Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Nyaris Bangkrutt


__ADS_3

Bukan rahasia umum jika persaingan di dunia perbisnisan sangatlah kejam dan mengerikan.


Tidak sedikit orang yang sampai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, termasuk melakukan hal-hal kotor seperti menjatuhkan saingan bisnisnya dengan membuat perusahaan mereka bangkrut. Yang terparah sampai menghilangkan nyawa.


Tokk... Tokk... Tokk...


Suara ketukan pada pintu mengalihkan perhatian seorang pria berkacamata yang sedang sibuk dengan laptopnya. Tak lama berselang pintu terbuka dan seorang laki-laki memasuki ruangan dengan panik.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya pria berkacamata itu tanpa basa-basi.


"Presdir, terjadi masalah yang cukup serius. Seorang Hacker berhasil merusak sistem keamanan perusahaan dan mencuri data-data penting. Termasuk data-data Zhang Empire yang telah kita curi dengan susah payah." Ujar


Pupil mata pria itu membulat sempurna. "Apa? Bagaimana bisa?" pekik pria berkacamata itu dengan terkejut.


"Saya juga tidak tahu, Presdir. Para teknisi terbaik perusahaan sudah bekerja keras mencoba menghentikan virus yang masuk, tapi mereka semua gagal. Sepertinya yang melakukannya adalah seorang hacker handal, yang sudah berpengalaman di dunia peretasan."


"Selain itu, saham perusahaan juga mengalami penurunan yang sangat drastis. Hanya dalam hitungan menit saja, saham perusahaan mengalami penurunan hingga 10%. Jika dibiarkan terus menerus, tidak menutup kemungkinan perusahaan akan bangkrut dalam waktu singkat." Ujar laki-laki itu menuturkan.


Sonny Shin menjadi sangat panik. Jelas ini bukan masalah yang sederhana. Baru juga dia merasakan kemenangan setelah mencuri data-data penting Zhang Empire, namun dalam hitungan jam saja perusahaannya mengalami masalah yang serius.


Sonny Shin menggeleng , dia tidak bisa diam saja dan menunggu perusahaannya benar-benar mengalami kebangkrutan. Sonny harus melakukan sesuatu untuk menghentikan mimpi buruk itu terjadi.


"Segera lakukan berbagai upaya untuk menghentikan hacker itu. Kita tidak bisa hanya diam dan menunggu perusahaan ini benar-benar bangkrut!!" tukas Sonny pada laki-laki di depannya, Jacky.


Jacky mengangguk. "Baik, Presdir. Saya mengerti" Ucapnya dan melenggang pergi.


xxx


"Finally," Viona berseru pelan sambil tersenyum lebar. Dia benar-benar puas karena sahabat kecilnya berhasil menyelesaikan pekerjaannya dengan sempurna.


Wanita itu bangkit dari duduknya lalu melenggang keluar meninggalkan kamarnya. Dia sudah tidak sabar untuk segera menyampaikan sebuah Kabar penting pada Kevin. Tidak lupa Viona menenteng laptop kesayangannya.


"Ge, aku memiliki kabar bagus untukmu." Seru Viona di tengah langkahnya dalam menuruni tangga. Dan seruannya mengalihkan perhatian Kevin dan Frans yang sedang mendiskusikan sesuatu.


Melihat wajah sumringah Viona. Membuat Kevin sangat penasaran akan kabar bagus apa yang hendak dia sampaikan, tidak mungkin Viona hamil lagi setelah keguguran kemarin. Karena kejadiannya belum genap satu bulan


"Memangnya kabar baik apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Kevin tanpa basa-bas.


Viona menghampiri Kevin kemudian duduk di sebelahnya. "Ge, lihat ini. Saham Shin Group terus mengalami penurunan secara drastis. Jika mereka tidak bisa mengatasi masalah yang terjadi, tidak menutup kemungkinan Shin Group akan mengalami kebangkrutan."


"Kabar baik lainnya, semua data-data penting Zhang Empire yang sempat dicuri sekarang sudah aman. Aku memasukkan virus ke dalam sistem sehingga hacker tidak bisa mencurinya dengan mudah." Tutur Viona.


Kevin menatap Viona dengan pandangan bertanya-tanya. "Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Kevin penasaran. Wanita itu mengangkat bahunya dengan acuh. Tanpa menjawab pertanyaan Kevin, Viona bangkit dari duduknya dan melenggang pergi.


Bukan karena Viona tidak ingin mengatakan apapun pada Kevin. Tetapi karena dia ingin membuat sang suami tercinta menjadi semakin penasaran. "Ge, apa dia benar-benar melakukannya?" tanya Frans memastikan.


Kevin mengangguk. "Ya, dan aku sudah melihatnya sendiri dengan mata kepalaku saat dia melakukannya. Wanitaku memang selalu penuh kejutan," Kevin berkata dengan bangga , pandangannya tertuju pada punggung Viona yang semakin menjauh, tidak ketinggalan senyum menghiasi bibirnya.


"Beruntung sekali kau memiliki wanita sepertinya, Ge. Seandainya saja aku yang lebih dulu bertemu dengan Vio Nunna kemudian dia tertarik dan jatuh cinta padaku, pasti diriku akan menjadi pria yang paling bahagia di dunia karena memiliki wanita sepertinya." Ujar Frans berandai-andai. Membayangkan jika yang bersama Viona adalah dirinya bukan Kevin.

__ADS_1


Alhasil sebuah bantal sofa mendarat mulus di wajahnya. Sebagai seorang suami, tentu Kevin tidak terima jika istrinya dibayangkan oleh laki-laki lain meskipun orang itu adalah adik kandungnya sendiri. Viona adalah miliknya, dan orang lain tidak boleh membayangkan apapun tentangnya.


"Berani sekali kau membayangkan Viona, Frans? Apa kau sudah bosan hidup?" Kevin menatapnya dengan tajam.


Frans menggelengkan. "Tidak lagi-lagi, Ge. Anggap saja jika aku tidak mengatakan apapun padamu. Ngomong-ngomong aku lupa jika tadi menyalahkan kran di kamar mandi, aku pergi dulu." Frans bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja. Lebih baik cari aman daripada berurusan dengan Kevin.


Kevin menghela napas. Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan pergi begitu saja. Dia sedikit penasaran bagaimana Viona bisa melakukan semuanya. Meskipun Kevin sudah melihat bagaimana cara dia melakukannya,namun tetap saja hal itu membuatnya sangat penasaran. Wanitanya memang penuh dengan kejutan.


.


.


"Ge," seru Viona sambil tersenyum lebar melihat kedatangan Kevin. "Kemarilah dan lihat ini." pinta Viona sambil melambaikan tangannya.


Viona dengan melihat indeks saham milik Shin Group yang terus mengalami penurunan signifikan. Padahal baru beberapa menit yang lalu angka penurunannya di 10%, dan sekarang sudah berada di angka 15. Dan itu hanya dalam hitungan menit saja.


Kevin berdiri di belakang Viona dan memperhatikan sebuah grafik saham milik Shin Group yang semakin turun. "Perusahaan itu tidak mungkin bertahan lebih lama jika sahamnya terus mengalami penurunan. Mereka akan benar-benar mengalami kebangkrutan."


"Hentikan sekarang juga!!"


Sontak Viona mengangkat kepalanya dan menatap Kevin dengan bingung. "Kenapa harus dihentikan? Bukannya bagus ya jika mereka bangkrut?" dia menatap Kevin dengan tatapan tidak mengerti.


"Cukup aku saja yang melakukan kejahatan, kau tidak boleh. Mau berhenti pun aku sudah terlambat, karena kedua tanganku sudah berlumuran darah. Sebagai suamimu, aku tidak ingin kau sampai tersesat seperti diriku hingga tidak tahu arah dan jalan untuk kembali pada cahaya. Jadi hentikan sekarang juga," tutur Kevin panjang lebar.


Sementara itu, kedua mata Viona tampak berkaca-kaca setelah mendengar apa yang Kevin katakan. Antara sedih dan terharu setelah mendengar apa yang Kevin katakan, pasti tidak mudah berada di posisinya selama ini. Tanpa mengatakan apapun langsung memeluk suaminya.


"Ge, jangan merasa menjadi orang paling jahat di dunia. Karena orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti. Meskipun aku tidak pernah tahu masalah apa yang pernah kau alami dimasa lalu hingga akhirnya kau menjadi seperti ini, tapi yang pasti kau adalah orang paling baik yang pernah aku kenal dan temui dalam hidupku." Tutur Viona sambil mengeratkan pelukannya.


Viona melonggarkan pelukannya dan mengunci iris kanan Kevin yang menatapnya dengan datar. Viona mengangkat kedua tangannya dan mengarahkan pada wajah Kevin. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk lengkungan indah di bibir tipisnya.


"Aku mencintaimu, Ge. Sangat-sangat mencintaimu." Bisik Viona lirih.


Tanpa berkata apa-apa. Kevin menarik tengkuk Viona dan melumatt bibirnya dengan rakus. Seolah-olah dia ingin menyalurkan semua perasaan yang dia rasakan pada Viona melalui ciuman tersebut.


"Aku juga mencintaimu. Terimakasih sudah menerimaku apa adanya," bisik Kevin sesaat setelah mengakhiri ciumannya. Viona tersenyum lebar dan kembali menghambur ke dalam pelukan Kevin.


"Ge, hanya kau satu-satunya yang aku miliki di dunia ini. Untuk itu jangan pernah berpikir untuk pergi apalagi meninggalkanku. Karena aku tidak mungkin sanggup menjalani hidup ini sendiri tanpa dirimu." Ujar Viona berbisik.


"Aku berjanji." Balas Kevin lalu membalas pelukan Viona.


xxx


Suara dering pada ponselnya sedikit menyita perhatian Tuan Lu yang sedang bermain golf di halaman belakang kediamannya. Baru saja dia hendak mengambil ponsel miliknya, namun tiba-tiba Hwan berdiri dan mengambilkan ponsel miliknya.


Tuan Lu tersenyum lebar. "Terima kasih, Hwan." Hwan mengangguk tipis.


Ternyata Frans yang menghubunginya. Tanpa membuang banyak waktu, Tuan Lu segera menerima panggilan tersebut. "Ada apa, Frans? Tumben sekali kau menghubungi, Kakek?"


Sontak Hwan menoleh. Ternyata yang menghubungi Tuan Lu adalah cucunya. Terbesit rasa iri di hatinya, dia juga ingin memanggil Tuan Lu dengan sebutan Kakek bukan Paman. Namun sayangnya Hwan tidak.bisa melakukannya tanpa persetujuan dari lelaki tua itu.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun. Hwan beranjak dan melenggang pergi. Lebih baik melakukan hal lain daripada mendengarkan obrolan Tuan Lu dan cucunya. Bukan iri dalam arti yang sebenarnya. Dia hanya iri seseorang memanggil Tuan Lu dengan sebutan Kakek.


Kembali pada Tuan Lu dan Frans. Frans pun menyampaikan alasan kenapa dia menghubungi lelaki tua itu. "Kakek, aku sudah berada di Beijing airport. Bisakah kau mengirim seseorang untuk menjemputku kemari, aku tidak berani kemana-mana karena takut tersesat."


Pupil mata Tuan Lu membulat sempurna mendengar apa yang baru saja di sampaikan oleh Frans. "Frans, tetap di sana dan jangan kemana-mana. Kakek, akan segera datang menjemputmu." kemudian Tuan Lu mengakhiri panggilan itu begitu saja. Dia harus bergegas pergi ke bandara untuk menjemput Frans, cucunya.


Tuan Lu tidak ingin membuat Frans terlalu lama menunggu di Bandara. Dia harus bergegas menjemputnya. Tuan Lu tidak sendirian, dia akan mengajak Hwan untuk ikut bersamanya.


xxx


"Ge, kemarilah..." seru Viona dengan suara lantang.


Viona menemukan selembar kertas di atas meja makan yang ditinggalkan oleh Frans. Dalam surat itu, Frans mengatakan jika dia pergi ke China untuk mencari Kakeknya. Dia merindukan Tuan Lu dan hendak pergi untuk bertemu dengannya.


Kevin menghampiri Viona dengan raut wajah bingung. Dia bertanya-tanya kenapa Viona sampai berteriak. "Ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Kevin dengan bingung.


"Ge, frans pergi ke Cina dan meninggalkan surat ini untukmu." Viona menyerahkan surat yang dia temukan pada Kevin.


Kevin membaca sekilas dan menghela nafas. "Sudahlah biarkan saja. Tidak perlu panik dan cemas, lagi pula Frans bukan anak kecil lagi yang masih perlu untuk dijaga. Lagi pula dia bukanlah orang yang lemah, karena Frans sudah mengikutiku sejak lama." tutur Kevin.


Meskipun terkadang bersikap konyol dan sedikit kekanakan. Tetapi Frans memiliki kemampuan bela diri yang cukup matang. Jadi orang lain tidak bisa menindasnya dengan mudah.


"Betul juga. Memangnya siapa yang berani menindas bayi iblis seperti dia. Bisa-bisa mereka sendiri yang celaka," ujar Viona.


Tiba-tiba perut Viona berbunyi nyaring."Ge, aku lapar. Ayo keluar dan buatkan sesuatu untukku," Viona meraih tangan Kevin dan menariknya pergi. Malam ini Viona tidak ingin makan malam di luar, karena dia ingin makan masakan Kevin.


xxx


Tuan Lu menyapukan pandangannya mencoba mencari keberadaan Hwan di tengah kerumunan orang. Banyaknya jumlah orang di bandara membuat Tuan Lu sedikit kesulitan untuk menemukan cucunya. Sudah lebih dari lima menit dia berputar-putar, tetapi batang hidung Frans belum terlihat juga, dan hal itu membuatnya frustasi.


"Hwan, bantu Kakek mencarinya. Ini foto dia, bisa kan?"


Hwan mengangguk. "Tentu saja, Paman."


"Kakek, panggil aku dengan sebutan Kakek!! Masa harus di kasih tau dulu baru mau memanggil , Kakek? Hwan, udah lama kakek menganggap mu sebagai bagian dari keluarga Lu. Bahkan Kakek juga sudah menganggap mu sebagai cucu, untuk itu mulai sekarang panggil Kakek bukan Paman!! Kalian bertiga tidak ada bedanya bagi, Kakek. Tidak ada cucu kandung ataupun angkat, bagi kakek Kalian bertiga sama saja. Jadi ingat baik-baik yang Kakek katakan ini, mengerti!!" ujar Tuan Lu.


Hwan langsung berkaca-kaca setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tuan Lu. Dia benar-benar terharu, akhirnya ia bisa memanggil lelaki tua itu dengan sebutan 'Kakek' seperti yang selama ini dia impikan.


"Kalau begitu aku akan mencarikannya untuk, Kakek. Kakek, diam dan duduk saja. Biar aku sendiri saja yang mencarinya." Ucap Hwan sambil menuntun Tuan Lu untuk duduk. Dia tidak pernah segembira itu sebelumnya.


Tuan Lu pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum saat melihat reaksi Hwan. Mungkin yang dia lakukan tidak seberapa, namun itu sangat berarti baginya. Dan Tuan Lu ingin supaya mereka bertiga bisa hidup dengan rukun dan akur.


Hwan mengelilingi Bandara untuk mencari Frans. Dia sudah berjanji pada Tuan Lu untuk menemukannya, dan dia tidak ingin mengecewakannya. Cukup lama dia mencarinya, sampai akhirnya Hwan melihat seorang laki-laki yang wajahnya sama persis dengan yang ada di foto. Akhirnya Hwan menemukannya.


"Frans?" panggil Hwan dengan sedikit keraguan.


Merasa namanya dipanggil, Frans pun mengangkat kepalanya. "Ya, aku Frans. Tapi bagaimana kau bisa tahu namaku? Apa kau orang yang dikirim oleh Kakek untuk menjemput diriku?" tanya Frans memastikan.


Hwan mengangguk. "Sekarang dia sedang menunggumu. Ayo ikut aku," Hwan mengambil koper milik Frans dan membantu dia membawakannya. Frans merasa lega karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Tuan Lu, ia tidak perlu cemas lagi.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2