Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Lebih Hidup


__ADS_3

Malam hari di kota Beijing. Viona begitu menikmati keindahan kota ini. Saat di malam hari, Beijing terlihat lebih hidup dengan gemerlap lampu-lampu kota yang telah di nyalakan sejak petang menjelang. Lampu-lampu yang berasal dari gedung-gedung pencakar langit terlihat seperti lautan berlian saat di lihat dari kejauhan. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata orang-orang yang melihatnya.


Hampir di sepanjang jalan. Mata Viona di manjakan oleh banyaknya atraksi yang baru muncul ketika 'selimut hitam' menutupi langit. Pijar lampu kota, serta deretan kios pedagang kaki lima adalah sedikit alasan para warga kota ataupun turis yang berkunjung untuk tetap berada di luar ruang ketika malam tiba.


Di antara banyaknya pilihan, Beijing mungkin bisa jadi salah satu sudut terbaik untuk menjajal sensasi luar biasa yang tidak pernah di rasakan sebelumnya. Dengan perpaduan metropolitan dan kota kuno, ibu kota Tiongkok ini seakan hendak menyelaraskan malam dalam dua paras yang berbeda.


"Aku tidak pernah ingat jika pernah terlahir di kota seindah ini," kalimat yang keluar dari bibir Kevin sedikit mengalihkan perhatian Viona yang sedang menikmati keindahan kota. "Di kota inilah ternyata diriku di lahiran, dan bodohnya aku tidak pernah ingat pada kampung halamanku sendiri."


"Ge, berapa lama kau akan berada di sini? Satu hari, dua hari. Atau satu Minggu, dua Minggu. Atau mungkin satu bulan atau dua bulan?" tanya Viona memastikan.


Kevin menggelengkan kepala. "Aku sendiri tidak bisa memprediksikannya. "Bisa satu Minggu, dua Minggu atau bahkan 1 bulan. Tergantung situasi dan kondisinya, apalagi aku belum apapun untuk alasan datang ke kota ini." Jawab Kevin.


Viona mengangguk mengerti. "Aku paham. Dan seberapa lama pun kau di sini, aku akan tetap menemanimu." Ucap Viona sambil mengeratkan genggamannya pada jari-jari Kevin. Kevin tidak memberikan tanggapan, dia hanya menganggukkan kepala.


Mereka kembali menyusuri jalanan kota dengan tenang. Kali ini tanpa ada obrolan dan perbincangan. Mereka sama-sama diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Sesekali Viona menatap lelaki yang berjalan di sampingnya. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Kevin saat ini. Namun Viona sangat yakin jika itu ada hubungannya dengan pria bermarga Li tersebut.


Tiba-tiba Kevin menghentikan langkahnya membuat Viona ikut berhenti juga. Viona menoleh dan menatap Kevin dengan bingung. "Ada apa, Ge? kenapa tiba-tiba berhenti?" tanya Viona kebingungan.


Kevin menggeleng. "Tidak apa-apa, ayo jalan lagi." Ucapnya. Viona menganggukkan kepala. Sesekali Kevin menoleh ke belakang, entah hanya perasannya saja atau memang benar adanya jika mereka berdua diikuti. Namun ketika dia menoleh, Kevin tidak melihat adanya siapapun.


"Ge, entah hanya perasaanku saja atau bagaimana. Tapi aku merasa seperti sedang diikuti seseorang." Ucap Viona dan di balas anggukan oleh Kevin.


"Ya, aku juga merasakannya. Sebaiknya jangan sekalipun menoleh ke belakang, meskipun kita sama-sama menyadarinya. Tetaplah bersikap tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa," pinta Kevin.

__ADS_1


Viona mengangguk. Baik Kevin maupun Viona. Mereka sama-sama yakin jika mereka adalah orang-orang suruhan Sonny Li. Pasti ke datangan Kevin di Beijing sudah di sadari olehnya, makanya Sonny mengirimkan seseorang untuk mengawasinya.


"Ge, bagaimana jika kita berpencar saja? Kita perlu mengecoh mereka," ucap Viona memberi usul.


Kevin menggeleng. Dia tidak setuju dengan usul Viona. "Tidak, kitab tetap bersama-sama saja. Tetap bersikap tenang Seolah-olah tidak ada apa-apa,"


"Baiklah, aku mengerti." Viona menganggukkan kepala.


"Ikut aku," Kevin menarik lengan Viona untuk masuk ke sebuah gang.


Kevin ingin memastikan apakah mereka benar-benar diikuti atau tidak, dan benar saja, ternyata mereka benar-benar di ikuti. Dugaan Kevin dan Viona terbukti, setelah mereka bersembunyi orang-orang itu pun keluar dan mencoba mencari mereka berdua. Kedua pria itu pun tampak sangat frustasi. Mereka telah kehilangan jejak Kevin dan Viona.


"Sial!! Ke mana perginya mereka berdua? Kita kehilangan jejak mereka," ucap salah satu dari kedua pria itu.


"Kita harus mencari mereka sampai ketemu atau Bos akan marah dan memotong gaji kita," sahut pria satu lagi.


Pupil mata kedua pria itu membulat sempurna. Sontak dia menoleh dan mendapati Kevin berdiri di belakang mereka dengan ujung senjata yang teracung pada kepala keduanya. Refleks, mereka berdua mengangkat kedua tangannya sambil berbalik badan.


"Katakan kenapa kalian berdua mengikuti kami?" tanya Kevin pada kedua pria itu.


"Tolong jangan bunuh kami, aku dan adikku hanya menjalankan perintah saja. Bos , meminta kami supaya mengikuti kalian berdua." Jawab salah satu dari kedua pria itu.


"Siapa bos kalian?" tanya Kevin lagi.

__ADS_1


"Li Sonny, dia Bos kami. Dia juga yang memerintahkan pada kami supaya mengikuti dan mengawasi kalian berdua." Ujar pria itu.


"Kalian sudah tidak berguna lagi untukku ataupun pria itu, jadi lebih baik istirahatlah dengan tenang." Kevin melepaskan dua tembakan ke arah kedua pria tersebut hingga mereka tersungkur ke tanah dengan lubang tepat di kening dan dada kirinya.


Peredam yang terpasang pada senjata Kevin membuat perbuatannya tidak diketahui oleh orang lain. Apalagi lokasi Kevin menghabisi mereka sangat sepi. Kevin meninggalkan mayat keduanya dan kembali pada Viona.


"Dimana mereka berdua,Ge?" tanya Viona.


"Aku sudah membantu mereka berdua untuk istirahat dengan tenang, jadi kau tidak perlu cemas lagi ada yang mengikuti. Ayo," Kevin mengulurkan lengannya yang dengan senang hati di terima oleh Viona.


Keduanya kembali berjalan menikmati kota Beijing dengan tenang. Kevin pasti akan menyingkirkan batu-batu kerikil yang mencoba untuk mencelakainya dan tidak akan dia biarkan satupun dari mereka tetap hidup.


xxx


"Kek, apa kira-kira Gege marah dan kesal padaku , ya?" Frans bertanya pada Tuan Lu dengan ekspresi muka yang panik dan cemas. Dia masih tidak bisa berhenti memikirkan tentang Kevin yang tidak mau menerima panggilan darinya.


Tuan Lu mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepala. "Kakek, sendiri tidak tahu. Karena dia tidak membahas apapun tentang dirimu. Ada kemungkinan jika dia benar-benar marah dan kesal padamu," jelas Tuan Lu.


Seketika Frans menjadi sangat panas. "Bagaimana ini? Gawat gawat gawat. Sangat gawat jika Kevin Ge sampai benar-benar marah padamu. Bisa-bisa dia akan mendiami aku selama tujuh hari tujuh malam. Lalu ke mana dia sekarang?"


"Dia sedang pergi jalan-jalan bersama, Viona. daripada kau panik dan cemas, sebaiknya persiapkan dirimu untuk menerima konsekuensi terpuruk setelah kau bertemu dengannya. Karena ada kemungkinan Kevin bandar-bandar marah dan kesal padamu." Tutur Tuan Lu.


Frans tiba-tiba terpikir sesuatu. "Aku tahu. Aku sudah memiliki ide untuk membuatnya tidak marah dan kesal lagi padaku. Frans, kau benar-benar jenius." Kemudian Frans beranjak dari hadapan Tuan Lu dan pergi begitu saja. Dan lelaki tua itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah cucunya.

__ADS_1


xxx


Bersambung.


__ADS_2