Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Bunga Dan Coklat


__ADS_3

Jari-jari itu saling bertautan dan menggenggam dengan lembut. Kepala berhelaian coklat itu bersandar pada sebuah bahu lebar milik lelaki tampan yang duduk disebelahnya. Netra pengamatnya menatap langit malam dengan ukiran senyum tipis terpatri di bibir ranumnya yang tipis.


Sesekali dia menatap pria itu yang tampak serius memandang langit bertabur bintang. Bibir Kiss able itu mengukir senyum yang mampu membuat kaum hawa terpesona ketika melihatnya, senyum indah yang hanya dia pada sang dara yang duduk manis disampingnya.


Pandangan pria itu kemudian bergulir, membuat mata berbeda warna itu saling menatap dengan penuh cinta. "Kau belum mengantuk?" tanya lelaki itu pada wanita disampingnya


"Belum, apa Paman sudah mengantuk?" wanita itu yang pastinya adalah Viona malah balik bertanya. Lelaki itu 'Kevin' menggelengkan kepala. "Aku masih ingin menikmati pemandangan indah itu, Paman. Karena aku tidak yakin jika besok maupun lusa bisa melihatnya lagi." Ujar Viona yang sontak mengalihkan perhatian Kevin.


"Maksudmu apa kau berkata seperti itu?" tatapannya tajam dan mengintimidasi.


Viona menggelengkan kepala. "Bukan apa-apa. Ini tentang umur seseorang Paman, bahkan kita tidak tau apa yang akan terjadi pada kita satu menit ke depan, jangankan satu menit bahkan satu detik pun kita tidak tahu bagaimana nasib kita." Terang Viona.


"Jangan mengatakan hal konyol dan omong kosong seperti itu lagi, aku benar-benar tidak suka mendengarnya." Ucap Kevin datar.


Viona mengangguk. Dia menyesal menyinggung Kevin dengan ucapannya. Viona pun segera meminta maaf padanya. "Jangan marah lagi, Paman. Aku berjanji tidak akan mengatakan kalimat-kalimat seperti itu lagi, tapi Paman jangan marah lagi padaku." Pinta Viona memohon.


Kevin menggeleng. "Paman, tidak marah. Hanya saja Paman tidak suka mendengar ucapanmu." Jawab Kevin.


Viona kembali bersandar pada bahu lebar itu. Mereka kembali menikmati keindahan langit malam bertabur bintang. Viona berharap kebersamaannya dengan Kevin tidak cepat berakhir.


Tiba-tiba Viona melepaskan rangkulan Kevin kemudian bangkit dari duduknya, dia berpindah dan duduk dipangkuan Kevin dengan posisi mereka saling berhadapan. Kedua tangannya memeluk leher Kevin kemudian mendekatkan wajahnya. Selanjutnya bibir mereka bertemu dan saling melumatt.


Tanpa ampun Kevin melumatt bibir Viona dan semakin memperdalam ciumannya. Bibir mereka saling melumatt dengan panasnya , tau apa yang diinginakan oleh suaminya. Viona membuka mulutnya dan mengijinkan benda yang menggelayuti bibirnya untuk masuk lebih dalam.


Lidah Kevin berhasil menginvasi dalam


mulut Viona dan mengobrak-abriknya,


lidahnya mengajak lidah wanita itu untuk


menari bersama dan sesekali mereka saling


bertukar salliva di dalam mulut hangat Viona.


Permainan biibir panas mereka terus berlanjut. Kevin terus melumatt dan memagut bibir Viona tanpa ampun. Tangannya terus menggerayangi punggung Viona dan kepala mereka terus bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti insting.


Dan ciuman mereka berakhir ketika kevin merasakan pukulan pada dada Bidangnya. Rupanya Viona sudah tidak sanggup melanjutkan ciuman panas mereka. Wajahnya memerah persis seperti tomat matang.


"Sudah tidak sanggup eh?" cibir Kevin sambil menghapus sisa liur dibibir Viona.


"Paman, terlalu brutal." Keluh wanita itu sambil menekuk wajahnya.


Kevin terkekeh. "Bukan brutal, tapi kau saja yang belum terbiasa. Dan Paman akan mengajarimu setiap hari supaya kau bisa lebih mahir lagi," ucap Kevin dan dibalas anggukan antusias oleh Viona.


"Boleh boleh boleh. Memang itu yang aku harapkan," jawab Viona menimpali.


Kevin tersenyum geli melihat ekspresi menggemaskan Viona. Kemudian dia menarik wanita itu ke dalam pelukannya Dan memeluk wanita itu dengan erat, memberikan kehangatan di malam yang dingin ini. "Aku mencintaimu,Vi. Sangat-sangat mencintaimu," lirih Kevin berbisik, matanya tertutup rapat.


"Aku juga mencintai, Paman. Sangat-sangat mencintaimu, Paman." jawab Viona tak mau kalah, karena pada kenyataannya dia memang sangat mencintai Kevin. Cinta yang begitu besar dan tulus padanya.

__ADS_1


"Disini terlalu dingin, ayo sebaiknya kita masuk ke dalam." Ucapnya dan dibalas anggukan oleh Viona. Keduanya kemudian meninggalkan taman dan kembali ke dalam.


xxx


Pria itu terus mondar-mandir dengan gelisah, sudah lebih dari 12 jam sejak kepergiannya tetapi Marco belum juga kembali dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Paruh baya itu menjadi sangat cemas, dia khawatir Marco tertangkap oleh mereka dan di tahan di suatu tempat.


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


Suara ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Paruh baya itu menoleh dan mendapati seorang pria dalam balutan jas rapi menghampirinya.


"Tuan, Anda memanggil saya?" ucap pria itu.


"Tuan Muda, masih belum kembali sampai sekarang. Segera pergi dan lacak keberadaannya, aku akan memberi kalian waktu satu kali dua puluh empat jam untuk menemukannya." Ujar paruh baya itu pada pria di depannya.


Pria itu mengangguk paham. "Baik, Tuan."


Kedua tangannya terkepal kuat, dia pasti akan memberikan pelajaran pada Marco jika benar-benar tertangkap. Karena menurutnya Marco benar-benar bodoh dan tidak bisa diandalkan. Dan gawat jika Marco sampai buka suara, karena belum saatnya dirinya menunjukkan diri di depan mereka.


xxx


Puluhan buket bunga berdatangan ke kediaman Zhang. Semua bunga-bunga cantik itu diperuntukkan pada Viona, bukan hanya bunga tetapi ratusan coklat juga. Membuat halaman depan kediaman Zhang penuh dengan bunga dan coklat.


Frans pun segera melaporkannya pada Kevin. Semua pelayan sangat kewalahan menerima bunga dan coklat-coklat tersebut.


"Memangnya siapa yang mengirimnya?" tanya Kevin penasaran.


Tanpa sepatah kata pun. Kevin pergi ke halaman depan untuk menyudahi bunga dan coklat-coklat itu diturunkan dari mobil-mobil itu. Frans berjalan mengekor dibelakangnya. Sementara itu, Viona yang baru keluar kamar kebingungan melihat Kevin berjalan keluar dengan langkah terburu-buru.


Wanita itu segara menyusul Kevin dan Frans untuk melihat apa yang terjadi. Dan Setibanya di luar, fiona dibuat terkejut dengan puluhan buket bunga dan ratusan box coklat memenuhi teras rumahnya. Dia mendekati Kevin untuk bertanya siapa yang mengirim bunga dan coklat-coklat tersebut.


"Paman, siapa yang mengirim bunga dan coklat-coklat ini? Kenapa banyak sekali?" tanya Viona penasaran.


"Mantan suamimu, dia yang mengirim bunga dan coklat-coklat ini untukmu. Aku tidak tahu apa tujuannya, tapi yang jelas aku tidak suka dia mengotori rumah dengan coklat dan bunga-bunga ini." Tutur Kevin. Lalu pandangannya bergulir pada para kurir yang sibuk menurunkan bunga dan coklat coklat tersebut. "Tidak perlu diturunkan lagi, sebaiknya bawah pergi kembali bunga dan coklat-coklat ini. Bilang pada pengirimnya, jika Nona Viona menolak semua pemberiannya!!" ujar Kevin.


"Tapi, Tuan. Kami bisa dipecat jika membawa bunga dan coklat-coklat ini kembali. Kami pasti diminta untuk ganti rugi," ujar salah satu dari ketiga kurir tersebut.


"Ini uang ganti ruginya. Selebihnya ambil untuk kalian bertiga. Aku tidak mau tahu kalian mau apakan bunga dan coklat-coklat ini. Mau kalian buang, kalian bakar atau kembalikan pada pengirimnya. Itu bukan urusanku. Yang jelas, aku ingin semua sampah-sampah ini hilang dari rumah ini!!" terang Kevin.


Kevin tidak suka Viona mendapatkan barang dari pria lain, entah itu teman, sahabat apalagi mantan suaminya. Viona sekarang adalah miliknya, dan orang lain tidak boleh berusaha untuk memilikinya.


Bunga dan coklat-coklat itu pun kembali di masukkan ke dalam mobil. Kevin meminta orang-orangnya untuk membantu para kurir membereskan bunga dan coklat-coklat tersebut. Kemudian dia mengajak Viona untuk masuk ke dalam.


"Paman, ada apa dengan ekspresimu? Jangan bilang jika kau kesel dan cemburu karena aku mendapatkan banyak kiriman bunga dan coklat?" tebak Viona melihat wajah dingin Kevin.


"Hn,"


"Oh, ayolah Paman, jangan seperti ini. Lagipula siapa yang mengharapkannya? Aku juga tidak memintanya, dia sendiri yang memiliki inisiatif untuk mengirim bunga dan coklat-coklat itu kemari." Ujar Viona menuturkan.


Kevin menghentikan langkahnya membuat langkah Viona ikut terhenti juga. "Tetap saja itu menyebalkan. Kau adalah milikku dan orang lain tidak boleh memberikan perhatian lebih padamu!!" ujar Kevin sambil menatap langsung ke dalam iris hazel milik wanita itu.

__ADS_1


Viona tersenyum geli melihat ekspresi Kevin yang sedang kesal di depannya ini. Kemudian dia mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Kevin. "Paman, kau tidak perlu cemburu karena aku hanya milikmu. Hatiku terpaut pada hatimu dan perasaan kita saling terhubung. Jadi siapa yang bisa merebutku dari pelukanmu?" ucapnya sambil mengerakkan jari-jarinya di bibir Kevin.


Kevin menarik tengkuk Viona lalu mengecup singkat bibir ranumnya , setelah itu membawa Viona ke dalam pelukannya. "Memang tidak akan aku biarkan siapapun merebutmu dari pelukanku, bahkan sampai aku mati sekalipun, seseorang tidak boleh memilikimu!!" ujar Kevin berbisik.


Mafia Bucin, sepertinya itu adalah sebutan yang paling tepat untuk menggambarkan Kevin saat ini. Dia begitu protektif pada Viona, dia tidak mengijinkan siapapun mendekati apalagi mengganggu Viona. Karena Kevin pasti akan langsung turun tangan untuk mengatasinya. Bahkan Daniel sudah tidak berani datang untuk menemuk Viona lagi , karena dia tidak mau terus-terusan uji nyali ketika berhadapan dengan Kevin.


"Frans, perintahkan pelayan untuk mengantarkan sarapan ke ruang bawah tanah. Bagaimanapun juga kita tidak bisa membiarkan dia mati kelaparan disini." ucap Kevin.


"Baik, Tuan."


Kevin dan Viona melanjutkan langkahnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan untuk menyantap sarapannya. Sedari pagi perut Viona terus berbunyi dan minta untuk segera diisi.


"Oya , Paman. Rencananya kapan kau akan berangkat ke Dubai?" tanya Viona sambil menatap Kevin penasaran.


"Akhir pekan ini, apa Kau jadi ikut?" tanya Kevin.


Viona mengangguk. "Tentu saja jadi. Bukankah Aku sudah memberitahu Paman karena, jika Dubai adalah salah satu negara yang paling ingin aku datangi. Burj Khalifa, adalah salah satu tempat di dunia ini yang ingin aku kunjungi." Ujarnya menuturkan.


"Baiklah, nanti lagi saja kita membahasnya. Sebaiknya sekarang kita sarapan dulu sebelum makanan-makanan ini menjadi dingin." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Dan selanjutnya mereka berdua a menyantap sarapannya dengan tenang.


xxx


Aldo kebingungan ketika 3 mobil box berhenti di depan rumahnya. Beberapa kurir turun dari ketiga mobil tersebut keluarkan coklat dan bunga yang sebelumnya telah dikirim ke kediaman Viona. Membuat Aldo kebingungan dan bertanya-tanya, kenapa mereka malah membawa bunga dan coklat-coklat itu ke rumahnya.


"Apa-apaan ini, kenapa kalian malah mengantarkannya ke sini? Bukannya aku meminta kalian untuk mengantarkannya ke kediaman Zhang, ya?" tanya Aldo meminta penjelasan.


"Tuan Muda Zhang, menolak semua bunga dan coklat-coklat ini dan meminta kami mengembalikan pada pengirimnya." jelas salah satu dari ketiga kurir itu.


"Apa, ditolak? Berani sekali dia menolak bunga dan coklat yang aku kirimkan pada Viona. Ini tidak bisa dibiarkan, antar kembali bunga dan coklat-coklat ini kesana dan aku tidak mau mendengar alasan apapun!!" ucap Aldo menegaskan.


Namun para kurir itu menolaknya , mereka memaksa menurunkan bunga dan coklat-coklat itu di rumah Aldo. Bahkan mereka tidak berhenti meskipun Aldo meminta mereka untuk menghentikannya.


Nyonya Rossa keluar dan menghampiri Aldo, dia kebingungan melihat banyaknya bunga dan coklat di rumahnya. "Aldo, apa-apaan ini? Siapa yang mengirim bunga dan coklat-coklat ini kemari?" tanya Nyonya Rossa penasaran.


"Ini adalah bunga dan coklat yang aku kirimkan pada Viona, tapi ditolak olehnya. Padahal aku sudah mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk membeli coklat dan bunga-bunga ini!!" ujar Aldo.


Pupil mata Nyonya Rossa membulat sempurna. "Apa kau bilang? Aldo, apa kau sudah tidak waras?! Bagaimana bisa kau mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk membeli bunga dan coklat-coklat ini? Bukankah Mama sudah mengatakan padamu jika sampai kapanpun, Mama tidak akan pernah menerima kembali Viona di rumah ini!!"


"Tapi aku masih mencintai Viona, Ma. Dan aku benar-benar merasa kehilangan setelah dia tidak ada, aku berusaha untuk membujuknya kembali, supaya dia mau kembali padaku. Jadi Mama jangan mengacaukannya!!" ujar Aldo menegaskan.


Nyonya Rossa menggeleng. "Tidak, Aldo. Karena sampai kapanpun Mama tidak akan membiarkan wanita itu masuk kembali ke rumah ini apapun alasannya. Mama, masih sangat sakit hati padanya. Apa kau lupa bagaimana wanita itu memperlakukan kita seperti sampah, dia menghancurkan rumah yang seharusnya menjadi milik kita!!" tutur Nyonya Rossa panjang lebar.


Dia masih belum bisa melupakan kejadian hari itu, hari di mana Dia kehilangan segala-galanya karena ulah Viona. Viona menghancurkan rumah yang mereka tempati selama bertahun-tahun. Padahal sudah jelas jika rumah itu bukan rumah mereka, melainkan rumah milik Viona. Jadi wajar Viona menghancurkannya daripada rumah itu menjadi bahan perebutan.


"Sudah cukup, Ma. Semua sudah berlalu dan sepenuhnya bukan salah Viona, kita yang memaksa dia menghancurkan rumah itu. Jadi terima saja, lagipula Mama dan Amelia juga berperan penting dalam perceraianku dengan Viona. Jadi terima saja apapun konsekuensinya!!!" ujar Aldo menegaskan.


Aldo meninggalkan ibunya dan pergi begitu saja. Dia sudah tidak mau membahas apapun dengan ibunya. Sudah cukup dirinya dikendalikan oleh sang ibu selama ini. lagi pula dia sudah dewasa dan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, dengan siapa dia berjodoh nantinya bukan ibunya yang berhak menentukannya tapi Aldo sendiri.


xxx

__ADS_1


__ADS_2