
Suara gaduh yang berasal dari dapur membuat Kevin terlonjak kaget. Pria itu membuka matanya yang sebelumnya masih terpejam. Menyibakkan selimut yang membungkus setengah tubuhnya lalu berlari meninggalkan kamarnya untuk melihat apa yang terjadi.
Dia berpapasan dengan Tuan Lu yang sama terkejutnya seperti Kevin. Dan mereka berdua sama-sama berpikir jika ada maling yang masuk ke dalam Villa.
Setibanya di dapur. Bukan maling yang mereka lihat melainkan Viona yang sedang menyiapkan sarapan dengan susah payah. Dan keadaan dapur sudah tidak berbentuk lagi, bahkan banyak telor mata sapi yang menghitam tertata di atas meja makan.
"Viona, apa yang sedang kau lakukan?" tegur Kevin sambil menghampiri wanita itu.
Sontak Viona menoleh. Wanita itu tersenyum tiga jari memamerkan deretan gigi putihnya. "Aku hendak menyiapkan sarapan tapi gagal total. Semua telor mata sapi yang aku masak gosong dan menghitam." Ucapnya memberi penjelasan.
Kevin menghela napas. Dia mendekati Viona lalu mematikan kompor yang masih menyala. "Sudah tahu sangat payah dalam urusan dapur, tetap saja memaksakan diri. Sebaiknya kita pesan saja dari luar."
"Tidak perlu memesan makanan dari luar. Biar Kakek saja yang menyiapkan sarapan untuk kalian berdua," seru Tuan Lu dan mengalihkan perhatian mereka berdua.
Viona menatap Tuan Lu tidak percaya. "Kakek bisa memasak?" ucapnya memastikan. Lelaki tua itu menganggukkan kepala.
Tuan Lu menggulung lengan kemejanya sampai sebatas siku lalu membereskan semua kekacauan yang diciptakan oleh Viona hingga bersih dan dapur kembali rapi. Tuan Lu menoleh kebelakang dan menatap pasangan muda itu bergantian.
"Kakek, akan menyiapkan sarapan lezat untuk kalian berdua," ucapnya dengan senyum yang sama.
"Maaf, merepotkan." Ucap Kevin penuh sesal. Seharusnya dia yang melayani Tuan Lu, karena bagaimana pun juga dia adalah tamu. Tapi yang ada malah dia yang melayaninya dan Viona.
Tuan Lu menggeleng. "Sama sekali tidak. Dulu saat Putri dan istriku masih ada, Kakek sering sekali memaksakan untuk mereka berdua. Dan sudah lama kakek tidak memasak untuk siapa pun, sekarang Kakek akan memasak untuk kalian berdua."
"Baiklah," Kevin menganggukkan kepala lalu meninggalkan dapur dengan Viona berjalan mengekor di belakangnya.
Sikap Kevin pada Viona masih tetap dingin. Bahkan dia tidak menghiraukan wanita itu sama sekali meskipun tahu jika Viona berjalan mengekor dibelakangnya. Hanya sesekali dia melirik ke belakang dari ekor matanya. Sebenarnya Kevin tidak tega jika harus terus-terusan mengacuhkannya. Dia hanya ingin Viona sadar dan tidak terus-terusan larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Paman, tunggu!!" seru Viona dan menghentikan langkah Kevin. Kevin berbalik badan, posisinya dan Viona saling berhadapan. "Maaf," ucap Viona dengan lirih.
"Maaf, untuk apa?" Kevin bertanya dengan dingin.
"Untuk sikapku selama dua Minggu terakhir. Aku sadar aku salah dan sudah berlebihan, bahkan sikapku sangat menyebalkan sampai-sampai membuat Paman kesal. Aku tahu Paman merasakan juga apa yang aku rasakan, tapi kau bukan aku dan tidak akan pernah bisa memahami perasaanku."
"Selama dua bulan dia selalu bersamaku , kemanapun aku pergi dia selalu ikut dan menemani. Kami berbagi makanan dan minuman. Apa yang aku makan dan aku minum, itu juga yang dia makan dan dia minum. Lalu tiba-tiba dia menghilang begitu saja dari diriku, apa Paman bisa membayangkan seberapa hancurnya diriku? Kau tidak mengalaminya sendiri jadi Paman tidak akan paham dengan yang ku rasakan." Viona mengambil jeda dalam ucapannya.
Wanita itu menutup matanya dan setetes kristal bening mengalir dari pelupuknya lalu membasahi wajah cantiknya. "Tapi sekarang aku sadar. Jika sikapku selama dua Minggu ini sangat berlebihan. Terimakasih telah membuatku sadar , aku akan bangkit dan mencoba untuk merelakan kepergiannya. Karena aku percaya Tuhan pasti akan menggantinya kembali suatu hari nanti." Tutur Viona panjang lebar.
Tanpa mengatakan sepatah kata pun Kevin menarik Viona ke dalam pelukannya dan merengkuhnya dengan erat. Dengan lirih Kevin berbisik. "Aku juga minta maaf. Tidak seharusnya bersikap kasar apalagi membentakmu. Maaf, Viona. Aku benar-benar minta maaf," gumam Kevin penuh sesal.
Viona menggeleng. "Tidak, Paman. Kau tidak bersalah. Kau sudah melakukan hal yang benar, karena jika kau tidak menyadarkanku pasti aku akan terus terpuruk dalam kesedihan." Ucap Viona sambil membalas pelukan Kevin.
Kevin melepaskan pelukannya. Matanya terkunci pada manik Hazel milik Viona. Senyum lembut tersungging di sudut bibirnya. Sebelah tangan Kevin menarik tengkuk Viona dan mencium singkat bibir ranum tipisnya.
xxx
Rasa bosan melanda Frans dan Rico. Mereka berdua teramat sangat bosan karena tidak memiliki kegiatan yang bisa dilakukan. Ingin pergi ke kantor tapi mereka tidak memiliki jabatan pasti di sana.
Ingin berkelahi dengan musuh Kevin, tapi semua musuhnya sudah di habisi. Ingin bekerja, tapi bingung harus kerja apa, rasanya dunia mereka sangat hampa tanpa ada perkelahian dan pengintaian seperti dulu.
"Aku bosan," seru Frans sambil merebahkan tubuhnya di samping Rico
Lelaki itu menoleh. "Sama, aku juga. Diam seperti ini malah membuat badanku sakit semua. Aku benar-benar bosan karena tidak memiliki kegiatan sama sekali." Ujar Rico.
"Ge, bagaimana kalau kita pergi dan menghibur diri? Dari pada kita begini-begini saja tanpa kegiatan apa-apa, lebih baik pergi cari hiburan di luar sana." Ujar Frans memberi usul.
__ADS_1
"Caranya?" Rico menatap Frans penasaran.
Frans tidak langsung menjawab. Pemuda itu menaik-turunkan alisnya bergantian. Melihat sikap Frans yang sedikit mencurigakan membuat Rico menjadi was-was. Entah kenapa dia sangat yakin jika rencananya sedikit tidak beres.
Rico menggeleng. "Aku tidak mau. Rencanamu selalu menyesatkan. Aku masih trauma dengan insiden kemarin malam. Hampir saja perjakaku hilang karena mengikuti rencana gilamu, bagus kalau yang mengambilnya wanita tulen. Lah yang mengejar kita makan wanita jadi-jadian. Amit-amit, aku gak mau hal mengerikan itu terulang kembali." Ujar Rico. Dia menolak tegas rencana Frans yang ujung-ujungnya pasti akan membuatnya sial.
"Tapi rencana ini sangat luar biasa, Ge. Dan aku jamin kau akan menyesalinya karena menolak untuk mengikuti rencana ku." Tutur Frans.
Rico menggeleng. "Sekali tidak tetap tidak!! Aku tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, lebih baik aku tidur di rumah daripada mengikuti rencana gila mu!!" tukas Rico lalu pergi begitu saja. Dia tidak ingin sial lagi. Frans mengangkat bahunya dengan acuh. Karena Rico menolak untuk ikut, maka dia akan pergi sendiri saja.
xxx
Keheningan menyelimuti kebersamaan Kevin, Viona dan Tuan Lu di meja makan. Tidak ada obrolan diantara mereka bertiga, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang bersentuhan dengan piring.
Sebenarnya Viona sangat benci suasana semacam ini. Dia tidak bisa jika harus diam saja, tetapi tidak untuk Kevin dan Tuan Lu. Mereka berdua sudah terbiasa untuk tidak bicara ketika di meja makan. Dan hal itu membuat Viona menghela napas sampai berkali-kali.
Kevin menoleh dan menata Viona dengan bingung. "Ada apa? Kenapa kau terus saja menghela nafas? Apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Kevin mengakhiri keheningan.
Wanita itu menghela nafas untuk kesekian kalinya sebelum menjawab pertanyaan Kevin. "Ya, dengan terus diam seperti orang bisu. Kalian berdua benar-benar membuatku sangat tidak nyaman." Ujar Viona.
Viona menatap mereka berdua bergantian. "Ayolah, Paman, Kakek. Kita ini bukan keluarga ningrat yang penuh dengan tata krama dan memegang teguh nilai-nilai kesopanan. Lagi pula yang ada di meja makan adalah keluarga sendiri jadi jangan terlalu formal apalagi menyebalkan!!" tutur Viona panjang lebar.
"Hahaha... Baiklah baiklah, kita mengobrol saja. Tidak perlu formal , oke." Ucap Tuan Lu menimpali.
Diam-diam Kevin menarik sudut bibirnya dan tersenyum kecil. Lega rasanya melihat Viona telah kembali seperti sedia kala, meskipun dia masih melihat kesedihan di kedua matanya. Tetapi setidaknya itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Perlahan-lahan Viona pasti bisa melupakan kesedihannya.
xxx
__ADS_1
Bersambung