
Aroma lezat makanan yang sedang dimasak singgah sejenak di hidung Viona. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat , aromanya yang lezat membuat perutnya yang lapar semakin keroncongan.
"Kau mau kemana?" tegur Kevin sekeluarnya dia dari kamar mandi dan mendapati Viona yang hendak meninggalkan kamar.
"Dapur, aku mau membantu Bibi Sabrina menyiapkan sarapan." Jawabnya dan pergi begitu saja.
Dan tentu saja Kevin tau apa alasan Viona buru-buru keluar. itu karena dia mencium aroma makanan yang sangat lezat. Kevin sedikit heran, meskipun Viona makannya banyak, tapi anehnya berat padanya tetap dan tidak naik.
Setelah berpakaian lengkap, Kevin menyusul Viona untuk sarapan bersamanya. Dia sudah memutuskan akan kembali ke Seoul hari ini, sudah terlalu lama Kevin meninggalkan pekerjaannya dan Viona menyetujuinya.
"Tuan Muda, apa benar Doori melarikan diri dari kantor polisi?" Sabrina menghentikan langkah Kevin dan menanyakan tentang Doori yang katanya melarikan diri.
"Siapa yang memberitahumu?" bukannya menjawab, Kevin malah balik bertanya, karena seingatnya dia tidak mengatakan apapun pada wanita itu.
"Media telah menyiarkannya dan polisi tengah memburunya. Saya sangat sangat cemas, bagaimana jika dia sampai membuat keributan lagi di rumah ini dan berusaha mencelakai Anda seperti malam itu." Sabrina menundukkan kepalanya.
Kevin terdiam selama beberapa detik, dia tidak menduga jika media akan langsung menyebarkan berita tentang Doori yang kabur dari penjara. Sepertinya Polisi sendiri yang menyebarkan berita tersebut agar masyarakat lebih hati-hati dan membantu kepolisian menangkap Doori kembali.
"Kau tenang saja, putramu tidak akan berani berbuat macam-macam lagi karena saat ini polisi sedang memburunya. Meskipun saat ini dia sedang berada di suatu tempat, tetapi iya tidak akan berani sembarangan keluar karena tidak ingin tertangkap lagi." ujar Kevin.
Kevin tidak mungkin memberitahu Sabrina tentang keberadaan Doori saat ini, apalagi memberitahunya tentang keadaannya. Sejahat-jahatnya Doori padanya, tapi bagaimanapun juga dia tetap saudara daging Sabrina.
Dan sebagai seorang ibu, masih dia akan sedih melihat keadaan putranya saat ini. Memang lebih baik jika dia tidak tahu apa-apa, apalagi tentang keadaan putranya.
"Semoga saja dia tidak berbuat yang tidak-tidak lagi. Saya benar-benar takut dan cemas Doori akan berbuat nekat lagi," ucapnya sambil menundukkan kepala.
Kevin menepuk bahu Sabrina dan melewatinya begitu saja. Dia bergabung dengan Viona untuk menyantap sarapannya, dan setelah sarapan baru mereka akan kembali ke Seoul.
.
.
Demo besar-besaran terjadi di depan kantor milik Aldo. Para karyawan melakukan demo menuntut gaji mereka supaya segera diberikan, sudah dua bulan mereka tidak menerima gaji dari perusahaan tempat mereka bekerja selama ini. Dan tentu saja mereka tidak diam begitu saja, mereka menuntut haknya supaya diberikan.
Aldo terus mondar-mandir di ruang kerjanya, otaknya Sedang berpikir keras dan mencoba mencari solusi kekacauan ini. Tapi sayangnya dia menemui jalan buntu, Aldo benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Dia tidak memiliki solusi untuk mengatasi kekacauan ini.
__ADS_1
"Presdir, bagaimana ini? Mereka tetap tidak mau bubar meskipun sudah diberi tahu jika gajinya tidak bisa dicairkan saat ini, mereka tetap menuntut perusahaan segera mencairkan gaji mereka Selama 2 bulan yang tertunda." ucap seorang pria yang baru tiba di ruangan Aldo.
"Kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa?! Kau pikir aku tidak pusing, aku juga sedang mencari cara untuk mengatasi hal ini, dan mereka tidak akan berhenti berdemo jika belum mendapatkan haknya. Aku tidak bisa meminjam uang dari bank lagi, karena pihak bank sudah tidak mempercayaiku sekarang," ujar Aldo dengan frustasi.
Tidak hanya berdemo, tetapi mereka juga melakukan perusakan pada beberapa fasilitas kantor. Bahkan pintu kaca bagian depan rusak oleh mereka, meskipun mengalami kerusakan parah tetapi perusahaan tidak bisa menuntut mereka, karena jika perusahaan sampai menuntut yang ada mereka malah menuntut balik.
"Sepertinya kita tidak memiliki cara lain lagi, satu-satunya cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mencairkan dana darurat perusahaan yang tersisa. Semoga setelah ini tidak ada masalah seperti ini lagi," ujar Aldo dengan frustasi.
Sebenarnya dana darurat perusahaan bukan untuk membayar gaji para karyawannya, melainkan untuk kepentingan perusahaan, tapi karena tidak memiliki pilihan lain akhirnya ambil keputusan besar tersebut
.
.
Hari ini matahari bersinar lebih terik dari biasanya, di sebuah Cafe yang letaknya tak jauh dai taman Sungai Han, seorang wanita duduk sendirian menikmati makan siangnya.
Dari semua pengunjung yang datang, hanya dia yang sendirian karena pengunjung lain datang bersama pasangan masing-masing.
Meskipun demikian, dia tidak terusik sedikitpun apalagi merasa minder, wanita itu justru menikmati kesendiriannya.
"Nona, bolehkah saya ikut duduk disini? Semua meja dan kursi telah penuh, dan satu-satunya kursi yang tersisa hanya ini," seseorang tiba-tiba menghampiri meja Viona dan meminta ijin untuk ikut duduk satu meja dengannya.
"Silahkan," ucapnya.
Pria itu tersenyum lebar. "Terimakasih, Nona. Oya, perkenalkan nama saya Marco." Pria itu, yang ternyata bernama Marco mengulurkan tangannya pada Viona dan perkenalkan diri.
Viona menatap uluran tangan itu lalu membalasnya. "Aku Viona," Ucapnya.
Meskipun sebenarnya Viona tidak suka basa-basi seperti ini, tapi dia tetap menerima uluran tangan pria itu, dia tidak ingin disebut sebagai wanita sombong dan angkuh karena menolak berjabat tangan dengan lawan jenisnya.
"Senang mengenalmu, Nona Viona. Sebagai ucapan terimakasih karena Nona sudah sangat baik dan mengijinkanku untuk ikut duduk disini, jadi biar aku mentraktirmu." usul Marco memohon, namun Viona menolaknya.
"Tidak perlu, kita bayar sendiri-sendiri saja, aku tidak terbiasa menerima kebaikan orang lain secara cuma-cuma. Bisakah sekarang kau berhenti bicara dan biarkan aku makan?!" ucap Viona, dia menatap Marco dengan kesal. Bisa-bisanya ada laki-laki sebawel dia.
"O..Oh , ya silahkan." pintanya.
__ADS_1
Seketika keheningan menyelimuti kebersamaan mereka berdua, tidak ada lagi obrolan di antara Viona dan Marco, keduanya sama-sama menikmati makan siangnya dengan tenang. Sesekali Marco mengangkat kepalanya, untuk menatap wanita yang duduk berhadapan dengannya.
Marco memperhatikan Viona dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menyeringai . "Wanita yang sangat menarik," ucapnya membatin. Tatapannya seolah-olah mengintimidasi Viona , dan tatapannya berubah saat Viona tiba-tiba mengangkat wajah dan menatapnya. Marco tersenyum sambil mengangkat sendok ditangannya.
"Mari Nona, makan." Ucapnya dengan senyum yang sama.
Entah hanya perasaan Viona saja atau benar adanya, jika beberapa saat yang lalu Marco menatapnya dengan tatapan tajam dan berbahaya. Yakin jika Marco bukan pria baik-baik, Viona menjadi lebih waspada padanya. Dia tidak boleh sampai kecolongan apalagi membiarkan dia melakukan sesuatu padanya.
Dan sementara itu... Tanpa Viona sadari ada sebuah mobil mewah yang tiba-tiba berhenti di depan cafe tempatnya berada saat ini. Ada mata tajam yang terus menatapnya dengan tatapan menusuk dan mengintimidasi, terlihat jelas dari raut mukanya jika orang itu tidak suka melihat Viona bersama pria lain.
"Jalan," dan dia pun segera memberi perintah pada sopirnya untuk jalan kembali.
Dan ketika Viona menoleh, mobil itu sudah melaju pergi. Meskipun hanya sekilas, tetapi Viona mengenali plat mobil tersebut. "Bukankah itu mobil, Paman?" ucapnya membatin. Tetapi Viona tidak begitu yakin jika itu benar-benar mobil Kevin, bisa saja itu adalah mobil orang lain yang platnya kebetulan mirip dengan milik Kevin.
.
.
"Tuan , bukankah itu Nona Viona,"
Frans menghentikan laju mobilnya ketika tanpa sengaja melihat keberadaan Viona di sebuah cafe bersama seorang laki-laki. Kevin mengikuti arah tunjuk Frans. "Apa yang dia lakukan di sana bersama laki-laki itu?" ucap Kevin bertanya-tanya.
"Mungkin saja mereka sedang berkencan," sahut Frans menimpali
"Berkencan?" Kevin mengulangi ucapan Frans, pria itu menganggukkan kepala. "Tapi kenapa Viona tidak mengatakan apapun padaku, jika dia memiliki teman kencan?" ucap Kevin setengah bergumam.
"Mungkin saja Nona tidak enak hati untuk memberitahu, Tuan. Atau mungkin karena Nona takut Tuan akan menentangnya, makanya dia jalan diam-diam dengan lawan jenisnya," sahut Frans.
Kevin mengepalkan tangannya, mata kanannya yang tajam menatap pria yang bersama Viona dengan dingin dan penuh intimidasi. Terlihat jelas, jika Kevin tidak menyukai kedekatan mereka berdua.
"Jalan," Kevin memberi perintah pada Frans untuk jalan kembali. Karena melihat kedekatan mereka berdua, hanya membuatnya semakin kesal.
Frans menatap Kevin dari spion depan , wajah Tuan Mudanya terlihat murung. Sepertinya Kevin sedang kesal, dan Frans berani bersumpah jika itu ada hubungannya dengan laki-laki yang bersama Viona tadi. Jika tau akan seperti ini, Frans pasti tidak akan memberitahu Kevin tentang keberadaan Viona di cafe. Frans jadi merasa amat sangat bersalah , dan posisinya tadi sebenarnya serba salah.
.
__ADS_1
.
Bersambung