
"Keluar!!" seru Kevin dengan lantang.
Selang beberapa detik, seorang pria keluar dari persembunyiannya dan menghampiri mereka berdua. Viona membulatkan matanya setelah melihat Siapa yang sedari tadi mengikutinya dan Kevin.
"Frans, ternyata kau!! Kenapa kau terus saja mengikutiku dan Paman?" tanya Viona meminta penjelasan.
Frans menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sepertinya dia harus memberikan penjelasan pada mereka berdua sebelum Kevin dan Viona salah paham padanya.
"Tadi aku bangun dan ingin sarapan. Aku sangat senang saat melihat banyak telor di atas meja. Tapi senyum di bibirku seketika hilang saat melihat semua telor-telor itu ternyata gosong dan tidak bisa dimakan. Kemudian aku melihat kalian berdua pergi, karena tidak ajak-ajak akhirnya aku memutuskan untuk membuntuti kalian." tutur Frans memberi penjelasan.
Viona mendengus panjang. Dengan gemas dia menjitak kepala Frans. "Nunna, sakit " Dan membuatnya menjerit kesakitan.
"Tidak usah berlebihan!! Lagi pula aku tidak terlalu kencang menjitak kepalamu, ya sudah ayo jalan. Hari ini kita makan besar karena Paman akan mentraktir kita sepuasnya." Ucap Viona sambil merangkul bahu Frans. Mereka berdua berjalan duluan dan meninggalkan Kevin.
Kevin menatap mereka berdua dan menghela napas. Mengayunkan kakinya bergantian, Kevin segara menyusul mereka berdua yang sudah semakin menjauh. Untung saja adiknya. Dan jika bukan karena Kevin sangat menyayangi Frans, pasti dia sudah membuat perhitungan dengannya.
DORR...
DORR...
Tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah belakang. Sontak Kevin menoleh dan mendapati seorang pria dalam balutan pakaian serba hitam melepaskan tembakannya secara membabi buta pada siapapun yang ada di depannya. Sadar ada bahaya mengintai, Kevin mengeluarkan senjata yang selalu dia bawah kemana pun pergi. Orang itu harus segera dihentikan sebelum semakin banyak korban.
"Kalian berdua sebaiknya cari tempat yang aman untuk berlindung." Perintah Kevin pada Frans dan Viona.
"Tapi, Ge." Frans hendak melayangkan protesnya.
"Sudah tidak ada tapi-tapian. Kita percaya saja pada, Paman. Paman, hati-hati," ucap Viona dan dibalas anggukan oleh Kevin. "Ayo," Viona menarik lengan Frans dan membawanya bersembunyi di tempat yang aman.
__ADS_1
Suasana di tempat itu pun menjadi kacau balau. Jerit ketakutan orang-orang menggema, dan sedikitnya sudah ada 5 orang yang menjadi korban dari kebrutalan pria tersebut. Tidak ada penyesalan apalagi perasaan bersalah dia justru tertawa dan merasa bangga karena berhasil menghilangkan nyawa banyak orang.
"HAHAHA...MATI KALIAN SEMUA, MATI!! HAHAHA..."
Tidak ada yang mengenal siapa pria itu, dan juga alasan dia menghabisi orang lain secara brutal dan membabi buta. Tidak hanya itu saja dia juga menjadikan seorang gadis remaja sebagai sandera untuk melancarkan aksinya.
Gadis itu menangis histeris. Ketakutan terlihat dari mata abu-abunya yang penuh cairan cairan bening tak berwarna. Beberapa orang memohon supaya pria itu melepaskan si gadis tetapi permohonan ditolak dan dia semakin menggila.
DOORRR ..
Satu tembakan dilepaskan. Membuat senjata di tangan pria itu terlepas dari genggamannya."Lakukan sekarang!!" sebuah instruksi yang diberikan oleh Kevin membuat orang-orang yang ada di sana segera tersadar dari ketakutannya. Mereka beramai-ramai membekuk si pembuat onar lalu mengiringnya ke kantor polisi.
Suara sirine terdengar. Ambullance berdatangan lalu membamawa para korban baik yang meninggal maupun terluka ke rumah sakit. Dan Kevin pun di nobatkan sebagai pahlawan karena keberaniannya, tanpa mereka ketahui siapa dia sebenarnya.
"PAMAN!! GE!!"
Kevin terhubung ke belakang setelah mendapatkan pelukan dari Viona dan Frans. Mereka berdua keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Kevin lalu memeluknya. Mereka berdua merasa lega Kevin baik-baik saja.
"Dasar King of Drama, emangnya berapa lama kau mengenal Paman sampai-sampai tidak tahu dia orang seperti apa? Ikan teri sepertinya tidak mungkin bisa melukainya, Paman kan yang terhebat." Ucap Viona sambil mendorong Frans menjauh dari Kevin. "Jangan sembarangan memeluknya, dia milikku!!" ucap Viona menegaskan.
Frans memanyunkan bibirnya, dia kesal dengan ucapan Viona. "Tidak adil. Nunna, jadi orang kau jangan maruk-maruk. Mentang-mentang dia sudah menjadi suamimu, lalu Kevin Gege mau kau miliki sendiri. Aku tidak terima, karena aku ini adiknya!!" ucap Frans menegaskan.
"Kau memang adiknya, tapi aku istrinya. Jadi tetap aku yang menang." Jawab Viona dengan senyum penuh kemenangan.
Lagi-lagi Frans memanyunkan bibirnya. Sedangkan Kevin hanya bisa menghela napas mendengar perdebatan istrikimi dan adiknya. Padahal dulu Frans dan Viona tidak sedekat itu, entah sejak kapan hubungan mereka menjadi sebaik sekarang. Tapi itu sangat bagus, dengan begitu Frans bisa lebih dekat dengan Viona.
"Sudah cukup kalian berdua, berhenti berdebat." seru Kevin Perdebatan Frans dan Viona.
__ADS_1
Viona menjulurkan lidahnya pada Frans lalu melewatinya begitu saja. Sambil memeluk lengan Kevin, mereka melanjutkan langkahnya. Dan mereka bertiga harus melewatkan setengah jam sarapannya karena keributan yang baru saja terjadi. Padahal Frans dan Viona sudah sangat lapar, mereka harus menahannya selama tiga puluh menit.
.
.
"Aahhh, kenyangnya." Ucap Viona dan Frans nyaris bersamaan.
Mereka berdua mengusap perutnya yang terasa kenyang. Beberapa piring saji yang ada di atas meja telah kosong, ada juga makanannya yang masih tersisa itupun tidak seberapa. Frans dan Viona menghabiskan tiga piring, sedangkan Kevin satu piring saja tidak habis.
Ponsel milik Kevin tiba-tiba berdering menandakan ada panggilan masuk. Nomor yang tidak di kenal. Karena tidak tahu siapa yang menghubunginya, Kevin pun memilih untuk tidak menerima panggilan tersebut dan mengabaikannya.
"Paman, telepon dari siapa kenapa tidak diangkat?" tanya Viona melihat Kevin meletakkan kembali ponselnya tanpa menerima panggilan tersebut.
Kevin menggeleng. "Entah, aku sendiri tidak tahu. Nomor asing dan bulan telfon penting. Apa kalian sudah selesai?" Kevin menatap Viona dan Frans bergantian, dan mereka berdua mengangguk bersamaan.
Kevin memanggil pelayan untuk meminta bil-nya. Setelah membayar semua tagihan makanan yang ia pesan. Kevin, Viona dan Frans meninggalkan restoran tempat mereka sarapan.
"Kita mau kemana lagi setelah ini?" tanya Kevin pada Viona.
Wanita itu meletakkan jarinya di bibir. "Em, bagaimana kalau kita shoping saja? Aku ingin pergi berbelanja dan berburu diskon di sini." Usul Viona.
"Itu ternyata dak asik." Frans menjawab cepat."Aku, tidak setuju. Ge, bagaimana kalau kita pergi ke wahana bermain saja? Sudah lama aku ingin menaiki kincir angin raksasa, bagaimana kalau seharian ini kita bersenang-senang di sana?" usul Frans.
Viona menggelengkan kepala. "Aku tidak setuju!! Paman, kita pergi ke Mall saja. Kalau kau menolak dan lebih memilih untuk pergi ke wahana bermain, berarti kau tidak mencintaiku lagi." Ucap Viona sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
Kevin menghela napas. "Baiklah, kita Ke Mall saja!!'
__ADS_1
xxx
Bersambung