
"Paman, Kenapa bisa dia? Bukankah dia sangat menyayangi putranya, lalu kenapa bisa dia yang melaporkan Doori pada polisi?"
Viona tidak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat orang yang melaporkan Doori adalah Sabrina, karena setahu Viona, dia sangat menyayangi putranya dan selalu memanjakannya. Bahkan Sabrina tidak segan-segan meminta uang pada Kevin demi Doori.
"Panjang ceritanya, aku pasti akan memberitahumu tapi tidak sekarang. Biarkan polisi mengurusnya terlebih dulu," ucap Kevin.
"Lalu bagaimana dengan, Paman Tio? Apa dia tahu jika istrinya sebenarnya adalah orang yang baik?" tanya Viona memastikan.
"Tentu saja tahu, karena semua yang dia lakukan adalah skenario yang diciptakan oleh Tio. Karena penjahat yang sebenarnya bukan Bibi Sabrina, melainkan Tio dan putranya." Jawab Kevin.
Rasanya Viona semakin tidak percaya setelah mendengar jawaban Kevin. Ketika pertama kali bertemu dengannya , Viona benar-benar berpikir jika Tio adalah orang baik. Tapi ternyata dugaannya salah, ternyata Tio tidaklah sebaik yang terlihat oleh matanya.
Ternyata kebaikan yang dia tunjukkan hanyalah alibi untuk menutupi siapa dia yang sebenarnya.
"Mama, berani-beraninya kau bekerja sama dengan mereka, apa kau ingin Papa menghukummu?!" bentak Doori dengan emosi.
"Tidak ada yang bisa menghukumnya lagi, karena kau dan Ayahmu akan sama-sama membusuk di penjara!!" sahut Kevin menimpali.
Doori menunggu kedatangan ayahnya, tapi orang yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Hanya tinggal satu-satunya orang yang bisa membantu Doori untuk lepas dari masalah ini, tapi dia malah tidak datang.
"Kau mau menunggu sampai sapi beranak domba sekalipun, dia tidak akan pernah datang untuk menolongmu. Karena aku sudah mengamankannya," ucap Kevin seolah-olah mengerti apa yang Doori pikirkan.
"Apa yang kau lakukan pada ayahku? Dimana dia sekarang?" tanya Doori.
"Kau tenang saja, ayahmu ada di tempat yang aman dan dia baik-baik saja. Dan dia sekarang sedang menunggumu di suatu tempat, tidak lama lagi kalian ayah dan anak akan segara berkumpul kembali," jawab Kevin.
__ADS_1
Tepat setelah Kevin menyelesaikan ucapannya, beberapa pria berseragam dan bersenjata memasuki kamarnya. Mereka adalah para polisi yang datang untuk meringkus Doori dan ayahnya. Doori ditangkap tanpa perlawanan, jangankan untuk melawan, untuk bergerak saja dia tidak mampu.
Karena tidak bisa jalan sendiri, akhirnya Doori diangkat menggunakan tandu. Doori terus berteriak dan memaki mereka bertiga, sumpah serapah berkali-kali keluar dari mulutnya yang pastinya dia tunjukkan pada Sabrina. Tapi wanita itu tak begitu menghiraukannya, dia merasa lega karena ada orang yang berhasil meringkus ayah dan anak tersebut.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kevin memastikan, Sabrina menganggukkan kepala, meyakinkan pada Kevin jika dia baik-baik saja.
"Saya baik-baik saja , Tuah Muda. Kalau begitu saya permisi dulu." dia kemudian membungkuk lalu berlalu dari hadapan Kevin dan Viona.
Sebenarnya sejak awal Kevin sudah merasa ada yang tidak beres dengan Tio, sikap dan gerak-geriknya terlihat sangat mencurigakan. Kevin yang sudah lama berkecimpung di dunia bawah, tentu bisa dengan mudah membedakan mana orang yang benar-benar baik dan pura-pura baik.
Dia melihat banyak sekali tekanan pada Sabrina ketika pertama kali bertemu dengannya. Ketika dia melakukan pembelaan pada Doori, Kevin melihat matanya yang terus bergerak kesana-kemari seperti sedang bingung dan panik.
Untuk menemukan kebenaran, Kevin mengajak Sabrina untuk bicara secara empat mata, dan akhirnya dia memberitahu Kevin yang sebenarnya. Kemudian mereka bekerja sama termasuk membuat Tio tertidur, dan obat tidur itu adalah pemberian Kevin.
"Sudah larut malam. Sebaiknya kita tidur sekarang, kau tidurlah di tempat tidur, Paman akan tidur di sofa." Ucap Kevin sambil menepuk kepala Viona.
Kevin menghela napas. Dengan terpaksa dia menganggukkan kepala, ditolak pun Viona pasti akan tetap memaksanya. "Baiklah, terserah kau saja. Sudah larut malam, ayo cepat tidur." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
.
.
Jam dinding telah menunjuk angka 01.43 dini hari. Tetapi Kevin masih terjaga dan sulit untuk menutup matanya. Rasa kantuk yang tadi sempat menderanya, tiba-tiba hilang begitu saja.
Pandangan Kevin lalu bergulir pada Viona yang tertidur pulas sambil memeluk lengan terbukanya. Sudut bibir Kevin tertarik keatas, dengan lembut dia mengusap kepala Viona lalu mengecup kepala berhelaian coklat itu dengan lembut.
__ADS_1
Pelan-pelan Kevin melepaskan pelukan Viona lalu beranjak dari sisinya, dengan gerakan pelan Kevin turun dari tempat tidur lalu berjalan lurus ke balkon. Jutaan manik-manik langit yang menghiasi langit malam seketika menarik seluruh atensinya.
Hawa dingin langsung menyambutnya ketika Kevin menginjakkan kakinya dilantai balkon. Lalu pandangannya bergulir pada langit yang dipenuhi jutaan bintang, dan sang penguasa malam berpendar indah di singgasananya. Langit benar-benar cerah dan cuaca sangat bersahabat.
"Kak, kalian pasti melihatnya dari atas sana. Sekarang dia telah tumbuh dewasa menjadi perempuan yang sangat cantik. Kalian berdua tidak perlu mencemaskannya , aku pasti akan menjaganya dengan baik, tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti apalagi melukai hatinya. Aku berjanji pada kalian dibawa langit bertabur bintang," ujar Kevin dengan pandangan lurus pada langit malam.
Kevin pasti akan selalu menepati janjinya pada mereka berdua untuk menjaga Viona, menggantikan Kakak dan Kakak iparnya. Dan apapun yang berhubungan dengan Viona, sekarang menjadi tanggungjawabnya.
"Paman, apa yang sedang kau lakukan di sana?" pertanyaan itu seketika mengalihkan perhatian Kevin. Pria itu menoleh dan mendapati Viona yang sedang duduk sambil menatapnya dengan bingung.
Kevin beranjak dan meninggalkan balkon. Dia menghampiri Viona yang menatapnya dengan kebingungan. "Kenapa bangun? Cepat tidur lagi, ini masih malam."
"Aku memimpikan Mama, dalam mimpi itu dia meminta tolong padaku, dan mimpi itu benar-benar terasa sangat nyata. Paman, mungkinkah kematian mereka berdua bukan murni karena kecelakaan, tapi ada orang yang memang sengaja ingin mencelakainya?" Viona mengangkat wajahnya dan menatap langsung ke dalam mata dingin Kevin.
Tiba-tiba Kevin terdiam setelah mendengar apa yang Viona katakan. Sebenarnya Kevin sudah curiga sejak lama, jika kematian mereka berdua bukan murni karena kecelakaan melainkan karena ada orang yang dengan sengaja menghabisi nyawaa mereka berdua.
Tetapi Kevin tidak ingin terlalu berasumsi karena tidak ada bukti sama sekali jika kematian mereka berdua karena pembbunuhan berencana.
"Mimpi hanyalah bunga tidur. Tidak perlu terlalu dipikirkan, ini masih malam sebaiknya kembali tidur. Ayo, Paman juga mau tidur." Kevin mengajak Viona untuk kembali tidur dan dia menganggukkan kepala.
"Baiklah,"
.
.
__ADS_1
Bersambung.