Ranjang Hangat Pamanku

Ranjang Hangat Pamanku
Kembali Ke Seoul


__ADS_3

"Justru aku akan teramat sangat bodoh jika sampai melepaskan berlian hanya demi batu kerikil sepertimu. Bercermin Lah sebelum bandingkan dirimu dengan orang lain, karena sampai kapanpun kau tidak akan pernah sebanding dengan Viona!!"


Kevin menampar keras Denada dengan kata-katanya. Jadi Kevin hanya menganggapnya batu kerikil yang tidak berguna, ternyata dia salah mencintai seseorang.


Denada pikir perasaannya pada Kevin akan terbalas, namun dugaannya salah besar. Ternyata dia tidak bisa meluluhkan Kelvin dengan pesonanya, yang ada dirinya malah berkahir dengan tragis.


Denada tertawa, namun dalam hitungan detik tawanya berubah menjadi air mata. Denada menangis, menyesali kebodohannya karena telah jatuh cinta pada orang yang salah. Seharusnya dia tidak buta dengan cintanya pada Kevin. Jika saja dia fokus untuk membalaskan dendam kakaknya pada pria itu, mungkin saja dia tidak akan berkahir tragis seperti ini.


"Aku benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada orang sepertimu!!"


"Ya, kau memang bodoh. Dan kau adalah wanita terbodoh yang pernah aku temui di dunia ini, bagaimana bisa Kau menghancurkan hidupmu sendiri hanya karena cinta. Untuk itu terimalah nasibmu, dan jalani hidupmu baik-baik di sini. Sampai jumpa wanita bodoh!!" Kevin melambaikan tangannya pada Denada dan pergi begitu saja.


Apakah hukuman untuk Denada telah selesai? Maka jawabannya belum, karena hukumannya baru saja di mulai. Dan mulai sekarang dia harus merasakan hidup bagaikan di neraka.


xxx


Sesuai rencana, Viona dan Kevin akan kembali ke Seoul hari ini. Frans terlihat amat sangat sedih ketika mengetahui akal dan kakak iparnya akan kembali ke Korea hari ini juga. Belum berakhir rasa kehilangan setelah kepergian Kakeknya, sekarang kakak dan kakak iparnya harus berjauhan darinya, dan hal itu membuat Frans teramat sangat sedih.


"Ge, Nunna, apa keberangkatan kalian tidak bisa ditunda saja? Aku ingin kalian tetap di sini lebih lama lagi," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Kevin menggeleng. "Aku sudah menunda kepulanganku lebih dari satu bulan, dan kepulangan hari ini tidak bisa ditunda lagi, sebaiknya jaga dirimu baik-baik. Kau memiliki tanggung jawab yang sangat besar, melindungi perusahaan peninggalan Kakek dan juga, Hwan Ge. Kau sudah dewasa, tidak perlu menangis, aku dan Viona akan lebih sering datang untuk mengunjungi kalian. Kalau begitu kami pergi dulu," Kevin menepuk bahu Frans dan berlalu dari hadapannya.


Hwan mendekati Frans lalu merangkulnya, berusaha untuk menenangkan pemuda itu. Hwan mengerti betul apa yang tengah dirasakan oleh Frans saat ini, karena dia juga merasakannya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, jangan bersedih lagi. Lagipula perpisahan ini hanya sementara saja, cepat atau lambat kita pasti bertemu dan berkumpul lagi dengan mereka berdua. Ayo pulang." Hwan mengajak Frans untuk pulang. Dia tidak menjawab apa-apa dan hanya menganggukkan kepala. Keduanya lalu melenggang pergi meninggalkan bandara.


Sebenarnya Kevin sendiri tidak tega untuk meninggalkan Frans, namun mau bagaimana lagi, dia sudah terlalu lama meninggalkan tanggung jawabnya, untuk itu dia memang harus kembali secepatnya.


"Ge, aku tidak tega melihatnya. Sepertinya Frans benar-benar sedih karena kita kembali ke Seoul hari ini, dia pasti akan sangat kesepian saat tidak ada kita," ujar Viona. Dia benar-benar tidak tega melihat adik iparnya yang terlihat amat sangat sedih saat melihatnya dan Kevin memasuki pesawat.


"Mau bagaimana lagi. Aku sudah terlalu lama meninggalkan tanggung jawabku di Korea, bahkan aku sendiri tidak tahu bagaimana keadaan perusahaan sekarang karena terlalu sibuk di China. Rico , memang selalu memberikan data-data tentang perkembangan perusahaan dari hari ke hari, namun aku tidak bisa untuk selalu memantaunya. Dan semoga semua tetap baik-baik saja," Tutur Kevin.


Viona mengangguk. "Ya, Aku juga berharap begitu."


Jawaban Viona mengakhiri perbincangan di antara mereka berdua. Suasana hening menyelimuti kebersamaan Kevin dan Viona, kali ini mereka tidak menggunakan pesawat komersial melainkan jet pribadi milik keluarga Lu. Meskipun memiliki jet pribadi sendiri, namun semasa hidupnya Tuan Lu memilih menggunakan pesawat komersial.


.


.


Viona menghentikan langkahnya. Dia merentangkan kedua tangannya sambil menutup matanya dan menghirup udara dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. "Akhirnya, kita tiba juga di Korea." Ucapnya sambil tersenyum lebar. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa mengobati rasa rindunya akan suasana di Korea.


"Vi, sebaiknya kau pulang duluan saja. Aku masih harus pergi ke suatu tempat." Ucap Kevin membuat sepasang mata yang sebelumnya tertutup rapat sekarang terbuka lebar


"Ge, memangnya kau mau pergi ke mana?" tanya Viona penasaran.


"Kantor. Tidak masalah bukan jika kau pulang dengan taksi?"

__ADS_1


Viona menggeleng. "Tentu saja tidak. Tapi kalian harus memberiku tuk tangan sampai depan. Bukan bukan, sampai aku mendapatkan taksi." Ucapnya dan di balas anggukan oleh Kevin.


Baru saja tiba, namun Kevin sudah mendapatkan laporan jika terjadi masalah di kantornya. Untuk itu Dia memutuskan langsung pergi ke kantor tanpa pulang dan beristirahat terlebih dulu. Kevin tidak bisa tenang apalagi Hwan mengatakan jika masalah yang terjadi bukanlah masalah ringan. Untuk itu dia akan pergi untuk memastikannya.


xxx


Agnes menjatuhkan menjatuhkan tubuhnya dengan lemas setelah mendengar dari pelayan di kediaman Lu jika Denada telah menghilang sejak tiga hari yang lalu. Tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaannya, wanita itu menghilang tanpa jejak.


Saat ini Agnes sedang mencari informasi tentang keberadaan adiknya. dia akan menyelidiki tentang apa yang terjadi pada Denada, Agnes hanya bisa berdoa dan berharap semoga adiknya masih hidup dan baik-baik saja, meskipun kemungkinannya sangat kecil.


"Lalu di mana Tuan Muda-mu sekarang? Pertemukan aku dengan, Kevin." Pinta Denda.


"Maaf, Nona. Tapi Tuan Muda sudah tidak ada lagi di sini, sudah kembali ke Seoul siang tadi, dan kemungkinan besar beliau sudah tiba di sana." Jawab pelayan itu.


"Kembali ke Seoul?"


Pelayan itu mengangguk. "Ya, Nyonya. Dan saya rasa Tuan Muda tidak ada hubungannya dengan menghilangnya, Denada. apalagi tuan muda adalah orang yang sangat sibuk, jadi beliau tidak memiliki waktu untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting."


"Bagaimana kau bisa yakin jika dua pemuda pun tidak ada hubungannya dengan menghilangnya, Denada? Apa kau memiliki bukti yang bisa membuktikan jika Tuan Muda-mu memang tidak terlibat dalam peristiwa tersebut?" Agnes menata pelayan itu dengan pandangan menantang.


"Saya memang tidak memiliki bukti apa pun. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, namun Tuan Muda benar-benar tidak memiliki waktu untuk hal-hal yang tidak berguna dan penting seperti itu. Sebaiknya cari saja dia di tempat lain, dia benar-benar tidak ada di sini, kalau begitu saya permisi dulu." Pelayan membungkuk pada Agnes dan pergi begitu saja.


Daripada harus meladeni Agens, lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Karena berbincang dengan Agnes hanya membuang-buang waktu saja, begitulah yang pelayan itu pikirkan.

__ADS_1


xxx


Bersambung


__ADS_2