Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Viona Kegugurann


__ADS_3

Viona membuka matanya, ia tersentak saat mendengar suara Kevin yang terus terngiang di telinganya. Ketika dia mengatakan 'Darah segar merembes dari sela-sela pahanya'. Indra penciumannya dapat mencium bau antiseptik dan obat-obatan, serta matanya dapat melihat ruangan yang didominasi oleh warna putih. 'Ini … rumah sakit?' lirih Viona membatin.


Wanita itu menutup kembali matanya dan mencoba untuk mengingat kembali apa yang terjadi. Memorinya membawanya kembali pada kejadian beberapa jam yang lalu. "Paman," Viona berseru ketika teringat Kevin. Dia tadi terluka parah dan berdarah-darah. Dan Viona tidak tau bagaimana kondisi Kevin saat ini.


"Viona …" Wanita itu menoleh, terlihat Kevin menghampirinya dengan wajah khawatir. Tubuhnya penuh luka dan perban tampak di beberapa bagian. Banyaknya perban menandakan seberapa parah luka yang dia alami. "Viona, kau sudah sadar? Aku lega melihatmu baik-baik saja." Ucap Kevin.


Viona menyentuh perban yang menutup lukanya dan menatapnya dengan sendu. "Apa mata kirimu mengalami pendarahan juga?" tanya Viona melihat mata kiri Kevin yang biasanya tertutup benda hitam bertali, kali ini tertutup perban. Pertanyaan Viona di balas anggukan kecil oleh Kevin.


Tiba-tiba Viona teringat sesuatu. Dia memegangi perutnya. "Bayiku …" dan bergumam lirih, ia alihkan pandangannya dengan cepat ke arah Kevin yang menatapnya dengan sedih, menatap sang suami dengan tatapan memohon. "Paman … apakah bayiku tidak apa-apa? Dia … dia baik-baik saja, bukan?" tanya Viona memastikan


Dia mencoba untuk duduk, walau perut bagian bawahnya terasa sangat sakit jika digerakkan. Tetapi dia tetap memaksakan diri. "Jangan banyak bergerak dulu," pinta Kevin memperingati, lalu dia membantu istri kesayangannya itu untuk bangkit.


Kembali Viona menatap Kevin. "Bayiku, Paman bagaimana dengan bayi kita? Dia baik-baik saja, kan? Paman… jawablah. Bayi kita … bagaimana keadaannya?" tanyanya lagi dengan nada panik.


Kevin seketika hanya terdiam, begitu pun dengan Frans dan Rico yang juga berada di ruangan tersebut. Mereka sama-sama bingung harus bagaimana. Frans yang tidak kuasa menahan air matanya pun memilih untuk keluar, dia tidak sanggup melihat kakak iparnya hancur saat dia mengetahui janin di dalam perutnya telah gugur.


Sementara itu, Kevin mencoba untuk tidak menubrukkan pandangannya dengan manik Hazel milik Viona. Raut wajah sedih terlihat jelas di wajah penuh luka itu, dia tidak sanggup jika harus membawa kabar buruk dalam hidup Viona.


Karena tidak ada jawaban dari Kevin. Viona hanya bisa menyimpulkan satu hal, janinnya tidak selamat. Viona mulai menangis. Ia sudah tahu jawabannya. Melihat wajah Kevin membuatnya tahu semua yang terjadi.


Viona menggeleng lemah. "Tidak mungkin … ini tidak mungkin …" Ia gelengkan kepalanya, tak percaya dengan semua yang menimpanya. Bayinya, harapan hidupnya, kebahagiaannya, sesuatu yang harusnya dia jaga malah pergi begitu cepat.


"Maaf, Viona. Dokter tidak bisa menyelamatkannya." Kevin akhirnya buka suara. Dia mendekati Viona lalu memeluknya dan ikut terisak. Kevin juga sama hancurnya seperti Viona, hanya saja dia mencoba untuk tegar dan kuat menerima cobaan tersebut. "Sabarlah, Sayang. Tuhan masih belum memberikan kepercayaan pada kita untuk menjaga titipannya."

__ADS_1


Tangis Viona tak bisa dihentikan. Air matanya jatuhan semakin deras. Wanita itu menangis pilu. Hatinya sangat sakit saat mengetahui bahwa ia tak bisa menjaga kandungannya. Ia tidak bisa menepati janjinya untuk selalu melindunginya dengan baik. Dia tidak bisa menjadi calon ibu yang baik. Kenyataan itu sungguh pahit baginya, membuat hatinya terasa dicabik-cabik.


Viona terus menangis dalam pelukan Kevin, melampiaskan segala kesedihannya. Setelah mengeluarkan banyak air mata, ia kembali berbaring dengan dibantu oleh Kevin.


Badannya terasa lemas akibat kebanyakan menangis. Ia hanya bisa menatap sendu pada sang suami yang terus mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Aku gagal melindunginya, Paman. Aku benar-benar bukan calon ibu yang baik, aku gagal melindungi calon anak kita." Ujar Viona dengan air mata yang masih belum berhenti mengalir.


Kevin menggeleng. Dia meraih tangan Viona lalu menggenggamnya. "Tidak, Viona. Itu bukan salahmu, kau sudah berusaha untuk melindunginya dengan baik, kau adalah ibu yang hebat." Ujar Kevin sambil mencium tangan Viona berkali-kali.


"Tidak, Paman. Aku bukan ibu yang baik... Aku adalah ibu yang buruk, aku tidak bisa menjaga calon anakku sendiri. Aku benar-benar buruk," tutur Viona penuh rasa bersalah.


Kevin kembali merengkuh Viona ke dalam pelukannya. Dia memahami betul apa yang di rasakan olehnya sekarang, karena Kevin juga merasakan apa yang di rasakan oleh Viona. Dan semua ini tidak akan terjadi jika pria itu tidak berulah.


"Jangan di pikirkan lagi. Kita masih bisa memilikinya kembali. Sebaiknya sekarang kau istirahat , Paman akan menemanimu di sini." Ucap Kevin dengan lirih. Satu kecupan mendarah di kening Viona.


Inilah yang Kevin takutkan ketika Viona sadar dan mengetahui jika mereka telah kehilangan janin di dalam perutnya. Dia akan sangat hancur. Dan yang perlu Kevin lakukan sekarang adalah selalu berada di sisinya dan memberikan kekuatan padanya. Meyakinkan pada Viona jika yang terjadi bukanlah kesalahannya, tetapi takdir Tuhan.


xxx


Suara derap langkah kaki yang datang mengalihkan perhatian Frans dan Rico. Keduanya sama-sama menoleh dan mendapati pria setengah baya menghampiri mereka berdua. Buru-buru Frans berdiri dan menatapnya dengan tajam.


"Mau apa kau datang kemari?" sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulut Frans, dingin dan tidak bersahabat.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kakakmu? Apa Kevin baik-baik saja?" tanya pria itu yang pastinya adalah Tuan Roy.


"Buruk!! Karena dirimu dia harus kehilangan calon anaknya dan kau membuatnya terpuruk!!" ucap Frans.


"Maafkan Papa, Leon. Papa, adalah Papa yang buruk untuk kalian berdua." Tuan Roy menunduk dan meminta maaf pada Frans, penyesalan terlihat jelas di kedua matanya.


Air mata Frans seketika tempah. "Ya, benar yang kau katakan. Kau memang ayah yang buruk... Sangat-sangat buruk malah, kau membuat putramu sendiri hampir mati. Jangan pernah menyebut dirimu sebagai ayah, karena kami tidak memiliki ayah sepertimu!!"


Frans marah pada Tuan Roy, sangat-sangat marah malah. Dia sangat membencinya karena ia hampir saja membuatnya kehilangan kakak dan kakak iparnya. Dan Frans tidak akan pernah memaafkannya.


Tuan Roy tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya di depan Frans. Dia berlutut dan memohon supaya Frans mau memaafkannya. "Nak, Papa tahu Papa memang bersalah. Untuk itu maafkan, Papa." Pintanya memohon.


"Sampai Gorila beranak Badak, aku tidak akan memaafkanmu!!" jawab Frans menimpali.


Hampir saja Rico tersedak minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya setelah mendengar kata 'Gorila beranak Badak' dia yang semula di runding sedih dan duka nyaris tertawa karena ulah Frans. Untungnya Rico masih bisa menahan diri dan tidak tertawa.


"Satu lagi, namaku bulan Leon tapi Frans. Dan bukan padaku seharusnya kau meminta maaf, tapi pada Kevin Gege. Karena padanya kau memiliki banyak dosa." Tutur Frans.


Tuan Roy membuat angan-angan Frans tentang seorang ayah yang hebat hancur berantakan. Dia membayangkan memiliki ayah yang sangat baik, penyabar dan penuh kasih sayang.


Namun pada kenyataannya ayah yang dia miliki mirip iblis dan tidak berperasaan, dan semua itu hanya karena sebuah dendam bodoh yang seharusnya tidak perlu di lakukan apalagi di luapkan pada orang yang tidak bersalah dan tidak mengerti apa-apa.


xxx

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2