
Keheningan menyelimuti kebersamaan Aiden dan Luna di dalam mobil yang melesat di antara laju kendaraan lainnya yang begitu riuh memadati aspal keabuan. Malam penuh warna karena deretan lampu penerang jalan dan lampu dari kendaraan yang saling sorot.
Lalu pandangan Luna bergulir pada Aiden yang sedang fokus mengemudi. "Ge, kenapa kau tiba-tiba datang? Darimana kau bisa tahu jika aku ada di restoran itu?" pertanyaan yang keluar dari bibir Luna mengakhiri keheningan diantara mereka berdua.
Lantas Aiden menoleh dan membuat pandangan mereka bertemu. "Aku melacak ponselmu, bisa-bisanya kau mengikuti kencan buta yang direncanakan oleh mereka berdua, yang ujung-ujungnya malah menyesatkan mu. Jika memang ingin berkencan, setidaknya lihat dulu bebet bobotnya. Jangan asal ambil saja ketika orang lain merencanakannya untukmu." Ujar Aiden. Dia memberikan nasehat pada Luna supaya tidak sembarangan lagi mengikuti kencan buta.
"Iya, iya. Aku janji ini pertama dan terakhir kalinya aku mengikuti kencan buta seperti ini. Oya, Ge. Kau ini sedang sakit, kenapa malah kelayapan? Seharusnya kau itu istirahat di rumah,"
"Aku tidak akan pergi jika kau tidak pergi untuk mengikuti acara konyol itu." Jawab Aiden.
Mobil yang Aiden kemudikan berhenti di salah satu tempat parkir di taman yang berhadapan dengan jembatan Banpo. Air yang berada di bawah jembatan berwarna keemasan yang dibiaskan oleh lampu-lampu sepanjang jembatan. Dan mereka datang diwaktu yang tepat, karena sebentar lagi akan ada pertunjukan air mancur warna-warni.
Malam itu suasana cukup ramai, ada banyak orang yang juga datang sekedar untuk jalan-jalan, atau duduk dan mengobrol dengan kawan maupun pasangan masing-masing.
Luna turun dari mobil diikuti Aiden. Mereka berdua berdiri bersebelahan melihat pemandangan air mancur yang dihiasi lampu LED warna-warni.
__ADS_1
Sungai Han menjadi pemandangan spesial malam ini untuk Luna. Bukan tanpa sebab Ia datang kemari, tapi Aiden yang menginginkan. Lampu penerang jalan serta lalu lintas kendaraan terlihat kecil di atas jembatan Banpo yang gagah membelah sungai Han.
Aiden menoleh dan mendapati Luna yang sedang menggosok lengannya dengan jari-jari lentiknya. Udara malam ini memang agak dingin dari malam-malam sebelumnya.
Tanpa berkata apa-apa, Aiden melepaskan jasnya lalu menyampirkan di bahu gadis itu. Luna tersenyum lebar, dieratkan jas yang kebesaran itu dengan pandangan lurus ke depan.
"Ge, kau lihat pasangan-pasangan itu? Mereka masih muda tapi sudah berpasangan, bahkan jika dilihat usia mereka masih belasan tahun. Sedangkan aku, yang sudah 23 tahun malah belum memiliki pasangan, aku juga ingin berkencan." ujar Luna.
Sebenarnya Luna juga ingin berkencan dan merasakan bagaimana rasanya memiliki kekasih, pasti sangat menyenangkan apalagi kekasihnya yang dingin seperti kutub Utara karena yang seperti itu biasanya setia dan tidak mudah tergoda oleh perempuan lain.
Luna tampak berpikir. "Yang bagaimana ya, yang jelas harus tampan dan setia, tidak suka main hati apalagi main wanita. Memiliki wajah yang tampan namun juga sedikit cantik, sifat dingin seperti kutub Utara, karena kebanyakan yang dingin seperti kutub itu yang setia dan tidak macam-macam. Lebih bagus lagi kalau dia seorang Mafia, karena mafia sekalinya bucin pasti akan melakukan apapun untuk pasangannya. Ya, begitulah yang aku inginkan." Ujar Luna panjang lebar.
Dan hampir semua ciri-ciri yang Luna sebutkan ada pada diri Aiden. Tampan dan cantik diwaktu bersamaan, dingin seperti kutub Utara dan mafia berarti orang yang berbahaya, dan lagi-lagi itu ada pada diri Aiden.
"Ge, kenapa kau malah diam? Apakah ada yang salah dengan ciri-ciri yang aku sebutkan barusan? Sepertinya tidak, menurutmu bagaimana? Bukankah aku memiliki selera yang bagus?" ucap Luna dan langsung dihadiahi sebuah jitakan oleh Aiden.
__ADS_1
"Bukannya bagus, tapi seleramu sangat mengerikan. Ini sudah malam, sebaiknya kita pulang saja. Kepalaku agak sedikit pusing," Aiden memegangi pelipisnya yang terbalut perban lalu beranjak dari hadapan Luna.
Luna buru-buru mengejarnya lalu berjalan beriringan dengan pria itu. "Makanya, jangan kelayapan. Sudah tahu masih sakit tapi malah memaksakan diri untuk pergi. Kau kan bisa mengirim pesan singkat atau menghubungiku lalu memintaku untuk pulang, bukannya malah pergi mencari sendiri." Alhasil Aiden malah diomeli habis-habisan oleh Luna.
Bukannya merasa tersinggung, Aiden malah mendengus geli melihat ekspresi Luna yang seperti ibu-ibu sedang memarahi anaknya karena bandel dan susah diatur.
"Sudah, jangan bicara lagi. Ayo pulang, kau yang mengemudi. Kepalaku benar-benar pusing." Aiden merangkul bahu Luna dan keduanya menuju tempat dimana Aiden memarkirkan mobilnya.
Luna mengangguk. "Baiklah. Dan kau harus duduk dengan tenang, biarkan aku menjadi supir pribadimu untuk sekali ini saja." Ujar Luna.
"Terserah kau saja." Aiden mengusap kepala Luna. Senyum tercetak dibibir kiss Able-nya. Senyum yang membuat Luna ikut tersenyum juga. Selanjutnya mobil Aiden yang dikemudian oleh Luna melaju kencang membela jalanan malam.
xxx
Bersambung
__ADS_1