
Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Kevin dan Viona pergi untuk makan siang. Kali ini Kevin yang menentukan tempatnya , dan dia memilih untuk makan siang di sebuah restoran mewah karena dia ingin tempat yang nyaman dan privasi. Viona menyetujuinya meskipun sedikit terpaksa, karena dia ingin makan siang di cafe langganannya.
Kedatangan mereka berdua disambut oleh seorang pelayan yang langsung mengarahkan keduanya menuju ruang VIP yang berada di lantai dua.
"Memang harus ya di ruang VIP?" tanya Viona sambil menatap Kevin. Keduanya berjalan beriringan menuju lantai dua.
"Aku ingin tempat yang nyaman dan tidak bertemu banyak orang," jawab Kevin dengan nada datar.
"Privasi?" tebal Viona 100% benar.
Kevin menganggukkan kepala. "Ya," dan menjawab singkat.
"Pasti karena hal lain juga kan? Bilang saja jika Paman ingin bermesraan denganku, karena tidak ingin ada yang melihatnya makanya memilih tempat VIP." Ucap Viona sambil mengurai senyum jahil.
Alhasil sebuah sentilan mendarat mulus pada kening Viona. "Jangan bicara sembarangan. Sebaiknya cepat pilih menunya." Pinta Kevin sambil menyerahkan buku menu pada Viona.
"Paman, ingin pesan apa?" tanya Viona sambil membolak-balik buku menu.
Samakan saja denganmu." Sahut Kevin.
Setelah memilih menu yang diinginkan, Viona mengirim pesanannya melalui sebuah tab yang terkoneksi langsung dengan koki utama restoran. Pelayan tidak perlu datang hanya untuk mencatat pesanan. Tidak.perlu menunggu lama, pesanan mereka pun tiba. Sesuai dengan menu yang Viona pesan tadi.
Selanjutnya mereka menyantap makan siangnya dengan tenang. Tidak ada lagi obrolan diantara mereka berdua, keduanya sama-sama diam dalam keheningan. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersentuhan.
.
.
__ADS_1
Suara sendok dan garpu di letakkan memecah dalam keheningan. Dua orang itu baru saja menyelesaikan makan siangnya, Kevin dan Viona. Tiba-tiba Viona bangkit dari kursinya lalu mendekati Kevin. Tanpa berkata apa-apa, Viona duduk di pangkuannya dan mencium bibirnya, melumatt singkat bibir bawahnya.
"Ada sisa saus, aku membantu Paman membersihkannya." Ucap Viona sambil mengukir senyum jahil di bibirnya.
Baru saja dia hendak beranjak dari pangkuan Kevin. Namun tarikan pada lengannya membuat Viona kembali jatuh di pangkuan pria itu. "Kau pikir bisa kabur dariku setelah mengambil satu keuntungan? Tidak semudah itu, Nona." Ujar Kevin menyeringai. Bukannya merasa terancam, Viona justru merasa diuntungkan.
"Jadi Paman mau balas dendam?" ucap Viona sambil mengerakkan jari-jarinya dibibir Kiss Able milik Kevin. "Aku tidak keberatan,"
"Sepertinya kau sudah mempersiapkan dirimu dengan baik, Sayang." Ucap Kevin kemudian mengecup singkat bibir Viona.
"Tentu saja, karena aku tahu jika suamiku ini sangat bernaffsu ketika berada di dekatku." jawab Viona.
"Sepertinya kau memahami diriku dengan baik," lirih Kevin berbisik.
"Tentu saja. Memangnya siapa yang bisa memahami Paman lebih baik dari diriku." Ucap Viona.
Viona terus memagut dan melumatt bibir Kevin atas dan bawah bergantian.
Ciuman itu benar-benar dikuasai oleh Viona, namun sayangnya hal tersebut tidak berlangsung lama karena ciuman tersebut segara diambil alih oleh Kevin.
Kevin memagut dan melumatt bibir Viona dengan brutal. Bahkan dia tidak memberikan kesempatan pada wanita itu untuk mengambil napas terlebih dahulu. Membuat Viona gelagapan di buatnya. Karena tidak tega, akhirnya Kevin mengakhiri ciumannya.
"Paman, Apa kau sengaja ingin membunuhku?!" ucap Viona. Dia mengambil napas sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang mulai kosong.
"Itu karena aku belum terlalu berpengalaman. Lagipula Paman yang terlalu bernaffsu, siapa suruh
"Rapikan pena penampilanmu, jangan sampai kau keluar dari sini dengan penampilan acak-acakan." Ucap Kevin dan dibalas anggukan oleh Viona.
__ADS_1
"Setelah ini Paman mau kemana lagi? Kembali ke kantor atau pulang?" tanya Viona memastikan. Dia memeluk lengan Kevin dengan mesra.
"Urusanku di kantor sudah selesai. Terserah kau saja kita mau pergi kemana lagi setelah ini," ucap Kevin..
Viona tampak berpikir. "Kemana ya? Bagaimana kalau ke pantai saja, Paman aku ingin menikmati angin laut." Ucap Viona setengah merengehk.
Kevin menghela napas. "Baiklah." Tidak mungkin dia menolak ajakan Viona apalagi membuatnya kecewa. Apalagi pergi ke pantai adalah salah satu hal yang sangat dia sukai. Membahagiakan dia sudah menjadi prioritas utama Kevin.
xxx
Cintia terus mondar-mandir tidak jelas Sesekali dia melihat ke luar. Sepertinya dia sedang menunggu kepulangan seseorang, dan itu benar karena Cintia sedang menunggu kepulangan Kevin.
"Kenapa kau begitu santai? Sebaiknya bekerja dengan giat jika tidak ingin di pecat dan di depak keluar dari rumah ini secara tidak hormat." Seru Rico memergoki Cintia yang sedari tadi mondar-mandir tidak jelas.
Sontak wanita itu menoleh dan menatap Rico dengan sebal. "Sebaiknya kau diam dan jangan banyak bicara. Karena suaramu tidak dibutuhkan di sini. Lagipula siapa yang memintamu untuk buka suara?!"
Rico menggeleng. "Tidak ada!! tetapi aku dan Frans memiliki hak untuk bicara karena nona Viona mempercayakanmu pada kami berdua!!" ucapnya menegaskan.
"Kenapa kalian harus menuruti semua ucapannya, jangan hanya karena dia keponakan Kevin maka kalian bisa tunduk padanya. Karena seharusnya bukan padanya kalian bersikap seperti ini, tapi padaku!! Karena bagaimanapun juga aku adalah calon nyonya besar di rumah ini!!" Ucap Cintia menegaskan.
"Ini masih siang hari tapi kenapa kau sudah tertidur pulas? Hei, bangun nona bangun. Jangan kelamaan tidurnya, karena saat bangun kau akan merasa kecewa karena mimpimu yang terlalu tinggi." Tukas Rico menuturkan. Dia benar-benar geli sendiri pada sikap Cintia yang menurutnya sangat menggelikan.
Tanpa mengatakan apapun. Cintia melenggang pergi. Berhadapan dengan Frans maupun Rico benar-benar membuatnya emosi, bagus hanya Rico sendiri kali ini. Karena jika ada Frans juga bisa-bisa dia gila karena mereka berdua.
"Yakk!! Kau mau kemana, aku masih belum selesai!!"
xxx
__ADS_1
Bersambung.