
Kevin hanya bisa menghela napas dan mendengus dingin, ketika melihat indeks saham perusahaannya tiba-tiba mengalami penurunan yang cukup drastis.
Kemudian dia membiarkan jari-jarinya menari diatas keyboard sebuah komputer dengan lincahnya. Dan tidak butuh waktu lama baginya untuk mengembalikan saham-saham itu seperti sedia kala.
Ternyata ada yang berusaha untuk mencuri data-data penting perusahaan miliknya. Untungnya Kevin bisa segera mengetahuinya dan masalah pun dapat diatasi dengan mudah.
"Tidak apa-apa, tidak perlu panik dan masalah sudah berhasil diatasi," ucapnya pada beberapa teknisi yang sudah dari tadi sedang bekerja keras untuk mengatasi masalah yang terjadi.
Mereka pun menghela napas lega sekarang. Tidak ada lagi kepanikan di raut wajah mereka semua. Dan Untung saja mereka memiliki CEO yang memiliki kemampuan diatas rata-rata , sehingga masalah-masalah kecil seperti yang baru saja terjadi dapat diatasi dengan mudah.
"Kalian kembali bekerja. Aku sudah mengganti alamat email keamanan perusahaan ini dan menyertakan virus buatan istriku. Dengan begitu data-data penting perusahaan ini tidak mudah untuk di bobol apalagi di curi." Ucapnya. Kevin menatap mereka satu persatu dan menjelaskan apa yang perlu untuk dijelaskan.
Masalah dapat teratasi dengan cepat, untungnya Kevin bertindak tepat waktu sebelum masalah menjadi semakin rumit dan terjadi akibat yang fatal. Yang perlu dia lakukan selanjutnya adalah mencari dan menyelidiki siapa orang yang berani membobol data-data penting perusahannya, Kevin ingin tahu siapa orang yang sudah berani bermain-main dengannya. Apakah dia sudah bosan hidup?
Dan beginilah buruknya persaingan di dunia perbisnisan. Banyak orang yang rela menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuannya, meskipun cara itu bisa merugikan orang lain .
"Segera selidiki masalah ini dan temukan pelakunya dengan cepat, aku ingin tahu siapa yang berani mencari masalah dan gara-gara denganku." Pinta Kevin dan dibalas anggukan oleh Rico.
"Baik, Tuan."
Baru juga tiba, namun sudah dihadapan dengan masalah. Kevin mendengus dan menggelengkan kepala, dia tidak tahu kapan bisa menjalani hari-harinya dengan tenang, sedangkan masalah datang silih berganti dalam hidupnya. Satu masalah selesai, timbul lagi masalah lainnya dan itu terus terulang di sepanjang hidupnya.
xxx
"Nona, ini testpack yang anda minta."
__ADS_1
Pelayan datang membawakan testpack yang Viona inginkan. Sebenarnya dia ingin memastikannya sejak masih berada di China, namun keadaan di sana tidak memungkinkan sama sekali.
Suasana duka atas kepergian Tuan Lu masih begitu melekat di hati Kevin dan Frans, sehingga Viona memutuskan untuk menunda untuk mengetes Apakah dia benar-benar hamil atau tidak.
Selama satu Minggu terakhir, Viona merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya, hanya saja dia tidak mengatakan apapun pada Kevin.
"Apa Tuan Muda masih belum kembali?" tanya Viona memastikan.
Pelayan menggeleng. "Belum, Nona. Mungkin sebentar lagi, kalau begitu saya permisi dulu." pelayan itu membungkuk lalu melenggang pergi meninggalkan Viona sendirian di kamarnya. Wanita itu membelah nafas, sudah lebih dari tiga jam namun Kevin belum juga kembali.
Tidak mau ambil pusing. Viona turun dari tempat tidurnya lalu melenggang pergi ke kamar mandi. Dia ingin segera melakukan tes untuk memastikan dirinya benar-benar hamil atau tidak, dan Viona sangat-sangat berharap tes itu menunjukkan hasil yang memuaskan. Baik Kevin maupun Viona, mereka sama-sama mendambakan hadirnya seorang anak diantara mereka berdua.
Tangan Viona tampak gemetar. Ini ketiga kalinya ia mencoba, dan hasilnya tetap sama. Setelah tiga kali percobaan dan menunjukkan hasil yang sama, ia sangat yakin pada keadaannya saat ini. Di tangannya terdapat tiga benda berbentuk seperti pulpen namun lebih pendek dan agak lebar, pada ketiga benda tersebut terdapat tanda yang sama, dua buah garis merah sejajar. Ya, Viona positif hamil.
Dan kali ini Viona pasti akan menjaganya dengan sebaik mungkin, dia tidak akan membiarkan hal yang sama terjadi dan terulang kembali pada calon buah hatinya. Dia tidak akan membiarkan janin itu pergi lagi dari hidupnya.
.
.
Tangan kanan Viona mengusap lembut perutnya dengan sudut bibir yang tertarik keatas. Akhir-akhir ini dia memang mulai merasakan ada beberapa perubahan yang terjadi. Ia menjadi lebih sensitif, lebih gampang marah, dan yang paling tidak masuk akal ia tidak pernah kau jauh dari Kevin.
Sejujurnya Viona sudah agak lama curiga dengan kondisinya saat ini. Ia terlalu takut, bukan takut karena hamil, namun dia masih trauma dengan apa yang pernah terjadi. Viona takut tidak bisa melindunginya lagi, ia takut pada kenyataan yang akan dihadapinya nanti. Dan ketakutan itulah salah satu alasan yang menahan Viona untuk tidak segera melakukan tes, selain karena keadaan yang tidak memungkinkan.
Viona terus membelai perut ratanya dengan lembut. Ia mengarahkan pandangan pada perutnya dan menatapnya dengan pandangan penuh sayang. Walaupun ketakutan selalu membayanginya, namun tidak dapat dipungkiri jika ia sangat bahagia sampai-sampai air mata tidak henti-hentinya mengalir dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Nak, terimakasih karena telah hadir untuk, Mama? Apa kau mendengar suaraku, Sayang?" ucapnya dengan penuh kasih sayang.
Viona masih terus membelai perutnya dengan penuh perasaan sambil tersenyum lembut sampai akhirnya suara pintu di buka dari luar menginterupsi kegiatannya tersebut. Viona menoleh dan mendapati kedatangan Kevin, wanita itu menyeka air matanya dan berlari ke pelukan suaminya.
"Ge," seru Viona sambil memeluk Kevin dengan erat. Membuat Kevin kebingungan dan bertanya-tanya, karena tidak biasanya Viona seperti ini.
"Ada apa? Apa seseorang menyakitimu?" Viona menggeleng. "Lalu kenapa kau menangis?" tanya Kevin dengan bingung.
Alih-alih menjawab pertanyaan Kevin, Viona justru menunjukkan 3 benda bergaris merah sejajar padanya. Membuat pupil mata Kevin membulat sempurna saat melihat benda tersebut. "Viona, ini~" Wanita itu menganggukkan kepala tanpa menjawab. Air mata tampak mengalir dari pelupuk matanya.
"Ge, kita akan segera memiliki anak, aku... hamil." Ucapnya dengan suara parau menahan tangis.
Kevin menyeka air matanya lalu membawa Viona ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. "Ternyata di balik duka yang Tuhan berikan pada keluarga kita, terselip kebagian yang tak ternilai. Kali ini aku tidak akan lalai lagi, akan ku lindungi dia dengan sebaik-baiknya dan tidak akan kubiarkan dia meninggalkan kita juga." Ujar Kevin sambil mengeratkan pelukannya. Viona menganggukkan kepala. Menjawab ucapan Kevin.
Cairan-cairan bening terus berjatuhan dari pelupuk mata Kevin, dia benar-benar terharu dengan kabar bahagia yang disampaikan oleh Viona. Dia bersumpah akan selalu menjaga dan melindunginya, tidak akan dia biarkan janin itu terenggut kembali darinya dan Viona.
Kevin melepaskan pelukannya dan menatap Viona dengan senyum tersungging di bibirnya, yang menyiratkan banyak makna dan. Kevin menangkup wajah Viona lalu mengecup singkat bibir ranum tipisnya, melumatt dan memagut nya dengan penuh kelembutan. Ciuman yang mewakilkan perasaannya saat ini.
"Kau ingin makan apa, atau mungkin menginginkan sesuatu? Katakan saja padaku, apapun yang kau inginkan pasti akan kuberikan," ucap Kevin setelah mengakhiri ciumannya.
Viona menggeleng. "Tidak, aku tidak menginginkan apapun kecuali kau menemaniku tidur sekarang. Ge, aku benar-benar lelah dan ingin tidur sekarang, dan sepanjang malam kau tidak boleh pergi ke manapun. Kau harus terus berada di sampingku, dan aku tidak ingin mendengar alasan apapun darimu!!"
Kevin mengangguk. "Baiklah," Viona tersenyum lebar setelah mendengar jawaban Kevin. Dia tahu jika suami tercintanya ini tidak mungkin mengecewakannya.
xxx
__ADS_1