
Sepasang suami-istri terlihat menyusuri jalanan sambil bergandengan tangan. Membuat iri pasangan lain saat melihat kemesraan mereka berdua. Mereka berdua adalah Viona dan Kevin. Setelah makan malam, merengek ingin jalan-jalan dan Kevin mengabulkannya.
Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di Nami Island. Rencananya besok mereka sudah harus kembali ke Seoul, sudah terlalu lama Kevin meninggalkan pekerjaannya.Dan sudah waktunya dia menemui pria bermarga Shin tersebut.
"Ge, ayo kita ke sana," Viona menarik Kevin menuju kedai aksesoris yang berada di seberang jalan.
Dia berencana untuk membeli jepit rambut baru, karena jepit rambut lamanya sudah rusak dan tidak bisa di pakai lagi. Kedai aksesoris adalah salah satu tempat yang sering membuat Viona gelap mata. Dia bisa menghabiskan uang hingga ratusan won hanya untuk memborong barang-barang cantik namun dengan harga bersahabat.
"Ge, menurutmu lebih bagus yang mana? Merah atau hitam?" Viona menunjukkan dua barang pada Kevin dan meminta bantuan pada laki-laki itu untuk memilihkan untuknya.
Kevin menggelengkan kepala. Dua pilihan yang diberikan oleh Viona sama-sama tidak ada yang cocok menurutnya. "Bukan keduanya," ucap Kevin lalu mengambil sebuah jepitan lain dan memberikannya pada Viona. "Lebih bagus yang ini."
Viona menatap jepit rambut tersebut lalu tersenyum lebar. Ternyata pilihan Kevin tidak buruk sama sekali. Bahkan lebih bagus dari pilihannya. "Baiklah aku akan mengambil yang ini saja," ucap Viona dengan senyum yang sama.
"Jika kau menyukai yang tadi. Kenapa tidak diambil sekalian?" tanya Kevin.
Viona menggeleng. "Satu saja cukup. Nanti lagi saja jika yang ini sudah rusak."
Kevin menghela napas. Dia mengambil dua jepit rambut yang sebelumnya di pilih oleh Viona lalu menyerahkannya pada bibi penjual untuk di bayar sekalian. "Sekalian yang ini." Ucap Kevin dengan nada bicara sedikit datar.
Wanita itu mengangguk. "Baik, Tuan."
Diam-diam Viona menarik sudut bibirnya dan tersenyum lebar. Bagaimana mungkin dia bisa menolaknya jika Kevin sudah membayarnya? Bukankah seorang wanita juga membutuhkan sedikit trik untuk mendapatkan yang dia inginkan. Namun tidak semua bisa seberuntung Viona.
"Ini,"
Viona tersenyum lebar. "Terima kasih, Ge. Kau memang yang terbaik."
"Jangan banyak mengatakan omong kosong lagi. Setelah ini kau mau kemana lagi?" tanya Kevin. Dia sangat yakin jika Viona masih belum mau pulang, apalagi ini adalah malam terakhir mereka di Nami Island.
Wanita itu tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kevin. "Kemana, ya? Aku sendiri tidak tahu." Jawab Viona sambil menggelengkan kepala. Dia sudah tidak memiliki tujuan lagi untuk kemana selanjutnya. Karena semua tempat di Nami Island sudah mereka kunjungi.
Semakin malam, suhu udara semakin menurun. Tubuh Viona sedikit menggigil karena hawa dingin yang semakin menusuk.
Melihat wanitanya kedinginan, tak lantas membuat Kevin diam dan abai. Pria itu melepas mantel hitamnya dan menyampaikan pada bahu Viona, menyisakan kemeja hitam lengan terbuka.
Viona tersenyum lebar. "Terimakasih, Ge."
Mereka kembali menyusuri jalanan yang di penuhi dengan daun-daun maple yang terus berguguran. Membuat tanah kecoklatan seketika menjadi lautan merah dan kuning yang dihasilkan oleh daun Maple.
Sepanjang jalan. Mereka banyak bertemu dengan para muda-mudi yang sedang menikmati akhir pekan. Mereka terlihat sangat happy dan bahagia. Kevin dan Viona saling bertukar pandang, senyum Terukir di bibir masing-masing.
Kevin semakin mengeratkan genggamannya pada jari-jari Viona dan meremasnya dengan lembut. Memberikan rasa aman pada wanitanya. Seperti pasangan lainnya, mereka berdua juga terlihat sangat bahagia.
"Ge, Aku ingin menua bersamamu. Saat kita sudah tua nanti, aku ingin tinggal di sebuah gubuk sederhana yang di kelilingi pegunungan. Suasana yang asri, ada air terjunnya dan banyak bunga-bunga cantik yang tumbuh di halaman depan dan belakang rumah kita." Viona mengangkat kepalanya dan menatap Kevin yang juga menatap padanya.
"Dan aku akan mengabulkannya." Jawab Kevin menimpali.
Viona tersenyum lebar. Dia tidak ingin saat-saat indah dan romantis mereka ini cepat berakhir. Viona ingin kebersamaan mereka berlangsung selamanya, sampai mereka menua dan mati bersama. Membayangkannya saja sudah membuat Viona sangat bahagia.
__ADS_1
"Ini sudah larut malam, ayo pulang." Ajak Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.
Udara semakin dingin dan malam semakin larut. Memang seharusnya mereka berdua pulang sekarang. Selain itu Viona juga ingin cepat-cepat tidur supaya besok pagi dia tidak bangun kesiangan.
Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya dan membuat Viona ikut berhenti juga. "Ada apa, Ge?' Viona menatap Kevin dengan bingung. Namun tidak ada jawaban darinya. Kemudian Wanita itu mengikuti arah pandang Kevin dan dia melihat ada segerombolan pria sedang mengacau di sebuah kedai makanan.
"Kau tunggu di sini dan aku akan segera kembali." Ucap Kevin sambil melepaskan pelukan Viona pada lengannya.
Sambil mengepalkan tangannya. Kevin menghampiri orang-orang itu. Dia memang seorang bajingan, penjahat besar. Tetapi Kevin paling tidak bisa melihat orang yang lebih lemah tertindas apalagi mereka yang telah berumur. Dan Kevin akan menghentikan mereka.
Tanpa berkata-kata. Kevin menarik pakaian salah satu dari kelima pria itu lalu melemparkannya hingga dia tersungkur ke tanah. Dan apa yang Kevin lakukan tentu saja membuat marah teman-temannya. Mereka menghampiri Kevin dengan tatapan lapar seolah-olah ingin menerkam.
"Brengsekk!! Siapa kau? Berani-beraninya ikut campur!!" bentak ketua dari gangster tersebut.
"Hanya bancii yang berani menindas orang tua dan lembah. Jika merasa diri kalian hebat, maju dan hadapi aku!!" tantang Kevin.
"Sombong!! Benar-benar cari mati kau rupanya. Cepat habisi si sombong ini!!" perintah bos gangster tersebut pada anak buahnya.
Perkelahian pun tak bisa terhindarkan lagi. Kevin yang hanya sendirian dikeroyok sedikitnya 5 orang. Namun dia tidak terlihat gentar sedikit pun, Kevin menghadapi mereka dengan tenang. Mereka hanyalah ampas di tangan Kevin, dan dia bukan tandingan mereka.
Satu persatu berhasil Kevin jatuhkan. Menyisakan dua orang saja. Dan keduanya ragu untuk menyerang Kevin. Mereka tidak ingin babak belur seperti ketiga temannya. "Apa yang kalian lakukan? Kenapa diam saja? Cepat maju dan habisi dia!!" teriak satu-satunya orang yang tidak melibatkan diri dalam perkelahian.
Keduanya menoleh dengan kompak. "Bos, kau saja yang menghadapinya. Kami tidak berani, kami tidak ingin babak belur di tangannya seperti yang lain." Jawab mereka serempak.
"Dasar pengecut!!" teriak pria itu dengan emosi. Dia maju sendiri menghadapi Kevin. "Kalau begitu biar aku sendiri yang menghabisinya!!"
Namun satu pukulan dari Kevin langsung merobohkannya. Tidak ingin mati konyol di tangan pria itu, dia pun memutuskan untuk melarikan diri dan meninggalkan anak buahnya.
Kevin menghela napas. Kemudian dia berbalik badan dan menghampiri Kakek pemilik kedai yang di ganggu oleh para gangster tersebut. Barang-barangnya hancur dan tidak bisa di pakai lagi, termasuk dagangannya.
Kakek itu memunguti barang-barangnya sambil menangis. Dia sedih karena mulai besok tidak bisa berjualan lagi, sementara dari jualan dia bisa menyambung hidupnya.
"Tidak perlu diambil lagi. Barang-barang ini sudah hancur dan tidak bisa terpakai lagi," ucap Kevin menahan si kakek untuk memunguti barang-barangnya tersebut.
"Ini adalah mata pencaharian Kakek satu-satunya. Dan sekarang Kakek sudah tidak memiliki apa-apa, semua sudah hancur dan tidak tahu bagaimana besok bisa makan." Ujar Kakek Itu sambil menyeka air matanya berkali-kali.
Viona menghampiri si kakek lalu membantunya untuk berdiri. "Kakek tidak perlu cemas dan khawatir. Kami berdua akan membantu Kakek, supaya Kakek tak perlu bekerja seperti ini lagi,"
"Memangnya di mana Kakek tinggal?" tanya Kevin datar.
"Di kedai ini. Kakek hanya sebatang kara dan tidak memiliki siapa-siapa lagi. Nenek sudah meninggal tahun lalu dan anak Kakek entah di mana sekarang. Setelah sukses dan menikah dengan pria kaya,dia tidak mau mengakui aku lagi sebagai ayahnya. Dan jika tidak bisa membayar uang sewa, Kakek akan di usir dari sini." Ujar kakek itu menceritakan kisah hidupnya.
Istrinya telah meninggal tahun lalu, sementara anaknya tidak pernah mengunjunginya lagi setelah menikahi pria kaya. Kevin dan Viona saling bertukar pandang. Mendengar cerita Kakek itu membuat mereka terenyuh. Muncul keinginan di hati Kevin untuk menolong dan membantunya.
"Aku memiliki Villa yang tidak terlalu jauh dari sini. Jika Kakek bersedia, Kakek bisa tinggal di sana dan merawat Villa itu. Setiap bulan aku akan memberikan gaji yang lumayan untukmu. Makan dan semua keperluan mu aku yang akan menanggungnya. Apa kau bersedia?"
Kevin menawarkan pekerjaan dan tempat tinggal pada kakek itu. Pekerjaan yang Kevin berikan pun tidak berat, dia hanya ingin si kakek merawat Villa miliknya.
"Apa tidak terlalu merepotkan?" tanya si kakek pada Kevin.
__ADS_1
Kevin menggeleng. "Sama sekali tidak. Justru aku akan sangat berterimakasih karena ada orang yang menjaga dan merawat Villa milikku." Jawabnya.
"Kalau begitu saya bersedia." Jawab Kakek itu pada akhirnya.
Kevin tersenyum tipis. Memang itu jawaban yang dia inginkan. Mereka akan sama-sama untung. Kevin ada yang merawat Villa-nya, dan kakek itu memiliki tempat tinggal yang lebih dari layak dari tempat tinggal yang dia miliki saat ini.
.
.
Tiga puluh berkendara, mereka tiba di Villa. Kakek itu terperangah melihat bagaimana besar dan meganya Villa milik Kevin. Rasanya seperti mimpi karena bisa tinggal di tempat sebesar dan semegah itu. Jangankan bermimpi, membayangkan pun dia tidak pernah.
"Kakek, kenapa diam saja di sini? Ayo masuk," tepukan pada bahunya segera menyadarkan Kakek itu. Dia menoleh dan mendapati Viona yang sedang tersenyum manis padanya. Kakek itu mengangguk.
Setelah menunjukkan kamar untuk si kakek. Viona menyusul Kevin yang sudah lebih dulu pergi ke kamar. Kevin sedang berkemas karena besok harus kembali ke Seoul setelah fajar naik.
"Ge, ada yang bisa aku bantu?" tanya Viona sambil berjalan menghampiri Kevin.
Kevin menggeleng. "Ini sudah hampir selesai. Sebaiknya kau segera tidur." Kevin meminta Viona untuk tidur lebih dulu dan melarang dia untuk ikut membantunya berkemas. Viona mengangguk, sebenarnya dari tadi kedua matanya sangat sulit untuk diajak kompromi. Dan akhirnya dia bisa bertemu dengan tempat tidur.
xxx
Baru beberapa jam bertemu. Namun Frans dan Hwan langsung akrab. Mereka berdua sangat dekat dan tidak ada jarak, Frans tidak ragu untuk berbagi cerita dengan Hwan dan begitupun sebaliknya. Hwan juga menceritakan kisah hidupnya yang memilukan pada Frans.
"Itulah kenapa aku sangat takut Kakek akan membuang ku setelah menemukan kalian berdua. Sejak kecil aku tidak pernah mendapatkan kasih sayang. Keluargaku sangat membenciku dan selalu menganggap ku sebagai pembawa sial."
"Ibuku meninggal saat melahirkanku, itulah kenapa Papa dan kakakku sangat membenciku. Aku selalu dianggap sebagai pembawa sial, aku di kucilkan salam keluargaku sendiri. Untung aku bertemu dengan orang sebaik Kakek, dan berkat dia akhirnya aku memiliki keluarga." Hwan berkaca-kaca menceritakan kisah hidupnya. Membuat Frans ikut menangis juga.
Kisah hidup Frans dan Hwan tidak jauh berbeda. Mereka sama-sama memiliki kisah hidup yang menyedihkan , beruntung akhirnya mereka bertemu dengan orang baik. Jadi Frans memahami betul apa yang dirasakan oleh Hwan.
"Ge, kau tidak perlu bersedih lagi. Ada aku , Kakek dan Kevin Gege. Mulai sekarang kita adalah keluarga, dan jika ada yang berani menindas mu. Kami akan menjadi garda terdepan untuk melindungi mu." Frans menggenggam tangan Hwan, dia bersumpah akan melindunginya.
Hwan tersenyum. Dia benar-benar terharu. "Terima kasih, Frans. Akhirnya aku memiliki saudara." Ucap Hwan dengan senyum yang sama.
"Tapi, Ge. Aku ingin memberitahumu satu hal sebelum bertemu dengan, Kevin Ge. Aku harap kau tidak terkejut saat bertemu dengannya karena dia mirip dengan kulkas sepuluh pintu. Dingin , angkuh dan irit bicara. Dan jangan coba-coba untuk menunggunya , karena kalau sudah marah dia akan sangat mengerikan." Frans memberitahu tentang Kevin pada Hwan.
Baru mendengar sedikit tentangnya saja sudah membuat Hwan merinding. Lalu bagaimana jika bertemu langsung dengannya? Hwan hanya bisa berdoa semoga Kevin bisa menerimanya dengan baik.
"Kenapa kau tegang sekali, Ge? Kau tenang saja, meskipun mengerikan tapi Kevin Ge sebenarnya sangat baik kok. Jadi kau tidak perlu cemas, dia tidak mungkin menelanmu hidup-hidup." Frans mencoba menenangkan Hwan dengan mengajaknya sedikit bercanda.
"Aku tidak tegang sama sekali , hanya sedikit cemas saja. Aku takut dia tidak bisa menerimaku karena diriku hanya orang luar," jawab Hwan.
Frans menggeleng. "Itu tidak mungkin, Ge. Sebaiknya buang jauh-jauh ketakutanmu itu, aku berani menjamin jika dia akan menyukaimu. Sudah larut malam, sebaiknya kita tidur sekarang. Aku sangat lelah dan mengantuk," ucap Frans sambil membaringkan tubuhnya di kasur empuk milik Hwan. Malam ini mereka akan berbagi kamar dan tempat tidur.
Bukan karena kediaman Lu kekurangan kamar. Tetapi frans memaksa untuk satu kamar dengan Hwan. Dan siapa yang bisa menolak ketika si bungsu mengambil keputusan, apalagi yang bungsu yang paling di sayang. Di samping itu, Hwan juga ingin dekat dengan Frans. Maka dari itu, dia mengijinkannya untuk satu kamar dengannya.
"Baiklah, selamat tidur." Ucap Hwan . Dia juga membaringkan tubuhnya, Hwan juga lelah dan ingin segara tidur. Apalagi besok pagi dia masih harus pergi ke kantor untuk bekerja.
.
__ADS_1
.
Bersambung