
Kevin menggenggam tangan Viona dan mencoba untuk menguatkannya. Saat ini mereka berdua sedang berada di rumah sakit, Kevin menemani Viona untuk melakukan tes dan pemeriksaan. Mereka berdua sedang menunggu hasilnya, dalam hatinya Viona tidak hentinya berdoa semoga tafsiran dokter tentang Sel kanker itu tidaklah benar.
Cklekkk...
Mereka berdua menoleh dengan serempak setelah mendengar suara decitan pintu dibuka dari luar. Dokter memasuki ruangan sambil membawa sebuah map coklat di tangan kanannya.
"Dokter. Bagaimana hasilnya?" tanya Viona dengan tidak sabar. Dia ingin segera mengetahui hasil tesnya.
"Hasilnya sungguh di luar dugaan. Setelah di lakukan pemeriksaan menyeluruh. Ternyata hasilnya negatif, antar dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Entah karena kesalahan pemeriksaan awal, atau memang keajaiban Tuhan. Intinya kondisi anda baik-baik saja,"
Sekarang Viona bisa menghela nafas lega setelah hasil tesnya keluar. Ternyata dia baik-baik saja dan dalam kondisi yang sehat. Bukan hanya Viona yang lega mendengarnya, tetapi Kevin juga.
"Dan itu artinya saya masih bisa hamil dan memiliki anak?" katanya Viona sekali lagi.
Dokter itu menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.
Setelah tidak ada lagi yang perlu disampaikan dan didengarkan. Kevin dan Viona pun pamit pergi. Kecemasan dan ketakutan yang selalu mengiringi langkah mereka selama beberapa hari ini, sekarang telah hilang. Mereka berdua benar-benar merasa lega.
"Syukurlah jika kau baik-baik saja, aku benar-benar lega mendengarnya." Ucap Kevin di tengah langkahnya.
Kevin tidak bisa membendung kebahagiaannya setelah mengetahui hasil tes Viona. Dia tidak henti-hentinya berterimakasih pada Tuhan karena menunjukkan keajaibannya di waktu yang tepat. Ternyata Viona tidak apa-apa dan dia baik-baik saja.
__ADS_1
"Iya, Ge. Aku tadi benar-benar sangat ketakutan saat menunggu hasil tesnya keluar. Dan ternyata semua negatif, Tuhan memberikan keajaibannya di waktu yang sangat tepat." Ujar Viona dan di balas anggukan oleh Kevin.
"Ya, dan hal ini membuatku semakin yakin jika Tuhan benar-benar ada dan dia nyata."
Viona Mengangguk. "Tentu saja Tuhan itu ada dan dia nyata. Dan aku selalu percaya kepada keajaibannya, karena aku sendiri sudah membuktikan keajaiban darinya." Tukas Viona.
"Untuk merayakannya, aku akan membawamu makan siang di restoran mewah. Kau boleh memesan menu apapun yang kau inginkan," ucap Kevin dan membuat mata Viona bersinar-binar. Jika soal makanan dia yang terdepan.
"Kebetulan sekali aku ingin memakan makanan, Itali. Jadi jangan buang-buang waktu lagi, ayo kita pergi sekarang," ucap Viona dengan begitu bersemangat. Viona menarik lengan Kevin dengan tidak sabaran. Mereka berdua sedang menuju parkiran. Dan kabar baik seperti ini memang perlu untuk di rayakan.
xxx
"Apalah informasi yang kau berikan padaku ini sangat valid?" tanya Sonny, Dia sedikit meragukan hasil dari penyelidikan Agnes.
Agnes menatap Sonny dengan marah. "Apa maksud dari pertanyaanmu itu?" tanya Agnes.
Sonny menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa tidak perlu mengangkatnya serius pertanyaanku. Sudah cukup penyelidikanmu, selanjutnya serahkan saja padaku. Karena aku sudah tahu harus melakukan apa dan harus bagaimana!!" ucap Sonny.
"Bagus sekali. Kebetulan aku juga sedang malas untuk menerima perintah darimu, jadi lakukan saja sendiri. Bukankah kau adalah orang yang sangat pintar dan hebat. Jadi aku rasa kau tidak perlu bantuan dari orang lain." Tukas Agnes menuturkan.
Tanpa mengatakan apapun apalagi meminta izin terlebih dahulu, Agnes meninggalkan ruangan Sonny. Dia nggak istirahat dan menikmati waktu luangnya untuk bersenang-senang, Sudah saatnya untuk memanjakan diri sendiri setelah bekerja selama satu minggu penuh tanpa cuti dan libur.
__ADS_1
xxx
Viona dan Kevin menandatangi pusat perbelanjaan. Viona merengek ingin pergi ke Mall karena harus membeli beberapa barang pribadi , salah satunya adalah C-D & B-H. Karena yang dibutuhkan adalah keperluan wanita, maka Kevin memutuskan untuk menunggu di luar daripada ikut masuk ke dalam butik.
Saja Kevin hendak mendaratkan pantatnya di sofa merah yang terletak di samping toko. Seseorang tiba-tiba menghampirinya dan bersikap sok akrab dengannya. "Tuan Zhang, sungguh sebuah kebetulan bisa bertemu Anda di sini. Apa Anda datang mengantarkan nyonya untuk berbelanja?" tanya orang itu memastikan.
Kevin menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat. Dia benar-benar marah jika harus berurusan dengan orang yang ada di depannya ini. Bukan hanya mukanya saja yang menyebabkan, tetapi sikap dan tingkah lakunya juga. Itulah yang membuat Kevin tidak menyukainya.
"Anda sungguh suami yang sangat pengertian dan penyayang. Saya juga sedang menemani istri untuk berbelanja. Saya sampai meninggalkan semua pekerjaan di kantor hanya untuk menemaninya berbelanja. Tuan Zhang, kalau begitu saya permisi dulu ya. Istri saya sudah mencari dan memanggil-mangil." ucapnya lalu beranjak dari hadapan Kevin dan meninggalkannya begitu saja. Persis seperti yang Kevin harapkan.
Tak berselang lama setelah kepergian laki-laki itu. Viona datang sambil membawa paper bag di tangan kanannya. "Ge, aku sudah selesai. Ayo pulang sekarang," ucap Viona dan di balas anggukan oleh Kevin. Dia hanya membeli pakaiian dallam saja, tidak yang lainnya. Viona hanya membeli sesuai apa yang dia butuhkan saja.
"Kau mau kemana lagi setelah ini?" tanya Kevin ditengah langkahnya.
Viona menggeleng. "Aku tidak ingin ke mana-mana, kebetulan aku lelah dan ingin beristirahat." Jawab Viona dan dibalas angkutan oleh Kevin.
"Baiklah kalau begitu."
xxx
Bersambung
__ADS_1