
"Frans, kita perlu bicara. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan padamu dan ini mengenai Paman,"
Viona menghadang langkah Frans yang hendak meninggalkan kediaman Zhang. Dia menarik pria itu menuju garasi mobil karena di sana tidak terpasang CCTV , mereka harus bicara empat mata.
"Ada apa Nona? Memangnya hal penting apa yang ingin anda tanyakan pada saya?" tanya Frans dengan bingung.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada malam itu? Dan mengenai pada mata kiri Paman, apakah itu ada hubungannya dengan penculikanku malam itu? Katakan yang sebenarnya, dan apa yang sebenarnya kalian tutupi dariku?" tanya Viona.
Viona menuntut supaya Frans memberitahunya tentang apa yang terjadi pada kejadian lima tahun yang lalu. Viona benar-benar ingin tahu, karena dia yakin jika Kevin dan Frans menyembunyikan sesuatu darinya.
Frans mengepalkan tangannya. Dia bingung harus menjawab bagaimana, karena tidak mungkin Frans mengatakan yang sebenarnya pada Viona. Bisa-bisa Kevin menggantungnya hidup-hidup, tapi jika tidak memberitahunya pasti Viona akan terus mendesaknya sampai iya mengatakan yang sebenarnya. Frans benar-benar dilema besar.
"Frans, jawab!! Kenapa kau diam?! Aku memintamu untuk bicara bukan diam saja!!" tegas Viona.
Melihat kediaman Frans membuat Viona semakin yakin jika memang ada sesuatu yang Frans sembunyikan darinya. Dan dia akan terus mendesaknya sampai Frans mau buka suara.
"Nona, sebenarnya..." Frans menggigit bibirnya. Tangannya terkepal kuat dan matanya tertutup rapat. Hatinya bergejolak hebat, antara memberitahu Viona atau tidak. Frans mengambil napas panjang dan menghelanya.
"Jangan membuatku semakin penasaran, Frans. Cepat katakan!!" pinta Viona menuntut .
"Nona, sebelum saya mengatakan yang sebenarnya pada Anda. Bisakah Nona berjanji untuk tidak mengatakan apapun pada Tuan, saya tidak ingin digantung hidup-hidup olehnya karena membocorkan rahasia yang seharusnya tertutup rapat,"
Viona mengangguk . "Baiklah aku berjanji, aku tidak akan mengatakan apapun pada Paman."
Dan akhirnya Frans pun menceritakan yang sebenarnya pada Viona secara detail dan terperinci, tanpa ada satu pun dari kejadian malam itu yang dia tutup-tutupi darinya.
Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Frans membuat air mata Viona jatuh tak tertahankan. Rasa sedih, rasa sakit, rasa bersalah semua bercampur menjadi satu. Viona bahkan sampai menutup mulutnya untuk meredam isakannya.
Hancur hati Viona setelah mengetahui jika alasan Kevin kehilangan mata kirinya hingga dia mengalami kecacatan permanen itu karena dirinya. Jika bukan demi menyelamatkannya, pasti Kevin tidak akan kehilangan salah satu anggota tubuhnya yang paling berharga.
__ADS_1
"Itulah yang terjadi malam itu. Tuan terpaksa mengirim Anda ke luar negeri dan menghapus semua ingatan tentang kejadian hari itu, karena Tuan tidak ingin membebani Nona dengan rasa bersalah. Dan semua itu beliau lakukan karena Tuan sangat menyayangi Nona," ujar Frans mengakhiri ceritanya.
Tangis Viona semakin pecah, hatinya rasanya hancur. Kevin rela berkorban sebesar itu untuk dirinya, dulu Viona sempat berpikir jika Kevin sudah tidak menyayanginya dan menginginkan dirinya lagi karena mengirimnya keluar negeri
Meskipun kecewa tetapi Viona tidak bisa membencinya, karena bagaimanapun juga Kevin adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki. Dan hari ini dia menemukan alasan kenapa Kevin sampai mengirimnya pergi jauh darinya.
"Nona, saya telah mengatakan yang sebenarnya pada anda. Tapi tolong tepati janji Anda, jangan mengatakan apapun pada Tuan. Saya masih ingin bekerja bersama Tuan lebih lama," ucap Frans mohon.
"Aku bukanlah tipe orang yang suka ingkar janji, aku pasti akan menepati janjiku untuk tidak mengatakan apapun pada Paman." ucap Viona.
Wanita itu menghapus air matanya sebelum meninggalkan garasi, dia tidak bisa terlihat sedih di depan Kevin. Karena bisa-bisa Kevin akan salah menduga jika dirinya menangis karena Daniel, dia bisa dalam masalah besar karena Kevin bisa memanggangnya hidup-hidup.
.
.
Keheningan menyelimuti kebersamaan dua orang di dalam ruangan tersebut. Mereka berdua adalah Kevin dan Rico, setelah menunggu cukup lama akhirnya dia bisa bertemu dengan Kevin.
"Tuan Zhang, bisakah Anda menerima saya untuk bergabung dengan Black Devil?" tanya Rico memohon.
Kevin memicingkan matanya dan menatap Rico penuh tanya. Kenapa aku harus menerimamu? "Bagaimana jika sebenarnya kau adalah mata-mata yang sengaja dikirim oleh bajingan itu untuk mengawasiku?" Kevin menatapnya dengan remeh.
Tiba-tiba Rico menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di depan Kevin. "Saya berani bersumpah Tuan, jika saya bukanlah mata-mata yang dikirim olehnya. Lalu harus dengan cara apa saya harus membuktikan supaya Anda percaya?"
Kevin melemparkan sebuah pistol kelantai. "Ambil pistol itu dan tembak dirimu sendiri, jika kau berani melakukannya aku akan mempertimbangkan untuk menerimamu atau tidak!!" ucap Kevin.
Tanpa ragu sedikit pun Rico mengambil pistol itu dan mengarahkan ke kepalanya. Baru saja Rico hendak menarik pelatuknya, tiba-tiba Kevin menghentikannya dengan mengambil kembali pistoll tersebut dari tangannya.
"Kau tidak perlu melakukannya, aku hanya perlu pembuktian darimu. Buktikan jika kau memang setia padaku, jangan coba-coba untuk berkhianat atau kau akan menanggung akibatnya!!" ucap Kevin memperingatkan.
__ADS_1
Rico mengangguk. "Saya berjanji Tuan, saya pasti akan setia pada Anda. Terimakasih telah memberikan kesempatan pada saya," ucap Rico sambil membungkukkan tubuhnya dalam-dalam. Dia benar-benar senang Kevin mau menerimanya untuk bergabung di Black Devils, dengan begitu ia dan Frans tidak perlu bermusuhan lagi.
"Aku pegang kata-katamu!" ujarnya sambil menatap Rico dengan tajam.
Kevin akan memberikan satu kali kesempatan padanya, dan jika Rico berani macam-macam apalagi berusaha untuk mengkhianatinya, pasti Kevin akan menghabisi dia dengan tangannya sendiri.
Selepas kepergian Rico, pintu itu kembali dibuka dari luar, kali ini yang masuk adalah Viona. Tanpa mengatakan apapun,Viona menerjang tubuh Kevin dan memeluknya dengan erat, membuat Kevin kebingungan dan bertanya-tanya.
"Viona, apa-apaan kau ini?" seru Kevin sambil berusaha melepaskan pelukan Viona.
Wanita itu menggeleng. "Jangan dilepaskan Paman, biarkan seperti ini sebentar saja. Biarkan aku memelukmu," bisiknya memohon, suaranya terdengar lirih dan parau.
Kevin tidak tahu apa yang terjadi, sampai-sampai Viona tiba-tiba bersikap seperti ini. Dan dia memikirkan sesuatu. "Viona, katakan ada apa? Jangan membuat Paman bingung, apakah Cina itu yang membuatmu menangis?!" tanya Kevin dan buru-buru Viona menggelengkan kepala.
"Ini tidak ada hubungannya dengan dia," ucapnya meyakinkan.
"Lalu kenapa kau menangis?" sekali lagi Kevin bertanya.
"Aku menangis karena terharu, semalam aku mau nonton sebuah drama yang menguras air mata dan setiap adegannya tidak bisa aku lupakan sampai sekarang. Itulah kenapa aku sangat sedih, makanya biarkan aku memeluk Paman seperti ini." ucapnya.
Kemudian Viona melonggarkan pelukannya dan menatap mata kiri Kevin yang tertutup benda hitam bertali tersebut dengan tatapan yang tak terbaca. Hatinya terasa perih dan seperti teriris-iris, apalagi setelah Viona tahu dialah penyebab Kevin mengalami kebutaan pada mata kirinya.
Aku sangat menyayangi Paman, dan selamanya aku tidak ingin berpisah dari Paman. Aku ingin selalu bersama-sama dengan Paman, bahkan ketika Paman telah menemukan pasangan hidup, aku tetap tidak ingin berpisah denganmu." Tutur Viona sambil mengeratkan pelukannya.
Kevin menghela nafas , mengangkat kedua tangannya lalu membalas pelukan Viona. "Kau tidak akan pernah kehilangan Paman, selamanya kita akan bersama-sama," lirihnya berbisik.
Bagaimana bisa Kevin meninggalkannya, sementara dia sangat menyayangi Viona apalagi kebahagiaan wanita itu sekarang menjadi prioritas utamanya. Kevin juga ingin selalu bersama Viona apapun alasannya.
.
__ADS_1
.
Bersambung