Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Apa Kau Anak Itu?


__ADS_3

Aiden menghentikan mobilnya di sungai Han. Luna menolak untuk pulang. Saat ini mereka berdua sedang duduk bersebalahan di bangkit taman dengan ditemani keheningan.


Luna menatap Aiden yang duduk di sampingnya tanpa berkedip sama sekali, gadis itu mengerutkan dahinya melihat ekspresi wajah sang kakak yang terlihat berbeda dari sebelumnya.


Tatapannya tidak setajam tadi, sorot matanya meneduh namun menyiratkan penyesalan yang sangat dalam. Mungkinkah hal itu berhubungan dengan yang terjadi tadi? Luna terus bertanya-tanya.


"Ge, Kau baik-baik saja? Kenapa kau terus saja diam dan tidak mengatakan apa-apa?" Aiden menoleh dan membalas tatapan Luna yang teduh dan menenangkan.


Hatinya seakan tersihir oleh sorot matanya, amarah yang sempat menguasai dirinya perlahan memudar karena tatapan mata Luna yang teduh. "Ge, aku memintamu berbicara, bukan menatapku." Gadis itu menggerakkan tangannya di depan wajah Aiden


Aiden pun segera tersadar dan kemudian menatap Luna datar. "Sudah larut, sebaiknya kita pulang." Aiden bangkit dari duduknya, nada bicaranya begitu dingin begitu pun dengan tatapan yang dia tunjukkan.


Huffttt .. !! ..


Gadis itu mendengus berat, dengan terpaksa Ia pun bangkit dari duduknya dan segera mengejar Aiden yang lebih dulu meninggalkannya.


"Dasar tidak memiliki perasaan, setelah membuatku hampir saja mati karena serangan jantung, sekarang kau malah bersikap dingin padaku dan meninggalkanku begitu saja. Ge, tunggu aku!!" teriak Luna, dia bergegas mengejar Aiden yang berjalan lebih dulu.


Gadis itu tersentak kaget karena Aiden tiba-tiba saja berhenti dan membuat Luna ikut berhenti juga. "Ge, Ada apa?" Tanya Luna, pria itu melirik gadis di sebelahnya itu dari ekor matanya.


Aiden tidak langsung menjawab, Ia seperti sedang mencemaskan sesuatu. Diam-diam Aiden mengambil senjata yang terselip di pinggangnya, dia merasakan ada pergerakan mencurigakan di sekitar tempat itu.


Matanya membulat sempurna melihat ada sebuah pistol yang mengarah pada Luna.


Dorrr...


Aiden langsung menyambar tubuh Luna sebelum orang itu melepaskan tembakannya, tepat sesaat tubuh mereka terhempas ke tanah. Suara tembakan terdengar, jika saja Aiden lengah 1 detik saja. Mungkin saja nyawa Luna sudah melayang saat itu juga.


Masih dalam posisinya, Aiden mengarahkan pistolnya pada sumber tembakan itu berasal dan...


Duarrrr .. !! ..


"Aahhh.."


Terdengar suara geraman orang kesakitan, Aiden segera bangkit dari posisinya kemudian menghampiri orang itu yang belum sepenuhnya mati. Aiden menarik kasar kemeja yang dia kenakan tanpa menghiraukan kondisinya yang setengah sekarat.


"Katakan siapa yang menyuruhmu untuk membunuh gadis itu?" Tanyanya tanpa basa basi.


"Wa..Wanita bernama Maya Kim. Dialah yang menyuruhku." Aiden mengerutkan dahinya, Ia sama sekali tidak mengenal siapa orang yang pria itu maksud sampai Luna datang dan berdiri di samping Aiden.


"Dia adalah perempuan yang kita temui di cafe tadi. Sepertinya dia dendam padaku karena berpikir aku sudah merebut kekasihnya, padahal tidak sama sekali." Ujarnya.


"Kau yakin itu adalah perbuatan perempuan itu?" Aiden menoleh, dan menatap Luna dengan tatapan memastikan.


Gadis itu mengangguk tipis. "Sangat, aku sangat yakin dialah orangnya." Balasnya.


"Baiklah. Kalau begitu ayo pulang," Aiden beranjak dari sisi Luna dan berlalu begitu saja, namun langkahnya harus terhenti karena cengkraman lembut pada pergelangan tangannya.


Aiden menoleh dan menatap dingin orang itu yang pastinya adalah Luna. "Ge, Apakah itu bekas luka?" Luna menunjuk bekas luka memanjang yang ada di mata kiri Aiden,


Bekas luka di mata kirinya yang tampak terpisah ketika pria itu membuka matanya dan menyatu saat mata Aiden tertutup. Luna tidak pernah tahu sebelumnya jika sang kakak memiliki bekas Luka seperti itu di matanya. Dan hal tersebut mengingatkan Luna pada sesuatu.


Dengan cepat Aiden menutup matanya menggunakan tangannya "Bukan." Balasnya dingin. "Kenapa kau ingin mengetahuinya?" Sambungnya.


Luna diam, gadis itu tidak memberikan jawaban apa-apa. Wajahnya menunduk dan menatap heels yang membalut kakinya "Kenapa diam? Memangnya apa alasanmu ingin mengetahui ini sebuah bekas luka atau bukan?" Luna mendongak setelah mendengar pertanyaan Aiden.


"Aku~"


"Sudahlah, ini sudah terlalu larut. Tidak baik seorang gadis berada di luar dalam waktu selarut ini, sebaiknya kita pulang sekarang." Ujar Aiden menyela kalimat Luna yang masih membeku di tempatnya tanpa beranjak sedikit pun dari sana. Sementara Aiden sudah semakin menjauh.


Sikap Aiden tiba-tiba sangat dingin pada Luna tanpa dia tahu apa kesalahannya. Karena Luna merasa tidak melakukan kesalahan apapun padanya.


"Ge, aku hanya ingin memastikan kau yang menolongku hari itu atau bukan!!" Teriak Luna dengan sangat lantang.


Aiden menghentikan langkahnya setelah mendengar seruan keras Luna, langit yang awalnya begitu bersahabat tiba-tiba saja menjadi gelap. Tak berselang lama tetesan-tetesan cairan tak berwarna turun dengan derasnya yang langsung mengguyur tubuh Luna maupun Aiden.


Pria itu kemudian berbalik badan dan menatap Luna yang masih bergeming dari tempatnya berada. Dengan langkah cepat, Aiden menghampiri Luna dan...


CHUUU .. !! ..


Dia meraih tengkuknya dan mendaratkan satu ciuman pada bibir ranum tipisnya. Mata Luna terbelalak karena terkejut dengan apa yang Aiden lakukan, gadis itu tidak memberikan respon apa-apa. Ia masih sangat terkejut dengan ciuman tiba-tiba itu.

__ADS_1


Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka berciuman. Namun itu cukup untuk membuat gadis itu terkena serangan jantung dadakan. Setelah beberapa saat, Aiden mengakhiri ciuman itu. Matanya mengunci mata Luna yang juga menatap padanya.


"Kita pulang." Ucapnya, gadis itu mengangguk tipis.


" Baiklah."


.


.


Malam semakin larut, namun Luna masih tetap terjaga. Gadis itu duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk lututnya. Rasa penasaran masih menghinggapi perasaan Luna, Ia penasaran apakah Aiden adalah orang yang sama yang dulu pernah melindunginya ketika kedua matanya nyaris buta.


Luna pernah mengalami sebuah insiden ketika masih anak-anak dulu yang membuat kedua matanya bermasalah sehingga dia tidak bisa melihat dengan sempurna.


Meskipun sudah mengenal Aiden cukup lama, bahkan sejak mereka masih kecil. Namun ini pertama kalinya Ia melihat luka itu, luka yang selama ini Aiden tutupi dengan sempurna tanpa ada seorang pun yang tau jika Ia memiliki bekas luka itu.


"Luna, kenapa belum tidur? Boleh Papa masuk?" Perhatian Luna sedikit teralihkan, gadis itu menoleh dan mendapati sang ayah berdiri di ambang pintu.


"Tentu saja, masuklah Pa." Pintanya, dengan senyum palsu tersungging di wajah cantiknya.


"Kenapa belum tidur sayang? Sudah selarut ini, apa yang sedang kau pikirkan?" Deen Williams mengusap kepala Luna dengan penuh sayang. "Apa ada hubungannya dengan sikap Ibumu hari itu?" Sambung Tuan Williams.


Luna menggeleng. "Lantas?" Luna menundukkan wajahnya dan tidak berminat menjawab pertanyaan sang ayah. "Baiklah jika kau tidak ingin bercerita, Papa tidak akan memaksa. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur sekarang." Tuan Williams mencium singkat pucuk kepala Luna dan berlalu begitu saja.


Luna menghela nafas panjang, gadis itu mendongak dan menatap langit-langit kamarnya. Ia masih penasaran dengan bekas luka yang ada di mata kiri kakaknya, luka itu mengingatkan Luna pada seorang anak laki-laki yang dulu pernah menyelamatkannya.


FLASHBACK :


Seorang gadis kecil menangis ketakutan karena di ganggu oleh beberapa anak laki-laki.


Anak-anak itu tidak hanya mengganggunya, namun juga mencoba mellecehkannya. Tubuh gadis kecil itu terpojok pada tembok dengan kedua tangan di pegang oleh 2 anak laki-laki yang berbeda. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena matanya yang bermasalah.


"Lepaskan aku." Pinta gadis kecil itu dengan suara parau nya.


"Kau terlalu cantik untuk di lepaskan, sayang sekali. Berikan satu ciuman untukku dan teman-temanku."


"Biadab, kalian masih anak-anak tapi kenapa kelakuan kalian seperti binatang." Teriak gadis kecil itu yang pastinya adalah Luna.


Luna kecil terus saja meronta dan berusaha melepaskan diri dari anak-anak itu, namun semakin Ia mencoba. Usahanya semakin terasa sia-sia saja karena tenaganya kalah kuat dari tenaga mereka.


"Tolonggg .. Tolonggg .. Tolonggg ...Gege, kalian semua di mana? Tolong aku..." Luna berteriak histeris dengan air mata yang terus menetes di wajah cantiknya.


Luna berharap ketiga kakaknya akan datang menyelamatkannya, namun mereka tetap tidak datang meskipun dia sudah berkali-kali memanggil mereka, sampai muncul seorang anak laki-laki dan berteriak meminta anak-anak lelaki itu untuk melepaskan gadis kecil tersebut.


"Hanya pengecut yang beraninya sama anak gadis." Teriaknya lantang. Pupil mata Luna membulat sempurna.


"Sean Gege?" gumamnya ragu. Dia tidak yakin itu adalah kakak ketiganya karena setahu Luna dia sedang di rumah Kakek mereka.


Semua yang ada di sana menoleh pada sumber suara termasuk gadis kecil itu. Dua di antara 5 anak laki-laki itu menghampiri anak laki-laki yang baru saja berteriak pada mereka, smrik tipis terlukis di wajah kedua anak laki-laki itu melihat postur anak laki-laki itu yang lebih kecil darinya.


"Ada apa? Mau jadi jagoan di sini?"


"Lepaskan gadis itu." Pinta anak itu menuntut.


"Kurang ajar, habisi anak itu." Mata gadis kecil itu terbelalak mendengar teriakan itu. Dia ketakutan ketika tahu anak yang mencoba menyelamatkannya di keroyok oleh 4 anak sekaligus.


"Hentikan!!" Jerit gadis kecil itu histeris "Jangan memukulnya lagi, aku mohon." Lanjutnya dengan air mata yang semakin deras.


Gadis kecil itu mengumpulkan semua keberaniannya untuk melawan, dengan sekuat tenaga Ia menendang selakang anak itu membuat dia berteriak kesakitan dan otomatis cengkraman itu terlepas.


Situasi itu segera ia manfaatkan untuk melepaskan diri, dengan pandangan yang teramat sangat buram, Luna kecil menyapukan pandangannya dan mencoba untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk menghentikan kebrutalan anak-anak itu. Dia berdoa semoga kali ini Tuhan berpihak padanya.


Sampai Ia tidak sengaja menginjak sebuah balok kayu yang tergeletak di tanah, tanpa berfikir panjang ia langsung mengambil balok itu yang kemudian Ia hantam kan pada anak-nak itu secara bergantian dan berulang-ulang. Lagi-lagi dia menggunakan instingnya.


"Ahh sakit." Membuat anak-anak itu berteriak kesakitan dan akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.


Luna kecil membuang balok kayu yang ada di tangannya dan segera menghampiri anak laki-laki yang mencoba menyelamatkannya. Dia meraba wajahnya, samar-samar dia melihat sisi wajah anak laki-laki itu berlumuran darah.


"Sepertinya kau terluka parah dan jika aku tidak salah mata kirimu berdarah." Gadis kecil itu mengambil sapu tangan yang ada di saku pakaiannya dan mengarahkan pada mata kiri anak laki-laki itu. Mungkin itu bisa membantu mengurangi pendarahannya.


Ada luka memanjang di sana, tanpa babibu. Anak itu melepaskan pita yang mengikat rambutnya dan mengikatkan pada mata kiri anak itu. Lagi-lagi dengan meraba-raba dan bantuan anak laki-laki itu pastinya.

__ADS_1


"Ini tidak akan menyembuhkan, tapi setidaknya akan menghentikan pendarahannya." Ucap gadis kecil itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya anak itu memastikan, gadis manis itu tersenyum tipis dan menggeleng.


"Aku baik-baik saja. Kenapa suaramu mirip dengan kakak ketiga ku? Tapi aku rasa kau bukan dia, karena saat ini dia berada di rumah nenek dan kakek kami. Ngomong-ngomong terimakasih karena sudah menyelamatkanku. Aku Luna, kau siapa?" Luna mencoba mengajaknya berkenalan.


"Sebaiknya aku antar kau pulang." Anak laki-laki itu membungkuk di depan Luna kecil lalu meminta dia naik ke punggungnya. Selanjutnya dia mengantar gadis kecil itu pulang ke rumahnya.


FLASHBACK END:


Luna merebahkan tubuhnya tanpa dengan pandangan lurus ke atas, dia menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu menutup matanya dan menghela napas. Entah kenapa dia sangat yakin jika orang itu adalah Aiden.


Tapi jika memang dia lalu kenapa Aiden tidak pernah mengakuinya dan mengatakan jika anak laki-laki yang menolongnya saat itu menang dia.


"Ge, lama-lama kau membuatku gila." Serunya frustasi.


Tidak ingin semakin terlarut dalam pikirannya tentang sang kakak yang selalu mengganggu pikirannya. Luna mematikan lampu yang ada di atas meja kecil di samping kanannya dan mulai memejamkan matanya, akan lebih baik jika Ia tidur sekarang.


xxx


Setelah mengantarkan Luna pulang ke rumah papa mereka, Aiden memutuskan untuk kembali ke rumah pribadinya. Rumah yang dia tempati bersama teman dan anak buahnya.


Kedatangan Aiden di sambut oleh Logan. Dia tersenyum bodoh seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat kedatangan Aiden.


"Hyung, kau sudah pulang?" Tanyanya.


"Dasar anak Ayam, jelas-jelas Bos sudah ada di rumah. Pastilah dia sudah pulang." Sahut Tao menyambung, sontak Logan menoleh dan menatap Tao kesal.


"Memangnya siapa yang berbicara padamu Panda jelek." Desisnya tajam.


"Dari mana saja kau tadi? Di saat yang lain sibuk dengan para pembuat obat itu yang tiba-tiba datang menyerang, kenapa kau malah menghilang?" Tanya Aiden to the poin.


"Hyung, kau kan tau sendiri kalau aku tidak suka keributan, jadi aku memilih untuk tidak ikut andil dan belajar di dalam." tutur Logan menjelaskan.


"Bohong dia, Hyung." Pekik Kai yang sibuk memainkan ponselnya.


"Apa maksudmu Hyung?" Tanya Logan cepat.


"Jelas-jelas kau tadi sedang nonton kartun , pakai alasan belajar lagi." Sahut Tao menimpali.


"YAAKKK!! SIAPA YANG NONTON KARTUN? KAU JANGAN MENGADA-ADA DEH," Pekik Logan. Dia tidak terima di tuduh oleh Tao dan Kai yang begitu kompak memojokkan dirinya.


" Kalau kau tidak percaya, aku ada buktinya." Tao menunjukkan video di ponselnya pada Logan sebelum menyerahkannya pada Aiden.


Logan menelan saliva nya sedikit bersusah layah, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya. Ia semakin mengkerut melihat tatapan mematikan Aiden.


Tanpa sepengetahuan siapa pun, Tao menaruh ponselnya yang dalam keadaan menyala di samping tv untuk mendapatkan bukti kenakalan Logan. Sebenarnya sudah berkali-kali Tao melihat Logan mencuri waktu untuk menonton telivisi di saat Aiden tidak ada di rumah dan tidak belajar sama sekali. Dan hari ini dia baru mendapatkan bukti itu.


"Hehehehe, hanya 1 kali saja Hyung." Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Untuk kali ini kau aku maafkan, tapi sekali lagi kau mengulangi. Kau akan tidur di kamar mandi." Aiden mengembalikan ponsel itu ke tangan Tao dan berlalu begitu saja.


Logan mengusap dadanya sambil bernapas lega, pemuda itu menjulurkan lidahnya dan berlalu begitu saja. Aiden sedang dalam suasana hati yang kurang baik sekarang, dan dia ingin menyendiri di kamarnya.


.


.


Aiden memandang dirinya diri pantulan cermin yang ada di depannya. Dia menghapus uap yang ada di cermin itu hingga Ia bisa melihat wajahnya dengan jelas termasuk bekas luka yang ada di mata kirinya.


Pria itu menutup matanya dengan perlahan, Ia ingin sekali memberi tau Luna jika Ia memang anak laki-laki itu. Namun entah apa sebabnya lidahnya terasa keluh hanya untuk mengatakan satu kalimat saja.


Dan alasan Aiden tidak memberitahu Luna adalah karena dulu dia sangat lemah, Aiden pernah berjanji untuk melindunginya tapi dia malah tidak bisa. Dan Aiden yang sekarang adalah dirinya yang berjanji untuk melindunginya. Karena jika dia tetap lemah, bagaimana Aiden bisa melindunginya?


Aiden mulai menyalahkan shower dan membiarkan air dingin itu mengguyur sekujur tubuhnya yang hanya terbalut jeans hitam panjang yang membalut kakinya.


Setelah cukup lama. Aiden mematikan shower yang masih menyala itu kemudian meraih handuk putih yang tersampir di pintu dan menggunakannya untuk menutupi tubuh bagian bawahnya yang tak terbalut apa pun karena celana hitam itu telah dia lepaskan.


Aiden berjalan keluar dan berjalan menuju lemari pakaiannya, pria itu mengambil singlet putih dan jeans biru ketat kemudian mengenakannya. Aiden berjalan menuju tempat tidurnya dan membaringkan tubuhnya yang terasa lelah, tak lupa Ia mematikan lampu kamarnya dan mulai memejamkan matanya. Membiarkan dirinya terlarut dalam mimpi sampai fajar nanti.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2