Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Season 2: Aiden Terluka


__ADS_3

Luna dan Alex sedang berusaha menghibur Eric yang lagi-lagi hatinya di patahkan oleh sang pujaan hati. Alex baru saja mendapatkan penolakan dari Ailee, Gadis itu menolak untuk perbaikan dengan Eric dan memulai kembali hubungan dengannya.


Padahal Eric sudah usaha meyakinkan pada Ailee jika dia akan memperjuangkan cinta mereka , bahkan dia siap untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Tetapi Ailee tetap menolaknya, dan hal itu membuatnya sangat sedih dan terluka.


"Ge, putus cinta bukan berarti hidup ini berakhir. Masa depanmu masih panjang, kenapa kau harus menderita hanya karena putus cinta? Wanita di dunia ini bukan dia saja, bukankah kau masih bisa menemukan dan mendapatkan yang jauh lebih baik dan lebih cantik darinya? Jadi untuk apa kau ratapi seperti ini?"


Eric menggeleng. "Tidak semudah itu , Luna!! Kau bisa mengatakannya karena tidak berada sendiri di posisiku. Aku sangat mencintainya, bahkan aku rela memberikan jantung ayam kemudian ku persembahkan untuknya, karena jika yang aku berikan jantungku sendiri diriku nanti bisa mati." ujar Eric.


Alex mendengus geli. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan adiknya ini. Bisa-bisanya dia masih memikirkan tentang kematian, ada kekonyolan yang terselip di dalam perbincangan tersebut.


BRAKKK ..


Dobrakan keras pada pintu menginterupsi obrolan mereka bertiga. Ketiganya menoleh dengan serempak kearah suara itu berasal. Pupil mata mereka bertiga membelalak sempurna. "GE, AIDEN!!" Luna, Alex dan Eric memekik sekencang-kencangnya melihat Aiden datang dengan keadaan terluka parah


Tubuh Aiden hampir saja roboh dan menyentuh lantai jika saja tidak ditahan oleh Luna tepat waktu."Ge, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka sampai seperti ini?" tanya Luna penuh kecemasan.


"ERIC, KENAPA DIAM SAJA SEPERTI ORANG BODOH?! CEPAT TELFON DOKTER HUANG!!" teriak Alex dengan gemas melihat Eric yang hanya seperti orang bodoh.


Eric mengangguk. "I..Iya sebentar, aku telfon dulu." Ucapnya tergesa-gesa.


"Luna, kita baringkan dia dan hentikan pendarahannya, setidaknya sudah ada tindakan awal sebelum dokter Huang datang." Ucap Alex dan dibalas anggukan oleh Luna.


"Ge, kita bawa ke kamar saja. Kalian bantu aku membawa Aiden Gege ke kamarnya," pinta Luna dan di balas anggukan oleh Alex dan Eric.


Gadis itu buru-buru lari ke arah tangga untuk mengambil kotak p3k yang tersimpan di laci dekat tangga. Beberapa pelayan datang membawa air dan handuk kecil untuk membersihkan darah di wajah dan perut Tuan Mudanya. Dan apa yang terjadi pada Aiden menggemparkan semua orang yang tinggal di kediaman Valentino.


"Ge, biar aku saja." Luna kemudian menggeser Alex yang sedang membersihkan luka-luka di tubuh Aiden.


Ada luka terbuka di pelipis kanannya. Luka lain tampak di bawah mata kanan dan memar pada tulang pipi kiri, dan yang terparah adalah luka di perut kirinya. Mereka bertiga bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi pada Aiden dan bagaimana dia bisa terluka sampai separah itu.

__ADS_1


Untuk saat ini Aiden masih belum bisa diajak berkomunikasi, dan seharusnya dia di rawat di rumah sakit. Namun karena dia benci yang namanya rumah sakit, Aiden memilih pulang ke rumah orang tua angkatnya dan menjalani perawatan jalan di rumah.


Dokter Huang datang. Dia segera mengambil alih pekerjaan Luna, karena luka terbuka di pelipis dan perut Aiden perlu di jahit untuk menghentikan pendarahannya. Alex dan Eric mengajak Luna untuk keluar supaya dokter bisa melakukan tugasnya dengan baik. Karena memang tidak seharusnya konsentrasinya di ganggu.


"Ge, aku ingin di sini saja menemani, Aiden Gege," rengek Luna. Dia menolak untuk keluar bersama kedua kakaknya. Tapi mereka tetap memaksa Luna dan membawanya keluar.


"Biarkan dokter Huang bekerja, sebaiknya kita keluar dan jangan ganggu fokusnya. Luka-luka Aiden perlu di jahit," ucap Alex menasehati.


"Benar apa yang Alex Gege katakan, dan kau tenang saja Luna, Aiden pasti baik-baik saja. Jadi ayo keluar," Eric berusaha membujuk Luna supaya mau keluar dengannya dan Alex. Meskipun agak sulit, namun akhirnya Luna mau keluar bersama mereka berdua.


Luna menoleh ke belakang dan menatap Aiden. Dia benar-benar tidak tega untuk meninggalkannya. Tapi mau bagaimana lagi, benar apa yang kedua kakaknya katakan. Tidak seharusnya dia menganggu konsentrasi Dokter Huang yang berusaha menghentikan pendarahan di perut dan pelipisnya.


.


.


Tiga puluh menit telah berlalu. Namun belum ada tanda-tanda Dokter Huang keluar dari kamar Aiden. Luna yang cemas terus mondar-mandir tidak jelas. Bahkan tingkahnya membuat Alex dan Eric sampai pusing. Berhenti sebentar melihat ke arah pintu lalu mondar-mandir lagi, dan begitupun seterusnya.


"Ck, diamlah Ge. Kau jangan banyak protes. Apa kau tidak tahu kalau aku ini sedang panik. Bagaimana kalau Aiden Gege sampai kenapa-kenapa, kalian sendiri juga tahu bukan jika darah yang keluar dari luka-lukanya sangat banyak." Ujar Luna.


"Amit-amit, jangan berpikir yang tidak tidak, dia pasti sembuh dan melewati semuanya. Lagipula Aiden memiliki banyak nyawa, dan orang dingin seperti dia tidak bisa mati dengan mudah," terang Eric.


Luna menghela napas. Dia benar-benar tidak bisa tenang sebelum mengetahui bagaimana keadaan Aiden sekarang. Memangnya apa saja yang dilakukan oleh Dokter Huang di dalam sana sampai-sampai tidak keluar juga.


Dan baru saja Luna hendak menerobos masuk ke dalam, tiba-tiba pintu di buka dari dalam, sosok dokter Huang keluar dari kamar tersebut dan menghampiri Luna serta kedua Kakaknya.


"Dok, bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja bukan?" tanya Alex memastikan. Sedangkan Luna sudah nyelonong masuk sejak beberapa saat yang lalu.


"Ya, dia baik-baik saja. Luka-lukanya sudah dijahit dan ditutup perban. Pastikan kalian rutin mengganti perbannya pagi dan sore hari. Usahakan lukanya tetap bersih supaya tidak terjadi infeksi, kalau begitu aku pergi dulu." ucap Dokter Huang

__ADS_1


"Biar kami antar sampai pintu." Ucap Alex dan Eric hampir bersamaan. Dokter Huang mengangguk, mereka bertiga kemudian berjalan beriringan meninggalkan lantai dua.


.


.


"Ge..." seru Luna sambil berjalan menghampiri Aiden.


Aiden membuka matanya yang sebelumnya tertutup dan mendapati Luna yang sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Pria itu menghela napas. "Jangan menangis, kau terlihat jelek jika menangis." Ucap Aiden.


"Bisa-bisanya kau bercanda di saat seperti ini. Ge, ini pasti sakit ya?" Luna menyentuh perban yang menutup luka di pelipis Aiden. Darah segar pada permukaan perbannya menandakan jika lukanya masih baru.


Aiden menggeleng. "Tidak terlalu. Sedikit ngilu luka yang ada di perutku." Jawabnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa terluka sampai seperti ini?" tanya Alex setibanya dia di kamar Aiden.


Alih-alih menjawab. Aiden malah menutup matanya. Sepertinya dia tidak ingin membahas apapun tentang apa yang baru saja menimpanya. "Baiklah kalau kau tidak ingin memberitahu kami, aku tidak akan memaksamu. Kalau begitu kau istirahat saja," pinta Alex dan dibalas anggukan oleh Aiden.


Alex mengajak Eric untuk keluar dan menyisakan Luna berdua dengan Aiden di kamar pria itu. Pandangan Luna kembali bergulir pada Aiden yang juga menatapnya.


"Ge, bisakah kau memberitahuku kenapa dirimu bisa sampai terluka seperti ini?" Luna memohon supaya Aiden memberitahunya, dia benar-benar penasaran dengan apa yang menimpa kakaknya tersebut.


"Bisakah kita tidak membahas apapun sekarang? Kepalaku sangat pusing dan aku ingin istirahat." Ucap Aiden sambil membuang muka ke arah lain.


"Tapi, Ge~"


"Luna, kepalaku benar-benar pusing. Aku sedang tidak ingin membahas apapun sekarang. Bukankah aku pulang dalam keadaan hidup-hidup sudah cukup. Kalau kau tidak bisa diam dan bersikap tenang, sebaiknya keluar saja, aku ingin istirahat."


Luna menundukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, aku akan keluar sekarang. Ge, maaf sudah mengganggumu." Tukas Luna, Dia berbicara dengan lirih lalu pergi begitu saja. Luna meninggalkan Aiden sendirian di kamarnya.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2