Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Jangan Ikut Campur


__ADS_3

"Mama, lihatlah kakak itu sedang berciuman!!" seru seorang bocah laki-laki saat tanpa sengaja melihat Kevin dan Viona yang sedang berciuman.


Pupil mata Viona membulat sempurna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh bocah laki-laki itu. Buru-buru dia mendorong tubuh Kevin untuk menjauh darinya hingga ciuman mereka terlepas. Membuat Kevin mengeram kesal karena kegiatannya di ganggu oleh seorang bocah.


Ibu dari anak laki-laki itu segara menarik putranya menjauh sambil memukul pelan pantatnya. "Kau ini kenapa nakal sekali, tidak usah mengurusi orang lain. Sudah, ayo cepat pulang." Omel si ibu pada putranya.


Bukannya menangis karena ketakutan setelah dimarahi dan dipukul pantatnya oleh ibunya, bocah laki-laki itu malah tersenyum dengan geli. melihat ekspresi Viona saat terkejut membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak. Dia begitu lucu dan menggemaskan.


"Kakak, pipimu memerah. saat sedang terkejut kau sangat lucu dan menggemaskan aku dewasa pasti akan memiliki kekasih sepertimu." Ujar bocah itu sambil mengerlingkan matanya pada Viona.


Lagi-lagi dia mendapatkan pukulan pada pantatnya dan siapa lagi pelakunya jika bukan sang ibu. "Anak nakal, Apa mulutmu tidak bisa diam? Kau ini masih anak-anak, tapi kenapa bicaramu seperti orang dewasa saja." Ucap ibu bocah laki-laki itu sambil menggelengkan kepala.


Tawa Viona pun pecah setelah anak itu menjauh. Baru kali ini mereka berciuman tapi di pergoki. Parahnya lagi yang memergoki adalah anak kecil, sedangkan Kevin tetap memasang muka stay cool. Seolah-olah dia bersikap tidak peduli , padahal hatinya sedang dongkol setengah mati.


Pandangan Kevin bergulir pada Viona yang tidak berhenti tertawa. "Apa yang kau tertawakan. Apa kau pikir itu lucu!!" tegur Kevin dan menghentikan tawa Viona detik itu juga. Wanita itu mati-matian untuk tidak tertawa lagi sambil menggelengkan kepala.


"Sudahlah, ayo pergi dari sini. Kita jalan-jalan saja dan lupakan apa yang baru saja terjadi." Viona memeluk lengan Kevin dan menariknya meninggalkan taman.


Setelah makan mewah di hotel bintang lima. Viona mengajak Kevin untuk kembali berjalan-jalan menikmati keindahan musim gugur. Orang-orang yang berlalu lalang memakai pakaian hangat dan sedikit tebal, begitu pun dengan Viona namun hal itu tidak berlaku bagi Kevin. Karena dia hanya memakai kemeja hitam lengan panjang dan long vest berwarna hitam pula berlebel Gucci.


Mereka berdua berdua menyusuri jalanan sambil berjalan kaki. Sebelah tangan Viona memeluk lengan Kevin dan jari-jarinya masuk ke dalam saku long vest yang dia kenakan. Jari-jari lentiknya serasa mati rasa akibat cuaca dingin yang begitu menusuk. Beruntung dia tadi membawa mantel hangatnya.


"Kau ingin pergi kemana lagi setelah ini?" tanya Kevin.


Viona tampak berpikir. Dia meletakkan jarinya di tengah-tengah bibirnya sambil berpikir mau pergi kemana lagi setelah ini. Cukup lama dia berpikir, namun tiba-tiba Viona menggelengkan kepala.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Apa Paman memiliki tempat tujuan atau destinasi yang bisa di kunjungi?" tanya Viona sambil menatap Kevin penasaran.


"Tidak!! Sebaiknya kita pulang saja. Sudah terlalu lama kita meninggalkan kakek sendirian. Bisa-bisa dia kebingungan mencari kita berdua karena tidak berada di rumah," ujar Kevin dan di balas anggukan oleh Viona. Dia setuju dengan Kevin.


"Ya. Kebetulan juga aku sudah sangat-sangat lelah dan ingin segera beristirahat." Jawabnya.


"Kau tunggu di sini sebentar. Aku ambil mobil dulu," ucap Kevin udah dibalas aku kan oleh Viona.


Wanita itu duduk disebuah kursi panjang yang berada di bawah lampu jalan. Tidak lama setelah kepergian Kevin, beberapa pemuda menghampiri Viona dan mencoba untuk mengganggunya. Dilihat dari penampilannya saja, jelas jika mereka bukan Pemuda baik-baik

__ADS_1


Bukannya ketakutan, Viona menghadapi mereka dengan. Bahkan dia tidak menghiraukan keberadaan mereka sama sekali, termasuk ketika mereka mencoba untuk mengajaknya perkenalan. Viona bersikap Acuh dan jual mahal.


"Hei, Nona. Apa kau bisu sudah tuli, sampai-sampai tidak mendengar apa yang kami katakan?" pemuda-pemuda itu memulai geram dan kesal dengan sikap Viona yang terkesan mengabaikan mereka.


Viona hanya menatap sekilas pada orang yang bicara dengannya dan kembali fokus pada ponselnya. Lagi-lagi sikap Viona membuat mereka kesal dan marah. Salah satu dari ketujuh pemuda itu mengambil paksa ponsel milik Viona lalu membatiknya ke tanah hingga hancur berkeping-keping.


"Kau meremehkan kami , ya? Jangan sok jual mahal jadi orang, apa kau sudah bosan hidup?!" bentak orang itu dengan emosi.


Alhasil sebuah bogem mentah mendarat mulus di wajahnya hingga membuat pemuda itu tersungkur dan terjungkal. Hidungnya berdarah akibat pukulan Viona.


"Wanita sialan, kau benar-benar sudah bosan hidup, ya? Apa yang kalian tunggu, cepat ringkus wanita ini biar aku memberikan pelajaran!!" perintah pria itu pada anak buahnya.


Belum sempat tangan-tangan kotor itu menyentuh tubuh Viona. Pemuda-pemuda itu pun tersungkur dengan luka di kakinya. Menyisakan satu orang saja. Mereka tidak di habisi hanya di beri sedikit pelajaran saja. Tapi meskipun begitu, ada kemungkin mereka tidak akan bisa jalan lagi. Karena yang di tembak oleh Kevin adalah syaraf pada kakinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Kevin memastikan. Viona menggeleng, meyakinkan pada Kevin jika dia baik-baik saja.


"Ya, aku baik-baik saja." Jawab Viona.


"Berani-beraninya kalian menyentuh wanitaku. Enyah dari hadapanku sekarang juga, atau aku akan mengirim kalian semua menemui malaikat maut!!" ucap Kevin memberi ancaman.


Dengan ketakutan, mereka meninggalkan Viona dan Kevin. Bahkan mereka harus menahan rasa sakit yang teramat sangat pada kakinya akibat tembakan Kevin. Beruntung hanya kaki mereka yang di tembak, bukan kepalanya. Karena jika kepalanya yang di tembak, sudah pasti mereka hanya tinggal nama saja.


Wanita itu tersenyum lebar. "Terimakasih." mobil sport keluaran terbaru itu pun melaju kencang meninggalkan taman.


xxx


Frans terus mondar-mandir di depan pintu. Sesekali dia melihat ke depan, namun belum ada tanda-tanda mobil Kevin akan datang. Sudah lebih dari 4 jam dia tiba di Villa, namun batang hidup Kakak dan kakak iparnya belum juga terlihat sampai sekarang.


"Frans, sebenarnya siapa yang sedang kau tunggu? Kakek, perhatikan dari tadi kok terus aja modar-mandir tidak jelas. Kau membuat kakek pusing," tegur Tuan Lu.


Frans menoleh. "Aku sedang menunggu Kevin Gege dan Vio Nunna, ini sudah malam tetapi kenapa mereka belum pulang juga. Apa mereka tidak tahu jika aku sudah tiba dari tadi?!" jawab Frans.


"Biarkan saja. Kenapa harus di tunggu segala. Lagi pula mereka berdua bukan anak kecil lagi yang masih perlu dipantau keberadaannya, sudah biarkan saja dan sebaiknya kau masuk ke dalam." Pinta Tuan Lu.


Frans menghela napas panjang. "Baiklah, tapi jika aku nanti ketiduran dan mereka sudah pulang. Bisakah Kakek membangunkanku?"

__ADS_1


Tuan Lu mengangguk. "Tentu." Frans tersenyum lebar setelah mendengar jawaban dari kakeknya. Kemudian dia beranjak dan meninggalkan Tuan Lu begitu saja. Lelaki tua itu behelan nafas dan menggelengkan kepala melihat tingkat yang seperti bocah.


"Benar-benar Alexa versi muda," ucapnya sambil menghela napas.


Baru saja tiga langkah. Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki halaman. Yakin jika itu adalah Kevin dan Viona. Frans pun mengurungkan untuk pergi ke kamarnya. Dia hendak menyambut kakak dan kakak iparnya.


"Ge, Nunna." Seru Frans setibanya Kevin dan Viona di dalam ruangan.


"Kau sudah datang, apa kalian sudah bertemu dan mengobrol?" tanya Kevin sambil menatap Kakek serta adiknya bergantian. Keduanya mengangguk dengan kompak. "Baguslah kalau begitu. Aku lelah, aku pergi istirahat dulu." ucapnya dan pergi begitu saja.


Frans melongo melihat Kevin melewatinya. "Hanya begitu saja? Ge, apa kau tidak mau berbincang dulu denganku?" seru Frans namun tidak di hiraukan oleh Kevin. Pria itu hanya melambaikan tangannya pada sang adik tanpa menghentikan langkahnya.


Laki-laki itu menghela napas. Beginilah konsekuensinya memiliki kakak yang dingin seperti kutub Utara. Jangankan untuk bersikap manja, untuk bercanda saja susah karena Kevin terlalu serius. Dan hanya pada Viona dia bisa bersikap manis.


"Mimpi apa aku dulu sampai-sampai memiliki Kakek yang seperti kulkas dua pintu. Benar-benar nasib," ucap Frans sambil menggelengkan kepala.


"Jangan banyak mengeluh. Sebaiknya pergi ke kamarmu dan istirahat." Pinta Tuan Lu dan dibalas anggukan oleh Frans. Dia meninggalkan Tuan Lu begitu saja. Perjalanan jauh membuatnya lelah dan ingin cepat tidur.


xxx


Viona memasuki kamar terlebih dulu lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari dan membawanya ke kamar mandi. Kevin tidak tahu apa yang di bawah olehnya. Yang terlihat hanya sehelai kain berwarna hitam dan sedikit transparan. Kevin menggelengkan kepala dan tidak mau ambil pusing. Tanpa melepaskan semua kain yang melekat di badan kekarnya, Kevin berbaring dengan posisi terlentang.


Cklekk...


Suara pintu di buka mengalihkan perhatiannya. Viona datang dengan balutan baju dinas yang super seksii dan menggoda. Membuat senjata tempur milik Kevin bangun seketika.


"Paman, kenapa wajahmu memerah?" tanya Viona sedikit menggoda.


Kevin menggeleng. "Mana ada." Jawabnya sambil melemparkan selimut tebal kearah Viona. "Jangan bodoh , kau bisa masuk angin dengan pakaian seperti itu." Ujar Kevin melihat wajah kebingungan Viona.


Apakah Kevin tidak tergoda dengan penampilan Viona saat ini? Tentu saja tergoda, karena bagaimanapun juga dia adalah orang normal. Sosisnya pasti berdiri tegak saat melihat sesuatu yang menggoda, seperti yang di lakukan oleh Viona contohnya. Tetapi sebisa mungkin Kevin menahan hasratnya. Dia tahu Viona sangat lelah dan hanya ingin menggodanya saja.


"Kemarilah dan tidur."


Kevin menarik lengan Viona lalu mengungkung tubuh itu dengan lengan besarnya. Bukannya memberontak, Viona malah tersenyum lebar. Dia mencari posisi yang senyaman mungkin dan segera tidur. Kedua matanya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2