
"Andrew, akhirnya kau sadar juga!!"
Pria itu bangkit dari kursinya saat melihat mata yang sejak beberapa hari lalu tertutup itu akhirnya terbuka kembali. "Ini dimana? Kenapa aku bisa ada di tempat ini?" tanya pria itu 'Andrew' penuh kebingungan.
"Apa kau benar-benar melupakan yang terjadi padamu beberapa hari lalu? Dia Hampir saja membuatmu mati dan kehilangan nyawa," jawab pria berjas itu.
"Lalu bagaimana dengan orang itu? Apa dia sudah mati?" tanya Andrew memastikan.
Pria berjas itu menggelengkan kepala. "Kakak, sendiri tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang. Dia sudah mati atau masih hidup, aku benar-benar belum mengetahuinya, karena selama beberapa hari ini kakak tidak pergi kemanapun dan terus menemanimu di sini." Jawab pria berjas itu 'Ramon'
Andrew mengepalkan tangannya. "Aku benar-benar berharap dia mati. Aku tidak yakin dia bisa bertahan, sementara luka yang dialami lumayan parah. Aku berhasil melukai dia, dan memberikan luka menganga di tubuhnya. Dan luka itu lebih dari cukup untuk membuat Dia kehilangan banyak darah." Ujar Andrew.
"Tapi Andrew, kakak benar-benar tidak yakin kau berhasil membunuhnya. Apa kau lupa dengan tragedi beberapa tahun yang lalu. Kau berhasil membuatnya terluka parah, kita sama-sama meyakini dia telah mati tapi nyatanya dia masih hidup sampai sekarang. Orang itu, seperti memiliki 9 nyawa." Terang Ramon mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.
Andrew mengangguk. Dia juga masih ingat betul dengan kejadian saat itu. Lagi-lagi mereka berdua terluka parah, seperti yang terjadi padanya kini, saat itu Andrew juga hampir kehilangan nyawanya begitupun dengan orang itu. Tapi lagi-lagi Dewi Fortuna berpihak padanya sehingga orang itu bisa tetap hidup sampai sekarang.
"Kak, kau harus segera menyelidikinya dan memastikan apakah dia masih hidup atau sudah mati. Jika dia masih hidup, segera kerahkan anak buahmu untuk menghabisinya. Aku yakin dia tidak bisa bergerak dengan bebas karena luka yang aku tinggalkan di perutnya dan luka itu membutuhkan waktu untuk sembuh." Tutur Andrew.
Ramon mengangguk. "Kakak, mengerti. Sebaiknya kau istirahat saja, Kakak akan segera mencari tahu tentang dia. Apakah dia masih hidup atau sudah mati." Ujar Ramon. Kemudian dia meninggalkan ruang inap Andrew dan pergi begitu saja.
__ADS_1
Sekarang dia harus mencari tahu tentang kelemahan orang itu, baru bisa menghabisinya. Karena tanpa tahu kelemahannya , akan sulit baginya untuk menyingkirkannya untuk selamanya.
Dendam lama antara Andrew dan orang itu memang harus segera di selesaikan. Dan sebagai seorang Kakak, Ramon akan melakukan apapun untuk melindunginya, karena tidak ada yang lebih penting baginya daripada keselamatan sang adik pastinya.
xxx
Henry terus mondar-mandir. Sudah lebih dari tiga hari ponsel Aiden tidak bisa dihubungi dan itu membuatnya cemas setengah mati. Apalagi dia mendapatkan informasi dari salah seorang anak buahnya jika dia baru terlibat bentrok dengan musuh bebuyutannya, dan Aiden terluka parah.
"Apa masih belum bisa dihubungi ponselnya?" tanya seorang pria yang memakai celana panjang dan kemeja abu-abu gelap sambil menghampiri Henry.
Henry menggeleng. "Belum, ponselnya tetap tidak aktif. Aiden, benar-benar sulit dihubungi." Jawab Henry.
Henry mengangguk. "Aku akan mencoba menghubungi Alex atau Eric, mungkin mereka berdua tahu keberadaan Aiden," tukas Henry.
"Tidak perlu, aku disini." Sahut seseorang dari belakang, mereka berdua lantas menoleh dan mendapati kedatangan Aidan. Panjang umur, baru juga dibicarakan dia sudah menampakan batang hidungnya.
Henry dan Max menghampiri Aiden. "Jadi benar berita itu, kau benar-benar terluka." Ucap Henry melihat perban yang senantiasa melekat di pelipis kanannya.
Aiden mengangguk. "Ya," dan menjawab singkat.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa sampai terluka seperti ini? Bos, apa kau benar-benar terlibat bentrok dengan orang itu?" tanya Max memastikan.
Lagi-lagi Aiden menganggukkan kepala. "Ya. Tiba-tiba dia datang bersama anak buahnya dan menghadang mobilku. Mereka bertujuh dan aku sendirian. Empat anak buah bajingan itu mati di tanganku dan dua diantara masuk rumah sakit, mereka sedang kritis." Jelas Aiden.
"Lalu bagaimana dengan orang itu? Dia masih hidup atau sudah mati?" tanya Henry memastikan.
"Aku sendiri tidak bisa memastikannya, karena keadaannya jauh lebih parah dariku. Kemungkinan dia masih mengalami koma di rumah sakit. Dia banyak kehilangan darah akibat luka tembakk di perut, bahu dan kaki kirinya." Terang Aiden.
"Syukurlah kau baik-baik saja. Meskipun terluka tapi setidaknya kondisimu masih dalam keadaan baik, aku lega melihatmu baik-baik saja." Ujar Henry.
Aiden menghela napas. "Maaf, sudah membuat kalian cemas. Untuk sementara perketat penjagaan karena ada kemungkinan Ramon akan datang menyerang untuk membalaskan dendam adiknya." Tutur Aiden.
Henry dan Max mengangguk dengan kompak. "Baik, kami mengerti."
Tanpa mengatakan apapun. Aiden beranjak dari hadapan mereka berdua dan pergi begitu saja. Aiden pergi ke kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan Aiden berencana beristirahat sebentar.
Setelah ini dia harus segera bersiap-siap, Aiden sudah berjanji pada Luna akan menemaninya untuk pergi ke acara Reuni bersama teman-teman kuliahnya dulu. Masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum pergi ke acara tersebut.
xxx
__ADS_1
Bersambung