
Gyuttt...
Etic mengepalkan tangannya setelah melihat siapa pelaku dibalik penusukan Luna. Dengan langkah cepat Eric menghampiri orang itu dan tanpa berkata-kata, dia melayangkan kepalan tangannya hingga membuat orang itu terjengkang kebelakang, sudut bibirnya terkelupas dan berdarah
"Breng*sek, jadi kau orangnya. Kau yang sudah membuat adikku terluka," teriak Eric dengan emosi. Dia menarik pakaian yang laki-laki itu kenakan seraya melayangkan satu pukulan lagi pada wajahnya, tapi segera dihentikan oleh Henry.
"Eric, kendalikan dirimu. Ini kantor polisi," kata Henry mengingatkan.
Polisi memberikan keterangan dan bukti-bukti jika memang Ramon lah pelaku penusukan itu. Aiden mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya berubah-ubah setiap mendengar penjelasan polisi yang duduk didepannya.
Sejauh ini Aiden masih bisa menahan dirinya untuk tidak menghajar pria itu hingga sekarat, otaknya berpikir dan menyusun sebuah rencana. "Kami akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan," kata Aiden seraya bangkit dari duduknya, membuat semua mata kini tertuju padanya.
"Kau gila, Aiden apa dirimu benar-benar sudah tidak waras? Bagaimana bisa kau ingin menyelesaikannya secara kekeluargaan?!" bentak Eric dengan emosi.
Namun Aiden tidak memberikan respon apapun. Pria itu menarik Ramon dan membawanya meninggalkan kantor polisi, dengan kasar Aiden mendorong tubuh laki-laki itu untuk masuk ke dalam jok belakang mobilnya.
Aiden melempar kunci mobilnya pada Kai, karena ia akan duduk dibelakang bersama Ramon dan Eric sementara di depan sudah pasti Henry dan Kai.
"Ai, apa kau serius ingin menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan? Apa kau sungguh....?"
"Aku tidak bodoh, aku sudah memiliki rencana untuk bajingan ini," ujar Aiden menyela kalimat Eric.
Membuat Henry dan Kai terus bertanya-tanya mengenai rencana Aiden untuk Ramon. Entah kenapa Henry memiliki firasat buruk dengan sesuatu yang direncanakan oleh adiknya itu. Henry rasa keputusan Aiden untuk menyelesaikan masalah itu secara kekeluargaan hanya alasan saja, dan dia berharap agar Aiden tidak melakukan tindakan yang aneh-aneh. Dia mengenal Aiden dengan sangat baik.
"Tunggu, Aiden sebenarnya rencana apa yang kau miliki?" tanya Henry penasaran. Aiden mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu datar. "Apa kau berniat untuk....."
"Ya, aku akan memberikan pelajaran pada bajiingan ini. Karena di kantor polisi aku tidak mungkin bisa bertindak dengan bebas dan memberikan pembalasan yang setimpal padanya," ujar Aiden dengan tatapan penuh intimidasi.
__ADS_1
Sementara itu, Ramon yang sedari tadi duduk disamping Aiden tidak bisa berkutik sama sekali. Kedua tangannya terikat kuat dan mulutnya tersumpal kaos kaki milik Eric. Eric tidak tahan mendengar pria itu yang terus berteriak hingga membuat telinganya menjadi sakit.
Mobil yang Kai kendarai mulai memasuki kawasan sepi. Tidak ada bangunan yang berdiri di sepanjang jalan yang mereka lewati selain pohon- pohon dan hamparan padang ilalang
"Kai, hentikan mobilnya!" pinta Aiden dengan suara datarnya.
Kai mengangguk dan menepikan mobilnya sesuai permintaan Aiden. Tanpa basa-basi, Aiden menarik pria itu keluar dari mobilnya kemudian
melempar tubuh pria itu pada rerumputan.
"Kali ini aku tidak akan melepaskan mu lagi bajiingan, karena dirimu kini adikku dalam keadaan kritis," ujar Aiden emosi.
Aiden melayangkan tinjunya pada wajah Ramon hingga babak belur. Aiden menghajar laki-laki itu dengan brutal dan tidak mengenal kata ampun. Tidak hanya sekali saja, Aiden melakukannya berkali-kali. Hidung dan rahang Ramon sampai patah setelah pukulan berulang-ulang melayang diwajahnya, kedua matanya membiru dan mengalami pembengkakan.
Tidak hanya memukul saja, Aiden juga menendangg dan mengiinjak tubuh Ramon yang sudah tidak berdaya. Sekarang Ramon benar-benar sudah kehilangan taringnya. Aiden benar-benar kehilangan kendali, sosok Iblis dalam dirinya muncul dan mengambil alih kesadarannya.
Aiden menyentak kasar tangan Eric dan menatapnya tajam. "Aku tidak peduli, aku hanya ingin bajjingan ini mati. Dia yang sudah membuat Luna hampir saja kehilangan nyawanya dan aku tidak bisa membiarkannya tetap hidup," teriak Aiden tak kalah kencang dari Eric.
Aiden hendak menghampiri Ramon yang sudah terkapar tak berdaya, namun segera dihentikan oleh Eric dan Henry. Jika tidak dihentikan, Ramon bisa mati.
"Kendalikan dirimu, Ai. Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah," bentak Henry mengingatkan.
"Lepaskan aku Ge, lepaskan!" bentak Aiden. Dia terus meronta namun Eric dan Henry tetap tidak mau melepaskannya. Mereka tidak ingin jika Aiden sampai berbuat yang lebih nekat dari yang ia lakukan saat ini.
"AAARRRKKKHHHH.... PERIH,"
Semua mata kini tertuju pada Ramon setelah mendengar teriakan laki-laki itu. Sekujur tubuh Ramon basah kuyup setelah disiram air jeruk nipis bercampur garam dan cairan alkohol serta pecahan es batu oleh Kai.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Kai menghilang, dan entah dari mana datangnya tiba-tiba ia kembali sambil membawa seember air yang entah dia dapatkan dari mana. Kai tertawa puas melihat Ramon yang terus menggeram kesakitan karena ulahnya, luka-luka di sekujur tubuhnya semakin perih setelah disiram air campuran jeruk nipis, garam, alkohol dan pecahan es batu olehnya.
"Aaarrkkkhhh,,.... bo..cah, a..pa yang kau lakukan eo?" teriak Ramon dengan suara terbata-bata.
"Hahaha... rasakan, itulah balasan karna kau sudah berani menyakiti Luna Nunna. Dulu Aiden Gege yang kalian hajar sampai babak belur, dan sekarang Luna Nunna yang kau buat sekarat, sebenarnya masalah apa yang kau miliki dengan mereka?" tanya Kai dengan emosi.
Mata Ramon menatap Kami dengan tajam, nafas-nya tersengal tak beraturan. Nyaris saja Ramon kehilangan kesadarannya namun Kai datang membuat kesadarannya kembali.
Apa yang Kai lakukan bukannya membantu meredakan sakit pada luka-luka sekujur tubuhnya, tapi air itu justru membuat Ramon semakin tersiksa.
"Kau tanya apa masalahku dengannya? Tidak ada, aku hanya ingin memberikan keadilan bagi adikku, jika bukan karena bajjingan itu adikku tidak akan lumpuh. Jadi apa salahku jika membalaskan dendam adikku?" bentak Ramon emosi.
Aiden menghampirinya setelah mendengar apa yang Ramon katakan. "Jadi kau melakukan kebodohan karena dia...." tanya Aiden sambil menarik pakaian yang Ramon kenakan.
Aiden mengepalkan tangannya, sedikitnya 5 tinju kembali melayang di wajah dan perut pria itu. Api kemarahan berkobar dimatanya yang dingin dan penuh intimidasi setelah ia mengetahui siapa dalang utamanya, dan kali ini Luhan tidak akan melepaskan orang itu.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?!" tanya Ramon melihat langkah Aiden yang semakin menjauh.
Kemudian Aiden menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang dan melirik Ramon dari ekor matanya yang tajam.
"Kau bisa melukai adikku, lalu kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama pada adikmu? Bukankah sekarang dia sudah menjadi orang yang tidak berguna? Aku akan membuat hidupnya bagaikan di neraka!!" ujar Aiden lalu melanjutkan langkahnya. Dia akan membantai Andrew dan semua anak buahnya.
"KAU BENAR-BENAR BAJINGAN, IBLIS!! JANGAN MENYENTUHNYA, ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"
xxx
Bersambung
__ADS_1