
Hari demi hari telah berlalu. Tidak terasa sudah satu Minggu Tuan Lu meninggalkan dunia ini dan orang-orang yang menyayanginya. Frans , Hwan dan Kevin sudah bisa merelakan kepergiannya meskipun belum benar-benar rela. Tapi setidaknya mereka tidak terlalu bersedih seperti sebelumnya.
Satu persatu menempati meja makan. Setelah kepergian Tuan Lu, seluruh tanggung jawab perusahaan diambil alih oleh Hwan dan Frans. Sedangkan Kevin tidak ingin terlibat sama sekali karena dia sudah memiliki tanggung jawab lain.
"Pagi, Ge." Sapa Frans pada Hwan. "Di mana Kevin Ge dan Vio Nunna?" tanya Frans saat tidak melihat batang hidung mereka berdua.
"Mereka sudah pergi dari tadi. Viona, mengajak untuk sarapan di luar." Jawab Hwan.
Frans menghela napas. "Pasti gara-gara pelayan baru itu itu lagi. Sejak kedatangannya, Vio Nunna jadi tidak betah di rumah. Dia lebih sering mengajak Kevin Ge untuk sarapan, makan siang bahkan makan malam di luar. Dia sangat kecentilan pada Kevin Gege, pasti itu yang membuatnya tidak betah di rumah." Ujar Frans.
Sebenarnya bukan Viona saja yang tidak menyukainya, tetapi Frans juga. Menurutnya denada sangat kecentilan saat berhadapan dengan Kevin, pasti dia akan melakukan apapun untuk menarik perhatiannya. Padahal sudah jelas jika Kevin tidak pernah tertarik padanya, tapi dasar Denada nya saja kecentilan, sudah di tolak tegas tapi tetap saja tidak tahu diri.
"Hus, jaga bicaramu, Frans. Kau jangan bicara sembarangan. Bagaimana jika dia sampai mendengar ucapan mu itu, bisa-bisa dia tersinggung sakit hati padamu." Ucap Hwan.
"Aku tidak peduli, lagipula yang aku katakan adalah fakta. Aku tidak akan bicara seperti ini jika tidak ada faktanya. Aku sangat heran pada orang-orang sepertinya, kenapa harus menyukai suami orang lain sedangkan perjaka Ting-Ting masih banyak, kita salah satunya. Apa menurut mereka suami orang lebih menggoda dari yang masih perjaka?" ujar Frans menuturkan.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan wanita seperti Denada, tipe-tipe seperti itu memang lebih menyukai suami orang lain dibandingkan yang masih sendiri dan belum berpasangan.
Lagipula di dunia ini tidak kehabisan stok pria-pria tampan yang jauh lebih menggoda dibandingkan dengan suami orang, bahkan banyak duda muda dan kaya yang jauh lebih wah dari kakaknya. Dan orang-orang seperti Denada memiliki otak yang bermasalah, buktinya dia lebih tertarik pada suami orang dibandingkan pada pria yang belum berpasangan.
"Dia datang, sebaiknya jangan bicara sembarangan lagi." Pinta Hwan setengah berbisik.
Frans menoleh kebelakang dan mendapati Denada datang bersama beberapa pelayan lainnya. "Kenapa aku harus jaga bicara? Yang aku katakan adalah fakta, dan AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN ORANG KETIGA MENGGANGGU RUMAH TANGGA KEVIN GEGE DAN VIO NUNNA!! SIAPA PUN YANG BERANI HARUS BERHADAPAN LANGSUNG DENGANKU!!" ujar Frans. Frans memang sengaja meninggikan suaranya supaya terdengar oleh Denada.
Denada tidak memberikan respon apapun meskipun dia sangat-sangat sadar jika ucapan itu di tunjukkan pada dirinya. Dia tidak mau terlalu ambil pusing. Memangnya siapa Frans sampai-sampai bisa mengancamnya. Jangankan Frans yang hanya sebatas adik saja, Viona yang istrinya pun akan dia lawan demi keberhasilan rencananya.
Untuk sekarang Denada membiarkannya, tapi dibalik kediamannya dia sudah menyiapkan sebuah rencana yang sangat mengerti kan untuk membalas laki-laki tersebut. Termasuk rencana untuk menyingkirkan Viona dari sisi Kevin untuk selama-lamanya.
"Tersenyumlah sepuas-puasnya. Karena tidak lama lagi senyummu itu akan berubah menjadi air mata penyesalan. Aku akan membuatmu menyesal karena sudah berani mencari masalah dan gara-gara denganku!!" ujar Denada membatin.
__ADS_1
Dia menatap Frans dengan tatapan tajam dan berbahaya. Kemarahan terlihat jelas dari sepasang mutiara hitamnya yang mengintimidasi. Cepat atau lambat Frans pasti akan merasakan akibat dari perbuatannya tersebut.
Denada adalah wanita yang berbahaya. Dia tidak akan segan-segan menyingkirkan siapapun yang berani menghalangi jalannya. Bahkan dia sampai menghabisi ayahnya sendiri karena berani menentang keputusannya.
xxx
Kevin dan Viona sedang menikmati sarapan mewahnya di sebuah restoran bintang 5 yang terletak di jantung kota Beijing, China. Wanita itu menolak untuk sarapan di rumah karena keberadaan Denada, kelakuannya yang selalu berusaha untuk cari muka di depan Kevin membuat Viona geram dan kesal setengah mati.
Hampir setiap hari Denada melakukan tindakan yang membuat Viona merasa muak. Bahkan sekarang dia sangat berani, meskipun sudah mendapatkan peringatan keras, namun Denada tetap suka memakai pakaian yang kurang sopan terkesan seksi.
"Ge, kenapa kau tidak pecat saja wanita itu?! Aku benar-benar muak melihat mukanya yang selalu cari perhatian padamu!!" Viona mengakhiri keheningan di antara mereka berdua. Dia memprotes Kevin karena tidak kunjung memecat Denada dan mengusirnya keluar dari kediaman Lu.
"Kita bicarakan dulu masalah ini dengan Hwan san Frans, aku tidak bisa asal mengambil keputusan tanpa merundingkannya dulu dengan mereka," ujar Kevin menjawab ucapan Viona.
"Kenapa harus dirundingkan segala, sih? Bukankah kau adalah cucu tertua di keluarga Lu, seharusnya kau yang berhak mengambil keputusan!!" jawab Viona.
Kevin menghela napas. "Aku memang cucu sulungnya, tapi sebelum aku masuk ke keluarga Lu, Kakek sudah mengangkat Hwan sebagai cucunya, dan usianya lebih tua dariku ataupun Frans. Kau mengerti kan maksudku tanpa harus aku perjelas secara rinci." Tutur Kevin.
"Ya, aku paham. Tapi, Ge... Sebaiknya usir dia secepatnya. Dan jika kalian bertiga tidak bisa melakukannya, biar aku sendiri yang turun tangan untuk mengusir ular betina itu!!" ujar Viona sambil menatap Kevin dengan serius. Dia bersungguh-sungguh dalam ucapannya.
Kevin tidak memberikan tanggapan apapun pada ucapan Viona. Namun Kevin tahu, jika Viona sudah berencana, maka itu artinya tidak boleh ada yang menentangnya, karena sekalipun di tentang dia juga akan menerobos tentangan tersebut. Kevin lebih memahami dan mengenal Viona lebih baik dari siapapun, sifat baik dan buruknya hanya Kevin yang tahu.
"Ge, kenapa seperti tidak suka dengan rencanaku yang ingin mengusirnya dari rumah, jangan-jangan kau sudah tertarik pada wanita itu?!" tebak Viona. Dia asal menebak saja karena Kevin tidak begitu menggubris ketika dia sedang membahas tentang Denada.
"Jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku tertarik pada wanita seperti itu, dan asal kau tahu saja aku adalah pria dengan satu wanita!!" jawab Kevin menegaskan.
Dia benar-benar tidak terima karena di tuduh sembarangan oleh Viona. Alasan Kevin tidak menggubris ucapan Viona yang membahas tentang Denada karena dia terlalu malas membicarakan tentangnya. Viona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dia hanya asal bicara tapi Kevin menanggapinya dengan begitu serius.
"Kenapa kau serius sekali, Ge. Padahal aku hanya bercanda. Lagipula mana mungkin aku membiarkanmu jatuh hati apalagi sampai tertarik padanya, dan jika kau berani macam-macam dan mengkhianati pernikahan kita, aku pastikan kedua telor miliknya pecah dan tidak berfungsi lagi!!" ujar Viona memberi peringatan.
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi dan aku berani menjaminnya!!" jawab Kevin menimpali.
Viona tersenyum lebar. Dia tahu Kevin tidak mungkin mengecewakannya. Lagipula wanita yang Kevin cintai adalah dirinya, dan dia adalah satu-satunya. Kevin saja menolak mantan kekasihnya yang tiba-tiba kembali demi dirinya, lalu mana mungkin dia membiarkan orang baru masuk dan menghancurkan hubungan merek!!
"Oya, Ge. Setelah ini kita akan pergi ke mana lagi? Aku bosan, bagaimana kalau kita jalan-jalan dan berbelanja. Sudah lama kau tidak mengajakku berbelanja, dan membelikan aku barang-barang mewah. Bagaimana, kau setuju kan?" Viona menatap Kevin dengan penuh harap. Dia benar-benar berharap Kevin menyetujui ajakannya.
Kevin menggeleng. "Tidak!!" dan menjawab dengan tegas. Dia masih trauma dengan kejadian beberapa bulan yang lalu, di mana dirinya disiksa habis-habisan oleh Viona. Wanita itu mengajaknya berkeliling dan membeli begitu banyak barang, bukan uang yang menjadi permasalahannya, tetapi tenaganya.
Mimik muka Viona berubah seketika. "Kenapa?" dia menatap Kevin dengan raut sedih.
"Jika kau ingin pergi berbelanja, sebaiknya pergi sendiri saja, aku benar-benar masih trauma dengan apa yang kau lakukan padaku hari itu. Dan tidak lagi-lagi menemanimu berbelanja!!" ujar Kevin menegaskan.
Tawa Viona pecah seketika setelah mendengar jawaban Kevin. Dia tidak menduga itu adalah alasannya menolak ajakannya.
"Ge, jadi kau masih trauma, ya? Aku berjanji, kali ini tidak akan menyiksamu lagi. Aku hanya ingin membeli satu tas, satu pasang sepatu dan beberapa helai dress, cuma itu saja. Kau tidak perlu membantuku membawakannya kau hanya cukup menemaniku berkeliling." Ucap Viona.
"Apapun alasannya Aku tidak akan pergi denganmu!!" jawab Kevin menegaskan.
Viona menghilang nafas berat. "Tidak masalah, kalau kau tidak mau pergi aku bisa mengajak orang lain untuk pergi denganku. Lagipula aku ini cantik dan menarik jadi tidak mungkin ada yang berani menolak ku," Viona memberikan sedikit ancamannya supaya Kevin mau pergi menemaninya. Dan ancaman itu adalah ancaman paling ampuh untuk membuatnya berubah pikiran.
"Jangan macam-macam kau, Viona!! Ya, sudah ayo pergi."
Senyum di bibir Viona mengembang seketika. Dia tahu jika Kevin tidak mungkin menolak ajakannya, lagipula Kevin sangat mencintainya jadi mana mungkin dia rela istrinya pergi dengan pria lain. Yang ada nyawa orang itu bisa-bisa melayang di tangannya.
"Nah, begitu dong. Kenapa tidak dari tadi, dasar menyebalkan!!" Viona menjulurkan lidahnya pada Kevin. Dia pergi duluan diikuti Kevin yang berjalan mengekor di belakangnya.
Dan sebelum pergi, tidak lupa Kevin meninggalkan beberapa lembar uang untuk membayar semua pesanan mereka. Viona sudah tidak sabar untuk buru-buru pergi ke pusat perbelanjaan. Karena sudah lama dia tidak pergi berbelanja apalagi menguras isi dompet Kevin. Lagipula jika bukan dia yang menghabiskan uang-uang Kevin, lalu siapa lagi?!
xxx
__ADS_1
Bersambung