
Alex mendatangi sebuah club' malam yang terletak di jantung kota Seoul. Dia datang untuk menenangkan pikirannya yang sedikit kacau. Obrolan antara ayahnya dan Luna yang dia dengar tanpa sengaja menorehkan perih di hatinya. Rasanya dada Alex mau meledak saat dia mengetahui fakta jika Deen Williams bukanlah ayah kandungnya.
"Apa yang terjadi padamu, Lex? Tidak biasanya aku melihatmu sekali kau ini, apa kau sedang ada masalah?" Tegur seorang bartender sambil menatap Alex dengan pandangan bertanya.
Alex mengangkat wajahnya dan menatapnya dengan pandangan datar. "Aku benar-benar dalam keadaan yang sangat buruk. Aku baru saja mengetahui sebuah fakta yang sangat menyakitkan, orang yang selama ini aku kira sebagai ayah kandungku dan keluarga yang ku kira adalah keluargaku ternyata adalah orang lain." Ucapnya.
Bartender berjulukan 'Tiger' itu memicingkan matanya dan menatapnya penuh tanya. "Apa maksudmu?" dia bertanya dengan penasaran.
"Ternyata aku hanyalah anak angkat di keluarga itu, dan lebih menyebalkannya lagi pria yang selama ini aku kira sebagai ayah kandungku malah menyembunyikan kebenaran itu dariku selama puluhan tahun. Aku benar-benar tidak habis pikir dengannya, dia benar-benar membuatku kecewa." ujar Alex
Tiger terdiam. Dia menatap Alex dengan pandangan sedikit tajam dan meremehkan. "Kau kecewa padanya hanya karena dia tidak memberitahumu tentang kebenaran itu? Apa kau benar-benar tidak memiliki akal sehat, Alex?! Coba kau berada di posisinya, apa yang akan kau lakukan? Memberitahu pada putramu jika dia hanyalah anak angkat dan menghancurkan hatinya, atau tetap menjaga rahasia besar itu darinya hanya untuk tetap melihat senyum di wajahnya? Mana yang akan kau pilih, Lex?"
Tiger menghela napas sambil memejamkan matanya. "Kau jauh lebih beruntung dariku, Lex. Kau memiliki ayah yang menyayangimu dan adik-adik yang peduli padamu meskipun kau bulan bagian dari mereka. Mereka menyayangimu dengan sepenuh hati, bahkan ayahmu rela terjaga semalaman saat kau sedang sakit."
"Aku ingat betul bagaimana perlakuannya padamu, terkadang itu membuatku iri. Aku memiliki keluarga tapi seperti tidak memilikinya. Coba renungkan lagi dan ingat apa saja yang telah dia berikan padamu selama ini." Tiger memberikan nasehat pada Alex. Dia dia tidak ingin Alex sampai melakukan hal bodoh yang kelak akan membuatnya menyesal.
Kata demi kata yang keluar dari bibir Tiger memberikan tamparan keras pada Alex. Dia tidak terpikir sampai sana dan hanya terbawa emosi sesaat setelah tanpa sengaja mendengar kebenaran yang di ungkapkan oleh Tuan Williams pada Luna. Seketika dia teringat pada kenangan demi kenangan indah yang dia milik bersama lelaki paruh baya itu.
Alex menyala air matanya yang tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya. Tanpa menghiraukan Tiger, dia bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja. Alex ingin segera bertemu dengan ayahnya dan mengatakan betapa dia sangat menyayanginya. Alex menyesali kebodohan yang telah dia lakukan.
xxx
__ADS_1
Luna menutup matanya dan menghela napas. Berkali-kali dia mencoba untuk tidur kembali namun tidak bisa. Obrolan dengan sang ayah sore tadi masih terus terngiang di pikirannya, begitu sulit untuk Luna melupakannya dan menerima fakta jika Sean/Aiden ternyata bukanlah kakaknya melainkan hanya putra angkat di dalam keluarganya.
Diantara Eric dan Alex, sejak kecil Luna paling dekat dengan Aiden. Dialah orang yang selalu ada untuk Luna ketika dia membutuhkannya, bukan berarti Eric dan Alex tidak peduli padanya.
Luna sangat takut kehilangannya, dia takut kakaknya itu akan pergi dari sisinya. Karena Luna yakin suatu hari nanti pasti dia akan kembali pada keluarga kandungnya lalu meninggalkannya dan keluarga Williams.
Diam-diam Luna terisak dalam diam. Jangankan benar-benar mengalaminya. Baru membayangkannya saja sudah membuatnya sangat-sangat ketakutan. Luna benar-benar tidak ingin kehilangannya dan Aiden tidak boleh pergi dari sisinya.
Dan suara isak nya sampai ke telinga seseorang yang berdiri di balkon kamarnya, yang letaknya bersebelahan dengan balkon kamar Luna. Orang itu melompati pagar yang menjadi penghubungan antara kamarnya dan kamar Luna lalu melihat ke dalam untuk memastikan jika telinganya tidak bermasalah.
Benar saja. Ketika dia melihat ke dalam. Orang itu yang pastinya adalah Aiden mengetuk pintu kamar Luna, meminta supaya dia segera membukakan pintu untuknya.
Gadis itu menyeka air matanya sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya untuk Aiden. "Kenapa kau menangis?" tanya Aiden tanpa basa-basi. Alih-alih sebuah jawaban, malah pelukan yang Aiden terima. Luna memeluknya dengan erat, membuat Aiden kebingungan dan bertanya-tanya.
"Ge, kau harus berjanji padaku, apapun yang terjadi pokoknya kau tidak boleh meninggalkanku. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu." Ujar Luna sambil mengeratkan pelukannya.
Namun tidak ada jawaban dari Aiden. Dia bingung kenapa tiba-tiba Luna bersikap demikian, pupil mata Aiden tiba-tiba membulat sempurna. Dia melepaskan pelukannya lalu menatap Luna dengan tatapan bertanya.
"Luna, mungkinkah kau sudah tahu jika sebenarnya kita berdua bukanlah~"
"Jangan di teruskan. Aku tidak mau mendengarnya, kau itu Kakakku dan selamanya akan begitu." Luna menyela ucapan Aiden. Gadis itu terus menggelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah ke belakang.
__ADS_1
Aiden menarik Luna ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Dagunya bersandar pada kepala berhelaian coklat milik gadis itu. kedua mata Aiden tampak berkaca-kaca, hatinya begitu sakit dan dadanya terasa sesak mendengar isakan Luna. Dia paling benci saat mendengarnya menangis, dan Aiden lebih senang melihatnya tersenyum.
"Tidak, Aku tidak akan pernah meninggalkanmu apapun alasannya. Aku akan selalu berada di sisimu, menjaga dan melindungimu." Bisik Aiden dengan lirih.
Aiden menutup matanya. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Luna, Aiden berusaha meyakinkan pada Luna Jika dia tidak akan pernah meninggalkannya apapun alasannya, karena dia adalah satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidup Aiden. Hatinya selalu menghangat ketika melihat senyum indah yang menghiasi bibirnya.
Saat di rasa mulai tenang. Aiden melepaskan pelukannya pada Luna. Jari-jari besarnya menghapus jejak air mata di pipi gadis itu.
"Jangan menangis lagi, kau terlihat jelek. Luna ku adalah gadis yang ceria dan tidak cengeng seperti ini," ucap Aiden tersenyum.
Luna mempoutkan bibirnya mendengar ejekan kakaknya. "Dasar menyebalkan, terus saja mengejekku." Ujar Luna sambil merengut kesal.
Lagi-lagi Aiden tersenyum. Dia memegang pipi Luna dengan kedua tangannya. "Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan Aiden Gege, itu adalah namaku yang sebenarnya, nama yang diberikan langsung oleh kedua orang tuaku." Pinta Aiden dan di balas anggukan oleh Luna.
"Baiklah, Aiden Gege." Ucap Luna dan membuat Aiden tersenyum lebar. Kembali dia membawa gadis itu ke pelukannya dan memeluknya seperti tadi.
xxx
Bersambung
xxx
__ADS_1