
Viona pergi rumah sakit untuk memeriksakan tentang kondisinya pasca keguguran beberapa bulan lalu. Dia terlihat sendirian, tidak ada Kevin yang menemaninya. Bukan karena Kevin tidak bersedia menemaninya, namun Viona memang sengaja pergi
sendiri.
Jantung Viona berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya ketika dokter datang dengan membawa hasil tesnya. Dari raut wajahnya saja Viona sudah bisa menebak jika ada yang tidak beres.
"Dokter, bagaimana hasilnya? Apa saya masih bisa hamil lagi setelah keguguran kemarin?" tanya Viona memastikan. Jari-jarinya saling meremas, Viona sudah siap dengan segala kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.
"Saya menemukan sedikit masalah pada kandungan anda, Nyonya. Saya menemukan adanya sel kanker di dalam rahim Anda. Kita perlu melakukan beberapa tes lagi untuk memastikan apakah itu benar-benar sel kanker atau bukan," ujar Dokter itu menuturkan.
"Kanker?" Viona mengulangi ucapan dokter tersebut.
Dokter itu mengangguk. "Ya, namun itu masih kemungkinan dan belum pasti. Kita masih perlu melakukan beberapa tes untuk mengetahui hasilnya."
"Lalu, apakah saya masih bisa hamil jika Kanker benar-benar tumbuh di dalam rahim saya?" tanya Viona memastikan.
Dokter itu mengangguk. "Bisa, namun banyak sekali resikonya. Itulah kenapa kami tidak menyarankan pada wanita yang mengidap Kanker rahim untuk hamil dan melahirkan. Karena resikonya sangat besar, yakni bisa berpengaruh pada janin dan ibu."
"Lalu bagaimana cara untuk mengatasinya , Dok? Apa perlu melakukan pengangkatan rahim untuk mencegah hal terburuk terjadi?" tanya Viona memastikan.
"Ya, jika Kanker benar-benar di temukan di dalam rahim Anda. Secepatnya kita harus melakukan operasi pengangkatan rahim, karena hanya itu satu-satunya cara untuk mengobatinya." Jawab dokter tersebut membeberkan.
Viona mengepalkan tangannya mendengar penjelasan dokter. Rasanya Viona ingin sekali menangis setelah mendengar apa yang dokter itu katakan. Kenapa harus dirinya, kenapa hal-hal buruk harus menimpa hidupnya? Kenapa Tuhan harus tidak adil padanya? Kenapa harus dirinya, kenapa bukan orang lain saja yang menderita secara batin?!
"Apa itu artinya saya akan mati jika operasi tidak di lakukan?" tanya Viona memastikan.
"Bisa di katakan begitu. Untuk itu penanganan harus segera di lakukan jika yang saya temukan benar-benar sel kanker." Jawab dokter .
Kemudian Viona pamit pergi pada dokter itu. Satu Minggu lagi dia akan datang kembali untuk melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Dan sekarang dia harus mempersiapkan dirinya dengan matang untuk semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
"Ge, apa ini pertanda jika kita akhirnya harus berpisah?" gumam Viona membatin.
Viona menggeleng. Tidak, dia tidak ingin berpisah dari Kevin, entah itu meninggalkan atau di tinggalkan. Viona ingin selalu bersamanya dan melewati masa tua bersama, dia ingin hidup dengan bahagia bersamanya hingga mereka sama-sama menua.
Wanita itu menghentikan taksi. Dia harus segara pulang atau Kevin akan cemas karena pergi terlalu lama. Apalagi Viona mengatakan padanya hanya pergi sebentar saja, dan ini sudah dua jam lebih. Dia tidak ingin terkena masalah oleh suaminya.
Untuk saat ini Viona tidak ingin mengatakan apapun pada Kevin sampai dia mendapatkan hasil hasilnya.
.
.
"Ge, aku pulang!!" suara nyaring Viona menggema di seluruh penjuru ruangan. Wanita itu berseru dengan nyaring. Rumah tampak sepi dan tidak terlihat batang hidung Kevin di mana pun, hanya ada beberapa pelayan yang berjalan berlalu lalang.
Wanita itu menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Dan benar dugaan Viona jika Kevin ada di sana. Terbesit sebuah tanda tanya di benak Viona saat melihat banyak kapas penuh bercak darah berserakan di lantai kamar mereka. Viona mendekati Kevin yang sedang berbaring sambil menutup setengah mukanya dengan lengan kanannya.
"Ge," panggil Viona sambil menepuk pelan lengan Kevin.
__ADS_1
"Kau sudah pulang?" tanya Kevin tanpa menyingkirkan mengan itu dari wajahnya.
"Kenapa banyak sekali kapas yang penuh noda darah, apa kau terluka?" bukannya menjawab pertanyaan Kevin, Viona malah balik bertanya.
Kemudian Kevin menarik turun lengannya dan mendapati mata kiri Kevin tertutup perban dengan noda darah tepat di permukaan kasanya. Dan darah itu mengartikan jika luka itu masih baru. "Ge, apa yang terjadi kenapa matamu bisa sampai mengalami pendarahan seperti ini?!" kaget Viona.
"Sejak insiden dua bulan lalu. Mataku sering nyut-nyutan. Beberapa kali juga mengalami pendarahan, namun hanya sedikit. Dan setelah Paman Kim memeriksanya, ternyata ada gumpalan darah sehingga di perlukan pembedahan kecil. Bukannya membaik, pendarahannya justru semakin banyak." Tutur Kevin menjelaskan.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa pendarahannya belum berhenti juga?" tanya Viona, dia menatap Kevin dengan cemas.
"Sudah lebih baik dan pendarahannya tidak sebanyak tadi. Ngomong-ngomong kau dari mana? Kenapa lama sekali?" tanya Kevin.
Alih-alih menjawab. Viona malah menundukkan kepalanya. Awalnya dia berniat memberitahu Kevin setelah melakukan tes ulang, hati kecilnya memaksa Viona untuk mengatakan yang sekarang. Iya dan Kevin sudah menjadi suami istri, jadi seharusnya tidak ada yang ditutup-tutupi.
"Ge, ada kabar buruk yang ingin aku sampaikan padamu." Ucap Viona dengan lirih.
Kevin memicingkan matanya dan menata Viona dengan penasaran. "Memangnya Kabar buruk apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Kevin penasaran.
"Aku baru saja pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisiku pasca keguguran hari itu. Dan dokter malah menemukan sel kanker di dalam rahimku, namun dokter belum bisa memastikan itu benar-benar sel kanker atau bukan. Dokter menyarankan supaya aku melakukan pemeriksaan ulang Minggu depan." tutur Viona panjang lebar.
Kevin tidak terlihat terkejut sama sekali, seolah-olah dia telah mengetahui tentang kondisi Viona saat ini. Ya, itu benar, Kevin memang sudah mengetahui hal itu jauh sebelum Viona memberitahunya. Karena dokter sendiri yang memberitahu Kevin tentang kondisi keuangan saat ini.
Dan Kevin sengaja tidak mengatakan apapun, karena dia menunggu Viona mengatakannya secara langsung kepada dirinya. "Ge, kemungkinan besar kita tidak bisa memiliki anak." Ucapnya dengan suara parau dan mata berkaca-kaca.
Lagi-lagi Kevin hanya diam dan tidak memberikan tanggapan apapun dengan apa yang Viona sampaikan. Dia hanya diam sambil menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
Kevin menghela napas. tanpa mengatakan apapun Kevin meraih bahu Viona dan membawa wanita itu ke pelukannya.
"Aku sudah mengetahui semuanya, karena dokter sendiri yang memberitahuku tentang kondisimu. Kebetulan dokter itu adalah seniorku ketika kuliah dulu. Aku tidak peduli bagaimana kondisimu saat ini, aku hanya ingin kau bertahan bagaimanapun kondisinya nanti. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, karena aku tidak akan membiarkan dirimu pergi dari sisiku!!" tutur Kevin panjang lebar.
Mendengar apa yang Kevin sampaikan membuat air mata Viona jatuh semakin deras, wanita itu menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan suaminya, menumpahkan semua kesedihan dan rasa takut yang menghimpit dadanya.
Semua perasaan itu membuat dada Viona berkecamuk hebat, dia merasakan seperti ada bongkahan batu besar yang menghantam dan menghimpit dadanya hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas. Viona benar-benar tidak menginginkan semua ini terjadi.
"Bagaimana pun kondisinya, aku akan selalu berada di sampingmu dan tidak akan meninggalkanmu. Jika Tuhan memang tidak mengijinkan kita untuk memiliki keturunan, mau bagaimana lagi. Bukan Kita Yang menentukannya, karena semua terjadi atas kehendak Tuhan!!" tukas Kevin menuturkan.
Viona mengangkat kepalanya dari pelukan Kevin dan menatapnya dengan pandangan bertanya. "Ge, Apa kau tidak kecewa padaku karena aku tidak bisa memberimu keturunan?" tanya Viona memastikan.
Kevin menggelengkan kepala. "Tentu saja tidak. Meskipun kau tidak bisa memiliki anak, bukankah kita masih bisa melakukan bayi tabung untuk memilikinya?! Dan aku pasti akan melakukan yang terbaik supaya kelak ada seorang malaikat kecil yang memanggilmu dengan sebutan, Mama."
Viona kembali berkaca-kaca. Dia sungguh terharu mendengar apa yang baru saja Kevin katakan. Sungguh betapa beruntung Viona memiliki suami sepertinya yang mau menerima keadaannya apapun dan bagaimanapun kondisinya.
"Gomawo, Ge. Karena sudah mau menerimaku apa adanya, maaf karena harus mengecewakanmu," lirih Viona penuh sesal.
"Bodoh!! Apa yang sebenarnya kau katakan aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, karena mencintai seseorang bukan hanya sekedar menerima kelebihannya saja melainkan kekurangannya juga. Jadi jangan mengatakan terima kasih padaku apalagi merasa bersalah karena hal ini, Aku benar-benar benci mendengarnya!!" ujar Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.
wanita itu kembali berhambur ke dalam pelukan Kevin dan memeluknya dengan erat. Tidak salah dia memilih laki-laki itu untuk menjadi pendamping hidupnya. Kevin memang bukan tipe pria romantis yang akan mengatakan Aku mencintaimu setiap detik dan menitnya, namun dia selalu memiliki cara sendiri untuk mencintai Viona. Dan Viona sangat menyukai cara Kevin mencintainya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, kau terlihat jelek saat menangis." Ucap Kevin sambil menghapus air mata di pipi Viona.
Wanita itu mendorong Kevin hingga pelukannya terlepas. "Menyebalkan!! Baru saja mengatakan kata-kata romantis, tapi sekarang malah bersikap menyebalkan." Gerutu Viona sambil memanyunkan bibirnya. Bukannya tersinggung, Kevin malah terkekeh.
Sekali lagi Kevin membawa Viona ke dalam pelukannya. Dia akan mendampingi Viona melewati semuanya. Dan tidak akan Kevin biarkan Viona menangis lagi karena air matanya terlalu berharga. Bahkan lebih berharga dari semua harta-hartanya.
xxx
Kabar tentang Tuan Lu yang telah menemukan cucu-cucunya telah sampai ke telinga pria bermarga Li tersebut. Dia adalah Paman dari Steven Li , yang tidak lain dan tidak lain dan tidak tidak bukan adalah ayah kandung Kevin.
Kematian Steven dan keluarganya masih menjadi misteri hingga saat ini. Tidak ada yang tahu pasti tentang kematiannya, yang beredar di media mereka meninggal akibat kecelakaan pesawat yang tiba-tiba meledak di udara.
Namun setelah di selidiki, ternyata ada campur tangan orang dalam di balik kematian mereka.
"Lalu apa rencanamu? Kau tidak mungkin diam saja dan membiarkan mereka mengambil alih semuanya bukan?" pertanyaan wanita itu mengalihkan perhatian laki-laki akhir empat puluhan tersebut dari minumannya. Dengan enggan dia mengangkat kepalanya daftar wanita di sebelahnya.
"Tentu saja tidak. Untuk bisa menikmati semua harta ini aku sampai mempertaruhkan semua yang aku miliki, jadi tidak mungkin Jika aku membiarkannya begitu saja!!" jawab laki-laki itu menimpali.
Dia telah memiliki rencana untuk mencegah kedua Putra Steven mengambil kembali harta yang di tinggalkan oleh ayah dan kakeknya. Meskipun sebenarnya mereka yang berhak, akan tetapi bagi Sonny dirinyalah yang jauh lebih berhak atas semua harta itu.
"Memangnya Apa rencanamu?" tanya wanita yang berdiri di depan Sonny.
Sonny menatapnya sekilas. "Kau tidak perlu tahu apa rencanaku, apalagi berusaha untuk ikut campur. Karena masalah ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirimu!! Daripada kau banyak pertanyaan yang tidak jelas, sebaiknya Buatkan kopi saja untukku."
Katakan kakinya dengan kesal. Jika bukan karena uang, dia juga tidak akan sedih mengabdi pada orang kejam dan tidak berperasaan seperti Sonny. Karena sekarang, hidup ini hanya tentang uang uang dan uang. Karena tanpa uang orang tidak mungkin bisa hidup dengan enak dan nyaman.
"Jika bukan karena terpaksa, pasti aku sudah meracuni mu sejak lama!!" ucapan wanita itu dan melenggang pergi.
Meskipun mendengarnya dengan jelas, tetapi Sonny tidak sama sekali, karena dia sudah terbiasa mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut wanita itu. Dan jika bukan karena masih membutuhkan tenaga dan otaknya, pasti Sonny sudah membuangnya sejak lama. Intinya hubungan mereka bagaikan simbiosis mutualisme, yang hidup hanya untuk saling menguntungkan.
xxx
Tuan Lu mengangkat kepalanya saat mendengar suara ketukan pada pintu ruangannya. Lelaki tua itu Berseru dan mempersilakan orang itu untuk masuk. Tidak lama berselang pintu terbuka dari luar dan seorang laki-laki seumuran dengan Hwan memasuki ruangannya.
Tanpa dijelaskan sekalipun, tentu saja Tuan Lu sudah tahu Apa alasan kedatangannya. "Bagaimana hasilnya?" tanya Joseph Lu pada laki-laki itu.
"Saya telah menyelidikinya, dan benar dugaan Anda, Tuan. Sonny Li , sedang Merencanakan hal buruk untuk mencelakai kedua cucu Anda. Ternyata kabar tentang Anda yang sudah menemukan mereka telah sampai ke telinganya dengan cepat. Kami tidak tahu apa yang dia rencanakan saat ini, namun sepertinya sangat berbahaya." Jelas laki-laki itu.
"Segera lakukan sesuatu dan jangan sampai dia menyentuh kedua cucuku. Karena aku tidak bisa membiarkan mereka berdua terluka apalagi celaka!!" terang Tuan Lu dengan tegas.
Lelaki itu menganggukkan kepala. "Akan saya lakukan seperti yang Anda perintahkan, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu." ucapnya dan pergi begitu saja. Menyisakan Joseph Lu sendiri di ruangannya.
Joseph Lu mengepalkan tangannya. Dia telah memprediksikan jika hal semacam ini pasti akan terjadi, dan sebagai seorang kakek, tentu saja dia akan menjaga mereka berdua dengan baik. Tuan Lu tidak akan membiarkan siapapun menyentuh apalagi mencelakai cucu-cucunya. Jika ada yang berani, maka orang itu harus berhadapan dulu dengannya.
"Li Sonny, aku tidak akan memberikan rencanamu berjalan dengan lancar, karena aku akan melindungi cucu-cucuku dari tanganmu!!"
xxx
__ADS_1
Bersambung.