Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Jerman


__ADS_3

Kekecewaan terlihat jelas di wajah Viona saat Kevin memberitahunya jika mereka tidak jadi berangkat ke Dubai malam ini. Penerbangan mereka terpaksa ditunda karena keadaan tidak memungkinkan mereka untuk berangkat, Kevin mencoba membujuk Viona supaya tidak ngambek dan kesal lagi.


"Jangan marah lagi, Sayang. Paman tahu kau kesal dan kecewa karena kita tidak jadi berangkat. Keadaan di sana sedang tidak baik-baik saja, itulah kenapa Paman menundanya sampai keadaan benar-benar aman dan terkendali." Ujar Kevin sambil menggenggam tangan Viona.


Bisa saja mereka tetap pergi, tetapi Kevin memikirkan keselamatan Viona. Akan sangat berbahaya jika mereka tetap memaksakan diri untuk pergi, demi keselamatan bersama Kevin mengambil jalan terbaik, yakni dengan menunda keberangkatan mereka.


"Paman, kau sudah mematahkan impianku untuk melihat Burj Khalifa. Padahal aku sudah bermimpi melihat gedung tertinggi itu," ucap Fiona dengan mata berkaca-kaca.


"Paman, mengerti bagaimana perasaanmu. Demi keselamatan kita bersama, makanya Paman menunda keberangkatan kita." Ujar Kevin. "Kita pergi ke tempat lain saja ya," Kevin mencoba membujuk Viona, sekaligus menebus rasa bersalahnya.


"Kemana?" tanya Viona.


"Jerman, bukankah kau ingin ke sana." Jawab Kevin.


"Lalu kapan kita akan pergi?" Viona bertanya sekali lagi.


"Malam ini juga, kita liburan ke sana."


Kedua mata Viona yang sebelumnya redup berbinar kembali setelah mendengar apa yang Kevin katakan. "Sungguh?" tanya Viona memastikan. Kevin menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Viona. Dia sudah membuatnya kecewa, dan Kevin tidak kau membuatnya bersedih juga. Dan selama satu Minggu dia akan meninggalkan pekerjaannya demi menemani Viona berlibur di Jerman.


Viona bangkit dari duduknya lalu berpindah kepangkuan Kevin. Wanita itu memiringkan kepalanya lalu meraup bibir Kiss able itu ke dalam bibirnya, sejauh ini Kevin membiarkan Viona menginvasi bibirnya sebelum akhirnya dia mengambil alih ciuman tersebut.


Kevin mulai mengambil alih ciuman itu. Dia memagut bibir mungil itu dengan penuh gairah, memiringkan kepala sang kekasih tercinta dan berusaha untuk mencari posisi yang nyaman untuk menyesap bibir tipis Viona.


Kedua nya saling mellumat bibiir satu sama lain, erangan yang lolos dari bibir mereka berdua terdengar di seluruh penjuru kamar yang suhu nya semakin memanas. Ciuman itu perlahan menuju cupiing telinga Viona, Kevin meniupkan nafas berat dengan sengaja agar membangkitkan gaiirah pada diri Viona.


"Ahhhh... Pa...Paman... Nhhhh," desahh Viona dengan badannya yang bergerak tidak nyaman dalam pangkuan Kevin, Ia merasakan gaiirahnya sudah berada diujung.


Ciuman Kevin kemudian turun menuju tengkuk, lalu leher membuat Viona mendongakkan kepalanya membuat akses ciuman pria bereyepacht itu semakin bebas mengeksplor leher jenjang nan putih mulus milik Viona. Meninggalkan jejak tanda kepemilikan di sana.


Mata kanan Kevin menatap mata Viona yang tertutup rapat. Wanita itu tampak begitu menikmati ciumannya, terbukti dari Viona yang begitu tenang meskipun berkali-kali dessahan keluar dari sela-sela bibirnya. Viona menikmati ciuman tersebut.


Dan Kevin baru menghampirinya saat merasakan pasokan udara di dadanya mulai menipis, sepertinya Viona juga sudah tidak sanggup melanjutkan ciuman tersebut.


"Kau ganti pakaianmu dulu, setelah ini kita berangkat ke bandara." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona. Kemudian Kevin melenggang meninggalkan kamar Viona.


Viona tidak jadi murung dan pundung. Tidak masalah tidak jadi pergi ke Dubai, yang penting Kevin sudah menebusnya dengan mengajaknya pergi berlibur ke Jerman. Jerman termasuk salah satu negara yang ingin dia datangi.

__ADS_1


xxx


Sebuah jet pribadi dengan model Airbus A380 mendarat mulus di landasan khusus bandar udara Berlin Tempelhof, Jerman. Beberapa pasang mata menatap pesawat tersebut dengan tatapan kagum sekaligus iri.


Kagum karena pesawat jet itu tampak hebat jika disandingkan dengan pesawat-pesawat lain di tempat itu. Iri karena mereka tidak tahu kapan bisa memiliki salah satu pesawat jet termahal saat ini. Pemiliknya pun pastilah bukan orang sembarangan.


Pintu pesawat itu terbuka perlahan sambil mengeluarkan raungan halus saat pintunya tergeser ke samping. Tidak lupa, sebuah tangga tinggi yang terbuat dari besi ditempelkan ke pintu pesawat itu untuk memudahkan penumpangnya turun dari pesawat.


Terlihat, seorang laki-laki tampan awal tigapuluh tahunan keluar dari pesawat tersebut. Dia menghentikan sejenak langkahnya lalu pandangannya menyapu ke segala penjuru arah. Setelah bertahun-tahun, akhirnya dia kembali menginjakkan kakinya di negara ini.


Pria itu tidak hanya sendiri. Di sampingnya, seorang wanita cantik berambut panjang memeluk lengannya dengan mesra. Sedangkan dibelakangnya seorang pria dalam balutan kemeja abu-abu gelap berjalan mengekor di belakang mereka berdua.


"Akhirnya sampai juga," ucap satu-satunya wanita diantara kedua pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Viona. Dia begitu kegirangan karena akhirnya menginjakkan kakinya di negara yang ingin ia kunjungi sejak lama, Jerman.


Kevin menoleh dan menatap wanita itu. "Kau lelah?" tanya Kevin. Viona menggeleng, meyakinkan pada Kevin jika ia tidak merasa lelah sama sekali. Rasa lelahnya sudah terbayar lunas setelah mendarat di bandara ini. "Sebaiknya kita cari sarapan dulu. Kalian berdua pasti laper, baru setelah ini pergi ke Villa untuk istirahat." Kevin menatap Viona dan Frans bergantian.


"Ya, kebetulan aku sudah kelaparan. Ngomong-ngomong Paman memiliki Villa disini?" Viona menatap Kevin tak percaya.


"Gege, membelinya satu bulan yang lalu setelah Nunna keluar dari rumah sakit. Saat Nunna mengatakan ingin berlibur ke Jerman, Kevin Ge memintaku untuk mencari Villa yang bagus dan nyaman." Sahut Frans menjelaskan.


"Jangan cengeng, Paman hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Sudah jangan menangis lagi , jemputan kita sudah tiba." Ucap Kevin melihat sebuah Limousine hitam melaju kearah mereka.


"Limousine itu menjemput kita?" Viona menatap Kevin tak percaya. Pria itu menganggukkan kepala.


"Yes, sudah lama aku ingin menaikinya dan sekarang jadi kenyataan." Seru Frans dengan girang, membuat perhatian mereka berdua teralihkan padanya.


Viona meninggalkan Kevin dan menghampiri Frans lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil mewah tersebut. Sedangkan Kevin hanya menggelengkan kepala melihat tingkah mereka berdua, detik berikutnya sudut bibirnya tertarik keatas membentuk lengkungan indah di wajah tampannya.


Kemudian mereka bertiga pun segera memasuki Limousine hitam yang terparkir di dekat pesawat tersebut. Mobil yang akan menemani mereka selama di Jerman.


.


.


Mereka bertiga memasuki sebuah restoran mewah.Setelah melakukan perjalanan jauh yang sangat-sangat melelahkan, perut mereka terasa keroncongan dan minta untuk segara diisi. Viona dan Frans terutama, mereka yang memang hobi makan tersiksa dengan perutnya yang harus keroncongan.


Seorang pelayan mengantarkan mereka ke ruang VIP seperti permintaan Kevin, Kevin ingin privasi jadi dia memilih ruangan yang tertutup.

__ADS_1


Tidak harus menunggu lama, semua pesanan mereka datang dengan cepat. Lebih dari enam menu yang mereka pesan dan semua adalah makanan dengan harga fantastis. Siapa lagi yang memesannya jika bukan Viona.


"Nanti dulu!!" Viona memukul tangan Frans yang hendak mengambil makanan di depannya.


"Nunna, apa yang kau lakukan? Kenapa kau malah memukul tanganku?" keluh Frans sambil menekuk mukanya.


"Diamlah, aku ingin mengambil foto dulu jadi bersabarlah." Ucap Viona menimpali.


Frans menghela napas. Apa semua wanita seperti Viona, yang hobinya mengabadikan makanan di restoran-restoran mewah sebelum menyantapnya lalu mengirimnya ke Instagram. Frans benar-benar tidak mengerti wanita. Mereka kenapa suka sekali melakukan hal-hal semacam itu yang menurutnya sangat-sangat ribet.


"Nunna, sudah belum? Aku lapar," rengek Frans.


"Iya iya, sebentar lagi. Jangan ribet kenapa, dasar cerewet!!"


Dan sementara itu. Kevin hanya bisa mendengus dan menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua. Frans sudah mulai terbuka dan dia tidak Secanggang sebelumnya, karena memang begitu seharusnya apalagi sekarang mereka bertiga adalah keluarga. Bukan hanya Viona yang perlu Kevin jaga, tetapi Frans juga.


"Kalian berdua hentikan!! Kau juga, Vi. Makanan itu untuk dimakan bukan untuk dipamerkan!!" ujar Kevin menengahi perdebatan mereka berdua.


Viona menoleh dan menatap Kevin dengan sebal. "Ck, kalian para pria benar-benar tidak mengerti. Bagi Wanita, macam ini sangatlah lumrah dan wajib dilakukan ketika datang ke restoran mewah. Jadi kalian berdua sebaiknya diam saja," ujar Viona.


Dia menatap Kevin dan Frans bergantian. Mana mungkin Viona mau melewatkan momen selangkah ini, dia akan memamerkan pada teman-temannya di dunia maya jika sekarang dirinya berada di restoran mewah di Jerman.


Lagi-lagi kevin hanya mendengus dan menggelengkan kepala melihat tingkah Viona, bahkan jawabannya membuatnya geli sendiri. Benar apa kata Frans, kenapa wanita suka sekali ribet yang menurutnya tidak penting sama sekali.


"Ge," rengek Frans sambil menatap Kevin dengan tatapan memohon.


"Sebaiknya kita tunggu saja, percuma saja berdebat dengannya, kita tidak akan menang." jawab Kevin.


Frans memanyunkan bibirnya. Dia menggigit sendoknya dengan tatapan memelas. "Nunna, berapa lama lagi?" ucap Frans merengek.


"Ini sudah selesai. Baiklah, kalian berdua sudah bisa makan sekarang." Ucapnya sambil tersenyum lebar.


Tanpa menghiraukan Kevin. Frans langsung menyantap makanan-makanan pesanannya dengan lahap. Cacing-cacing di dalam perutnya sudah meronta-ronta minta ingin segara diisi. Maklum saja, mereka tidak makan apa-apa selama penerbangan tadi. Semua makanan ringan yang telah dipersiapkan oleh Viona malah tertinggal. Karena hal itu mereka bertiga harus rela menahan lapar semalaman.


xxx


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2