melepaskan pelukan Viona lalu berbalik badan. Tanpa mengatakan apapun , Kevin menarik Viona ke dalam pelukannya."Aku merindukanmu, Mao." Gumam Kevin berbisik.

__ADS_1


Tangis Viona pecah seketika. Dengan brutal dia memukul punggung Kevin untuk meluapkan semua yang dia rasakan satu Minggu terakhir ini. Dan Kevin hanya bisa diam meskipun punggungnya sedikit sakit akibat pukulan itu. Dia menutup rapat-rapat kedua matanya untuk menahan rasa sakitnya.


"Pergi ke mana saja kau selama beberapa hari ini? Kenapa kau menghilang tanpa kabar dan tidak mengatakan apapun padaku. Apa kau tahu aku hampir gila karena mencemaskan mu. Ge, aku merindukanmu." ujar Viona sambil mengeratkan pelukan.


Kevin melonggarkan pelukannya dan menatap Viona sambil tersenyum tipis. Pupil mata Viona membulat melihat mata kiri Kevin. "Ge, matamu?" ucap Viona, dia benar-benar terkejut dengan apa yang sedang ia lihat.


"Aku pergi untuk ini. Sekarang aku bisa melihatmu dengan kedua mataku, dan ini kejutan yang ingin aku berikan padamu." Ucap Kevin dengan senyum yang sama.


Dengan tangan gemetar, Viona mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan pada wajah Kevin. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, antara terharu dan tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh matamu.


"Ge, apa ini sungguhan?" tanya Fiona memastikan. Kevin mengangguk. "Aku tidak sedang bermimpi, kan?"sekali lagi dia memastikan. Kevin menggelengkan kepala untuk kedua kalinya, meyakinkan kepada Viona jika yang ia lihat bukanlah mimpi, tapi memang nyata.


"Tentu saja bukan, karena kau tidak sedang bermimpi. Ini nyata, Viona. Sekarang mataku benar-benar sudah sembuh," jawabnya.


Viona menyeka air matanya dan kembali menghambur ke dalam pelukan Kevin. "Syukurlah, Ge. Aku benar-benar lega mendengarnya," ucap Viona sambil mengeratkan pelukannya.


Kevin tersenyum. Dia mengangkat tangannya dan menghapus air mata Viona. "Ini bukan saatnya untuk bersedih, apalagi menangis. Karena aku memintamu datang kemari bukan untuk melihatmu bersedih, tapi kita di sini untuk Dinner."


Semua kata-kata yang telah ia rancang sepanjang jalan buyar begitu saja, bahkan dia tidak mengingat satu pun. Padahal Viona tadi ingin memarahi Kevin habis-habisan. Tapi sekarang dia malah melupakan semua kalimat yang telah dia susun dan dia rancang.


Sementara itu. Tuan Lu yang ingin tahu siapa orang yang di temui oleh Viona. memutuskan untuk menunggu di luar hotel. Karena masuk pun percuma saja, dia tidak mungkin menemukan mereka karena sopirnya melihat Viona diantar menuju ruang VIP yang berada di lantai dua. Bukan untuk menegurnya, tetapi hanya untuk mengetahuinya saja. Ya, dia benar-benar ingin tahu siapa yang di temui oleh Cucu menantunya.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2