
"Luis, kenapa kau harus berpihak pada keluarga yang telah membuatmu kehilangan ibumu dan menghancurkan keluarga kita?!"
Tapp ..
Langkah Kevin terhenti setelah mendengar teriakan keras Tuan Roy. Sontak Kevin berbalik badan dan menatap ayahnya dengan tajam. "Apa maksudmu?" tanya Kevin meminta penjelasan.
Tuan Roy meninggalkan tempatnya berdiri dan mendekati Kevin. "Kau tanya maksud Papa apa? Asal kau tahu saja, orang yang menyebabkan kebakaran malam itu adalah Jordan Zhang. Dengan mata kepalaku sendiri, Papa melihat bajingan itu ada di sana." Ujar Tuan Roy.
Jordan Zhang, adalah ayah Viona. Orang yang membawa dan menyelamatkan Kevin malam itu. Yang Kevin tahu, Jordan Zhang dan ayah angkatnya datang bukan sebagai tersangka dan pelaku pembakaran melainkan untuk menyelamatkan keluarganya namun mereka datang terlambat.
Dan masih sangat segar di ingatan Kevin ketika pria itu berlari ke dalam dan menerjang kobaran api hanya untuk mencari keberadaan ayahnya, namun dia keluar sebelum menemukannya karena api yang semakin besar. Sementara dirinya sudah berada di dalam lindungan Kakek Viona yang merupakan ayah angkatnya.
Sepertinya ada kesalahpahaman di sini. Mungkin saja Roy mengira jika kedatangan mendiang kakak dan ayah angkatnya hari itu untuk menghabisi seluruh keluarga Kevin. Namun pada kenyataannya, mereka datang untuk menolong. Dan Kevin telah menyelidikinya sendiri jika kebakaran malam itu bukan karena ulah orang lain melainkan karena konsleting pada listrik.
"Jika tidak tahu fakta yang sebenarnya, sebaiknya jangan asal menyimpulkan. Karena orang yang kau tuduh sebagai pembunuh tidaklah seburuk itu. Dan aku tidak suka kau berbicara buruk tentangnya, apalagi menyebutnya sebagai bajingan!!" tukas Kevin menegaskan.
"Luis, kenapa kau begitu membela mereka yang jelas-jelas seorang pembunuh?! Karena kejahatan pria itu , keluarga kita jadi terpecah belah. Ibumu terbunuh dan kita bertiga terpisah dalam waktu yang sangat lama. Aku ayahmu, orang tua kandungmu. Seharusnya di pihakku kau berdiri, bukan di pihak mereka. Apalagi kau menikahi wanita yang jelas-jelas putri seorang pembunuh!!" ujar Roy panjang lebar.
Kedua matanya membelalak saat ujung pistol mengarah padanya. Dengan mata berkilat tajam Kevin mengarahkan senja miliknya pada Roy yang jelas-jelas adalah ayah kandungnya, apa dia berniat untuk menghabisinya?!
"BERHENTI MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN LUIS, KARENA AKU SUDAH LAMA MELUPAKAN NAMA ITU." bentak Kevin dengan emosi. Dia tidak suka di panggil dengan nama masa kecilnya, karena Kevin sudah lama melepaskan masa lalunya.
__ADS_1
"Kevin, kenapa kau membentak Papa?" ucap Tuan Roy dengan suara gemetar.
"Lalu apa bedanya mereka denganmu? Kau dan dia sama-sama pembunuh, jika bukan karena ulahmu aku tidak akan kehilangan calon anakku dan Viona tidak sehancur ini. Jadi jangan pernah mengharapkan maaf dariku, segera pergi dari sini dan jangan lagi tunjukkan batang hidungmu di depanku!!" pinta Kevin lalu beranjak dari hadapan Tuan Roy dan pergi begitu saja.
"Jika aku tahu akhirnya akan seperti ini, lebih baik aku habisi kalian semua. Kau benar-benar tidak berguna, aku sangat menyesal kenapa Alexa harus melahirkan anak sepertimu yang hanya menjadi beban bagiku saja. Jika bukan karena aku sangat menyayangi Alexa, aku juga tidak sudi untuk mengakui anak haram seperti kalian berdua sebagai putra kandungku!!" tukas Roy.
Tanpa sadar Roy telah membuka sebuah rahasia besar yang tersembunyi selama puluhan tahun. Sungguh sangat mengejutkan, karena ternyata Kevin dan Frans bukanlah putra kandung Roy dan Alexa. Mereka adalah anak haram dan tidak di ketahui siapa ayah kandungnya. Karena sebelum menikah dengan Roy, Alexa adalah seorang wanita penghibur.
DORR ..
Kevin melepaskan satu tembakan pada kaki kiri Roy dan membuat pria itu tersungkur seketika. "Kau sudah gila , ya? Kau benar-benar berniat membunuhku?!" bentak Roy dengan suara meninggi.
"Aku sudah tidak memiliki alasan lagi untuk membiarkanmu berkeliaran secara bebas. Karena aku akan membuatmu menjadi manusia tidak berguna dan membusuk di penjara!! Rico, seret dia dan bawa dia ke kantor polisi." Pinta Kevin dan dibalas anggukan oleh Rico.
Kevin sengaja tidak menghabisi nyawanya. Dia sudah lelah jika harus membuat nyawa orang lain melayang dengan sia-sia di tangannya. Mungkin dia memang harus berhenti, sudah lama kedua tangannya selalu berlumur darah.
Kevin mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mencoba untuk menghilangkan kata-kata Roy dari benaknya tentang statusnya yang merupakan seorang anak harram. Kevin sudah tidak peduli lagi dengan hal itu. Dia tidak peduli apakah dirinya memiliki keluarga atau tidak, bagi Kevin semua sama saja.
Dibandingkan harus terlarut dalam kesedihan yang tabuh. Masih ada hal yang jauh lebih penting yang harus dia lakukan, yakni mengembalikan senyum dibibir Viona seperti dulu lagi. Kevin benar-benar sedih melihat keadaan Viona saat ini, dia seperti kehilangan semangat hidupnya.
"Ge," perhatian Kevin teralihkan oleh panggilan tersebut. Terlihat Frans menghampirinya. Sepertinya dia mendengar obrolannya dan Roy tadi. "Ge, apa benar yang dikatakan olehnya jika kita berdua adalah anak harram?" Frans menatap Kevin dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Untuk apa kau memikirkan hal itu apalagi sampai bersedih. Mau kita anak harram atau bukan, itu tidaklah penting sama sekali. Lagipula kau masih memiliki aku, Viona dan juga Rico. Jadi jangan memikirkan sesuatu yang tidak perlu untuk di bahas." Tutur Kevin menasehati. Dia tidak suka melihat Frans yang lemah seperti itu.
Frans menghapus air matanya, dia tidak ingin membuat kakaknya semakin marah. Memang tidak seharusnya Frans bersedih dengan hal ini, mau anak harram atau bukan, sekarang semua itu sudah tidak penting lagi.
"Maaf, Ge. Aku tadi hanya terbawa suasana. Aku tidak akan seperti ini lagi,"
Kevin menepuk bahu Frans. "Begini lebih baik. Aku titip Viona sebentar, aku mau pulang untuk ganti pakaian dan mengambil baju ganti untuknya." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Satu permasalahan sudah selesai. Kevin berharap tidak ada lagi masalah-masalah lainnya yang membuat runyam hidupnya. Dia hanya ingin menjalani hidup yang tenang bersama Viona dan keluarga kecilnya. Meskipun itu sangat mustahil mengingat status Kevin yang merupakan seorang bos mafia.
xxx
Tuan Roy terus meronta dan berteriak ketika Rico mengiringnya ke kantor polisi. Sampai-sampai Rico terpaksa mengikat tubuhnya dan menyumpal mulutnya dengan kaos kaki miliknya.
Sesekali pandangan Rico bergulir pada Roy yang terus meronta dan berguling di jok belakang mobil yang sedang di kemudiannya. Sekuat apapun dia berusaha melepaskan ikatan itu, usahanya akan sia-sia saja karena Rico mengikatnya dengan menggunakan rantai.
"Diamlah Paman, kau itu terlalu berisik. Biarkan aku konsentrasi mengemudi , atau kau ingin kita berdua mengalami hal yang fatal?" ucap Rico. Dia kesal sendiri dengan tingkah pria itu.
Bukannya berhenti. Roy malah memaki Rico dengan bahasa yang tidak dia mengerti. Mulut Roy tersumpal sehingga dia tidak bisa berbicara dengan benar. Hanya terlihat matanya yang melotot saja.
"Dasar orang sinting, bicara malah seperti orang kumur-kumur. Ada-ada saja,"
__ADS_1
xxx
Bersambung