Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Jadilah Babbuku


__ADS_3

Cintia benar-benar membuat Rico dan Frans frustasi. Bagaimana tidak, segala macam cara telah mereka lakukan untuk mendepak Cintia keluar dari kediaman Zhang, namun semua usaha yang mereka lakukan tidak ada satu pun ada yang berhasil.


"Aku tidak akan pergi!!" ucap Cintia menegaskan.


"Kau ini sebenarnya mengerti bahasa manusia atau tidak sih?! Dibilangin berkali-kali tapi tidak ngerti-ngerti!!" geram Frans berujar.


"Sudahlah Frans, kalau dia tidak bisa disuruh pergi secara baik-baik sebaiknya gunakan cara lain saja." Ucap Rico dan dibalas anggukan oleh Frans.


Cintia mundur kebelakang. "Mau apa kalian?" dia menatap mereka berdua bergantian. Frans dan Rico terlihat begitu mencurigakan, Cintia takut mereka berdua berbuat sesuatu yang tidak-tidak padanya.


Frans dan Rico semakin mendekat, Cintia semakin mundur dan punggungnya berbenturan dengan tembok, dia tidak bisa lari kemana-mana lagi. Cintia benar-benar tidak tahu apa yang sedang mereka rencanakan dan juga apa yang akan dilakukan pada dirinya.


"Cukup kalian berdua!!" seru sebuah suara dari belakang. Sontak keduanya menoleh dan mendapati Viona yang sedang menuruni tangga sambil membawa satu setel baju maid di tangan kanannya. "Kalian tidak perlu mengusirnya lagi." Ucapnya menambahkan.


"Nunna, maksudmu apa? Kenapa kau malah menahannya di sini, dia ini benalu yang seharusnya disingkirkan!!" ucapkan menegaskan.


"Justru karena dia seorang benalu, makanya kita harus menahan dia tetap di sini!!" jawab Viona menimpali.


"Aku sama sekali tidak mengerti." Ucap Frans kebingungan.


"Kau memang tidak perlu mengerti. Cukup diam dan jangan lagi membuat keributan. Wanita ini biar aku saja yang mengurusnya." Ujar Viona membalas tatapan Frans. Lalu pandangannya bergulir pada Cintia. "Pakai ini maka aku akan membiarkanmu tetap di sini."


Cintia menerima pakaian tersebut dengan terkejut, lalu pandangannya bergulir pada Viona. "Apa-apaan ini? Apa kau ingin menghinaku dengan memberikan pakaian ini padaku?" Cintia menatap Viona dengan marah.


Viona menggeleng. "Tidak. Bukankah kau sangat tergila-gila pada Pamanku, dan aku memberimu satu kesempatan yang sangat bagus. Kau ingin tinggal disini dan menjadi nyonya bukan? Jika kau bis melewati ujian dariku, maka aku akan mempertimbangkannya untuk membiarkanmu kembali pada Paman," tutur Viona panjang lebar.


Sontak Cintia menoleh dan menatap Viona tak percaya. "Kau adalah keponakan, Kevin?" tanyanya memastikan.


"Ya," Viona menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Nunna," seru Frans. Viona mengangkat tangan kanannya dan memberi isyarat pada Frans supaya dia diam.


Baik Frans maupun Rico sama-sama tidak tahu apa yang sebenarnya sedang di rencanakan oleh Viona. Pertama, dia tidak membiarkan Cintia pergi. Kedua, tidak mengakui Kevin sebagai suaminya di depan wanita itu. Benar-benar sesuatu yang patut untuk dicurigai.


"Jika kau ingin tetap tinggal disini dan bertemu dengan Paman setiap hari. Maka kau harus menuruti semua perintahku, jika kau tidak setuju boleh angkat kakimu dari sini." Ujar Viona.


"Memangnya apa yang harus aku lakukan?" tanya Cintia meminta penjelasan.


"Tidak sulit. Layani aku, jadi babuku dan turuti semua perintahku, mudah kan?!" Ucap Viona.


"Kau gila?! Aku tidak sudi jika harus menjadi pelayanmu. Sejak kecil aku dibesarkan sebagai seorang Nona, dan sekarang kau malah memintaku menjadi pembantumu, aku tidak sudi!!" balas Cintia menimpali.


Viona mengangkat bahunya dengan acuh . "Tidak masalah, aku juga tidak akan memaksa. Kalau begitu Kau boleh pergi dan angkat kakimu dari rumah ini sekarang juga. Frans, Rico, seret wanita ini keluar dari rumah ini. Pastikan dia tidak datang lagi ke rumah ini, jika melihatnya kembali langsung usir saja!!" perintah Viona lalu beranjak pergi.


Cintia mengepalkan tangannya. "Tunggu!!" dia Berseru dan menghentikan langkah Viona. "Baiklah, aku akan menuruti semua perintahmu!!"


Viona tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar keputusan Cintia. Sudah Viona duga, mana mungkin dia melewatkan kesempatan sebagus itu. Apalagi ini adalah kesempatan Cintia untuk bersama dengan Kevin.


xxx


Ketukan pada pintu mengalihkan perhatian pria itu. Tak lama berselang, pintu terbuka dan seorang pria muda memasuki kamarnya. Pria itu kemudian membungkuk pada paruh baya di depannya.


"Informasi apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya pria itu tanpa menatap lawan bicaranya.


"Saya hanya ingin memberitahu Anda jika dia telah kembali , dan sekarang sudah ada di kota ini." Ujar Pria itu.


"Kevin Zhao?" tanya paruh baya itu memastikan.


Pria muda itu menganggukkan kepala. "Ya, Tuan. Dia telah kembali dari liburannya dan sekarang sudah ada di kota ini lagi." Jawabnya.

__ADS_1


"Bagus sekali. Aku masih belum menyelesaikan dendam lamaku dengannya , segara lakukan tugasmu dengan baik. Karena darah harus dibayar dengan darah. Dia telah mengambil nyawa Ramon, maka aku juga akan mengambil nyawa seseorang yang paling berharga dalam hidupnya!!" pria itu mengepalkan tangannya.


Masalah yang dia miliki sebenarnya bukan dengan Kevin, melainkan keluarga Zhang. Karena Kevin adalah bagian dari keluarga yang dalam tubuhnya masih mengalir darah bangsawan tersebut, meskipun mereka tidak memiliki masalah, tapi tetap saja dia bagian dari keluarga Zhang.


"Baik, Tuan. Akan segara saya lakukan,"


xxx


Semilir angin menghembuskan dedaunan kering. Udara di sore hari yang begitu menyejukkan. Sang penguasaan hari mulai kembali ke ke peraduannya. Tampak seorang pria tampan berdiri di balkon kamarnya sembari menikmati udara sore hari.


Angin sepoi-sepoi berhembus dan membelai tubuh pria itu, membuat helaian blonde miliknya melambai-lambai oleh hembusan angin sore. "Paman," sepasang tangan yang memeluknya dari belakang sedikit mengejutkannya.


Pria itu menoleh ke belakang dan senyum lembut seorang dara jelita memberikan kehangatan tersendiri baginya. "Kau sudah kembali," orang pria itu yang pastinya adalah Kevin.


Wanita itu 'Viona' menganggukkan kepala. "Sudah beres. Mulai hari ini sampai seterusnya, wanita itu akan menjadi babu-ku. Dia tidak akan berani macam-macam apalagi melakukan hal yang tidak-tidak. Karena jika dia berani melakukannya, maka konsekuensinya adalah meninggalkan rumah ini." Ujar Viona.


"Kau sungguh-sungguh menahannya


dan tidak membiarkan benalu itu pergi?" tanya Kevin memastikan dia menatap Viona tidak percaya.


Wanita itu melakukan kepala. "Ya, bukankah aku sangat hebat." Ucap Viona membanggakan diri. Kevin menganggukkan kepala. "Lalu mana penghargaan untukku?" Viona mengulurkan tangannya dan meminta penghargaan dari Kevin


"Ini," Kevin meraih tengkuk Viona lalu mencium bibirnya.


Sudut bibir Viona tertarik keatas ditengah ciuman tersebut. Dia mengangkat kedua tangannya dan mengalungkannya pada leher Kevin. Dan penghargaan seperti inilah yang Viona inginkan, yakni Kevin menciumnya. Ciuman manis yang menggairahkan dan memabukkan, yang mampu membuat Viona melayang dan seraya terbang.


Dan ciuman itu tidak berlangsung lama. Kevin segara mengakhirinya lalu membawa Viona ke pelukannya, dan memeluknya dengan erat. Melalui pelukan itu Kevin hanya ingin menyampaikan pada Viona jika dia sangat mencintaimu, sangat-sangat mencintainya.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2