
Dering suara pada ponselnya mengalihkan perhatian Kevin dari laptopnya, nomor asing tertera menghiasi layar ponselnya yang menyala terang.
Alih-alih menerima panggilan tersebut, Kevin justru mengabaikannya. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menerimanya. Kemudian terdengar suara ketukan pada pintu, beberapa saat kemudian
Frans memasuki ruangannya.
"Ada apa, Frans?" tanya Kevin tanpa basa basi.
"Ini uang hasil transaksi kemarin malam, dan mereka sangat menyukai barang kita. Kemungkinan dalam waktu dekat mereka akan mengambil lagi dalam jumlah yang lebih besar," ujar Frans, dia menyerahkan koper yang penuh dengan uang pada Kevin.
"Kerja bagus, Frans. Kau memang tidak pernah mengecewakanku. Ini bonus untuk kalian," Kevin melemparkan dua gepok uang pada Frans , itu adalah bonus karena dia telah bekerja dengan baik. Tentu saja Frans tidak sendirian karena ada beberapa anak buahnya yang turut membantunya.
Frans membungkuk. "Terimakasih, Tuan Muda. Kalau begitu saya permisi dulu," dia membungkuk pada Kevin lalu pergi begitu saja. Frans akan membagi uang pemberian Kevin pada anak buahnya yang pergi bersamanya kemarin malam, dia tidak akan mengambil uang-uang itu untuk dirinya sendiri.
Tiba-tiba Kevin teringat pada Viona, apakah perempuan itu sudah tidur atau belum? Ia terlihat bangkit dari kursinya lalu melenggang pergi meninggalkan ruang kerjanya.
.
.
Tidak ada yang spesial pada malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Langit selalu diselimuti awan hitam membuat bulan dan bintang enggan menampakkan wujudnya dan memilih bersembunyi di balik gumpalan kelam tersebut, hujan sepertinya akan segara turun.
Semilir angin malam berhembus menerpa wajahnya, menggoyangkan surai panjang miliknya pelan. Dan dalam remangnya malam. Iris matanya tetap teguh menatap langit malam yang gelap gulita, berharap keajaiban datang agar ia bisa melihat bulan dan bintang
Perlahan tapi pasti, awan-awan hitam itu menyingsing pergi, rembulan kembali menunjukan sinarnya yang sempat menghilang karena tertelan kegelapan. Akhirnya yang dia tunggu-tunggu datang juga, Viona tersenyum lebar
__ADS_1
"Kenapa belum tidur?" pertanyaan itu mengalihkan perhatian Viona dari Bulan dan langit malam. Perempuan itu menoleh dan mendapati Kevin menghampirinya
"Paman," Viona berseru pelan.
Kevin mendekati Viona mengambil tempat disamping kanannya dengan punggung bersandar pada pagar pembatas. Posisinya dan Viona berlawanan arah. Kevin menatap Viona yang juga menatap padanya.
"Aku masih belum mengantuk. Lalu kenapa Paman sendiri belum tidur?" Luna meletakkan kedua lengannya diatas pagar pembatas yang dingin dan keras dengan pandangannya lurus keatas.
"Hm, pekerjaanku baru selesai. Ini sudah larut malam, sebaiknya kembali ke dalam dan segera tidur." Pinta Kevin namun di tolak oleh Viona.
Perempuan itu menggeleng pelan. "Sebentar lagi, aku masih belum mengantuk," jawabnya menimpali.
Angin tiba-tiba berhembus kencang, membuat Viona sedikit menggigil. Dia hanya memakai gaun tidur tipis yang kontras dengan udara malam ini. Sesekali Viona mengusap lengannya sendiri, mencoba menghilangkan rasa dingin tersebut.
"Uhh, dingin," perempuan itu bergumam pelan.
Tidak ada penolakan dari Viona, dia membiarkan Kevin memeluknya. Rasa hangat seketika menjalar ke sekujur tubuhnya. "Apa kau masih merasakan dingin?" bisik Kevin bertanya.
Viona menggeleng. "Sudah jauh lebih baik," jawabnya berbisik.
Entah kenapa Viona merasakan sesuatu yang tidak biasa ketika Kevin memeluknya, padahal ini bukan pertama kalinya mereka berpelukan seperti ini. Dulu sewaktu mereka masih tinggal bersama, Kevin selalu melakukannya ketika Viona merasa kedinginan.
Hembusan nafas hangat Kevin yang menerpa sekitar telinganya membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh Viona berdiri. Dia merasakan getaran aneh dan rasanya seperti ada sesuatu menggelitik perutnya.
Viona menoleh ke belakang, membuat mata berbeda warna itu saling bertemu. Semburat merah muncul dikedua pipi Viona melihat tatapan Kevin padanya. Seketika Viona menjadi gugup.
__ADS_1
"Pa..Paman, aku sudah tidak dingin lagi. Bisakah kau melepaskan pelukanmu," ucapnya lirih.
"Kau yakin?" tanya Kevin memastikan.
Viona menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat. Kemudian Kevin melepaskan pelukannya pada Viona lalu berpindah ke samping kanannya. Mereka berdiri bersebelahan.
Suasana hening seketika menyelimuti kebersamaan mereka berdua. Tidak ada lagi obrolan seperti tadi, keduanya sama-sama diam dalam kebisuan.
Sesekali Kevin menoleh dan menatap perempuan disebelah kirinya ini, menatapnya dengan jelas dari ujung rambut sampai ujung kaki. Banyak sekali perubahan pada Viona, tidak hanya semakin dewasa saja, tapi dia semakin cantik.
"Ini sudah larut malam, sebaiknya cepat masuk dan segera tidur. Jangan sampai kau jatuh sakit hanya karena udara dingin, apa kau lupa pernah terkena flu parah hanya karena berdiri terlalu lama di balkon. Dan aku tidak mau mendengar kata nanti atau alasan apapun!!" ucap Kevin menegaskan.
Viona menghela napas. Dengan terpaksa dia menganggukkan kepala. "Baiklah," dan dia pun hanya bisa pasrah sebelum Kevin semakin banyak bicara. Dengan enggan dia meninggalkan balkon lalu masuk ke kamarnya.
Kevin mendekati Viona lalu mengecup keningnya dengan lembut. "Good night, gadis kecilku." Kevin tersenyum lembut lalu melenggang keluar meninggalkan kamar Viona. Dan apa yang Kevin lakukan barusan adalah hal dulu sering dia lakukan ketika Viona hendak tidur.
Meskipun sudah pernah menikah dan sekarang berstatus sebagai Janda, tetapi Dimata Kevin Viona tetaplah gadis kecilnya yang menggemaskan.
"Paman, jangan lakukan hal itu lagi, karena aku sekarang bukanlah anak kecil lagi," gerutu Viona sambil menundukkan kepalanya. Langkah Kevin terhenti di depan pintu. Dia menoleh kearah Viona yang sedang menundukkan kepalanya dan mengurai senyum tipis.
"Tapi Dimata Paman kau tetaplah gadis kecil yang selalu ingin kulindungi. Tidurlah," pinta Kevin sekali lagi lalu melenggang pergi. Meninggalkan Viona sendiri dalam kekosongan dan kehampaan.
Seketika suasana menjadi hening setelah kepergian pria itu. Dan Viona merasakan kekosongan setelah Kevin tidak ada, seperti ada rasa tidak rela dihatinya ketika melihatnya pergi meninggalkannya. Viona menghela napas pelan. "Sebenarnya ada apa denganku? Sudahlah, lebih baik aku tidur saja," ucap Viona pada dirinya sendiri.
.
__ADS_1
.
Bersambung