
Kevin menghentikan mobil mewahnya di sebuah gedung perkantoran yang memiliki puluhan lantai. Pria dalam balutan setelan jas hitam dan kemeja putih itu terlihat turun dari mobil mewahnya lalu melenggang memasuki gedung perkantoran tersebut.
Para staf dan karyawan yang bekerja di sana membungkuk melihat kedatangan Kevin. Namun tidak sedikit pula yang tidak tahu siapa pria itu, pasalnya Kevin jarang sekali datang langsung ke perusahaan, hanya sesekali saja dia datang.
"Presdir Zhang, tumben sekali Anda datang ke perusahaan?" seorang pria setengah baya membungkuk ketika Kevin berhenti di depannya.
"Kenapa? Apa kau tidak suka aku datang ke perusahaanku sendiri. Lalu kenapa kau masih ada di sini? Bukankah aku sudah memecatmu," ucap Kevin pada pria paruh baya itu
"Anda tidak berhak memecat apalagi mengusir saya keluar dari perusahaan, Presdir Zhang. Jangan hanya karena seorang pemimpin maka bisa bersikap seenaknya pada saya, karena saya sudah ada di perusahaan ini jauh sebelum Anda." tukas pria itu menegaskan.
"Itu memang benar. Tapi sayangnya keberadaan mu di sini tidak memberikan dampak baik bagi perusahaan, apalagi membawanya menuju kejayaan. Kau justru memberikan kerugian besar pada perusahaan ini, jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang telah kau perbuat selama 10 tahun terakhir. Aku diam bukan berarti tidak tahu apa yang telah kau lakukan. Dan sekarang aku akan memberimu dua pilihan, tinggalkan perusahaan atau membusuk di penjara?!" ujar Kevin. Dia memberikan dua pilihan pada pria setengah baya tersebut.
Gyuttt...
Pria itu mengepalkan tangannya dan menatap Kevin dengan tajam. "Dasar manusia tidak tahu terima kasih. Kau jangan merasa menang dulu, aku pasti akan kembali untuk membalas rasa malu ini!!" ucap pria paruh baya itu dan pergi begitu saja.
Satu benalu telah berhasil disingkirkan. Bukan berarti permasalahan telah selesai, tugas Kevin adalah memberantas benalu-benalu itu sampai ke akar-akarnya. Dan dia sudah memiliki data-datanya. Hampir semua yang berkhianat pada perusahaan adalah karyawan lama dan memegang jabatan tinggi di perusahaan ini. Hari ini juga Kevin akan membereskan mereka semua.
xxx
Cintia hanya bisa menahan emosinya atas sikap dan perbuatan Viona padanya. Wanita itu benar-benar sudah sangat keterlaluan. Tidak hanya mengintimidasinya, tetapi Viona memperlakukannya seperti babu.
"Aku ingin kau mencuci pakaianku. Ingat, tidak boleh gunakan mesin cuci harus dengan tangan. Frans, kau bertugas mengawasinya." Ucap Viona.
"Kau jangan keterlaluan!! Bahkan aku masih belum makan sejak pagi, dan sekarang kau memintaku untuk bekerja lagi!! Sebenarnya kau itu manusia atau bukan? Ini bukan jaman penjajahan, jadi jangan memperlakukanku seperti budakk!!" teriak Cintia marah
__ADS_1
Viona mendengus kasar. "Kau ini berisik sekali. Baiklah, aku akan memberimu waktu lima menit, kau boleh makan sekarang!!" tandas Viona.
Cintia menatap Viona dengan horor. "Kau gila, bagaimana bisa aku menghabiskan makananku dalam waktu lima menit?!" teriak Cintia emosi.
Viona mengangkat bahunya dengan acuh. "Aku tidak mau tahu. Jika kau tidak setuju boleh angkat kaki dari sini, beres kan." Ucapnya dan pergi begitu saja.
Cintia mengepalkan tangannya. Amarah terlihat dari sepasang biner hitamnya. Jika bukan karena terpaksa, Cintia tidak akan sudi melakukannya. Dan semua itu semata-mata dia lakukan untuk Kevin, bukan untuk orang lain. Viona tersenyum penuh kemenangan.
xxx
Viona memicingkan matanya melihat puluhan orang meninggalkan perusahaan dengan ekspresi yang berbeda-beda. Dia tidak tahu apa yang terjadi, mengapa mereka pulang lebih awal dari pegawai yang lainnya.
Buru-buru Viona pergi menemui Kevin di ruangannya untuk bertanya apa yang terjadi. Karena hanya dia satu-satunya orang yang bisa memberinya jawaban.
"Paman, apa yang terjadi? Kenapa para pegawaimu sudah pulang sedangkan ini masih jam kerja?" tanya Viona tanpa basa-basi. Dia menghampiri Kevin yang sibuk dengan laptopnya.
Wanita itu mengangguk. "Aku datang untuk mengajakmu makan siang. Paman, tidak ada janji dengan siapapun kan?" tanya Viona memastikan.
Kevin menggeleng. "Tidak ada." Dan menjawab singkat.
"Bagus sekali." Ucap Viona sambil tersenyum lebar. "Oya, Paman belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau menjajarkan kenapa kau membiarkan karyawanmu pulang? Bukankah ini masih jam kerja?" Viona masih penasaran dengan karyawan-karyawan yang dia temui di luar tadi.
"Aku sudah memecat mereka semua." Jawab Kevin.
Sontak Viona mengangkat wajahnya dan menatap Kevin dengan pandangan terkejut. "Kenapa di pecat? Bukankah mereka adalah karyawan senior yang sudah bekerja lama di perusahaan ini? Memang karena apa Paman sampai memecatnya?" tanya Viona dengan penasaran.
__ADS_1
Kevin menyerahkan sebuah dokumen pada Viona. Dan isi dokumen itu adalah jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan Viona. Sekarang Viona tau apa alasan Kevin memecat mereka semua.
"Bagaimana? Sudah jelaskan?" ucap Kevin dan di balas anggukan oleh Viona.
Wanita itu maju dua langkah ke depan lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kevin. Matanya terkunci pada mata kanan milik pria itu. Senyum miring tercetak dibibir merah tipisnya. Lalu menarik tangan kanannya, jari-jarinya mengusap bibir Kiss Able milik Kevin dengan gerakan sensual.
"Bisakah aku mendapatkan kanan pembukaku lebih awal?" ucap Viona tanpa mengakhiri kontak mata diantara mereka.
"Tentu saja, Sayang." Balas Kevin.
Kevin menarik dagu Viona dan mulai menciumnya. Kevin mencium Bibir Viona dengan lembut dan penuh cinta, yang semakin lama berubah menjadi ciuman menuntut. Kevin sedikit melumatt bibir Viona, memagut dan menghisapnya. Membuat Viona mengerang di tengah ciumannya.
Satu menit telah berlalu. Tapi dia masih enggan untuk mengakhiri ciumannya. Itu ciuman sepihak, karena ciuman itu dikuasai oleh Kevin sepenuhnya. Tidak ada protes maupun penolakan, Viona justru menikmatinya meskipun paru-parunya mulai membutuhkan banyak asupan oksigen.
Kedua pipi Viona merah seperti kepiting rebus. Dan Kevin baru melepas ciumannya setelah ia dan Viona benar-benar telah kehabisan oksigen. "Bagaimana, apa sudah puas?" tanya Kevin.
Viona mengangguk. "Sangat-sangat puas malah, aku menyukai makanan pembuka nya." Ucap Viona dengan senyum yang sama. Dia benar-benar merasa puas.
Kevin mendengus geli. "Dasar kau ini. Tunggu sebentar, Paman selesaikan dulu pekerjaan dan setelah ini kita makan siang sama-sama." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
"Baiklah." Dia menjawab singkat.
Viona akan sabar menunggu sampai Kevin menyelesaikan pekerjaannya. Lagipula masih ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum makan siang. Sambil menunggu Kevin menyelesaikan pekerjaannya, Viona membuka ponselnya dan mencari drama China favoritnya. Snow Eagle Lord, adalah drama China yang di lihat oleh Viona akhir-akhir ini.
xxx
__ADS_1
Bersambung