Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kedatangan Victoria


__ADS_3

Malam semakin larut, namun gadis itu masih tetap terjaga. Entah apa yang Ia pikirkan sehingga Ia tidak bisa tidur malam ini, malam ini adalah awal musim semi. Hawa menjadi semakin dingin dan menusuk.


Meskipun pemanas sudah di pasang dan di atur, namun hal itu tidak memberikan efek apa pun. Ia masih tetap terjaga dan berdiri di depan jendela kamarnya sambil menatap lurus langit malam yang di penuhi oleh jutaan bintang.


Jam yang menggantung di dinding terus berdetak seirama dengan detak jantungnya yang beraturan, gadis itu melirik jam itu menggunakan ekor matanya dan waktu menunjukkan hampir pukul 12 tengah malam.


Namun Ia tetap terjaga, meskipun matanya sudah terasa berat. Akan tetapi matanya tetap sulit untuk di pejamkan. Harusnya Ia sudah terlelap sejak tadi dan terbuai mimpi indah, tetapi pada kenyataannya Ia tetap terjaga hingga detik ini.


Rasanya begitu sulit untuk Luna menerima fakta jika Aiden bukanlah kakak kandungnya, dia benar-benar belum siap untuk kehilangannya. Meskipun Aiden mengatakan tidak akan ada yang berubah pada sikap dan kasih sayangnya, namun suatu hari nanti dia pasti tetap meninggalkannya dan kembali pada keluarga kandungnya.


Luna menyeka air matanya yang berjatuhan tanpa mampu dia cegah. Kemudian dia menutup kembali jendela kamarnya dan pergi tidur. Dia tidak boleh menyiksa dirinya sendiri apapun situasinya, karena disesali dan dipungkiri pun tidak akan merubah fakta jika Aiden bukanlah kakaknya.


xxx


Alex membuka pintu kamar ayahnya dan mendapati pria paruh baya itu sedang tertidur pulas dalam posisi menyamping. Dengan langkah tanpa suara, Alex memasuki kamar sang ayah dan menghampirinya. Dia berlutut di depan Tuan Williams dan memperhatikan wajah lelahnya.


Disadari atau tidak, bulir-bulir air mata jatuh bercucuran dari pelupuk matanya dan membasahi wajah tampannya. Berkali-kali Alex menyeka air matanya namun tetap tidak mau berhenti.


"Pa, terimakasih untuk semua yang telah kau berikan padaku selama ini. Aku sadar, jika diriku bukanlah putra yang baik yang selalu bisa kau banggakan. Tapi percayalah, Pa, jika aku sangatlah menyayangimu." Ujar Alex. Dia berkata dengan lirih karena takut membangunkan sang ayah.


Pria itu tersenyum tipis. Alex teringat semua kenangan yang dia miliki bersama sang ayah. Dan yang paling Alex ingat adalah ketika dia terjatuh ayahnya lah yang berlari terlebih dulu untuk membantunya. Ketika dia mendapatkan ranking pertama, ayahnya adakah orang yang paling bahagia.

__ADS_1


"Aku tidak peduli siapa diriku dan juga asal usulku. Bagiku, kau tetaplah ayahku dan orang yang paling berharga dalam hidupku.


Alex kembali menyeka air matanya untuk kesekian kalinya. Kemudian Dia bangkit dari posisinya dan melenggang keluar meninggalkan kamar ayahnya.


Sekali lagi dia menatap wajah lelah sang ayah sebelum menutup kembali pintu kamarnya. Alex ingin cepat-cepat tidur supaya besok bisa bangun lebih awal agar dia bisa menyiapkan sarapan special untuk sang ayah.


xxx


Pagi hari yang cerah, matahari bersinar terang tanpa ada awan yang menghalangi setiap sinarnya yang mulai membelai bumi. Namun suasana dikediaman Williams sudah ramai, hampir semua orang sudah bangun dan menjalani aktivitas masing-masing, termasuk Alex.


Keberadaan di dapur menggemparkan hampir seluruh penghuni rumah. Bagaimana tidak, Alex yang belum sekalipun menginjakkan kakinya di dapur tiba-tiba dia bangun sangat pagi lalu berkutat di dapur untuk membuat sarapan, bukankah itu adalah hal yang sangat mengejutkan?!


"Ge, ada apa di sana? Kenapa pelayan-pelayan itu berkumpul di sana? Mungkinkah ada ajang lomba memasak makanya mereka berkumpul di sana?" tanya Luna penasaran.


Aiden menoleh sekilas ke arah Luna lalu menggelengkan kepala. "Bukan, pagi ini Alex Gege membuat kehebohan. Entah setan apa yang merasukinya semalam, sampai-sampai dia mau menginjakkan kakinya di dapur." Jawab Aiden.


Luna memicingkan matanya. "Tumben sekali, tidak biasanya dia mau menginjakkan kakinya di dapur. Wow, ini benar-benar sebuah rekor besar." Ujar Luna.


Obrolan mereka berdua terinterupsi oleh kedatangan Victoria dan suami barunya. Bukannya bahagia melihat kedatangan sang ibu, Luna justru terlihat tidak suka dengan kedatangan mereka.


Victoria menghampiri Luna. "Luna, apakah sudah membuat keputusan dengan siapa kau akan tinggal?" tanya wanita itu tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Luna Sayang, jika aku menjadi dirimu, tunggu aku akan lebih memilih untuk tinggal bersama ibu kandungku daripada harus tinggal bersama ayah dan saudara-saudaraku yang lainnya. Karena tinggal bersama seorang ibu itu lebih menyenangkan daripada harus tinggal bersama yang lainnya. Jadi bersikaplah cerdas dan jangan menjadi gadis yang bodoh." Suami baru Victoria mencoba membujuk Luna supaya dia memilih untuk tinggal dengan Victoria.


Victoria mendekati Luna dan menatapnya. "Aku adalah ibumu, orang yang telah melahirkan mu. Jadi sudah selayaknya kau lebih memilih untuk tinggal bersama denganku daripada yang lain. Luna, jangan membuat Mama kecewa." Victoria pun tidak mau menyerah, dia ingin agar Luna ikut tinggal bersamanya.


Luna menggeleng. "Aku tidak akan tingg bersama salah satu diantara kalian berdua. Asal kau tahu saja, aku bukanlah boneka yang bisa kalian perebutkan dengan seenak jidat, aku juga memiliki perasaan , itu itu tolong pikirkan bagaimana perasaanku. Kau pergilah dan bawa suamimu keluar dari rumah ini"


"Maaf Ma, jika aku harus bersikap durhaka. Tapi asal kau tahu saja, aku malu memiliki seorang ayah tiri yang lebih pantas menjadi kakakku. Ge, ayo pergi." Luna meraih tangan Aiden dan membawanya pergi dari kediaman Williams, bahkan Luna tidak berpamitan lebih dulu pada ayahnya dan juga kedua kakaknya.


"Luna, tunggu!! Luna, Luna, Luna!!" bahkan dia tidak menghiraukan teriakan Victoria yang memintanya untuk berhenti.


Wanita itu menggeram marah. Gagal lagi rencananya untuk membawa Luna ikut bersamanya. Dia harus memikirkan cara lain agar Luna bisa jatuh ke tangannya.


"Vic, Sepertinya kita sudah tidak memiliki cara lain lagi. Kau hanya bisa mengikuti rencana awalku untuk mendapatkannya." Ucap pria yang berdiri di samping Victoria.


Victoria mengangguk setuju. "Ya, aku sudah tidak memiliki lagi cara untuk mendapatkan Luna, selain mengikuti caramu. Lagipula aku tidak ingin rencana kerjasama dengan Young Group gagal total jika kita tidak bisa membawa Luna dan memberikannya pada tua Bangka bau tanah itu sebagai hadiah kecil. Pria matta keranjang itu pasti akan sangat bahagia jika kita bisa memberikan Luna sebagai hadiah untuknya." tutur Victoria.


Pria itu mengangguk, jika Luna bisa memberikan keuntungan yang sangat besar, Kenapa tidak?!


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2