
Hari demi Hari. Minggu demi Minggu. Bulan demi Bulan. Tahun demi Tahun. Sudah lama dia mencari keberadaan kedua cucunya, namun belum juga ada titik terang hingga detik ini. Hingga pria akhir enam puluh tahunan itu merasa frustasi. Dia tidak tahu lagi kemana harus mencari kedua cucunya tersebut.
Ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Pria tua itu menoleh saat terdengar suara decitan pintu di buka. Seorang laki-laki memasuki ruangan di mana dirinya berada.
"Paman, Anda memanggil saya?" tanya laki-laki itu setibanya dia di depan pria tua yang di panggilannya Paman.
"Bagaimana perkembangan perusahaan akhir-akhir ini? Apakah baik-baik saja?" tanya pria itu memastikan.
Laki-laki itu mengangguk. "Tidak ada yang perlu Paman khawatirkan. Perusahaan semakin maju dan kita juga berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan Zhang Empire," jawab laki-laki itu.
Pria tua itu tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Kerja bagus, Hwan. Tidak salah Paman menunjuk dirimu sebagai pemimpin sementara, dan kau jauh lebih berpotensi dibandingkan ayahmu. Rencananya Paman akan pergi ke luar negeri selama beberapa Minggu, dan Paman akan menyerahkan perusahaan sepenuhnya padamu. Selamat Paman tidak ada, kau yang bertanggung jawab penuh atas perusahaan. Jadi jangan mengecewakan Paman,"
Hwan menatap sang Paman dengan penasaran."Memangnya Paman akan pergi ke mana? Kenapa mendadak?" tanya Hwan.
"Berlibur. Sudah lama sekali Paman ingin pergi berlibur ke Korea Selatan , tetapi sayangnya Paman tidak pernah memiliki waktu luang untuk melakukannya. Dan pementasan saatnya untuk mengistirahatkan badan dan pikiran. Paman, sudah semakin tua. Jadi ingin menikmati masa tua ini dengan bebas, untuk itu Paman akan menyerahkan tanggung jawab perusahaan kepadamu." Tutur pria itu.
"Tapi Paman Lu,"
Pria bermarga Lu itu menepuk bahu Hwan sambil tersenyum tipis. "Paman , mempercayaimu. Kau pasti bisa menjalankan ke perusahaan dengan baik selama Paman tidak ada. Seperti yang Paman katakan, kau sangat berpotensi." Tutur Tuan Lu.
"Terimakasih telah mempercayaiku, Paman. Aku janji tidak akan mengecewakanmu." Ucap Hwan dengan perasaan penuh haru. Bahkan keluarganya tidak bisa mempercayai, tetapi Joseph Lu begitu mempercayainya. Di keluarganya dia dianggap sampah yang tidak berguna, namun Joseph menganggapnya sebagai orang yang hebat. Itulah kenapa Hwan sangat menghormati Joseph Lu.
"Tidak perlu sungkan, Hwan. Kita adalah keluarga. Sebaiknya sekarang kau pergi istirahat, kau pasti lelah setelah bekerja seharian. Paman, juga mau istirahat." Ucap Tuan Lu.
Hwan membungkuk sebelum beranjak dari hadapan Joseph Lu dan meninggalkan kamarnya. Sejak dia tidak diinginkan oleh keluarganya dan diusir dari rumahnya, Hwan tinggal bersama Tuan Lu dan diberi posisi tinggi di perusahaannya.
xxx
Setelah dirawat selama hampir satu Minggu di rumah sakit. Kondisi Viona berangsur membaik, dia sudah mulai menerima musibah yang menimpa dirinya dan juga Kevin. Viona juga tidak banyak melamun dan tiba-tiba menangis seperti hari-hari sebelumnya. Sekarang dia jauh lebih tenang.
__ADS_1
"Paman, kapan kita bisa pulang? Aku sangat bosan di sini, bisakah kita pulang secepatnya?" tanya Viona dan menatap Kevin dengan tatapan memohon.
Kevin mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Paman sudah bicara dengan dokter, dan kau bisa pulang hari ini."
"Sungguh?" tanya Viona memastikan.
Kevin mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
"Akhirnya. Aku sudah sangat tersiksa terlalu lama di sini dan akhirnya bisa pulang. Aku lega rasanya." Ujar Viona tersenyum.
Dokter menyarankan pada Kevin supaya membawa Viona pulang lebih awal. Karena hal itu pasti bisa membuatnya melupakan kesedihannya. Di rumah dia bisa melakukan banyak hal yang membuat perhatiannya teralihkan, dengan begitu dia tidak akan mengingat-ingat lagi tentang musibah yang menimpanya.
"Kalau begitu aku akan siap-siap sekarang." Ucap Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin.
Wanita itu menerima pakaian yang Kevin berikan padanya lalu melesat pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian rumah sakit dengan pakaian miliknya sendiri. Lega rasanya perasaan Kevin melihat Viona yang sudah mulai kembali seperti sedia kala.
.
.
Kevin mengangguk. "Ini juga saran dari dokter. Dokter bilang, lebih baik jika Viona di bawa pulang saja. Dengan begitu dia memiliki banyak waktu untuk melakukan kesibukan yang bisa membuat dia melupakan tentang kesedihan dan kehilangan." Tutur Kevin
"Ya, aku setuju dengan saran dari dokter. Memang lebih baik pulang saja, sepertinya Viona Nunna juga sudah bosan di rumah sakit terlalu lama." Ujarnya.
"Ya," Kevin menjawab singkat.
Obrolan mereka berdua diinterupsi oleh kedatangan Viona yang baru kembali dari kamar mandi. Wanita itu memakai pakaian berbeda dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia memakai piyama rumah sakit, maka sekarang Viona tampak cantik dalam balutan dress merah berbahan brokat.
Senyum dibibir Kevin tersungging. Dia meninggalkan Frans kemudian menghampiri Viona. "Kau sangat cantik dalam balutan dress ini , ternyata pilihanku tidak buruk juga." Ucap Kevin memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya, tapi sangat ngepas di badanku. Harusnya Paman mengambil ukuran satu nomor lagi, tapi tidak masalah toh masih muat juga." Tukas Viona sambil tersenyum lebar. "Ngomong-ngomong terimakasih untuk dress-nya, aku sangat menyukainya."
Kevin mengusap lembut kepala berhelaian coklat milik Viona. "Baguslah jika kau menyukainya. Nanti kita beli lagi yang lebih bagus dari ini, kau bisa memilihnya sendiri." Ucap Kevin dan dibalas anggukan semangat oleh Viona. "Ya, sudah ayo pulang sekarang. Kau pasti sudah sangat merindukan kamarmu." Kevin merangkul punggung Viona dan membawanya meninggalkan kamar inapnya.
Viona lega sekali. Akhirnya setelah terkurung berhari-hari di rumah sakit, hari ini bisa pulang juga. Dia tidak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini, intinya Viona sangat bahagia.
.
.
Empat puluh lima menit berkendara. Akhirnya mereka tiba di kediaman Zhang. Kevin turun lebih dulu lalu diikuti Viona yang keluar dari pintu sebelah kiri. Kevin menghampiri Viona lalu mengangkatnya bridal style dan membawanya masuk ke dalam. Viona masih agak sedikit lemah itulah kenapa Kevin memutuskan untuk menggendongnya.
Beberapa pelayan membungkuk melihat kedatangan mereka berdua. Bahkan ada penyambutan untuk menyambut kepulangan Viona. Bukan Kevin yang menyiapkannya, tetapi Frans dan Riko yang mempersiapkannya. Mereka berdua ingin melihat senyum Viona ketika tiba di rumah.
"Selamat datang kembali di rumah, Nona." ucap para pelayan dengan kompak.
Viona pun terharu. Dia benar-benar terharu sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka memberikan kejutan yang sangat manis padanya. Lalu pandangan Viona bergulir pada Kevin. "Apa Paman yang menyiapkan semua ini?" tanya Viona memastikan.
Kevin menggeleng. "Bukan aku, tetapi Frans dan Rico. mereka yang mempersiapkan semua ini untuk menyambut kepulanganmu." Jawab Kevin.
Fiona sampai berlinangan air mata sangking terharunya. Tidak terpikirkan oleh Viona jika mereka berdua akan menyiapkan sebuah kejutan yang sangat manis untuknya. Viona sangat-sangat harus dibuatnya.
"Terimakasih untuk kejutannya. Kalian membuatku terharu." Ucap Viona sambil menyusut air matanya.
"Sama-sama, Nona." kedua laki-laki itu menjawab dengan kompak.
Kevin kembali merangkul bahu Viona dan menatapnya dengan lembut. "Kita pergi ke kamar. Kau harus istirahat." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Tubuh Viona masih agak lemah meskipun dia sudah terlihat baik-baik saja. Itulah kenapa Kevin harus ekstra dalam menjaganya.
xxx
__ADS_1
Bersambung.